
“Kamu sudah makan Nate?” tanya Jun kembali kepadaku sambil fokus menyetir.
“Belum sih tadi hanya makan cemilan yang manis-manis saja dengan Caca.” terangku dengan malu-malu.
“Mau makan malam tidak?” tanyanya kembali sambil melirik kepadaku.
“Tidak usah Kak aku sedang malas makan yang berat.” balasku.
“Padahal aku sudah pesan tempat loh di restaurant dekat bioskop yang mau kita datangi.” jelas Jun dengan nada sedikit kecewa, aku yang mendengar merasa tak enak dan bersalah.
(Duh aku tak enak kan! Eh tapi tunggu dia tadi bilang bioskop?)
“Tunggu Kak! Kita berdua mau menonton bisokop Kak?” tanyaku kembali yang masih tak yakin.
“Iya kita ini mau menonton aku memang tidak bilang yah? Duh maaf yah Natasha, tapi kamu tak masalah kan?” tanya kembali kepadaku yang merasa tak enak main menentukan saja.
“Y-Yah tidak apa-apa sih, hanya aku jadi tak enak dibayarkan terus dengan Kak Jun!” terangku.
Jun melihat kearahku sebentar lalu memegang tanganku yang berada di atas pahaku. Aku yang menerima sikapnya itu terkejut karena ini baru pertama kalinya Jun bersikap begitu kepadaku.
“Santai saja Natasha, tak usah sungkan. Nanti kan bisa digantikan dengan aku boleh menyicipi roti buatan kamu! Ingat buatan kamu yah bukan Ayah kamu..” jelas Jun sambil senyum kepadaku, aku benar-benar tak menduga dia akan berbicara seperti itu.
(Kak Jun kok tahu kalau aku punya toko roti?!!)
“Loh Kak Jun kok tahu kalau aku punya toko roti?” tanyaku yang masih tak menyangka.
“Ah maaf yah aku diam-diam mencari tahu tentang kamu Natasha! Kalau tak sopan maaf yah Natasha, aku semestinya tanya langsung saja yah ke kamu!” balas Jun dengan nada tak enak kepadaku. Aku masih terdiam tak menyangka bahwa Jun bisa mencari tau tentangku.
“Yah tidak apa-apa sih, hanya Kak Jun mencari tahu tentang aku untuk apa?” tanyaku kembali sambil ragu-ragu dan bingung.
“Yah memang tidak boleh aku mencari tahu tentang wanita yang aku suka?” tanya Jun dengan santai sambil fokus menyetir. Aku yang mendengar jawabannya itu langsung melihat ke arahnya seakan tak percaya. Jun yang menyadari membalas melihat ke arahku juga, aku refleks langsung membuang muka karena malu.
“Kenapa?” tanya Jun masih santai.
“Hmm, tidak apa-apa kok Kak.” balasku yang masih malu.
(Duh jangan salah tingkah Nate! Bodoh sekali sih.. Kak Jun juga kenapa harus berbicara seperti itu sih? Benarkah dia suka dengan aku? Arggghhhh!!!)
Kami berdua pun saling diam, aku jadi semakin canggung karena suasananya. Aku ingin mencairkan suasana tapi bingung juga mau membahas apa yang akan di bicarakan. Aku sesekali melirik ke arah Jun, dia masih tetap fokus menyetir dengan santai tanpa ada canggungnya.
(Cari topik! Cari topik! Apa yah? Duh bingung aku..)
“Oh iya Kak tanggal ulang tahun Kak Jun kapan?” tanyaku basa basi yang tak penting. Jun pun menoleh kepadaku lalu dia tertawa kecil.
“Hahah kamu mau tahu kapan aku ulang tahun? Memangnya kamu mau memberikan aku hadiah apa Natasha?” tanya kembali kepadaku dengan masih tertawa kecil.
(Duh Nate kenapa juga aku menanyakan dengan pertanyaan tidak penting seperti itu? Bodoh!)
“Y-Yah bagaimana yah..” kataku masih bingung mau membalas apa.
“Ulang tahunku 31 Januari kok Natasha, kalau kamu?” balasnya tiba-tiba sambil senyum kepadaku, aku yang menerima senyumannya itu mendadak salah tingkah lagi.
“Aku tanggal 9 Juni Kak..” ujarku sambil memalingkan mukaku karena malu.
(Nate kenapa sih menjadi salah tingkah terus dari tadi dengan Kak Jun??? Jangan-jangan aku memang benar-benar suka dengan dia?)
Mobil pun segera berbelok ke gedung bioskop dan segera Jun mencari parkiran untuk mobilnya. Kami berdua pun segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke bioskop. Jun ternyata sudah memesan terlebih dahulu tiketnya, aku yang merasa tak enak menawarkan diri untuk membeli popcorn.
“Kak aku beli popcorn dahulu yah! Kak jun mau rasa yang manis atau asin? Minumannya mau cola atau air mineral?” tanya kepada Jun.
“Duh kamu memaksa sekali yah Natasha.. Yah sudah aku mau rasa yang asin popcornnya untuk minumannya air mineral saja, aku tak suka makanan dan minuman yang terlalu manis-manis..” balas Jun.
“Oke! Tunggu dahulu yah Kak! Duduk dahulu saja disana yah..” ujarku sambil menunjukkan tempat duduk yang kosong. Jun menoleh ke tempat yang aku maksudkan.
“Yakin kamu mau sendiri? Tidak takut repot?” tanya kembali yang sedikit khawatir.
“Tidak apa-apa Kak..” balasku sambil senyum.
“Oke, aku kesana yah!” jawabnya dengan santai sambil berjalan menuju tempat duduk yang kosong.
Aku berjalan menuju tempat makanan disana aku mulai memesan popcorn dan minuman, sambil menunggu aku sesekali menengok ke arah Jun dan ternyata dia sedang fokus ke ponselnya.
(Wajah Kak Jun lama-lama kelihatan tampan ya? Pantas saja wanita-wanita kerap kali mencari perhatian dengan dia.)
Gumamku dalam hati tanpa sadar mengagumi Jun.
(Bodoh!! Malah berpikir seperti itu sih aku?)
Gumamku dalam hati sambil memukul-mukul kepala. Pesananku sudah jadi aku pun segera pergi menuju tempat Jun. Jun yang melihatku dari kejauhan segera beranjak berdiri dan menghampiriku untuk membantu membawakan popcorn dan minumannya.
“Kemarikan Natasha aku bantu sepertinya kamu kerepotan.” ujar Jun yang segera mengambil minuman yang aku pegang.
“Iya Kak, terima kasih..” kataku sambil melepaskan minumannya. “Filmnya sudah di mulai Kak?” tambahku yang menanyakan kepada Jun.
“Iya sudah dibuka kok itu studionya, yuk Natasha..” ujarnya sambil berjalan menuju studio yang dimaksudkan. Aku dan Jun segera mencari tempat duduk yang telah Jun pesan sebelumnya. Tak lama kami duduk filmnya pun dimulai kami berdua menikmati jalan cerita dari film tersebut. Aku memang awalnya tidak suka menonton film pahlawan super jadi agak membosankan, namun makin kesini alur ceritanya pun menarik dan sekarang aku pun menikmatinya. Sesekali aku melihat ke arah Jun, tampaknya dia sangat suka sekali film yang berbau pahlawan super terbukti dia dari tadi fokus. Tidak terasa filmnya pun selesai aku dan Jun segera beranjak pergi meninggalkan studio tersebut menuju restaurant yang sudah Jun pesankan sebelumnya. Letak restaurantnya hanya beberapa gedung dari tempat kami menonton, jadi kami pun memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tak lama ponselku bergetar tanda panggilan telepon masuk, aku segera mengecek dan benar itu Nathan!
Bzzzt! Bzzzzt! Bzzzzzztttt!
Ketika aku akan mengangkat teleponnya ternyata baterai ponselku habis.
(Yah sial! Kak Nathan pasti akan marah-marah nih T,T)
“Ini Kak baterai ponselku habis dan tadi Kak Nathan menghubungiku..” terangku yang masih panik.
“Pakai ponselku saja Natasha..” ujarnya sambil mengambil Hpnya yang berada disaku celana dan menyodorkan kepadaku.
“Ah tidak usah Kak! Nanti Kak Nathan marah-marah lagi kalau tahu aku sekarang berjalan dengan Kak Jun malam-malam seperti ini..” kataku yang menolak tawaran Jun.
“Aku yang tanggung jawab kok kalau Kak Nathan marah dengan kamu.” balasnya dengan meyakinkanku. Aku berfikir sejenak melihat ke arahnya dan segera mengambil ponselnya.
“Oke Kak! Tunggu sebentar yah aku akan telepon Kak Nathan dahulu.” kataku sambil beranjak agak menjauh dari Jun.
“Oke Natasha.” balasnya sambil menunggu di pinggiran toko.
Aku segera memencet nomor telepon Nathan dan segera menghubunginya. Nada pun tersambung aku masih menunggu teleponku diangkat oleh Nathan.
Rrrrrr! Rrrrrrrrrr! Rrrrrrrrrr!
"Hallo?"
"Hallo Kak? Aku Nate Kak"
"Nate? Natasha Canvill?"
"Iyalah siapa lagi Kak!"
"Loh? Kamu pakai telepon siapa?"
"Hmm, aku pakai telepon Kak Jun hehe"
"Kamu ada dimana? Kakak akan jemput kamu!"
"Jangan-jangan! Aku bukan anak kecil Kak. Aku dengan Jun sekarang mau pergi makan malam tadi kami berdua habis menonton.."
"Habis menonton? Kamu gila yah? Ini sudah jam berapa Natasha!! Tunggu kamu disitu aku akan menjemput kamu!!"
"Kak! Stop! Aku bukan anak bayi atau anak kecil lagi, tolong kasih aku kebebasan! Aku dengan Kak Jun juga tidak macam-macam!"
"Tidak macam-macam? Tapi mau macam-macam kan?!!"
"Oh! Tolong Kak jangan bodoh! Aku dengan Kak Jun hanya teman, oke?"
"Hhhhh! Aku tak suka kamu melakukan ini padaku! Oke kalau sampai jam 11 malam kamu tak sampai rumah aku akan menjemput kamu, oke?"
"Oh ya Tuhan! Kamu lama-lama seperti ibu-ibu tahu tidak Kak!"
"Terserah kalau kamu tidak menurut aku benar-benar menjemput kamu!"
"Baik! Sudah dahulu yah nanti terlalu lama berbicara denganmu bisa-bisa menghabiskan waktu aku untuk membahasa hal-hal seperti ini."
"Nate?"
"Yah?"
"Aku sayang kamu, adik kecilku!"
"Berlebihan! Hahahaha, Dadah!"
Aku segera mematikan posnel dan berjalan ke arah Jun untuk memberikan ponselnya.
“Sudah selesai?” tanya Jun yang menghampiriku terlebih dahulu.
“Sudah Kak, terima kasih yah!” balasku sambil memberikan ponselnya, Jun pun menerima dan menaruhnya ke dalam saku celannya kembali.
“Yuk! Jalan kembali, sebentar lagi sampai kok.” kata Jun yang mengajakku jalan kembali. Aku segera berjalan mengikuti Jun dan kami pun sampai di restaurant yang dimaksud.
(Serius makan disini? Ini kan lumayan mahal makanannya! Ditambah masakan luar negeri..)
“Natasha? Kamu kenapa? Yuk masuk!” tegur Jun yang ternyata dia sudah dahulu masuk ke dalam restaurant. Aku segera menyusulnya dan berjalan dibelakangnya.
“Kak serius makan disini? Disini kan menunya luar negeri semua dan mahal-mahal.” kataku sambil menoleh ke arahnya.
“Oh km tidak suka masakan western yah? Mau rubah menu saja?” tanya Jun yang tak enak main ambil keputusan sendiri.
“Hmm, yah kalau Kak Jun mau sih yah boleh kita mengganti tempat makannya.” balasku yang tak enak.
“Boleh! Yuk kita makan menu makanan yang kamu suka!” ujar Jun sambil menarik lenganku ke arah pintu keluar restaurantnya.
“Eh tapi Kak ini bagaimana? Kan Kak Jun sudah memesan tempatnya?” kataku yang menghentikan langkah.
“Tidak apa-apa kok..” jawabnya santai.
“Tapi kan pasti tidak enak jika dibatalkan? Nanti nama Kakak ditandai jika akan memesan tempat disini kembali.” tanyaku kembali yang masih tak yakin.
“Santai saja Natasha! Ayahku memegang saham di restaurant ini juga kok, jadi tidak apa-apa kalau aku batalkan..” jawabnya santai sambil kembali menarik lenganku menuju luar restaurant.
(Gila Kak Jun! Sehari ini aku diberikan kejutan terus oleh dia! Sekaya apa sih ini manusia?)
Kami berdua pun berjalan sepanjang trotoar aku bimbang ingin makan apa. Didepan mataku ada banyak sekali warung tenda yang buka. Aku ingin menawarkan makan di warung tenda pinggir jalan takutnya dia tidak terbiasa dengan makanan seperti itu.
(Ada tukang pecel lele sih disitu! Kalau aku makan itu dia ikut makan juga mau tidak yah? Ragu jadinya..)