
“Nateeeeeeeeeee!!” teriak seseorang kepadaku dari kejauhan. Aku segera menoleh ke arah yang memanggilku tersebut. Ternyata Caca dan Dion, Caca segera berlari kecil menghampiriku diikuti dengan Dion.
“Nate!” katanya kembali sambil memelukku.
Aku menerima pelukannya tersebut.
“Hihihi, Nate aku mengira sudah pulang loh.” tanya Caca kepadaku yang masih terengah-engah.
“Hei Nate!” tanya Dion yang baru sampai menghampiriku.
“Iya tadi aku ada rapat dulu buat acara Dies Natalis kampus dan buat acara jurusan kita.” balasku kepada mereka berdua.
“Oh? Kamu panitia? Benar-benar yah si Rere padahal aku sudah bilang jangan ajak kamu!” ujar Caca sambil menunjukkan ekspresi kesalnya.
“Sudah tidak apa-apa! Sudah terlanjur juga...” balasku singkat tak mau memperpanjang.
“Oh? Kak Jun?” ujar Caca yang baru sadar ada Jun di sampingku.
“Hei Caca, hei Dion..” balasnya dengan ramah sambil tersenyum.
“Hei Kak Jun..” kompak Caca dan Dion.
“Kakak baru selesai kuliah?” tanya Caca yang bingung melihat Jun bersamaku.
“Sudah selesai kok Ca dari siang.” balasnya ramah.
“Oke, Kakak mau kemana? Mau pergi yah sama Nate?” tanya Caca kembali.
“Iya mau pergi sama Nate, ada tempat yang mau Kakak kunjungin cuma belum sempat. Mau bergabung?” tanya Jun kembali kepada Caca.
“Serius? Boleh dong Kak! Hahaha penasaran juga mau kemana, tapi mau kemana Kak?” kata Caca dengan muka polosnya. Dion yang berfikir bahwa aku dan Jun mau kencan dia pun menarik lengan Caca.
“Ca, mereka berdua mau kencan!” bisiknya kepada Caca.
“Serius?” jawabnya sambil berbisik kepada Dion. Dion membalas dengan anggukkan kepala. Caca menoleh ke arah Jun dan aku.
“Kalian bukan kencan kan?” tanya Caca polos.
Aku terkejut mendengar ucapannya itu, aku segera membalas ucapan Caca. Berbeda dengan Jun, dia hanya tertawa mendengar ucapan Caca tersebut.
“Ca? Tidak kencan kok.” ujarku yang langsung mendekatinya sambil berbisik kepadanya.
“Ku kira kalian kencan. Habis berdua saja sudah begitu tidak tahu mau kemana.” balas Caca dengan berbisik juga.
“Kita tidak kencan kok! Yuk masuk ke mobil nanti keburu di mulai acaranya.” timpal Jun sambil membuka kunci mobilnya dari kejauhan.
Kami bertiga pun saling pandang dan berjalan mengikuti Jun lalu masuk ke mobilnya. Kami bertiga masih tidak tahu tujuan kami mau kemana. Di kepala kami bertiga masih tidak jelas arah tujuannya, sesekali kami bertiga membayangkan dan menebak-nebak tempat yang dimaksudkan oleh Jun. Mobil pun melaju keluar parkiran mobil menuju keluar gerbang kampus. Di dalam perjalanan tidak terjadi percakapan karena kami bertiga masih canggung dengan Jun.
Tidak biasanya kami bertiga bisa berjalan bersama dengan Jun, terlebih lagi Jun orang yang sangat populer di kampus. Aku duduk disamping Jun, karena Caca dan Dion masih mengira bahwa kami berdua akan berkencan. Jun pun mulai menyalakan lagu di mobilnya untuk memecahkan keheningan yang terjadi.
Aku merasa ngantuk karena Jun menyalakan musik klasik di mobilnya, Jun memulai percakapan dengan Dion. Mereka membicarakan turnamen Basket yang akan segera dilakukan antar Jurusan. Namun lama kelamaan aku sudah bisa mendengar dengan jelas percakapan Jun dan Dion. Terakhir yang kulihat mobil masuk ke dalam jalan tol setelah itu gelap.
Aku segera membuka mataku, ternyata aku tertidur diperjalanan menuju tempat yang Jun maksudkan.
“Sudah bangun?” tanya Jun tiba-tiba kepadaku sambil menoleh ke arahku. Aku segera merapihkan dudukku yang terlalu nyaman ketika tidur.
“Aku tidur yah Kak?” tanyaku kembali kepada Jun.
“Iya tadi tidur.” balasnya sambil senyum
“Lama?” tanyaku lagi.
“Tidak cuma 30 menit kok. Lelah banget yah? Tahu begitu tidak aku paksa kamu yah.” balas Jun yang merasa tak enak kepadaku.
“Oh tidak apa-apa Kak, aku tadi keenakan mendengarkan musik klasik yang Kakak putar hehehe.” balasku kepada Jun sambil tertawa kecil. Aku segera menoleh ke bangku belakang, aku tidak lihat Dion dan Caca.
“Kemana mereka?” tanyaku yang panik.
“Oh Caca lagi pipis, kalau Dion lagi di minimarket tuh dia haus katanya.” terang Jun santai.
“Aku kira mereka mendadak turun tidak jadi ikut. Memang masih jauh Kak tempatnya?” tanyaku kembali.
“Yaaa, 10 menit lagi kok.” timpal Jun. Caca dan Dion pun bergegas masuk ke dalam mobil secara bersamaan.
“Oh? Nate sudah bangun?” tanya Caca yang terkejut melihatku sudah bangun.
“Iya Ca, hehehe maaf yah jadi tidur aku.”
“Tidak apa-apa santai saja, aku juga dari tadi fokus chat dengan kekasihku kok.” balas Caca dengan santai.
“Nih Ca minum kamu. Nate mau minum?” tambah Dion yang menawarkan minum kepadaku.
“Ini Kak Jun, buat Kakak siapa tahu haus juga.” tambah Dion yang menyodorkan minum yang dibelikan untuk Jun.
“Wah! Merepotkan saja Dion. Terima kasih yah!” balasnya dengan ramah. Kami berempat kompak minum dulu, setelah itu Jun pun menyalakan kembali mobilnya untuk melanjutkan kembali perjalanan.
“Kak Jun mau kemana sih kita?” tanya Dion tiba-tiba.
Jun membalas dengan tersenyum dengan ragu dia memulai pembicaraan.
“Sebenernya sih aku cuma mau lihat pertunjukkan ini.” balas Jun yang mengambil brosur yang ada disamping kursi setirnya. Jun pun memberikannya kepadaku, kompak Caca dan Dion langsung melihat ke arahku. Kami bertiga pun langsung terdiam melihat isi brosur tersebut.
Aku membaca isi di brosur bahwa akan ada pertunjukkan 'Timun Mas' di tempat yang dimaksudkan, dimana pertunjukkan tersebut berbeda dan tidak hanya sekedar pertunjukkan orang. Pertunjukkan tersebut menggunakan teknologi air yang menyembur seperti air mancur, namun air yang diciptakan lebih lebar. Jadi, nanti proyeksi gambar di arahkan ke air yang menyembur itu maka akan muncul tampilan gambar animasi di air tersebut.
“Kakak mau lihat pertunjukkan 'Timun Mas' ini?” tanyaku yang masih tak menyangka.
“Iya mau menonton itu.” balasnya dengan malu.
Caca dan Dion kembali duduk di posisinya masing-masing. Di pikiran mereka berdua pun terpikirkan hal yang sama denganku.
“Hmm, sebenarnya sih mau menonton itu sudah lama. Waktu itu ada yang menyebarkan brosur di lampu merah dekat rumahku, cuma tidak sempat jadi ya dicoba ajak kamu saja Natasha. Eh, kebetulan Dion sama Caca mau bergabung yah sudah deh..” terangnya sambil fokus menyetir dan aku pun melihat bahwa ada sisi kekenanak-kanakannya yang ia perlihatkan.
“Memang orang tua Kakak tidak pernah mengajak keluar yah?” tanya Caca tiba-tiba.
“Mereka berdua sibuk hehehe jarang ada waktu untuk keluar kecuali jika acara bisnis.” terang Jun dengan santai. Aku bisa melihat dari raut wajahnya mungkin dia kesepian mangkanya dia mengajakku untuk melihatnya bersama. Mobil pun berbelok, kami telah sampai ditempat yang dimaksudkan. Jun segera memparkirkan mobilnya, dan kami semua pun turun dari mobilnya.
“Aku pesan tiketnya dahulu yah! Tunggu disini oke?” ujar Jun yang kemudian sambil berjalan menuju tiket pertunjukkan. Kami bertiga pun menunggunya sambil duduk didekat pintu masuk.
“Tidak menyangka Kak Jun diam-diam suka juga menonton pertunjukkan seperti ini. Kamu merasa tidak dia tuh lelaki yang menggemaskan banget?” tanya Caca sambil melihat ke arah Jun.
“Menggemaskan? Kamu kira dia boneka Ca?” timpalku dengan wajah meledek Caca.
Caca menoleh kepadaku sambil memukul pahaku.
“Serius ih!” balasnya dengan kesal.
“Yah menurut aku itu hal biasa Ca, cuma mungkin jarang ada lelaki yang terang-terangan mengajak langsung. Mungkin dia bukan tipikal lelaki yang menjaga imagenya Ca..” terangku kepada Caca.
“Menurut kamu begitu, menurut aku sih tidak. Buktinya kekasihku belum tentu mau aku ajak nonton seperti ini. Jangankan kekasihku, Dion juga pasti tidak akan mau..” ujar Caca sambil melirik kepada Dion. Dion pun melihat dengan ekspresi terkejut.
“Aku sih mau kok pergi ke tempat begini tapi kan aku tidak punya pasangan..” balas Dion sambil memasang muka kesal ke Caca.
Jun pun sudah selesai membeli tiket masuknya, dia pun menghampiri kami dan mengajak untuk segera masuk. Kami pun berjalan memasukkin tempat pertunjukkannya.
Saat aku masuk tempatnya menarik, disini ada dua panggung.
Satu panggung dekat bangku penonton dan satu panggung lagi di sebrang sepeti danau buatan, namun lebih kecil. Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman karena sebentar lagi pertunjukkannya akan di mulai. Pertunjukkannya pun dimulai, awal cerita tentang tokoh jahat yang muncul dari air yang memancur lebar yang diarahkan proyeksi.
Kami pun menikmati pertunjukkan tersebut terutama Jun aku sesekali menoleh ke arahnya, aku melihat dia merasakan senang sekali. Pertunjukkan pun berjalan selama 30 menit dan tidak terasa sudah selesai, disesi terakhir kami diberikan kesempatan untuk berfoto dengan para pemain.
Aku dan Jun tidak ikut berfoto lain halnya dengan Caca dia memaksa Dion untuk menemaninya. Aku dan Jun menunggu masih mereka berdua duduk di bangku penonton.
“Gimana? Seru tidak?” ujar Jun sambil melirik ke arahku.
Aku menjawab dengan tersenyum. “Yah seru!” balasku.
“Aku kira kamu tidak suka, tadinya sempat khawatir hehe..” ujarnya sambil senyum.
“Justru aku kira Kak Jun tidak suka menonton pertunjukkan seperti ini.” balasku.
“Aku suka Nate! Dulu terakhir aku nonton pertunjukkan seperti ini di luar negeri itu juga waktu aku masih kecil. Aku menonton bersama kedua orang tuaku, rasanya senang sekali Nate..” ucap Jun sambil termenung memandang kedepan.
“Kamu tahu... Rasanya tuh kalau setiap aku menonton seeprti ini, selalu kembalike kenangan waktu aku kecil.” tambahnya lagi.
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan bingung, ini pertama kalinya Jun membahas tentang dirinya dan kedua orang tuanya. Tanpa sadar Jun pun menoleh kepadaku dengan senyum.
“Maaf yahbaku jadi bercerita sedih kekamu!” ujarnya.
“Ah! Tidak apa-apa kok Kak...” balasku singkat.
“Teman kamu lucu-lucu semua yah? Pantas saja kamu nyaman dengan mereka.” ujar Jun mengubah topik pembicaraan sambil melihat ke arah Caca dan Dion. Aku pun ikut melihat ke arah mereka.
“Yah, mereka sudah ku anggap keluarga kedua untukku. Aku nyaman dengan mereka, mereka pun sebaliknya menggangap begitu.” balasku sambil senyum.
“Kapan-kapan nonton yuk?” tanya Jun tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya.
“Boleh Kak...” jawabku tersipu malu.
*****