NIRBANA

NIRBANA
Episode 4



“Tugas ini sudah selesai belum Ca?” kataku sambil menunjukkan tugas laporan mata kuliah yang lainnya.


“Belum kalau yang itu.” Caca segera mengambil tugas laporanku.


“Nate pinjem buku itu dong, hehehe.” timpal Dion yang tiba-tiba masuk ke kelasku.


“Ini?” kataku sambil menunjukkan buku yang dia maksud.


“Iya, sini Nate pinjam aku kembalikan kalau sudah selesai.” Dion pun segera menghampiri ke mejaku.


“Memang kamu tidak punya?” kataku sambil menahan buku yang dimaksud.


“Hilang Nate, aku waktu itu lupa simpan ketika mengerjakan di perpustakaan.” jawab Dion dengan muka santai.


“Boleh kamu pinjam tapi jangan kamu coret-coret yah?” tanyaku dengan muka serius.


“Ih tidak kok! Cepet kemarikan, kelasku sudah mau mulai.” Dion segera mengambil bukuku dan langsung berlari keluar menuju kelasnya.


“Dia memang suka begitu Nate, lupa dan malas mencatat.” timpal Caca yang sambil mengerjakan tugasnya.


“Yah kamu juga sama saja Ca, lupa dan malas mengerjakan tugas di rumah.” balasku yang menjahilinya dengan menarik tugas laporanku.


“Hei Natasha?” sapa seseorang kepadaku dengan senyum.


“Oh hei Kak.” balasku kepada Jun dengan senyum juga.


“Ambil mata kuliah ini juga?” tanyanya kepadaku yang sekarang posisi ada didepan mejaku.


“Ah iya Kak.” jawabku canggung.


Caca yang sedang asik menulis pun menghentikannya sebentar.


“Wah! Kak Jun.” sapa Caca dengan semangat.


Dia pun melirik aku dan tersenyum-senyum.


“Sedang apa Kak? Mau duduk disini?” tawar Caca sambil menggeser duduknya.


“Oh? Boleh?” jawab Jun penasaran.


“Bolehlah. Mau dimana? Pinggir kanan apa kiri samping Nate?” tanya Caca kembali.


“Ca?” bisikku kepadanya.


“Hmm, disini boleh?” sambil menunjuk tempat yang ada disampingku.


“Boleh!” jawab Caca sambil senyum dan menggeser duduknya.


Anak-anak satu kelas pun melihat ke arah kami bertiga. Aku merasa canggung, namun Jun sepertinya biasa saja dengan sikapnya itu.


“Kamu ada hubungan apa? Kok tiba-tiba dia menyapa kamu terlebih dahulu?” bisik Caca kepadaku.


“Tidak tahu. Menurut kamu?” tanyaku kembali kepada dia.


“Mungkin dia suka dengan kamu?” bisik Caca kembali.


“Ih apa sih kamu Ca!” jawabku sambil menepak tangannya.


“Kalian sudah selesai mengerjakan tugas laporan hari ini?” tiba-tiba Jun memulai topik dengan kami berdua. Aku dan Caca saling pandang.


“Oh iya aku belum selesai!” jawab Caca yang segera membereskan tugasnya.


Aku pun memadang heran dengannya.


“Dia kebiasaan begitu Kak Jun.” balasku dengan melirik Caca.


“Kak Jun?” sapa seseorang yang tiba-tiba menghampiri meja kami bertiga. Dan ternyata...


“Kak Jun apa kabar? Lama tidak bertemu.” tegur seseorang yang ternyata adalah Fiona.


Fiona Anggun Dewi dia ini Dewinya angkatanku, begitu anak laki-laki membuat julukkan untuknya. Kenapa? Tentu saja dengan kelakuannya yang bagai Dewi turun dari khayangan alias seenaknya. Gaya penampilannya yang sok artis, dan tentu saja dia merasa cantik.


Dia salah satu wanita yang sangat mengidolakan Jun, lebih tepatnya fans fanatik. Kemana pun Jun pergi dia selalu mengikutinya seperti tidak punya muka. Untungnya Jun baik, dan susah untuk menolak ajakan atau hal-hal yang membuatnya tak nyaman. Ingat Jun itu ramah! Yah ramah sampai-sampai dia juga kebingungan menghadapi para fansnya yang satu ini.


“Hei Fiona.” balas Jun singkat sambil tersenyum.


“Kak Jun kok tidak jawab? Kemana aja sih Kak Jun? Aku mencari Kakak loh!” tegur Fiona kembali kepadanya.


“Fiona perasaan kamu kemarin bertemu denganku?” balas Jun lagi tanpa ekspresi tak nyaman.


“Oh yah? Aku mungkin lupa Kak!” jawab Fiona dengan gaya sok menggemaskannya.


Aku hanya merasa sebal melihat sikapnya itu. Fiona pun menoleh ke arahku.


“Hei Nate! Sudah lama kamu duduk disitu?” tanya Fiona dengan muka resenya.


“Oh hei Fiona! Iya aku sudah lama duduk disini, kamu saja yang tidak fokus ke aku.” balasku sambil senyum dan menahan kesal.


“Boleh pindah duduk?” tanya Fiona kembali.


“Aku sudah duduk disini dari pintu kelasnya baru dibuka. Kamu kalau mau duduk di sana saja tuh disamping Asep!” bela Caca yang tiba-tiba ikut campur.


“Eh Caca! Tidak kelihatan yah kamu disitu! Menyempil sih seperti kotoran hidung.” balas Fiona sinis.


“Mata kamu kotoran hidung hah?!!! Kamu kalau mau duduk dari pagi datangnya. Memangnya kamu ambil mata kuliah ini? Sepertinya tidak deh, gaya-gayaan belajar kamu!!” balas Caca tak kalah sinis.


“Ih biasa saja kali!” timpal Fiona yang seperti mengajak ribut.


“Eh dayang-dayang bawa nih Dewi kalian! Duduk di belakang kalian semua jangan pada bertingkah deh.” perintah Caca yang menyuruh kedua teman Fiona yang dari tadi berada disampingnya.


Teman-temannya pun mengajak Fiona untuk pergi ke bangku belakang. Fiona pun menatap Caca dengan tatapan tajam seolah-olah elang melihat mangsanya yaitu tikus!


“Kak Jun aku duduk dibelakang yah? Nanti kita makan siang bersama.” tanya Fiona yang sok manis didepan Jun.


“Hmm, yah.” balas Jun singkat dengan wajah keheranan.


Caca melihat ke arah Fiona dengan menatap sinis dan Fiona pun melakukan hal yang sama juga kepada Caca.


“Sudah Ca, ribut dengan Fiona tidak akan selesai. Tidak ingat tuh si Andien korban bercandaan dia saja sampai tidak masuk-masuk satu bulan karena dia.” kataku menenangkan Caca sambil mengelu-elus pundaknya.


“Kenapa dia jadi wanita kecentilan dan agresif begitu, menjijikan aku Nate melihatnya.” balas Caca sambil cemberut dan memulai kembali mengerjakan tugasnya.


“Maaf ya, terkadang aku juga suka tak nyaman dengan sikapnya. Tapi kamu tahukan Natasha terkadang aku tidak nyaman untuk yang namanya menegur dia, nanti aku disangka sok ketampanan lagi.” ucap permintaan Jun yang tidak enak kepada kami berdua.


“Yah Fiona suka begitu Kak, tak aneh!” balasku yang tak mau memperpanjang lagi.


“Hei, kalian berdua sudah duduk saja disini. Boleh ikut bergabung?” tegur seseorang yang tiba-tiba menepak pundak Jun.


“Hei, Wira! Sini duduk.” jawab Jun sambil menggeser duduknya kepadaku.


Aku pun kaget tiba-tiba Jun ada disampingku. Tadi mungkin dia duduk disampingku, namun masih ada jarak yang cukup jauh. Sekarang dia benar-benar dekat dengannku! Jelas banget ini wangi parfum dari tubuhnya. Pantas saja banyak Wanita yang terpikat dengannya.


(Ups! Tutup hidung tutup hidung! Apa-apaan sih aku?)


“Natasha tidak terlalu sempit kan?” tanya Jun yang tiba-tiba sudah menoleh ke arahku. Aku salah tingkah karena jarak wajahnya dengan wajahku sangat dekat sekali.


“Ah! Tidak apa-apa Kak! Hehehe.” balasku dengan cepat agar Jun cepat-cepat berpaling dariku.


“Kamu tidak apa-apa Natasha? Kok dari tadi memegang hidung kamu terus?” tanya Jun kembali dengan wajah kebingungan melihatku.


“Ini? Ah ini??????”


(Ah! Sadar saja lagi ini orang!)


“Aku bau yah?” jawab Jun dengan cepat sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya itu.


Jun pun mencium badannya sendiri sambil menoleh kanan dan kiri.


“Kenapa Jun?” tanya Wira heran.


“Aku bau tidak? Tadi sih aku habis makan siang membeli sate.” balas Jun yang masih kebingungan.


Wira pun mulai mengedus-endus hidungnya ke badan Jun.


“Kamu tidak bau kok Jun!” balas Wira sambil menggeleng-gelenggkan kepalanya. Wira pun mendekatkan hidungnya ke badan Jun.


“Benar kok!” tambahnya lagi.


Wira pun menoleh ke arahku dan dia melihat aku yang sedang gugup.


“Ah Natasha kamu tidak kuat yah dengan bau wanginya Jun?” teriak Wira kepadaku.


Seiisi kelas pun menoleh ke arahku dan yang lainnya seakan-akan ini adalah info menarik untuk mereka. Tak terlewatkan tentunya Fiona juga menoleh ke arahku, kali ini aku mendapatkan tatapan sinisnya dia.


“Bu-bukan Kak! Ini a-aku..” kataku dengan terbata-bata.


“Kak Jun bau Nate?” tambah Caca yang ikut menimbrung gara-gara teriakkan Wira.


“Tidak Ca, ini aku..” bisikku.


Jun pun melihat ekpresiku yang salah tingkah dan gugup dia pun menyadari sesuatu, Jun hanya tersenyum.


“Sepertinya Natasha lagi pilek. Bukan hal besar kok!” ucap Jun yang mencairkan suasana kelas yang tadinya menatapku dengan tatapan penasaran. Semuanya pun kembali ke aktifitas masing-masing, dan Fiona masih mengawasiku dengan tatapan sinisnya itu.


“Dosennya datang! Dosennya datang!” teriak seseorang.


*****


“Kak Jun benar duduk disamping Nate?” tanya Dion dengan antusias.


“Iya.” jawab Caca santai sambil makan kentang gorengnya.


“Bukan hal besar kok, tidak usah berlebihan!” balasku dengan acuh.


“Tapi jarang-jarang loh Nate dia mendatangi wanita duluan.” timpal Dion kembali.


“Terus kalau dia tiba-tiba mau duduk sampingku, berarti dia suka begitu denganku?” balasku sambil menoleh ke arah Dion.


“Kak Jun kan populer! Yakin kamu tidak ada rasa atau apa?” tanyanya dengan mimik penasaran. Aku pun memandang wajahnya Dion.


“Hmm, tidak ada kok! Dia bisa duduk disampingku karena tawaran dari Caca.” Aku pun langsung memukul pelan kepala Caca.


“Ah! Dia menyapa kamu terlebih dahulu otomatis dia suka kamu dong? Wajar tidak sih Dion aku berpikir seeprti itu?” tanya Caca sambil menoleh kepada Dion.


“Hmm, wajarlah! Soalnya Kak Jun bukan tipikal maju terlebih dahulu. Memang fans dia banyak tapi dia bukan tipikal yang mau mendekati fans atau orang lain secara tiba-tiba.” jelas Dion dengan gayanya sok mikir. Aku pun menekukkan dahiku mencerna pembicaraan yang mereka berdua bicarakan.


(Jun? Suka? Yakin? Lelaki tampan kan bebas mau melakukan apa saja! Belum tentu juga suka, atau jangan-jangan dia cuma mau membahas tentang kejadian tahun lalu! Tapi waktu kemarin aku makan siang sama dia, dia tidak membahasnya sih.)


“Kalau dia benar suka memang kenapa sih Nate?” tanya Dion kembali yang tidak puas.


“Nate juga belum punya kekasih ini kan? Masih sendiri kan? Bebas ini lah.” tambahnya lagi dengan ekspresi muka meledekku.


“Belum tentu dia suka! Sudah jangan memanjangkan masalah.” balasku dengan ketus.


“Lihat tuh Ca, dia susah di kasih tahunya. Coba kasih tahu buat dia, siapa tahu masuk tuh sama kamu.” ledek Dion kepadaku.


“Aku jodohkan kamu mau gak??” tanya Caca yang tiba-tiba kepadaku.


Aku pun terkejut mendengarnya.


“Ah! Apa sih kamu Ca?” jawabku yang spontan terkejut.


“Ih benar tuh!” tambah Dion yang memanas-manaskan Caca.


“Loh benar kan? Kita membantu kamu, tadi kita jodohkan dengan Kak Jun kamu bilang dia tidak suka sama kamu, yah aku jodohkan saja kamu dengan yang lain siapa tau saja kan.” bela Caca dengan antusias.


“Aku kenalkan kamu ke lelaki yang tidak kalah keren dari Kak Jun.” tambahnya lagi.


“Kalau aku? Ada tidak?” tambah Dion kepada Caca.


“Heh! Urus dahulu saja tuh sepupu jauh aku! Kamu memberikan harapan palsu saja ke dia!!” balas Caca yang sambil memukul pundak Dion.


“Ih! Dia yang memberi harapan palsu Ca, masa dia dekat denganku tapi dia mau kembali lagi juga dengan mantan pacarnya! Kan sakit tuh wanita..” pembelaan Dion kepada Caca.


“Yah kamu tidak gerak cepat yah sudah dia beradu kasih dengan yang lain. Terlalu lambat sih kamu jadi lelaki!” jawab Caca dengan sebal.


“Oh aku kurang gerak cepat nih? Maaf deh aku tidak peka dengan perasaan kamu Ca waktu dahulu!” balas Dion dengan wajah memelas. Spontan Caca yang mendengarnya pun memukul kembali pundaknya.


“Ih apa sih nih kamu? Kamu ngingau yah? Makan apa sih tadi? Kebanyakan main sama Anton sih jadi begini deh.” ucap Caca sambil berekspresi bingung.


“Sakit mungkin yah kamu...” tambahnya lagi.


“Caca sudah punya kekasih Dion, lucu banget kamu ah!” tambahku kepada Dion.


Dion hanya cemberut mendengar ucapan aku dan Caca yang menyudutkannya.


“Tuh Kakak kamu bukan?” tanya Caca secara tiba-tiba sambil menunjuk arah yang di maksudkannya.


“Mana?” kataku sambil mencari-cari.


“Tuh!” Caca pun mengarahkan mukaku ke arah yang dimaksudnya.


“Oh iyah itu dia!”


Aku segera memberikan lambaian tangan kepada Nathan. Nathan pun menghampiriku segera.


“Kakak kamu semakin hari semakin tampan Nate!” timpal Caca sambil meminum Choco Bubblenya. Aku menoleh ke arahnya dengan pandangan konyol.


“Makin autis iya!” balasku yang tak peduli.


Nathan pun sudah berdiri didepanku sekarang.


“Pulang?”


“Iyalah pulang masa aku mau menginap disini?” balasku dengan konyol.


Nathan pun mencubit pipiku. “Ditanya serius malah bercanda saja ini anak!!!”


“Hei Kak Nathan!” sapa Caca yang sudah senyum-senyum melihatnya.


“Hei Ca! Hei Dion!” sapanya kembali kepada Dion dan Caca.


Dion hanya merespon dengan melambaikan tangannya sambil meminum minumannya.


“Kak Nathan tahu kalau di kampus ada yang suka Nate?” tanya Caca dengan ekspresi sok lugunya.


“OH YA AMPUN!! TEMENKU CEREWET!!” Aku yang mendengar spontan berteriak sambil memelototkan mataku kepada Caca.


“Suka? Sama Nate?” Nathan menanyakan ulang kembali. Caca membalas dengan anggukan.


“Jangan bercanda kamu Caca!” respon Nathan yang masih meremehkan. Caca membalas dengan menaikkan satu alis matanya. Nathan pun mulai mempercayainya.


“Siapa?” tanya Nathan yang sudah menoleh ke arahku.


(Aku mati kutu!)


“Dia...” Aku segera menutup mulut Caca agar tidak menimbulkan masalah panjang dengan Nathan.


“Ah! Caca itu cuma berita tak jelas kok?! Oke?” kataku sambil menghadapkan wajahnya ke hadapanku.


Aku hanya tersenyum sambil menekan keras kedua pipinya.


“Ah! J-Ju..” ucap Caca terbata-bata.


“Siapa?” kata Nathan yang mencoba untuk memahami maksud Caca.


“Jun Kak Nathan!” timpal Dion dengan santai sambil memakan kentang gorengnya.


“ARGGGHHH! Kalian tuh mulutnya!” teriakku secara spontan.


Semua pengunjung cafe melihat ke arah meja kami semua. Kami bereempat kompak diam sesaat.


“Siapa Jun?” tanya Nathan serius kepadaku.


“Kak! Jun itu cuma Kakak tingkatku. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Mereka berdua saja yang heboh menjodoh-jodohkan aku.” terangku kepada Nathan.


Dari raut wajahnya Nathan masih tidak puas dengan jawabanku.


“Ca? Benar?” tanyanya kembali kepada Caca.


“Hmm, yah kurang lebih begitu. Tapi Kak masa kalau memang tidak ada hubungan apa-apa Kak Jun tiba-tiba mendekati Nate? Padahal sebelumnya mereka berdua memang tidak dekat.” jelas Caca dengan mimik muka sambil berfikir. Nathan hanya melihat ke arahku dan menghela nafas panjang.


“Yah, tidak bisa disimpulkan suka sih kalau begitu.” jawab Nathan dengan santai.


“Tapi Kak masa Kakak tidak pernah begitu mendekati wanita terlebih dahulu?” sanggah Caca yang mulai memanas karena tidak suka dengan pendapat Nathan.


“Aku sih tidak pernah begitu sama wanita!” jawab Nathan sambil tersenyum.


“Ah! Bohong sekali deh! Jelas-jelas Kakak tipe-tipe seperti begitu.” ujar Caca yang memojokkan Nathan. Nathan panik mendengar ucapan Caca.


“Serius Ca! Aku yang dikejar-kejar dengan wanita jadi tidak mungkin aku mendekati terlebih dahulu?!” terang Nathan sambil memberikan mimik gugup. Caca melihat muka Nathan dengan seksama.


“Kenapa? Tidak percaya aku begitu? Dengar yah Caca kalau lelaki sudah sukses bisa memilih wanita mana yang cocok untuk dia. Contohnya kayak aku nih yah, aku bisa memilih wanita seperti apa juga karena mereka memdekati aku terlebih dulu. Kamu tahu dengan istilah 'Semakin kaya laki-laki, maka semakin banyak wanita yang menghampirinya'?” terang Nathan sambil menunjukkan mimik antusiasnya. Aku dan Caca kompak memasang ekspresi malas kepada Nathan.


“Benar juga sih Kak Nathan! Aku setuju dengan istilahnya.” bela Dion kepada Nathan. Aku dan Caca kompak langsung saling pandang kepada Dion dengan ekspresi aneh dan malas.


“Pintar! Ada juga yang sepemikiran denganku.” Nathan pun merangkul pundak Dion dengan bangga.


“Asli semakin tidak benar saja deh. Sudah yuk pulang!” ajakku kepada Nathan sambil berdiri dan menarik tangannya untuk pergi.


“Dah..semua! Sampai besok lagi.” ucapku sambil menarik terus lengan Nathan.


“Dah..Nate! Dadah..Kak Nathan! Hati-hati yah!” balas Caca dan Dion kompak.


Aku dan Nathan kompak melambaikan tangan kepada mereka berdua sebagai tanda pamit. Aku pun merangkul lengan Nathan sambil berjalan keluar cafe.


*****