
“Suka dengan es krimnya?” tanya Axel kepadaku sambil menopang tangan ke dagunya. Aku hanya memandang kepadanya sambil fokus memakan es krim yang berada di tanganku.
Yah! Kami berdua akhirnya pun memutuskan untuk pergi ke taman bermain The Fantasi Land. Alasannya sangat sederhana karena kami berdua suka dengan wahana-wahana yang extrem untuk meluapkan segala jenis kekesalan yang ada dikepala kami, apalagi dengan keadaan aku yang sekarang sedang berantem dengan Caca. Axel sih hanya menemaniku saja sebenarnya otaknya aku yang ingin pergi ke taman bermain The Fantasi Land ini. Saat ini kami berdua sedang menaiki wahana semacam bianglala. Sebelum menaiki wahana ini aku dibelikan es krim green tea oleh Axel. Dia ternyata masih ingat saja kalau aku suka yang berbau-bau green tea.
“Masih fokus makanin es krimnya? Tidak ingin foto-foto? Ini sudah di atas loh!” ujar Axel dengan melihatku sambil menawarkan. Aku hanya membalas dengan menggeleng-gelengkan kepala, Axel hanya tersenyum.
“Itu wahana apa? Sepertinya baru!” ujarku sambil menunjuk wahana yang dimaksudkan.
Axel melihat ke arah yang aku maksudkan. “Mau kesana?” tanyanya.
Aku membalas dengan mengganguk-anggukkan kepala. Bianglala yang kami naiki pun perlahan turun sampai akhirnya tiba kami berdua untuk turun dari wahana tersebut. Aku segera berjalan menuju pintu keluar wahana tersebut, begitu pun dengan Axel mengikuti dibelakangku.
“Mau makan dahulu tidak?” tawarnya kepadaku.
“Memang sudah lapar?” tanyaku kembali yang kini sambil membersihkan es krim yang menepel di tanganku.
“Sudah sih, jadi mau makan?” tanyanya kembali sambil menoleh kepadaku.
“Yah sudah, tapi nanti naik wahana itu yah!” ujarku sambil menunjukkan wahana yang aku maksudkan tadi di wahana bianglala.
“Hmm, oke!” balasnya sambil senyum. Kami berdua pun melangkah menuju food court yang tersedia di taman bermain. Aku lebih memilih untuk memakan junk food saja karena tidak mau bertele-tele dan Axel pun mengikutiku.
“Nih makanannya..” ujar Axel sambil meletakan nampah berisi makanan yang dipesan. Aku hanya memandang ke arahnya dengan wajah lesu dan membantunnya. Axel terdiam sesaat melihatku dan hanya tersenyum kecil.
“Kamu ada masalah apa?” tegur Axel sambil mengambil memulai untuk makan.
Aku masih terdiam tidak mengubris ucapan Axel.
“Aku hanya mau meringankan beban kamu saja kok, tidak ada maksud ikut campur..” tambah Axel padaku. Aku menatapnya sesaat sambil menarik nafas dalam.
“Aku berselisih Kak, dengan sahabatku.. Caca..” ujarku dengan nada lirih.
“Caca” tanyanya padaku sambil megingat-ingat.
“Yang waktu itu bertemu di Toko Buku!” balasku.
“Oh...., yah aku ingat!” jawabnya yang sudah ingat siapa yang aku mkasudkan dan Axel pun terdiam untuk sesaat.
“Masalah apa?” tanyanya kembali sambil makan.
Aku hanya menatap wajah Axel sambil mengambil kentang goreng yang berada dihadapanku.
“Masalah......” ujarku tak melanjutkan.
“Lelaki?” ucap Axel sambil menaikkan satu alisnya.
“Bu-Bukan, Kak!” jawabku segera.
“Hahahahahaha......” tiba-tiba saja dia tertawa, aku yang melihatnya kebingungan.
“Kak, kenapa tertawa?” tegurku sambil mengerenyitkan dahi.
“Permasalahan anak wanita tuh pasti yah tidak jauh dari kaum lelaki! Biasanya sih begitu..” ujarnya sambil tertawa kecil. Aku yang menyadari maksud ucapannya merasa tak suka.
“Kak, aku tidak berselisih masalah urusan lelaki! Yah walau masih ada kaitannya sih, tapi sedikit kok...” tegurku dengan nada sedikit kesal.
Axel hanya tersenyum padaku “Terus apa?”
Aku tertunduk sesaat “Aku bohong dengan dia...”
“Alasannya?”
“Alasannya karena aku belum mau menceritakannya dahulu dengan dia, tapi aku pasti akan cerita dengan dia secepatnya! Bukan karena aku tidak percaya dengan dia, tapi lebih ke....” aku tak melanjutkan kata-kataku karena masih ragu dengan asumsiku selama ini.
Aku memandang ke arah Axel, dan dia membalas dengan senyum tipisnya.
“Karena aku masih mau memastikannya dahulu Kak! Aku mau meyakinkan diri aku dahulu...” sambungku kembali.
Axel segera membereskan makanan yang sedang dia makan, dan mengelap mulutnya dengan tissu yang sudah disediakan.
“Memang kamu mau meyakinkan apa?” tanyanya kembali dengan serius.
“Hatiku Kak!” jawabku tegas.
Axel hanya terdiam, aku bisa melihat dia agak sedikit terkejut mendengarnya dan mulai memahami sedikit dari inti permalasahanku.
“Cepat kamu selesaikan Nate! Mungkin dia sekarang sedang menunggu kamu untuk merajuk ke dia..” ujar Axel sambil menyedot minumannya.
Aku hanya terdiam dan masih memandang ke arahnya.
“Serius!! Kalau perlu besok mau aku antarkan ke rumahnya?” tambahnya lagi padaku dengan raut meyakinkan.
“Yakin?’
Aku terdiam dengan ucapannya.
“Aku..”
“Aku tak yakin sih...” ucapku dengan mimik muka bingung.
Alex seperti akan tahu apa yang akan aku jawab dia hanya tersenyum mendengarnya.
“Ada aku Nate...” balasnya yang meyakinkanku.
Aku tediam sesaat dan memandang ke arah wajahnya.
“Kak”
“Tenang ada aku Nate! Aku temani kamu kok takutnya kamu merasa gugup sendiri untuk meyakinkan sahabatmu itu.” Jelas Alex.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan meyakinkan diriku sendiri.
“Oke..”
Axel yang mendengar jawabanku pun tersenyum.
“Jadi masih mau naik wahana itu?” ucap Axel sambil menunjukkan wahana yang aku maksudkan sebelumnya. Aku menoleh ke arah yang dimaksudkan, wahana itu berupa bentuk gulungan sosis yang dimana kita duduk sambil di putar-putar dan dilemparkan ke atas dan ke bawah. Aku melihat dan membayangkannya saja sudah mual dari kejauhan.
“Kak Axel mau?” tanyaku sambil menengok kepadanya dengan muka ragu.
“Yah kalau kamu mau aku masuk IGD...” jawab Alex sambil senyum meringgis padaku.
*****
“Nate kamu sedari tadi memikirkan apa sih?” tegur Jun sambil menopang dagu dan tetap memandang ke arahku dengan tatap tajam seakan dia tidak menyukai sikapku hari ini.
“Tidak Kak aku hanya sedang banyak yang dipikirkan...” balasku yang berusaha fokus dengan materi kuliah. Kami berdua sedang duduk saling berhadapan di bangku taman sekitar danau kampus. Aku saat itu sedang jalan sendiri menuju perpustakaan untuk menghafal materi untuk besok kuis, tidak sengaja bertemu Jun yang sedang duduk mengerjakan laporan tugasnya.
Jun masih tetap memandangiku, mungkin dia menyadari aku begitu kusut mukanya akhi-akhir ini saat berjumpa dengannya.
“Ada yang mau kamu ceritakan dengan aku?” tanya Jun sambil melipatkan kedua tangannya.
Aku hanya melirik padanya sebentar dan kembali berusaha fokus menghafal
(Tidak Kak Axel! Tidak Kak Jun! Semua pada peka sekali sih? Antara peka dengan rasa penasarannya tinggi sih.)
“Kalau memang kamu tidak mau bercerita yah tidak apa-apa sih..” ucap Jun dengan wajah sedihnya,
(Sial! Nih lelaki menggemaskan sekali sih? Tapi aku tidak mau bercerita ke dia, makin tidak enak nanti yang ada..)
Aku hanya mengigit bibir bawahku sambil berpikir.
“Kak?” tegurku.
“Yah?” jawab Jun agak sedikit bersinar di wajahnya dibandingkan tadi. Mungkin dia berpikir bahwa aku akan berbagi cerita padanya! Haha tidak secepat itu aku berubah pikiran! Aku tidak akan termakan oleh wajah menggemaskanmu!
“Mungkin Kakak mau ikut aku menonton pertandingan baseball Kak Nathan?” tanyaku sambil tersenyum.
“Jadi itu yang kamu pikirkan” tanya balik Jun padaku dengan muka datar.
“Kurang lebih, yah!” jawabku tegas.
(Jawab iya saja sih! Biar aku tidak dikira memikirkan hal lain oleh kamu!)
Jun hanya tersenyum sambil menopangkan dagunya.
“Kamu mau aku jawab apa?” tanyanya kembali.
(Yah jawab iyalah!!!! Aku tendang juga nih ah..)
Belum juga aku membalas pertanyaannya.
“Aku mau kok! Kapan?” ujarnya dengan cepat.
“Akhir pekan ini kalau Kak Jun tidak....”
“Aku tidak sibuk kok!” jawabnya cepat sambil tersenyum manis padaku.
“Hmm, oke...” balasku singkat.