
“Menurut kamu lebih lucu yang mana?” tanya Axel sambil menunjukkan barang yang dimaksudkan.
“Kira-kira teman Kakak sukanya yang bagaimana?” tanyaku kembali memastikan.
“Hm, dia suka barang yang agak condong kewanita-wanitaan banget.” ucapnya dengan mimik wajah sambil berpikir untuk mengingat-ingat.
“Bagaimana kalau ini?” sambil menunjuk barang berupa jepit rambut berbentuk bunga mawar satu tangkai berwarna emas.
“Wah boleh nih, model baru bukan sih?” tanya Axel sambil memegangnya.
“Sepertinya sih, aku juga baru lihat Kak!” kataku dengan memastikan kembali, tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan kembali. Aku yang menyadarinya segera menarik kembali tanganku, Axel terdiam melihat sikapku. Mungkin saja dia pun menyadarinya, namun mungkin dia berpura-pura.
“Yah sudah aku ambil ini saja untuk kadonya. Kamu ada yang mau dibeli? Biar sekaligus aku bayarkan.” tanya Axel yang menawariku dengan ramah.
“Tidak Kak!” balasku seadanya.
“Oke, aku bayar dahulu yah ke kasir.” ucapnya yang berpamitan sebentar padaku, aku membalas dengan anggukan tanda bahwa mengerti. Axel pun segera berjalan menuju meja kasir, sedangkan aku kembali melihat-lihat barang yang ada di toko tersebut.
Pagi tadi jam 10 Axel sengaja datang ke rumahku, aku saat itu sedang tertidur kebetulan tak ada kelas hari ini. Tiba-tiba saja aku dibangunkan oleh Nathan yang mengatakan bahwa Axel mencariku. Aku tak sempat untuk memberi kabar pada Jun kalau hari ini aku keluar dengan Axel. Aku segera mengelurkan Hp untuk menghubunginya dan memberikan kabar pada Jun.
Me:
Hai, kamu sudah bangun?
Aku segera mengirim pesan tersebut kepada Jun, tak butuh waktu lama dia pun membalasnya.
Tring!
Kak Jun:
Sudah dari subuh aku bangunnya, kamu baru bangun?
Me:
Aku sudah bangun sedari tadi. Aku hanya ingin kasih kabar ke kamu. Aku sedang keluar dengan teman Kak Nathan.
Kak Jun:
Siapa?
Me:
Kak Axel, aku hanya menemani dia membeli kado untuk temannya yang akan ulang tahun.
Kak Jun:
Oh begitu, oke! Jangan nakal yah...
Me:
Tentu! Percaya saja dengan aku.
Kak Jun:
Iya. Yah sudah aku ada acara dahulu, nanti kuhubungi kembali yah!
Me:
Oke.
Ketiku untuk mengakhiri pesan dengan Jun.
“Lama yah?” tegur Axel yang baru kembali, aku yang terkejut segera memasukkan kembali ponsel ke dalam tasku.
“Tidak sih.” balasku dengan senyum kecil.
“Oke, maaf kalau kamu menunggu lama. Kamu mau makan apa?” tanya Axel.
“Hm, apa aja.” balasku.
“Mau makan berat atau?” tanyanya kembali dengan menaikkan satu alisnya.
“Bagaimana kalau ke kafe di dekat sini? Kebetulan ada menu yang ingin aku makan hari ini.” ajakku pada Axel.
“Tentu. Yuk?” ajaknya juga dengan menarik lenganku, aku yang menyadari segera menarik kembali lengaku yang dipegangnya.
“Eh, maaf! Aku terbiasa dengan temanku yang wanita begitu.” ucap Axel dengan mimik wajah yang menyesal.
“Yah Kak, tak apa-apa.” balasku dengan menyunggingkan sedikit senyuman.
“Yah sudah, yuk!” ajaknya kembali.
Axel pun berjalan terlebih dahulu didepanku, disusul oleh aku. Aku dan Axel berjalan menyusuri beberapa toko, dan akhirnya sampai di kafe yang aku maksudkan. Selain makanan aku suka dengan interior yang disuguhkan oleh kafe ini. Aku datang kesini jika sedang suntuk suasana rumah dan kebetulan juga kafe ini tak jauh dari rumahku, sesekali aku mengerjakan tugas kuliah disini juga.
“Suka tidak Kak dengan tempatnya?” tanyaku sambil berjalan menuju meja yang telah kupilih.
“Suka, sederhana tapi nyaman.” balas Axel dengan melihat sekitarnya.
“Duduk disini saja yah?” ucapku sambiil menarik bangkunya.
Aku memilih tempat dekat jendela kafe, alasannya karena selain bisa menikmati suasana kafe dan sekitarnya. Aku juga bisa melihat keluar kafe jika merasa bosan.
“Mau pesan apa Kak?” tanyaku sambil melihat-lihat menu.
“Yang menurut kamu rekomendasi saja.” balasnya sambil tersenyum simpul.
“Oke, aku pesankan menu andalan di kafe ini.” ucapku sambil menutup buku menu dan memanggil pramusaji. Aku segera memesankan menu andalan di kafe ini, dan pramusaji pun mencatat semua pesanannya lalu segera pergi.
“Nathan bagaimana dengan Clarissa?” tanya Axel padaku dengan menopang dagunya.
“Memang dia tidak bercerita dengan Kakak?” tanyaku kembali padanya dengan mimik wajah heran.
“Tidak, mangkanya aku bertanya kepada kamu.” balas Axel dengan menggerutkan dahinya.
“Rencananya sih dia akan melamar Clarissa ketika ulang tahun Ayah.” kataku dengan antusias.
“Oh yah? Wow sial si Nathan itu! Kabar baik seperti ini tidak bercerita kepada aku.” umpat Axel dengan ekspresi yang sebal.
“Mungkin dia ingin bercerita dengan Kak Axel nanti.” balasku dengan berusaha menetralkan.
“Mungkin yah?!” ucap Axel dengan mimik wajah berpikir.
“Kak, kekasih Kakak siapa?” tanyaku yang merubah topik.
“Kenapa kamu bertanya tiba-tiba begitu kepada aku?” tanya balik Axel dengan mimik agak heran.
“Hanya bertanya saja kok! Tidak homo kan?” ucapku dengan mimik wajah meledek.
Axel segera memukul pelan kepada kepalaku, “Aku normal hei!”
Aku hanya tertawa mengejek melihatnya, Axel yang melihatku sedikit menggerutu.
“Aku suka kamu kali...” lirihnya pelan dengan membuang wajahnya. Aku yang sayup-sayup mendengarnya pun terdiam duu sejenak karena terkejut.
(Ih salah dengarkan aku?)
Bisik ku dalam hati sambil memastikan telingaku tak salah. Makanan pun tak lama datang dan segera disajikan di meja kami berdua. Kami segera menyudahi pembicaraan tersebut dan segera menikmati menu makanan yang telah disajikan.
“Bagaimana? Suka dengan rasanya?” tanyaku pada Axel dengan menyuap makanan yang sudah ku pesan.
“Yah aku suka!” balasnya dengan masih sempat tersenyum manis padaku.
“Tapi kalau makan dengan kamu semakin enak Nate!” tambahnya kembali sambil tersenyum puas menujiku, aku hanya membalas dengan senyuman saja.
(Sial! Aku digoda oleh dia kan?)
Batinku dengan segera melahap makananku.
Akhirnya aku sudah sampai di depan pagar rumahku.
“Nate, Terima kasih yah?” ucapnya dengan senyum tulus.
“Yah sama-sama.” balasku.
“Yah sudah aku turun yah?” kataku kembali dengan segera membuka pintu mobilnya.
“Tunggu sebentar!” tahannya dengan menepuk pundakku.
Aku menahan diriku dahulu dan Axel pun membalik badannya ke bangku belakang, untuk mengambil bingkisan yang berada di belakang.
“Ini untuk kamu!” sodornya padaku.
“Apa ini Kak?” tanyaku yang terkejut.
“Buka saja!” perintahnya dengan senyum.
Aku segera membukanya dan ternyata, “Kak ini kan barang yang aku pilihkan? Bukannya ini untuk teman Kakak?” ucapku yang masih tak menyangka.
“Aku terlalu sayang memberikan itu untuk temanku, karena barang itu ternyata hanya dijual terbatas! Aku memutuskan untuk membelikan hadiah yang lain saja untuk dia.” terangnya.
“Tapi Kak, ini tuh....” belum juga aku melanjutkan ucapanku Axel sudah memotongnya dengan menahan tanganku.
“Anggap saja hadiah karena aku baru lagi bertemu dengan kamu! Kan aku jarang-jarang ini memberikan barang kepada kamu!” ujarnya dengan wajah serius. Aku masih terdiam mendengarnya, aku masih tak bisa menerima hadiahnya ini.
“Hm, Kak?”
“Sudah diterima saja yah?”
“Kumohon?!”
“Oke.” jawabku dengan berat hati, Axel pun tersenyum puas melihat responku.
“Terima kasih yah Nate untuk hari ini...” pamitnya dengan tersenyum.
“Yah Kak, sama-sama!” balasku dengan senyum ragu.
“Oke, aku turun yah?!” kataku kembali dengan membuka pintu mobil. Aku segera turun dari mobil, dan Axel membuka jendela mobilnya.
“Dadah Kak!” kataku dengan melambaikan tangan padanya.
“Dadah Nate!” balasnya dengan melambaikan juga dan kemudian menutup pintu kacanya lalu segera beranjak dari pagar rumahku. Aku masih terpaku terdiam di pagar depan rumahku dan mengangkat kantong yang berisikan hadiah dari Axel tersebut.
“Aku harus berbicara apa dengan Jun?” ucapku sendiri sambil melihat kantong tersebut.
*****
“Kamu tidak habiskan sarapannya?” tegur Nathan sambil melihat kearahku dengan heran.
“Yah aku habiskan..” balasku dengan senyum padanya.
Aku segera melanjutkan sarapanku kembali, sedari tadi aku memikirkan bagaimana membicarakan hubunganku dengan Nathan. Aku takut dia akan marah padaku dan akan membunuh Jun.
Aku menggeleng-gelengkan sendiri kepalaku menepis semua pikiran buruk tersebut.
“Kamu kenapa sih?” tanya Nathan sambil mengunyah sereal yang sedang dimakannya dengan mengerenyitkan dahinya melihat kearahku.
“H-hmmm... Nathan....” kataku dengan nada ragu.
“Yah kenapa?” tanyanya dengan serius menatapku.
“I want to tell you something.....” kataku dengan memberanikan.
“About what?” tanya kembali dengan mimik semakin serius.
“About Jun?” balasku dengan senyum simpul sedikit.
“Oh, what’s wrong with him?” tanyanya kembali.
“Errr..., tapi kamu janji dahulu dengan aku? Tidak akan mengamuk atau marah-marah!! Yah? Yah? Yah? Please....” rajukku dengan memasang mimik wajah memelas paling gemas menurutku.
Nathan semakin mengerenyitkan dahinya, “Jangan berucap bahwa kamu....”
“Yes! Yes! Aku telah memiliki hubungan dengannya! Oke?” kataku memotong ucapannya dengan secepat mungkin.
“WHAT????” ujar Nathan dengan spontan terkejut mendengarnya.
“Why?” kataku dengan mimik wajah heran.
“Aku tidak berpikir ke arah sana Nate!” ujar Nathan dengan wajah tak menyangka dan terkejut.
“Memang kamu berpikir ke arah mana?” tanyaku memastikan dengan masih tak mengerti.
“Yah aku berpikir kamu berjalan dengan dia, tidak berpikir bahwa kamu dan dia sudah menjadi sepasang kekasih!” balas Nathan dengan masih tak menyangka.
“Owh, oke...” kataku dengan menunjukkan ekspresi tak menangka juga. Nathan menggaruk-garukkan kepalanya sendiri yang tak gatal itu.
“Kamu telah menjadi kekasihnya Jun Nate?” tegur Ayah yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku.
“AYAH!” kompak teriak aku dan Nathan.
“Apa? Biasa saja sih...” tegur Ayah yang kemudian ikut bergabung dengan kami berdua di meja makan.
“Yah maaf...” ucap kami berdua kompak juga.
“Jadi kamu benar telah menjadi kekasihnya Jun?” tanya Ayah memastikan kembali dengan mimik wajah serius.
“Y-yah..” balasku dengan menyunggingkan senyum palsu karena takut kena marah.
“Kamu sedang tidak bercandain kami berdua kan?” tanya Nathan yang masih tak menyangka.
“Ih kerajinan sekali sih aku bercandain kalian berdua! Kebanyakan nonton acara tak bermutu sih kamu Nathan...” balasku dengan memanyunkan bibirku.
“Yah tidak, barangkali saja kan...” sanggah Nathan dengan tak menyangka.
“Dari kapan kamu mulai menjadi kekasihnya dia?” tanya Ayah mulai menginterogasiku.
“Yah baru minggu lalu sih Ayah, aku sengaja tidak bercerita karena aku takut kalian akan marah dan ternyata seperti ini kan responnya...” jelasku dengan nada ragu.
“Yah jelaslah kamu kan tidak pernah memiliki kekasih dan sekarang tiba-tiba berbicara seperti ini. Terkejutlah kita berdua Natasha!” jelas Nathan yang menegaskan.
“Yah lalu kalian berdua tidak setuju?” tanyaku memastikan. Ayah dan Nathan saling berpandangan, yang kemudian melihat kearahku.
“Ayah boleh bertemu dengan dia?” tanya Ayah dengan mimik serius.
“Untuk apa?”
“Yah untuk memarahinya lah!” celetuk Nathan, aku segera melotot kearahnya.
“Nathan!” tegur Ayah sambil memukul bahu kanannya.
“Iya maaf!” balas Nathan dengan mengusap-usap bahunya.
“Ayah mau berbicara saja dengan dia sesama lelaki.” jelasnya dengan serius.
“Yah sudah aku akan mengajak dia ke rumah akhir minggu ini.” balasku.
“Tentu sayang!” kata Ayah dengan senyum kecil.
“Tapi Ayah akhir minggu ini aku akan mengajak Clarissa ke rumah juga!” protes Nathan.
Ayah melirik padanya, “Yah sudah kan bagus menjadi ramai akhir pekan ini dirumah kita?!” yang kemudian Ayah berdiri dan menepuk kembali bahu kanan Nathan.
Aku dan Nathan saling memandang, “Sarapan aku sudah selesai, dadah Nathan!” kataku sambil beranjak dari kursi meja makan dan bergegas berlari ke dapur.
“NATASHA!” ucapnya dengan sedikit kesal padaku.
Aku tak menggubris segera berlari ke dapur meletakkan mangkuk serealku dan kemudian berlari secepat mungkin masuk ke dalam kamar.
(Aku bisa dimakan Nathan, kalau berlama-lama disitu!)
*****
“Dion ini materinya bagaimana sih?” tegur Caca yang sedang fokus membaca materi untuk bahan presentasi.
“Mana sini yang bagian tidak kamu pahamin?” tanya Dion kembali pada Caca.
“Ini yang ini Di...” ucap Caca sambil menunjukkan yang dimaksudkan. Dion pun menjelaskan apa yang Caca tidak mengerti.
Kami semua sedang fokus mempelajari materi untuk bahan kuis, karena dosen untuk mata kuliah yang ini sangat memperhatikan nilai. Aku dari tadi fokus membaca materi juga, aku tak mau nilai kuisku buruk karena mata kuliah ini sangat penting untuk praktik kerja lapangan.
“Dion kalau yang ini?” tanya Caca kembali pada Dion.
“Kalau yang ini...” belum selesai Dion melanjutkan ada yang menghampirinya.
“Kak Dion?” tegur seseorang padanya, Caca refleks melihat ke sumber suara bersamaan dengan Dion.
“Yah?” katanya dengan mimik wajah bingung.
“Tiara Kak, ingat tidak?” tanyanya kembali sambil terseyum.
“Tiara yang mana yah?” tanya Dion kembali sambil mengerenyitkan dahinya.
“Tiara Kak, adik kelas di SMA dahulu.” Jelasnya dengan mimik muka meyakinkan.
Dion terdiam sejenak, seketika wajahnya berubah menjadi cerah karena sudah mengingatnya.
“Ah Tiara! Yang dahulu kamu dengan aku bersamaan di OSIS yah?” ucapnya dengan sumringah.
“Yah betul Kak! Betul!” balasnya yang tak kalah senang karena Dion sudah mengingat dirinya.
Aku dan Caca saling berpandangan karena masih tak mengenal teman Dion kali ini.
“Kamu kuliah di sini juga?” tanya Dion dengan senyum lebar.
“Yah Kak! Aku baru masuk tahun ini.” balasnya dengan senang.
“Wah, jurusan apa?” tanya Dion kembali.
“Ilmu Komunikasi Kak! Kebetulan aku lewat sini, dan aku ingat Kakak kuliah jurusan Manajemen di Universitas ini. Eh ternyata aku bertemu Kakak! Kebetulan sekali yah...” jelas Tiara dengan senang.
“Oh begitu, wah iya yah kebetulan sekali kita bisa bertemu seperti ini. Boleh aku meminta nomor telepon kamu Tiara?” tanya Dion dengan mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
“Tentu.” balas Tiara.
“Berapa nomornya?” ucap Dion yang segera akan memulai mengetik.
“Ehm! Disini ada orang kali.” Tegur Caca dengan mimik wajah tak enak. Dion spontan menoleh ke arahnya.
“Oh yah Tiara, perkenalkan ini teman-teman sejurusanku. Maaf yah keasikan sampai lupa untuk mengenalkan mereka.” ucap Dion yang melihat ke Caca.
\=\=\=
***HAY!! Aku kembali lagi🖤 maaf untuk waktu 6 bulan yang tertunda karena sebab dan lain hal, sehingga aku gak bisa melanjutkan cerita ini. Setelah ini, aku akan berusaha menuntaskan cerita, karena kalau cerita menggantung seperti ini tuh gak enak ya, huhuhu maafkan. Terima kasih untuk yang sudah membaca karya novelku, aku harap kalian tetap menunggu dan suka akan karyaku. Peluk, cium, dan kasih untuk kalian:)