
“Nate!” ujarnya sambil tersenyum lebar kepadaku. Aku masih terkejut dan tidak bisa mengingat siapa yang ada didepanku, Dion segera mundur kembali menghampiriku.
“Hai Nate! Kamu lupa?” tanyanya kembali kepadaku sambil masih tersenyum lebar.
“Hmm, siapa?” ujarku yang masih tidak bisa mengingatnya.
“Yah ampun! Serius kamu tidak ingat? Aku Axel, Axel Gunawan teman Kakak kamu Nathan...” balasnya dengan antusias.
“Axel? Teman Nathan?” jawabku sambil mengingat-ingat kembali.
“Yah! Aku teman Nathan waktu kecil, yang dulu aku suka main ke rumah. Waktu itu kamu masih TK mungkin kamu sudah lupa dan ditambah aku baru pulang ke Indonesia lagi...” terangnya kepadaku yang masih mencoba membantu. Aku terus memperhatikkan wajahnya.
(Memang seperti tidak asing sih wajahnya! Tapi aku lupa, teman Kak Nathan dulu banyak sekali...)
“Ada apa Nate?” tanya Dion yang sudah berdiri disampingku.
“Oh ini Dion, dia katanya teman Kakak ku...” terangku sambil mengarahkan tangan kepadanya, Dion melihat Axel dengan seksama.
“Kamu mengenalnya?” tanyanya kembali sambil menoleh kepadaku.
“Ini aku sedang mengingat-ingat kok..” balasku sambil terus menggingat siapa itu Axel.
“Oke mungkin kalau aku menyanyikan lagu “Doraemon” kamu mungkin akan ingat? Apa perlu aku menyanyikan dengan berjoget?” terangnya kembali yang masih berusaha.
(Doraemon? Joget? Oh!)
“Yah! Aku ingat!!! Kamu Axel Si Gigi Ompong!!” balasku sambil berteriak. Semua orang pun langsung menoleh ke arahku, aku segera menutup mulut dengan tangan.
“HAHAHAHA!! Akhirnya kamu ingat! Yah ampun Nate kamu sudah besar ya! Dan kamu masih ingat dengan julukanku, hihihi...” balasnya yang senang karena aku mengingatnya.
“Ini siapa? Kekasih kamu?” tanyanya kembali sambil menunjuk Dion yang ada disampingku.
“Oh bukan! Bukan! Dia ini teman aku Kak...” jelasku sambil melihat kepada Dion.
“Iya kita teman saja kok..” timpal Dion menambahkan.
“Kok Kak Axel bisa mengenal aku? Padahal aku saja tidak ingat dengan Kakak, ditambah kita baru bertemu kembali lagi..” ujarku yang masih bingung Axel mengenaliku.
“Oh aku lihat tas kamu, aku ingat dulu Nathan pernah membelikan gantungan tas untuk kamu Adiknya dan gantungan tas itu limited edition, jadi tidak mungkin banyak orang yang punya. Sudah jelek juga aku lihat. Waktu membelinya juga dengan aku jadi pasti hafal, ditambah aku mengecek pergelangan tangan kamu ada tanda lahir di lengan kiri kamu dan tahi lalat di atas alis sebelah kanan kamu. Aku yakin kamu pasti Natasha Canvill...” terangnya dengan jelas.
Aku kagum dia sampai memperhatikan sedetail itu dan mengingat begitu jelas.
“Hahahaha, benar semua Kak! Yah ampun kagum aku dengan Kak Axel..” ujarku yang masih tak menyangka.
“Hihi, iyalah! Kamu Adik sahabat aku masa iya aku tak mengenali walau baru bertemu kembali..” ujarnya sambil tertawa terkekeh.
“Kamu sudah besar yah Nate? Semakin manis dan cantik...” tambahnya sambil senyum kepadaku. Aku canggung dan salah tingkah di puji seperti itu. Dion melirik kepadaku dengan tatapan meledek, aku meyikut badannya.
“Kapan-kapan aku mampir ke rumah..” ujarnya kembali dengan antusias.
“Ah! Oke Kak! Oh iya, Kak kita pamit dahulu yah! Soalnya masih ada kuliah lagi..” kataku sambil melihat jam tangan dan segera menarik lengan Dion.
“Oh oke! Salam yah untuk Nathan...” ujarnya sambil senyum.
“Oke Kak...” balasku sambil menarik lengan Dion dan beranjak jalan meninggalkannya.
“Kamu naik motor Nate?” tanya Axel kembali. Aku dan Dion saling pandang karena takut dia mengadukan ke Nathan.
“Iya kita naik motor Kak...” jawabku kepada Axel dengan gugup.
“Oh oke! Hati-hati yah..” ujarnya sambil tersenyum kembali dan beranjak pergi menuju pintu masuk tempat makan. Aku dan Dion masih terdiam dengan ucapannya tadi dan langsung bergegas pergi meninggalkan tempat makan tersebut.
“Dia benar teman Kak Nathan?” tanya Dion kembali untuk memastikan sambil menghampiri motornya.
“Iya teman jaman dia kecil dahulu, dia memang pindah ke luar negeri aku lupa kemana. Santai saja Dion dia dan Kak Nathan kan sudah jarang berkabar..” ujarku yang berusaha santai karena takut Axel menggadukan kepada Nathan bahwa aku naik motor.
“Tetep aja Nate aku merasa takut! Yuk cepat naik nanti kita terlambat.” ajaknya sambil menyalakan motor dan menstaternya. Aku segera naik ke motornya dan kedua tanganku segera memegang erat di pinggangnya. Dion segera melajukan motornya secara perlahan keluar dari parkiran motor tempat makan tersebut.
“Kak Nathan kamu tidak lari pagi? Ini kan hari Sabtu biasanya kamu sudah lari pagi..” tegurku didepan pintu kamar Nathan sambil membawa-bawa handuk untuk mandi. Nathan masih tidak berkutik dikasur dia malah sengaja mengambil bantal yang ada disampingnya untuk ditutup diatas kepalanya.
“Hhhh... Ucapanku tidak didengar lagi! Ayah Kak Nathan tidak mau bangun tuh..” teriakku kepada Ayah dengan sangat lantang. Ayah segera menaiki tangga rumah dan bergegas menuju kamar Nathan, dan sekarang Ayah tepat disampingku dengan memasang kedua tangannya di pinggang.
“Nathan!!! Kamu mau bangun tidak? Sudah siang nih memang kamu tidak lari pagi??” ujar Ayah sambil berjalan masuk ke dalam kamar Nathan, aku masih berdiri didepan pintu kamarnya.
“Oh yah Tuhan! Kalian berdua itu berisik sekali! Aku masih mengantuk aku baru saja pulang subuh dan baru bisa tidur jam 4 pagi tadi.” balasnya sambil membuka celah sedikit di bantal yang masih berada dikepalanya. Ayah segera menarik bantalnya tesrsebut dengan kesal.
“Masih muda jangan malas-malasan dan tidur jam segitu bukan alasan kamu bisa bangun siang!! Ayo cepat bangun!! Ayah tak menyuruh kamu untuk pulang pagi juga, kamu sendiri ada apa bisa pulang sepagi itu?” tegur Ayah dengan tegas pada Nathan. Dia pun segera membuka kedua matanya dan menoleh ke arah Ayah dengan takut.
“Aku habis ke club, hehehe..” ucapnya sambil tersenyum takut. Ayah segera menghampiri Nathan dan naik ke tempat tidurnya untuk menarik telinga Nathan dengan kencang.
“Ayah kira kamu lembur! Ternyata malah mabuk-mabukkan ya!” ujar Ayah yang masih menarik telinga Nathan, aku masih menyimak di depan pintu kamar sambil membayangkan kalau Ayah tahu aku juga pernah mabuk waktu tahun lalu mungkin Ayah akan bersikap sama padaku. Aku hanya diam dan melihat dengan perasaan takut juga, sedangkan Nathan masih kesakitan di telinganya karena ditarik Ayah.
“Ayah aku bukan anak kecil lagi dan ini sakit sekali loh telingaku..” ucapnya sambil mengelus-elus telinganya.
“Dasar anak susah dikasih tahu dan tidak menurut dengan Ayah!” kata Ayah sambil memukul-mukul lengan Nathan.
“Stop! Stop! Aku ke club karena ada acara ulang tahun temanku, oke?” jelas Nathan yang berusaha menghentikan pukulan Ayah padanya. Ayah menghentikan pukulannya itu dan duduk di kasur Nathan sambil menghembuskan nafas panjang.
“Ayah tidak tahu harus bagaimana yang jelas Ayah tidak suka kamu terlalu bebas diluar sana terutama untuk dunia malam. Ayah percaya padamu Nathan, tetapi sebagai orang tua Ayah khawatir. Jadi bersikaplah sewajarnya Nathan, dan Ayah memukul serta menarik telingamu karena Ayah tak suka melihat sikapmu yang terlalu menyepelekan hal-hal seperti begitu...” terang Ayah dengan mimik muka serius. Nathan melihat Ayah langsung merasa tak enak dan segera berdiri duduk disamping Ayah.
“Maaf mestinya aku memberikan kabar kepada Ayah dan maaf kalau Ayah tadi tak suka.” balasnya sambil memeluk Ayah dari samping. Aku yang melihat terharu dengan sikap Ayah yang berusaha tegas dan melindungi anaknya agar tidak tergoda dengan dunia luar, dan aku terharu dengan sikap Nathan yang langsung mengakui bahwa dia bersalah dan berusaha untuk mengerti dengan kekhawatiran Ayah. Ayah melihat ke arahku.
“Nate? Kok diam disitu kemarilah...” ajak Ayah sambil melambaikan tangannya kepadaku. Aku yang melihat membalas sambil tersenyum.
“Aku disini saja melihat kalian saling berpelukan, Kak tidak malu? Memeluk seperti itu kepada Ayah katanya sudah dewasa..” ledekku kepada Nathan yang masih berdiri di depan pintu.
“Tidak!” jawabnya sambil memeluk Ayah dengan manja, Ayah hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang konyol.
“Aku mau mandi dulu yah, aku mau ada acara..” lanjutku sambil segera bergegas meninggalkan kamar Nathan menuju kamar mandi yang berada di bawah.
“Dia mau kemana?” tanya Nathan sambil menoleh ke Ayah, Ayah membalas dengan gelengan kepala.
“Mungkin mau main dengan teman-temannya..” balas Ayah yang tak mau ambil pusing, namun berbeda dengan Nathan ternyata dia segera bergegas ke kamar mandi bawah. Nathan ternyata menungguku sambil menonton tv sambil sesekali menengok ke arah kamar mandi. Sekitar 20 menit aku pun keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan baju tidur yang tadi kupakai. Nathan segera berlari kehadapannku dengan cepat.
“Mau kemana Nate?” tanya Nathan sambil menatapku seolah-olah dia sedang menginterogasi seorang penjahat, aku yang menerima pandangannya tersebut langsung tak suka. Segera aku mendorong badannya yang menghalangi jalan menuju tangga lantai atas.
“Ih mau kemana?” tanya Nathan kembali sambil menarik lengannku, aku langsung menoleh ke belakang sekarang aku dan Nathan saling berhadapan.
“Mau ke perpustakaan kampus Kak...” jelasku dengan muka datar, Nathan menatap wajahku memastikan aku berbohong atau tidak.
“Dengan siapa?” tanyanya kembali sambil menunjukkan mimik muka menginterogasi.
“Hhhhhhh! Sendiri kok aku mau dengan siapa?” balasku yang mulai bosan dicurigai aneh-aneh oleh Nathan.
“Benar? Dion dan Caca kemana?” tanya Nathan kembali dengan muka tak yakin.
“Caca yah dia mau bertemu dengan kekasihnya, kalau Dion mungkin dia sibuk bermain game..” terangku sambil acuh.
“Yah sudah aku antarkan kamu! Kalau perlu aku temani kamu deh ke perpustakaannya!!” jelasnya lagi sambil berjalan menuju kamar mandi. Aku yang mendengar ucapannya langsung menarik lengannya.
“EH! Buat apa? Tidak usah ih! Aku malu tahu...” ucapku sambil menahan lengannya.
“Kamu kan sendiri dan aku tak ada kegiatan juga tuh..” balas Nathan masih tetap dengan ucapannya tadi.
“Tidak usah!! Berlebihan banget ih Kak..” kataku sambil memasang mimik muka yang tak suka.
“Terserah! Aku mau mandi mau ikut! Ayah????!!!!” ucap Nathan sambil melepaskan tanganku yang masih memegang lengannya. Ayah yang mendengar sahutan Nathan segera menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Ayah bingung.
“Tolong jaga Nate! Jangan sampai dia pergi dahulu tanpa aku!” jelas Nathan dengan mimik muka serius. Ayah yang menerima perintah Nathan bingung sambil melihat ke arahku, aku membalas dengan menggeleng-gelengkan kepalaku. Ayah melihat ke arah Nathan, dan Nathan masih menunjukkan mimik muka serius.
“Oke!” jawab Ayah singkat. Aku yang mendengar langsung memasang muka tak enak dan segera beranjak naik ke atas menuju kamarku, disusul dengan Nathan yang segera beranjak ke kamar mandi.