NIRBANA

NIRBANA
Episode 20



“Kak Axel?” tegurku.


“Nate?” balas Axel yang tak menyangka langsung bertemu denganku.


“Ada apa Kak disini?” tanyaku.


“Mencari kamu lah!” balasnya sambil tersenyum.


“Ada perlu apa?” tanyaku heran.


“Jemput kamu lah!”


“Serius?” tanyaku yang tak yakin.


“Iyalah, kan sudah janji mau temani kamu untuk membereskan masalah.” terangnya dengan mimik muka meyakinkan.


“Tapi sudah selesai.” Kataku sambil senyum kecil.


“Serius?” tanyanya dengan tak yakin.


“Iya, tuh aku mau jajan bersama orangnya.” Kataku sambil menunjuk ke arah Caca dan Dion. Mereka yang melihat kejauhan hanya melambaikan tangannya padaku dan Axel.


“Yah, telat dong yah aku?!” nada Axel yang agak kecewa.


“Yah sudah tidak apa-apa kok Kak! Oh yah, kok tahu sih aku kuliah disini?” tanyaku yang lupa kalau Axel tahu tempat kuliahku.


“Dari Nathan! Mangkanya ini sekaligus mau menjemput kamu diperintah oleh dia juga. Kan aku juga mau bertemu dengan Nathan..” jawab Axel dengan lembut.


“Oh, pantas! Yah sudah Kak Axel mau sekarang saja nih kita perginya?” tawarku padanya.


“Teman-teman kamu?” tanya balik Axel padaku.


“Yah mudahlah nanti aku atur! Yuk pamit dengan mereka dahulu..” ajakku pada Axel dan dia pun mengikutiku menghampiri Caca dan Dion.


“Dion, dia kesini...” bisik Caca pelan.


“Iya tahu, perasaanku dia mau pergi nih.” Balas Dion dengan berbisik juga.


“Serius?”


“Taruhan yuk?”


“Oke, 50-50 yah?”


“Deal!”


Dion dan Caca pun tersenyum kepadaku yang menhampiri dengan Axel.


“Caca, Dion..”


“Yah?” jawab mereka berdua kompak.


“Aku pamit pulang yah.”


“Pamit? Tidak jadi jajan dahulu?” balas Caca sambil melirik kepada Dion dan Dion pun membalas hanya dengan senyuman.


“Tidak! Ini Kak Axel datang untuk menjemput aku, diperintah oleh Nathan.” Terangku dan Axel mengiyakan dengan senyuman.


“Yah sudah kita berdua tidak apa-apa kok, yah kan Ca?” balas Dion dengan senyum menandakan sesuatu pada Caca.


“Yakin Nate? Ini jajan di Mang Usep loh. Kita sudah lama Nate..” rajuk Caca padaku sambil memegang lenganku, aku pun bingung tidak biasanya Caca sebegitunya.


“Serius...” balasku yang bingung.


“Sudah sih Ca, biarkan saja Nate pulang!” timpal Dion yang berusaha melepaskan tangan Caca. Mereka berdua saling pandang satu sama lain.


“Besok kalian kan bisa bertemu kembali lagi..” tegur Axel yang melihat tingkah Caca dan Dion yang mungkin berpikir terlalu berlebihan. Caca memandang wajah Dion sesaat dengan sedikit kesal dan dengan berat hati pun Caca berpamitan denganku


“Oke, Nate..sampai jumpa lagi!” Caca pun melepaskan tangannya padaku dan melirik ke arah Dion. Dion hanya tersenyum jail kepada Caca, aku tak tau ada apa diantara mereka berdua.


“Aku pamit pulang yah! Dadah Caca, Dion..”


“Dadah, Nate, Kak Axel...” kompak mereka berdua. Axel membalas dengan senyuman saja.


Aku dan Axel segera berjalan kearah motor yang dipakirkan Axel dan segera kami berdua pun pergi meninggalkan area kampus.


“Mana?” tegur Dion sambil tertawa tengil.


“Sebal” balas Caca sambil memberikan uang pada Dion.


Dion pun tersenyum puas!


*****


“Oh jadi begini, yang susah diajak untuk bertemu denganku tuh?” tegur Axel yang baru masuk ke rumahku.


“Yah ampun sayang, bukan begitu..” balas Nathan yang menghampiri Axel dan segera ingin memeluknya.


“Bukan begitu apa? Waktu aku chat pulang ke Indonesia kamu jawabnya sibuk kerja! Aku chat lagi besoknya kamu jawabnya mau menjaga toko, aku chat lagi kamu jawabnya mau latihan baseball. Begitu saja terus alasan terus...” jelas Axel yang terus berakting.


“Sini sayang aku peluk sayang...” terang Nathan.


“Tidak usah sentuh-sentuh deh! Jijik aku dengan kamu Mas! Kamu malah asik-asiknya berkencan dengan dia..” ucap Axel dengan tingkah seolah-olah Nathan adalah kekasihnya yang berselingkuh dengan wanita lain. Clarissa yang melihat tingkah mereka berdua hanya tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sayang, sini cium dahulu aku rindu!!!” renggek Nathan yang berusaha mendekati pipi Axel.


“Jangan sentuh!!!! Tidakkkk!!” teriak Axel yang berusaha menghindar.


“Sudah ih, jijik aku lihat kalian begitu...” tegurku yang merasa sebal dengan aktingnya.


“Aaaaaa, sini-sini peluk kesayanganku...” balas Nathan yang ingin memelukku sambil tersenyum jail. Diikuti oleh Axel yang ingin memelukku juga, namun ditahan oleh tangan Nathan.


“Tidak usah peluk-peluk adik aku juga dong!” tegur Nathan yang tetap menghalagi Axel.


“Pelit banget sih..” balas Axel dengan akting cemberut.


Aku yang merasa risih langsung melepas pelukan Nathan.


“Sudah sih aku bukan anak kecil lagi..” ucapku sambil berjalan ke arah kamarku.


“Gimana kabar kamu?” tanya Nathan sambil membuka kulkas untuk menyajikan minum.


“Baik Nathan, oh yah dia kekasihmu? Tidak kamu kenalkan denganku? Ha?” tegur Axel yang dari tadi menunggu Nathan untuk memperkenalkan Clarissa.


“Eh maaf kenalkan, ini Clarissa dia wanita spesialku tapi tanpa telur yah karena dia bukan nasi goreng! Dan Clarissa kenalkan ini Axel belahan jiwaku di Paris.” Nathan pun menutup dahulu kulkas, segera langsung memperkenalkan Clarissa dan Axel.


“Clarissa..”


“Axel...”


Mereka berdua pun saling berjabat tangan satu sama lain.


“Kalian mau makan apa? Biar ku buatkan makanan..” tanya Clarissa yang segera bergegas ke dapur.


“Tidak usah aku sudah makan kok.” balas Axel.


“Sudah kamu masak apa yang menurut kamu enak saja, dia tidak mau aku makan kok. Dia suka begitu, nanti kalau sudah ada makanannya juga di makan kok..” terang Nathan dengan nada dan muka mengejek. Axel hanya membalas dengan mengepalkan tangannya sambil memukul bahu Nathan.


“Yuk kita ke teras belakang rumah. Tempat kumpul kita seperti dahulu, hehe..” ajak Nathan yang segera merangkul Axel untuk berjalan ke teras belakang. Axel pun mengikutinya dan Clarissa pun mulai membuatkan makan malam.


Mereka berdua pun duduk di bale-bale yang terbuat dari kayu yang memang disediakan dibelakang rumah, jika ada saudara dan kerabat dekat bisa bersantai ria.


“Itu kekasih kamu bukan sih? Maksudku kamu sudah menyatakan suka ke dia?” tanya Axel yang masih belum puas.


“Tidak perlu lah aku menyatakan suka ke wanita lagi. Cukup aku komitmen dengan dia saja beres. Repot kalau sudah ada status seperti sepasang kekasih begitu-gitu. Apalagi jaman sekarang butuh kepastian saja deh dengan wanita. Suka yah langsung melamar sehabis itu yah menikah, selesai deh. Yah tidak?” terang Nathan dengan senyum meyakinkan.


“Yah ampun sayang! Terharu aku tuh mendengar ucapan kamu begini. Semenjak kapan sih kamu menjadi dewasa begini? Dahulu mana pernah amu berpikir seperti ini.” Axel pun merangkul ke pundak Nathan.


“Sudah umur Axel, sudah bukan anak remaja lagi.” jawab Nathan yang segera memukul bahu Axel, dan Axel pun membalas kembali.


“Kamu lihat Clarissa karena apa?” tanya Axel yang masih penasaran.


“Menurut kamu?” tanya Nathan kembali. Axel pun tersenyum nakal kepada Nathan.


“Ukuran cup nya yah? Hahaha..” tawa Axel dengan jail.


“Hahahahaha....” Nathan membalas dengan tertawa jahil lagi.


“Dari dahulu yah tidak berubah seleranya.” balas Axel yang masih tertawa jail.


“Memang yah kamu tuh teman ‘termesum’ aku yang terbaik!” puji Nathan sambil merangkul Axel kembali dan dilanjutkan dengan tawa renyah mereka berdua.


“Nathan...”


“Yah?”


“Nate sudah punya kekasih?” tanya Axel sambil memandang lurus kedepan. Nathan yang kebingungan memandang wajah temannya itu dengan seksama.


“Kenapa?”


Axel melirik Nathan dan tersenyum.


“Hanya ingin tahu saja.”


“Kamu menyukai adikku yah?” tanya Nathan yang masih melihat wajah Axel.


Axel membalas hanya tersenyum.


“Mau tahu saja kamu!”


Nathan tertawa bingung menanggapi jawaban temannya itu.


“Nate masih sendiri kok.”


“Oh yah?” jawab Axel yang tak yakin dengan jawaban Nathan itu.


“Sumpah! Yang mendekati sih banyak..” lanjut Nathan sambil tersenyum usil dan Axel pun melirik Nathan dengan mimik muka sebal.


“Iyalah adik kamu cantik.” balas Axel dengan nada pelan. Nathan yang menyadari maksud dari pertanyaan itu hanya tersenyum tipis.


(Sepertinya dia suka dengan Nate! Menarik nih..)


Axel yang menyadari ada yang salah dengan ucapannya tadi, karena tanpa sengaja terucap pelan dari mulutnya segeralah dia pun mengalihkan pembicaraan dengan Nathan.


“Oh iya Bapak kamu kemana?”


“Masih di toko kalau jam segini.” balas Nathan dengan melihat jam tangannya.


“Hei, makan malam sudah siap!” tegur Clarissa yang menghampiri Axel dan Nathan.


“Yah sayang” jawab Nathan yang segera menghampiri Clarissa dan mencium pipinya.


“Aku panggil Nate dahulu yah?” tanya Clarissa yang kan berjalan ke arah kamar Nate.


“Biar aku saja yah?” sahut Axel yang menawarkan diri.


Nathan dan Clarissa saling pandang mendengar pernyataan Axel. Nathan pun memberikan isyarat dengan tersenyum pada Clarissa.


“Oh oke! Kalau kamu yang mau, tapi tahu kan kamar dia dimana?” tanya Clarissa untuk meyakinkan.


“Yang mana Nathan?” tanya balik Axel pada Nathan.


“Yang ada tulisan nama dia lah, yang mana lagi kamar dia.” Sahubt Nathan dengan mimik muka mengejek Axel.


“Awas kamu!” balas Axel sambil melihat pada Nathan, dan dia pun membalas dengan senyum mengejek. Axel pun segera melangkah masuk rumah menuju kamar Nate. Tersisa Nathan dan Clarissa di taman belakang rumah yang akan masuk untuk ke ruang makan.


“Jadi ukuran cup hah?” Clarissa membisikan ke telingan Nathan dan membuat jalannya terhenti. Clarissa membalas melihat Nathan dengan mimik muka datar menunggu jawaban darinya. Nathan yang menyadari apa yang dikatakan oleh Clarissa pun terdiam sesaat untuk berpikir.


“Kamu mendengarnya sayang?” tanya Nathan dengan nada ragu karena dia takut Clarissa akan mengamuk padanya nanti. Clarissa hanya memandangi Nathan dengan mimik muka datarnya seakan-akan dia mau menerkam langsung Nathan tanpa tanda-tanda.


“Aku punya telinga Nathan.” balas Clarissa sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan Nathan yang masih terdiam dalam posisinya. Diam-diam sambil berjalan Clarissa menyunggingkan senyum jahilnya tanpa sepengetahun Nathan.


(Ah! Sial aku!)


Batin Nathan yang keluar keringat dingin.


*****