NIRBANA

NIRBANA
Episode 1



Nirbana adalah kebahagiaan yang sempurna..


Bahagia...


Aku bahagia akan apa yang aku miliki untuk saat ini. Aku menerima semua kebahagian dari orang-orang terkasihku. Aku tau...


Mungkin aku tak sempurna, tapi aku berusaha sempurna. Sempurna untuk Ayahku, Kakakku, Sahabatku, dan mungkin kamu...


Awalnya aku pikir kamu hanya seseorang yang tak berarti untukku, setelah mengenalmu aku pun mulai sadar bahwa mungkin kamu lah kesempurnaan untukku...


Sempurna untuk masa depanku...


Hei, Nirbana.....♡


*****


"Nate?"


"Hei!"


"Tumben banget datang pagi?"


"Biasa ini tugas Bu Maria, hehehe.."


"Ikut gabung sih"


"Okay!" kataku sambil tersenyum.


Namaku Natasha Canvill tahun ini sudah masuk tahun kedua aku memasuki dunia perkuliahan. Perempuan yang sedang duduk disampingku ini namanya Frederica Alona Wijaya, tapi dia biasa dipanggil Caca. Dia termasuk teman satu jurusan denganku dan sekaligus sahabat untukku. Aku dan Caca sudah berteman dari jaman kita masih SMA.


"Woy!!" tegur seseorang kepada kita berdua yang sedang menggerjakan tugas.


"Ih!! Kebiasaan banget sih kamu Dion!!" kata Caca sambil memukul terus menerus pundak Dion, namun Dion hanya membalas dengan tertawa dan Dion pun duduk di tengah-tengah kita berdua.


Dion Anugrah Wicesa, dia teman satu jurusan aku dan Caca. Awal pertemuan kami bertiga ketika ada perkumpulan mahasiswa jurusan Manajemen tahun lalu. Saat itu, dia duduk sendiri aku dan Caca tak sengaja mengajaknya ngobrol karena aku berpikir mungkin dia tidak ada teman, tetapi diluar dari dibayangkan ternyata Dion nyambung ketika mengobrol denganku dan Caca. Akhirnya sampai sekarang dia pun masih memgikuti kita berdua terus dan Dion pun terkadang mengambil beberapa mata kuliah yang sama dengan kita berdua.


"Kamu sudah menegerjakan tugas Bu Maria?" tanyaku kepada Dion.


"Aku tidak ikut mata kuliah dia tuh hahaha.." kata Dion sambil tertawa senang.


"Terus? Buat apa kamu kesini? Memangnya sekarang kamu tidak ada jadwal kuliah?" kataku sambil menjewer kupingnya.


"Aduuuh..Duh...!!!" jawab Dion sambil memegang kupingnya yang tadi aku jewer.


"Ada kok hari ini mata kuliah Pak Joseph."


"Bukannya kamu sudah pernah mengambil mata kuliahnya?" tanya Caca sambil menghadapkan wajahnya ke Dion. Dion pun membalas dengan tersenyum mengejek.


"Yah...., kamu tahu kan dia dosen seperti macam apa?" jawabnya santai.


"Ih!!!! Bener-bener yah anak ini!!" kata Caca sambil memukul kembali pundak Dion secara terus menerus karena kesal dengan jawabannya yang tidak serius.


"Nilai aku dapet D Ca.." jawabnya kali ini sambil mengelus-elus pundaknya yang dari tadi dipukul oleh Caca.


"Apa aku bilang! Kamu makanya jangan keseringan main sama Anton! Jadi aja kamu sekarang harus ngulang mata kuliah Pak Joseph!!" ucap Caca sambil emosi kepada Dion.


"Yah kan.."


"Yah kan apa? Kamu tidak kasihan apa sama orang tua kamu? Nanti kamu lulusnya makin lama aja!" potong Caca yang masih emosi.


"Ca udah.." kataku sambil mengehentikan agar tidak menjadi panjang kembali.


Dion hanya terdiam mendengar omelan dari Caca.


"Makanya kamu tuh denger sama apa yang aku kasih tau. Hah!! Pagi-pagi sudah buat aku emosi aja Dion." kata Caca sambil menutup bukunya.


Aku pun memandang mereka berdua, aku merasa beruntung punya teman sekaligus sahabat seperti mereka berdua yang saling peduli satu sama lainnya. Tidak ada kata menjaga image, jujur apa adanya, marah jika kita memang salah, dan mengajak untuk melakukan hal-hal positif satu sama lain.


"Hei, sudah yuk marah-marahnya. Dion kan sudah mengakui kesalahannya Ca, dia juga menyesal kok bisa mengulang mata kuliah Pak Joseph. Yah kan dion?" kataku sambil menyenggolnya.


Dion pun menoleh ke arahku.


"Cepet bilang!" bisikku.


"Maaf ya aku beneran menyesal kok." kata Dion sambil memberikan wajah memelas kepada Caca.


Caca pun menoleh ke arah Dion dan melihat mimik muka Dion. Dia pun mencubit hidung Dion karena tidak kuat melihat ekspresinya yang lucu.


"Jelek kamu kek gitu." ujar Caca yang sudah tertawa kecil.


"Tapi aku banyak penggemarnya loh." kata Dion sambil memasang mimik muka lucu.


"Aih!!! Anak ini banyak gaya saja!" ujarku sambil memukul punggungnya.


"Aduh!! Kalian berdua tuh suka banget main fisik." jawab Dion sambil menahan sakit.


"Kamu juga suka rese!!" ucapku sambil tertawa kecil, begitu pun dengan Caca.


"Aku haus nih, ke kantin dulu yah. Ada yang mau nitip?"


"Aku mau teh botolan yah." ucap Caca yang kembali fokus mengerjakan tugas.


"Aku mau roti cokelat kenari." pinta Dion.


"Oke, ada lagi?" tanyaku lagi.


Mereka berdua pun kompak menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku ke kantin dulu ya." kataku sambil membalikkan badan dan berjalan menuju kantin.


*****


“Berapa Bu semuanya?”


“Jadi 15 ribu Kak.”


Aku segera mengeluarkan uang dari saku jaketku.


“Nih Bu. Uangnya pas yah?” sambil memberikan uang kepada penjaga kantin.


“Iya Kak, terima kasih yah.” balasnya.


“Natasha?” tegur seseorang.


Aku segera menoleh ke belakangku.


“Kak Wira? Hei apa kabar?” balasku sambil tersenyum.


Dia ini Wiraguna atau Kak Wira, dia siapa? Tentu dia ini Kakak dua tingkat diatasku. Dia tipikal orang yang mudah bergaul, rajin, semangat, dan tentunya ramah. Aku dan dia bisa bertemu karena apa? Waktu itu, aku menghadiri acara musik jazz di kampus. Aku kira hanya aku saja yang dari jurusan Manajemen yang suka, tapi disitu aku bertemu dengan Wira serta teman-teman lain yang menyukainya. Dari kejadian tersebut akhirnya kita suka saling berbagi tentang info musik jazz, entah di lingkungan kampus atau pun di luar.


“Baik Natasha. Jajan apa kamu? Lama yah sudah tidak ketemu. Terakhir bertemu pas semester awal kamu masuk kuliah yah? Hahaha.” ujarnya sambil melihat ke arahku.


“Iya Kak! Hahaha. Oh iya, berarti tahun ini kamu lulus yah?” balasku.


“Tidaklah! Aku kan belum PKL Natasha.”


“Oh, iya hahahaha aku kira kam sudah lulus Kak. Nah, sekarang ada keperluan apa ke kampus?”


“Aku masih ada beberapa mata kuliah yang belum diambil, sekalian membereskan nilai-nilai yang dapet C. Semester depan aku tidak bisa PKL kalau masih ada nilai C.” sambil menghela nafas.


“SE-MA-NGAT!!” ujarku sambil memberikan ekspresi konyol.


“HAHAHAHA!!! Iya dong!” balasnya sambil tertawa dan mengusap-usap kepalaku.


“Wira kamu masih lama?” tegur seseorang kepada Wira.


Wira pun menoleh ke arah suara teguran tersebut.


“Eh Jun! Tidak ini sudah beres kok. Maaf-maaf...” kata Wira sambil senyum.


Aku pun menoleh ke arah orang yang menegur Wira.


(Dia kan...)


“Perkenalkan dia temen seangkatan aku. Natasha ini Jun dan Jun ini Natasha.” ujar Wira yang memperkenalkan kita berdua.


“Kalian udah pernah saling kenal kan? Pernahlah yah, tahun lalu pas acara perkumpulan anak-anak sejurusan.” ujar Wira sambil tersenyum-senyum menoleh ke arah kita berdua.


Aku pun terdiam memandang ke arahnya, dan begitu pun dengan Jun.


“Kayaknya aku tidak pernah bertemu sama dia Wir.” jawab Jun sambil tersenyum kepadaku.


“Dan kamu Nate? Ingat?” tanya Wira kepadaku. Aku masih diam memandang wajah Jun sambil mengingat-ingat kembali dan Jun hanya tersenyum kepadaku.


“Hmm, aku lupa Kak.” kataku menjawab pertanyaan dari Wira sambil tidak lepas pandanganku kepada Jun. Jun pun tetap tersenyum kepadaku tanpa merubah ekspresinya tersebut.


(Kayaknya aku melupakan sesuatu deh.. Aku merasa kenal dia tapi kenapa aku bisa lupa juga yah? Ah sudahalah mungkin bukan hal penting juga sih... makanya aku bisa lupa.)


“Kayaknya kita harus pergi sekarang deh Wir.” ajak Jun sambil melihat jam tangannya dan menoleh ke arah Wira.


“Oh oke! Natasha semoga kamu bisa ingat-ingat lagi deh yah. Aku mau pergi ke kelas dulu hehe, Nate nanti kita ngobrol lagi yah!” ujar Wira sambil tersenyum-senyum dan merangkul tangannya ke pundak Jun.


“Oke Kak!!” jawabku sambil senyum dan melihat ke arah Jun.


“Natasha sampai ketemu lagi yah, senang bisa bertemu sama kamu.” ucap Jun kepadaku dengan senyumannya dan beranjak pergi meninggalkanku.


(Astaga tampannya!! Ah Nate! Kamu bodoh! Kamu harus ingat-ingat lagi deh tentang kejadian pas kumpul-kumpul anak jurusan tahun lalu. Kebiasaan deh suka lupa begini >,<)


Mereka berdua pun berpamitan dan beranjak pergi meninggalkan aku. Aku masih terus memandangin mereka berdua. Tapi aku masih mengingat-ingat kembali siapa itu Jun? Dan aku pernah ketemu sama dia tahun lalu.


“AH! Roti Dion dan minumnya Caca!!!”


*****