NIRBANA

NIRBANA
Episode 19



Mataku terhenti sesaat ke arah belakang Jun.


(Caca!)


Refleks aku pun membereskan semua kertas-kertas yang berserakan di hadapanku dan segera memasukkannya ke dalam tas. Jun yang melihatku tersadar akan sikap buru-buruku dan menoleh ke arah pandangan yang ku maksudkan.


“Kamu buru-buru Nate?” ucapnya sambil menoleh kembali padaku.


“Iya Kak..” balasku yang kembali melihat ke arahnya.


“Mau mengejar Caca kan?” tanyanya kembali


“Iya Kak, eh kok Kak Jun tahu?” kataku kaget dan segera beranjak dari bangku.


“Yah habis itu kan Caca? Otomatis kamu pasti mau bertemu dengan dia kan?” terangnya sambil menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


“Iya sih Kak..”


“Yah sdah ke sana saja...” ujarnya sambil tersenyum.


“Oke Kak, terima kasih aku pergi dahulu yah! Nanti aku hubungin Kakak yah untuk masalah akhir pekan ini, oke?” kataku sambil berjalan mundur bersiap-siap untuk berjalan ke arah Caca.


“Oke Nate! Aku tunggu!” balasnya.


Aku membalas dengan tersenyum ke arahnya dan segera membalikkan badan untuk menghampiri Caca.


Caca pun sepertinya menyadari bahwa aku berjalan mengarah padanya, dia pun segera membereskan kertas seakan-akan tau aku akan menghampirinya. Aku yang menyadarinya segera berlari agar Caca tidak kabur.


“Ca!” tegurku yang menarik lengannya.


Caca berusaha melepaskan tanganku dan berusaha untuk berjalan.


“Tunggu aku dahulu sih...” pintaku memelas padanya.


Dia menoleh ke arahku dan melihat dengan seksama wajahku. Mungkin dia pun merasa tak enak karena disekitar kami berdua menoleh memperhatikan kami berdua.


“Yah apa?” balasnya ketus.


“Aku mau berbicara dengan kamu!” kataku dengan pelan agar orang lain tidak menguping.


“Aku tidak mau! Malas sama kamu!” balas Caca dengan pelan juga sambil memasang mimik muka yang masih kesal padaku.


“Yah nanti tidak selesai-selesai dong Ca!” balasku dengan nada menekankan padanya.


“Sekarang memang kamu mau menjelaskan apa? Kan dari dahulu aku sudah berbicara dengan kamu kalau ada apa-apa jujur saja tidak usah bohong! Aku tuh tidak suka kalau kamu bohong Nate! Kamu tuh sahabatku, sudah aku anggap sebagai keluarga juga..” terang Caca menggebu-gebu padaku.


“Caca aku tuh mau cerita dengan kamu semuanya, tapi...”


“Tapi apa? Kamu tahukan aki ini sahabat kamu! Bukan sekedar teman biasa..” potongnya sambil masih menahan kesalnya.


“Aku mau meyakinkan dahulu Ca! Aku tidak mau salah, aku tidak mau terlalu yakin dengan sikap baiknya Kak Jun denganku! Mangkanya aku....” belum sempat aku melanjutkan tiba-tiba ada yang menarik lenganku dengan kasar. Aku menoleh dan ternyata Fiona dengan dayang-dayangnya.


“Sudah puas tidak kamu berbincang-bincang dengan Kak Jun sedari tadi?” tegur Fiona dengan wajah ketus khasnya.


“Apa sih kamu? Mengganggu orang lain saja! Tidak lihat aku sedang berbicara dengan Caca?!!” balasku yang kesal dengan tingkahnya itu.


Fiona hanya memandang sekilas ke Caca dan tidak menghiraukannya.


“Aku ada urusannya dengan kamu Nate! Bukan dengan Caca...” ucapnya dengan mensilangkan kedua tangannya.


“Kamu semestinya pergi jauh-jauh deh sana....” tegur Caca yang mulai kesal dengan Fiona.


“Tiak usah ikut campur sih, diam saja kamu!” balas Fiona dengan tegas.


“Kamu yang diam! Terlalu banyak tingkah!” jawab Caca yang terpancing dengan ucapan Fiona.


“Kamu berani denganku?”


Aku melihat sekitarku sudah mulai ramai anak-anak mahasiswa yang memperhatikan ke arah kami semua. Seakan-sakan ada tontonan seru yang tidak boleh mereka lewatkan. Aku yang merasa tak enak berusaha menenangkan Caca.


“Sudah Ca, diamkan saja! Tidak berguna kita berdua meladeni orang seperti Fiona.” Rayuku pada Caca. Namun, Caca tidak menggubris omonganku malah semakin menjadi.


“Yah berani! Memang kamu siapa? Hanya anak Bupati saja kok! Apa yang semestinya aku takutkan?” tegur Caca yang sudah emosi.


“Oh, oke...! Kamu kira memang aku takut dengan kamu? Aku tahu kok siapa orang tua kamu! Mau kamu usaha Bapak kamu aku tutup?” ancam Fiona yang sudah kelewatan kepada Caca.


“Silahkan kalau bisa! Aku akan membuat Bapak kamu turun dari singgah sana nya! Biar anak manja, egois dan menyebalkan macam seperti kamu hidup di pinggiran toko, mau kamu?” balas Caca yang mengancam Fiona.


Fiona pun langsung melayangkan tamparan kepada pipi Caca. Aku yang refleks segera mendorong Fiona karena telah melukai sahabatku Caca dan dia pun terdorong jauh.


“Caca!” kataku yang segera mengeceknya. Namun siapa kira Caca justru semakin menjadi dia pun menghampiri Fiona dan mendorongnya hingga Fion pun tersungkur. Dayang-dayangnya Fiona pun segera membantunya untuk berdiri.


“Kurang ajar kamu main tampar-tampar saja ke aku!” teriak Caca yang meluap-luap.


Fiona pun segera bangun dan menarik baju Caca berusaha untuk membalasnya, namun...


“Berhenti!” tegur Ibu Maria dengan tegas sambil melihat ke arah kami bertiga. Kami pun terhenti dan Ibu Maria berjalan kearah kami.


“Ada apa ini?” tanyanya dengan nada tegas. Kami hanya terdiam tidak bisa menjawab.


“Kalian ini sudah besar tapi kelakuan kalian seperti anak TK saja! Memangnya tidak malu dengan umur kalian ini??” tegurnya kembali.


“Iya Bu, maaf kami...” belum selesai Caca yang berusaha menjelaskan Ibu Maria sudah memotongnya.


“Ibu tidak mau mendengar alasan kalian! Kamu dan kamu...” ujar Ibu Maria yang menunjuk Caca dan Fiona.


“Keruangan Komisi Displin!" katanya dengan tegas.


“Dan kamu...” ujarnya sambil melihat kearahku.


“Yah bu?”


“Ikut juga, sebagai saksi..”


“Baik bu” jawabku yang segera menurut perintahnya.


Kami bertiga pun segera berjalan keruang Komisi Disiplin dan orang-orang yang dari tadi melihat pertengkaran kami segera membubarkan dirinya sendiri.


*****


“Ca, kamu tidak apa-apa di skors?” kataku sambil berjalan keluar ruang Komisi Disiplin.


“Tidak apa-apa Nate! Hanya seminggu ini kok, yang penting aku puas Fiona di hukum lebih berat dari pada aku. Untung ada bukti ini nih..” Caca tersenyum dengan puas sambil menunjuk bekas tamparan Fiona di pipinya.


“Tapi masih sakit tidak?” kataku yang memegang pipi Caca.


“Aduh, masih Nate!” balas Caca yang meringgis sambil memegangi pipinya.


“Maaf...” kataku dengan cemas.


“Ca, maafkan aku yah...kemarin aku sudah berbohong dengan kamu!" aku pun memegang tangan Caca.


Caca melihatku dan dia pun meneteskan air matanya.


“Iya Nate! Aku tidak suka yah kalau kamu seperti itu lagi! Janji denganku kalau kamu tidak akan menggulanginya lagi?! Kita ini tuh sahabat, sudah aku anggap kamu tuh seperti keluarga aku sendiri...” isak Caca yang tak tahan. Aku pun terbawa suasana dan meneteskan air mata.


“Iya Ca! Aku janji!” aku segera memeluk Caca dan Caca membalas pelukanku.


Kami berdua tak menyadari bahwa dari tadi ada yang berdiri diantara kami.


“Sudah saling berpelukannya?” tegur Dion sambil mensilangkan kedua tangannya. Kami berdua kaget dan segera melepas pelukan serta menghapus air mata yang keluar.


“Ah, Dion!” aku segera memukul pundaknya, namun dia pun mengeles dengan muka mengejekku.


“Kamu dari tadi disitu?” ujar Caca sambil menghapus air matanya dengan tangan.


“Cuma 10 menit kok!” balas Dion menaikan satu alisnya sambil tersenyum usil.


“Tuh kan menyebalkan!” kataku sambil memasang bibir cemberut.


“Yah habis supaya kalian saling berbaikan dahulu dong, masa sudah aku datangi saja? Nanti tidak baikan-baikan dong.” jelas Dion sambil merangkul pundakku dan Caca.


“Iya sih..” kataku.


“Jadi siapa yang menang?” tanya Dion sambil melihat kepadaku dan Caca.


“Apanya?” kompak kami berdua menjawab dan melihat Dion.


“Ributnya lah! Yang tadi kalian ributin dengan Fiona..” terang Dion dengan mimik muka usil.


“Yah aku lah!” ujar Caca dengan bangga.


“Bagus! Kamu hebatl!” Dion memberikan dua jempol tangannya pada Caca. Aku yang melihat Cuma geleng-geleng kepala.


“Sesekali dia memang harus dapat teguran begitu! Soalnya dia emang wanita yang menyebalkan sih.” Tambahnya sambil berjalan dulu didepanku dan Caca.


Ternyata Dion pun menyadari bahwa Fiona itu memang menyebalkan dan angkuh. Aku pikir dia sebagai laki-laki yang hanya fokus dengan game tidak begitu peduli dengan urusan seperti ini. Kami bertiga pun berjalan keluar menuju gerbang kampus.


“Kita beli minum yuk? Aku yang traktir kok!” ajak Caca.


“Dimana?” tanyaku.


“Di Mang Usep saja! Sudah lama kan kita tidak jajan cimolnya!” terang Caca dengan semangat.


“Malas ah! Aku jajan di tukang batagor sampingnya aja.” balas Dion.


“Aku juga Ca! Aku tidak mau banyak makan bergurih-gurih!” timpalku.


“Yah ampun biasa makan begitu juga kamu Nate! Sombong sekali sekarang, sudah jadi sekutunya Fiona apa?” celoteh Caca sambil menyindir dengan wajah usil.


“Tidaklah! Aku kaum miskin tidak seperti Fiona!” balasku sambil terkekeh.


“Apalagi aku yah? Tidak ada bagus-bagusnya didepan Fiona! Lihat saja penampilanku acak-acakan begini.” sahut Dion sambil merapihkan rambutnya yang acak-acakan.


“Iyalah, ibarat kamu sih rakyat jelata!” kata Caca dengan nada mengejek dan tertawa.


“Ah, rese kamu!” Dion pun mencubit pipi Caca yang sedang kesakitan.


“Aduh!!” teriak Caca kesal.


“Eh maaf-maaf...” elus Dion pada pipi Caca karena tidak enak.


“Aduh, romantis sekali sih kalian.” Ejekku yang segera berjalan duluan didepan mereka berdua.


“Ih Nate!!” kompak mereka berdua berteriak padaku. Aku membalas dengan menoleh sambil tertawa.


“Nate itu Kak Axel bukan?” tegur Caca sambil menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


“Loh iya!” aku melihat dari kejauhan Alex sedang memakirkan motornya.


“Sana kamu hampiri dahulu ke dia Nate! Mungkin dia mencari kamu.” Dion pun menyuruhku untuk menghampiri Axel.


“Aku kesana dahulu yah.” Aku segera menghampiri Axel.