NIRBANA

NIRBANA
Episode 36



"Mohon perhatian semua." ucap Nathan yang tiba-tiba berdiri dihadapan kami semua. Kami memandang serius ke arahnya, karena wajah Nathan pun tegang.


"Ada apa Nathan?" ujar Ayah yang bingung melihat sikap putranya. Nathan tetap terdiam sejenak tak menjawab pertanyaan Ayah.


"Baik terima kasih, di hari spesial ini yah itu ulang tahun Ayah. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua." ujar Nathan dengan wajah dan nasa suara serius.


Kami semua pun menyimak yang Nathan katakan. Kemudian Nathan pun kembali melanjutkan ucapannya.


"Di hari ini aku... Ingin menyampaikan bahwa...." ujar Nathan yang kemudian menghadap ke Clarissa dengan posisi setengah berjongkok dihadapannya. Aku pun terkejut melihatnya dan menyadari bahwa Nathan...


"Clarissa... Awalnya aku tidak tahu kamu itu seperti apa. Pertemuan pertama kita saat itu sangat diluar nalarku sebagai seorang lelaki. Awalnya aku hanya tertarik saja dengan kepribadianmu yang unik dan tiap hari membuatku sadar aku semakin jatuh dan terdalam padamu. Maka saat hari ulang tahunmu satu tahun lalu aku mencoba memberanikan diri menyatakan rasa dengan kamu dan akhirnya kamu menerimaku sebagai kekasihmu. Hari demi hari aku lewatin bersama kamu, waktu kita tak banyak untuk saling bertemu, namun kita masih bisa berkomunukasi melalui chat dan telepon. Entah mengapa itu tak cukup untukku, tiap hari aku merasakan rindu yang amat sangat. Maka dari itu, bertepatan hari ini dihari spesial orang tuaku yaitu Ayah. Aku ingin memantapkan hatiku padamu..." ucap Nathan yang terhenti sejenak, kemudian dia mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.


"Clarissa Josephine... Maukah kau menjadi istriku?" ucap Nathan yang tersenyum dengan mantap pada Clarissa. Seketika Clarissa pun terkejut dan tak terasa menitikan air matanya. Bisa kulihat wajahnya senang mendengarkan pernyataan dari Nathan. Suasana tiba-tiba menjadi haru, bisa ku lihat Ayah menunjukkan mata yang berbinar. Sementara Jun, aku melihat Jun tersenyum melihat kejadian yang ada di hadapannya.


"Yah aku mau..." ucap Clarissa dengan menangis bahagia yang kemudian Nathan segera memakaikan cincin di jari manisnya. Mereka berdua pun saling berpelukan satu sama lain.


"Terima kasih Clarissa, sungguh terima kasih..." ucap Nathan dengan bahagia, sambil memeluk erat Clarissa.


"Yah ampun Ayah tak menyangka, ini benar-benar kejutan yang begitu spesial untukku." ucap Ayah sambil menyeka sedikit air mata di ujung matanya, kemudian dia beranjak berdiri menghampiri Clarissa serta Nathan dan memeluk keduanya secara bersamaan.


"Doaku untuk kalian semoga lancar sampai tiba hari H yah, terima kasih untuk kado yang amat spesial ini. Entah aku sangat bahagia sekali, rasanya tidak bisa aku ungkap banyak oleh kata-kata." kata Ayah sambil memeluk erat mereka berdua.


"Iya Ayah terima kasih..." ucap Nathan, dan Clarissa tak henti-hentinya menitikkan air matanya.


Aku mengusap air mata yang tak terbendung ini dengan lengan bajuku yang panjang, namun Jun menahan dan memberikan ku tissu.


"Lap pakai ini Natasha jangan pakai bajumu, nanti kotor." ucapnya dengan menyodorkan tissu dengan suara lembutnya.


"Ah terima kasih. Aku suka terlupa, itu kebiasaanku." kataku yang mengambil tissu yang diberikan Jun.


"Kalau kamu mau dilamar dimana Natasha?" tanya Jun dengan setengah berbisik yang tiba-tiba saja membuatku terkejut dan segera menatap ke arahnya. Aku dan Jun saling berpandangan satu sama lain, kini kulihat Jun tersenyum seolah-olah pertanyaannya itu tidak tabu.


"Kok kamu tiba-tiba tanya begitu sih?" kataku yang justru tak segera membalas pertanyaannya.


"Kenapa? Kan aku tanya dengan kamu, tak boleh?" tanyanya kembali dengan mimik muka santai.


"Yah bukan begitu, kamu sudah berpikir sejauh itu maksudku." kataku membalasnya.


"Yah sudah kalau kamu tak mau jawab..."


"Paris."


"Yah?"


"Paris. Aku ingin dilamar di Paris.." ucapku sambil menatap Jun dengan mantap. Jun tersenyum mendengarkan jawabanku itu.


"Paris? Kenapa?" tanyanya kembali.


"Karena Paris itu kota cinta.." jawabku dengan mimik wajah serius.


"Kamu terlalu banyak menonton film drama yah?" ledek Jun padaku sambil tertawa kecil.


"Ih kamu! Aku kan menajwab pertanyaan kamu, kok kamu malah meledek aku sih?" kataku yang tak terima.


"Yah kamu jawabnya serius sekali, aku kan hanya bertanya saja kepada kamu." ucap Jun kembali dengan masih tertawa kecil.


"Ah kamu tuh.. Menyebalkan sekali..." kataku dengan sedikit cemberut.


"Jangan cemberut, jelek tahu!" balas Jun dengan menjepit kedua bibirku dengan tangannya, sehingga posisi mulutku seperti duck face.


"Ih kamu yah!" ucapku dengan nada kesal, namun Jun tak menggubrisnya malah dia asik tertawa meledekku.


Tanpa sadar Henry memperhatikan putrinya tersebut dengan Jun. Dalam hatinya dia merasakan kelegaan yang amat sangat, karena di hari ulang tahunnya ini dia bisa melihat dua kebahagiaan secara bersamaan.


(Oh, Lily seandainya kamu hadir disini bersama kita semua. Kamu bisa lihat kebahagian anak-anak kita ini bukan? Entah mengapa rasanya Tuhan baik sekali memberikan ku berkah di umurku tahun ini dengan kebahagian yang amat luar biasa. Lily..., Aku rindu kamu! Malam ini datanglah ke mimpiku, yah?)


Ucap batin Henry dengan sambil memejamkan matanya sebentar mengucapkan syukurnya untuk hari ini, dan berkah diumurnya tahun ini.


*****


"Kamu sedang apa?"


"Lagi memikirkan kamu."


"Ih jangan menggombal yah!"


"Loh fakta!"


"Ah kamu! Serius aku bertanya..."


"Hahahaha, aku sedang siap-siap untuk meeting."


"Loh kan kamu anak praktik kerja lapangan masa kamu ikut hadir di meeting juga?"


"Errr, yah mungkin pembimbingku ingin aku ikut dengannya."


"Ih serius deh, kok bisa sih? Kamu sedang tidak bergurau kepadaku kan?"


"Hmm, bagaimana yah... Tapi serius aku lagi tidak bergurau denganmu."


"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"


"Hmm...., Yah ada...."


"Apa?"


"Sebenarnya aku praktik kerja lapangan di anak perusahaan Ayahku, tapi aku tak curang kok. Aku test juga diperusahaan Ayahku dan akhirnya aku lolos murni memang sesuai kualifikasi mereka."


"....."


"Natasha?"


"....."


"Natasha?"


"....."


"Sayang?"


"Aku stock!"


"Stock?"


"Syock maksudku.."


"Yah ampun aku kira kamu bergurau padaku."


"Yah itu akibat terlalu syock aku sampai salah berucap."


"Hahahaha, berlebihan kamu Natasha."


"Tidak ini aku serius!"


"Hahahaha, oke oke."


"Ih kamu tuh, meledek aku saja. Pakai ketawa.."


"Yah kamu sebagai kekasihku lucu sekali, ada saja tingkahnya."


"Yah kamu membuat aku syock saja."


"Iya, maaf. Aku ingin bercerita denganmu tapi tak enak."


"Tak enaknya?"


"Yah mungkin kamu berpikir, aku anak seorang pengusaha sukses untuk hal seperti ini saja tak mungkin lelah memikirkan harus praktik kerja lapangan dimana. Aslinya aku berpikir kok, tadinya aku tak akan diperusahaan Ayah, tapi Ayahku bilang manfaatkan moment praktik kerja lapangan ini dengan belajar diperusahaan. Yah mungkin kamu tahu, aku akan diwariskan perusahaan oleh Ayah."


"....."


"Kamu keren Jun! Aku bangga dengan kamu.."


"Hahahaha, apa sih? Kamu tuh memuji atau meledekku?"


"Aku memuji kamu tahu! Kamu keren..."


"Hmm, terima kasih.. Oh yah, agenda kamu hari apa?"


"Biasa aku ada mata kuliah sampai sore, jadi hari ini mungkin aku pulang agak telat ke rumah."


"Oh yah sudah, jaga kesehatan yah!"


"Yah kamu juga, semangat meetingnya!"


"Iya.. iya terima kasih. Yah sudah aku sudahi yah teleponnya. Nanti ku telepon kamu lagi, kalau senggang."


"Oke, bye."


"Bye, Natasha."


Aku segera menyudahi telepon dengan Jun, segera ku beranjak jalan menuju keluar kamar untuk bersiap-siap. Ketika ku turun dari tangga rumahku, bel rumah pun berbunyi. Tidak ada yang membuka kan pintu sama sekali. Aku segera menghampiri untuk mengecek siapa yang bertamu sepagi ini.


(Duh Nathan kemana sih? Tidak biasanya dia sudah tak ada dirumah di jam segini.)


Kataku sambil melirik jam yang berada diruang TV.


(Siapa juga sepagi ini bertamu? Tidak ada kerjaan sama sekali apa? Mengganggu orang?)


Dumalku sendiri, sambil berjalan menuju pintu utama rumah. Aku membuka pintu dan...


"Hai, pagi Nate?" tegur Axel padaku sambil tersenyum.


"Axel? Kak Axel maksudku.." balasku dengan mimik wajah heran.


(Ada kepentingan apa dia sepagi ini bertamu? Bertemu dengan Nathan? Tapi Nathan saja tak tahu kemana, aku tak mendengar suaranya sedari tadi.)


Batinku berpikir, karena heran dengan kedatangan Axel.


"Kak Axel mencari Nathan?" tanyaku langsung padanya untuk memastikan.


"Tidak, aku tidak mencari Nathan.." balasnya dengan masih tersenyum.


"Oh lalu? Ke Ayah?" tanyaku kembali padanya.


"Tidak juga.." balasnya singkat.


"Lalu?" kataku dengan mimik wajah heran lagi.


"Kamu."


Aku agak sedikit terkejut mendengarnya, "Untuk apa Kak?" kataku dengan mimik wajah heran lagi.


Axel hanya terdiam, lalu menghela nafas berat.


"Boleh aku masuk dahulu? Tak enak jika diluar seperti ini, nanti aku di sangka akan penjahat." katanya yang meminta izin kepadaku dahulu untuk masuk ke dalam rumah.


"Yah sudah, masuklah.." kataku yang mempersilahkan dia masuk dan menyuruh dia duduk di kursi ruang tamu. Axel pun segera duduk, dan kini kami saling berhadapan.


Aku merasakan kecanggungan dan bingung, ada apa sebenarnya Axel datang sepagi ini kerumah dan mencariku.


"Nate..." ucapnya yang akan memulai pembicaraan.


"Yah?"


"Aku ingin berbicara sesuatu kepadamu.." katanya kembali dengan sedikit nada keraguan yang kurasakan.


"Apa itu Kak?" kataku membalas.


"Sebenarnya, kedatanganku sepagi ini tuh ingin..." ucapnya yang ragu akan melanjutkan.


"Apa Kak?" balasku yang gemas mendengarkan apa yang sebenarnya ingin dia ucap padaku.


"Yah..., Sebenarnya aku ingin memberitahukanmu Nate. Bahwa aku..." ucapnya yang kembali ragu akan mengucapkan.


"Apa yah Kak? Sedari tadi, Kakak hanya ragu tak melanjutkan perkataan Kakak. Semisalnya ini hanya sesuatu yang tak penting, lebih baik sudahi saja Kak. Aku akan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus untuk kuliah. Aku takut terlambat Kak." jelasku yang segera menejelaskan padanya karena gemas dia tak kunjung memberitahukan maksud akan kedatangannya sepagi ini.


"Tidak, jangan! Tunggu! Baik, aku kan berbicara sekarang tanpa keraguan.." balasnya dengan gaya tubuh seolah-olah menahanku untuk tak mengusirnya keluar rumah.


"Lalu?"


"Yah, Nate. Aku datang sepagi ini kerumahmu, mempunyai tujuan.. Aku ingin memberitahukanmu, bahwa aku..." ucapnya yang masih tertahan. Aku menaikan satu alisku memberikan tanda bahwa aku sedang menunggu ucapannya itu.


"Yah... Bahwa aku suka padamu Nate!" ucapnya dengan tegas dan pasti. Aku memelototkan mataku kepadanya. Aku terkejut mendengar pernyataan darinya itu.


"Kamu tidak mabuk kan? Sepagi ini?" balasku yang masih tak menyangka dengan mimik wajah keheranan.


"Tidak, aku tidak mabuk! Aku baik-baik saja.." katanya dengan yakin padaku.


"Kamu yakin?" tanyaku yang masih tak menyangka dan percaya.


"Yah aku yakin! Memangnya aku terlihat seperti orang mabuk Nate?" ucapnya dengan mimik wajah sedikit tak suka.


"Yah Kak Axel berbicara seperti tadi soalnya.." kataku langsung padanya.


"Tapi aku berbicara serius Nate.." ucapnya kembali dengan mimik wajah serius. Aku diam memperhatikan melihat raut wajahnya. Aku terdiam sejenak, lalu..


"Apa alasan Kakak menyukaiku?" kataku dengan segera menembak pertanyaan secara langsung.


"Memangnya butuh alasan aku menyukaimu Nate?" ucap Axel dengan mengerenyitkan dahinya.


"Yah, aku butuh! Karena alasan terbesarku menanyakan seperti itu padamu, kamu itu baru saja kembali kemari. Setelah sekian tahun kamu diam di Paris, Kak. Terlebih, kita ini jarang bertemu, mana mungkin rasa itu hadir dengan cepat. Kamu mengenalku pun tidak, kita hanya pernah bertemu dan bermain bersama ketika kecil." jelasku dengan serius.


Axel terdiam mendengar perkataanku, dia pun menundukan sejenak kepalanya yang kemudian segera menatapku dengan tajam.


"Menurutku, rasa suka itu ada ketika aku masih kecil. Itu penyebab alasannya mengapa aku bisa suka padamu!" balasnya dengan yakin.


"Tidak, menurutku itu tak mungkin!" kataku dengan bersikeras menolak.


"Itu bisa terjadi Nate! Aku, kamu, dan Nathan dahulu kita sering berjumpa. Aku rasa timbul rasa suka padamu sejak dahulu kita kecil. Lalu kemudian aku baru kembali bertemu denganmu, dengan dirimu yang sudah besar ini. Aku semakin bertambah rasa sukanya.." terang Axel yang masih bersikukuh.


"Tidak Kak! Menurutku, ketika kita kecil dahulu. Kau hanya menyukaiku karena aku teman bermainmu saja! Karena hanya aku dan Nathan yang mau berteman denganmu di lingkungan ini." balasku kembali tak mau menerima penjelasannya.


Axel mengerenyitkan dahinya padaku, "Jadi kamu tak percaya dengan rasa pada pandangan pertama?" ucapnya dengan nada sedikit lirih.


Deg! Jantungku berdegup. Rasa tak enak menghampiriku, ketika mendengar dan melihat Axel tadi. Aku pun sekilas jadi teringat ketika Jun pun menyatakan suka padaku.


(Dahulu, Jun pun begini kepadaku. Tak ada alasan dia untuk menyukaiku, dan Jun pun mulai tertarik padaku ketika kejadian awal kita bertemu.)


Ucapku dalam hati, kemudian aku pun melihat ke arah Axel yang sedari tadi menunggu jawabanku.


"Aku tak bermaksud menyakiti dirimu Kak, hanya saja ini terlalu cepat kau katakan padaku." balasku dengan sedikit nada ragu, takut menyinggung kembali padanya.


"Tidak Nate! Menurutku ini waktu yang tepat!" balasnya dengan kembali menatapku lekat-lekat.


"Tidak Kak, segala sesuatu seharusnya disimpan sendiri saja dahulu. Menurutku ini salah, dan maaf aku harus pergi ke kampus. Kakak bisa pulang sekarang?" kataku dengan segera beranjak berdiri dari bangkuku.


Tiba-tiba saja Axel menahan lenganku, agarku tak pergi meninggalkannya. Aku terkejut melihatnya seperti itu..


-----


***MAAF!! Aku baru bisa kembali melanjutkan cerita, sebab kemarin aku keteteran dengan pekerjaan mangkanya tidak update episode baru. Kemungkinan, aku akan update 2 minggu sekali. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya:)