NIRBANA

NIRBANA
Episode 28



Jun berjalan menuju Toilet, tanpa sadar ada seseorang yang menabrak bahu kanannya. Jun melihat ke arahnya dan begitupun yang menabraknya.


“Maaf..”


“Yah..” balas Jun yang tak memperdulikannya sambil berjalan kembali masuk ke arah Toilet.


“Junior kah?” tegurnya. Jun terhenti sejenak dan menoleh kepadanya.


“Siapa?” tanyanya yang masih tak ingat dengannya.


“Kau lupa? Aku Tian, teman sekolah saat SMA..” balasnya dengan senyum. Jun memandangnya dan mengingat-ingat kembali.


“Septian Pradana?” tanya Jun yang berusaha ingat padanya.


“Iya!” jawabnya tegas.


“Akhirnya ingat juga! Lama tidak bertemu yah...” tambahnya sambil mengulurkan tangannya pada Jun.


“Iya, lama tidak bertemu!” sambil membalas jabat tangannya.


“Kamu kuliah dimana?”


“Aku kuliah di universitas A..” jawab Jun sekedarnya.


“Oh, itu kan universitasnya bagus dan terkenal. Wajar sih kalau kamu kuliah disana...” jawabnya sambil mengajak Jun bercanda, namun Jun tak tertarik dengan obrolannya itu.


“Aku mau ke toilet dahulu yah..” ujar Jun sambil berjalan membalikkan badannya.


“Oh, oke! Nanti kita berbincang kembali yah?” sambungnya dengan nada harap.


Jun hanya membalas dengan tersenyum padanya, segera berjalan menuju toilet.


(Merepotkan!)


Batin Jun dengan mendumal sendiri.


*****


“Natasha sayang, kamu sudah siap belum?” teriak Ayah dari luar kamarku.


“Yah sudah kok.” jawabku yang segera keluar dari kamar.


“Kamu tidak seperti biasanya lama.” jawab Ayah dengan memperhatikanku dengan seksama.


“Biasa Ayah, anak wanita harus dandan terlebih dahulu, hehehe...” balasku dengan sedikit berbohong. Padahal semalaman hatiku gusar karena memikirkan akan sikap dan perkataanku pada Jun.


“Yuk, Nathan sudah menunggu dibawah.” ajak Ayah dengan menggandeng tanganku.


Hari ini memang kami akan pergi ke makam Ibu, maka dari itu spesial hari ini kita bangun pagi. Nathan sengaja ijin untuk datang siang ke kantornya. Ayah pun sengaja tidak membuka tokonya khusus hari ini saja, sedangkan aku memang tidak ada jadwal kuliah untuk hari ini. Hari ini merupakan hari peringatan akan kepergian Ibu. Kami sekeluarga makanya berjiarah ke makamnya untuk memberikannya bunga segar dan membersihkan tempat peristirahatan terakhirnya tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju makam aku hanya melamun memandang ke jalanan yang berada di sampingku. Aku sesekali menimbrung dengan obrolan Ayah dan Nathan, agar mereka tak sadar jika aku sedang pusing memikirkan hal lain.


Kami pun akhirnya sampai di makam Ibu, hari ini cuacanya sangat cerah. Kami semua sekarang sudah di hadapan makamnya. Walaupun kami jarang datang kesini, namun Ayah selalu meminta tolong kepada penjaga makam agar setiap bunga yang ada di dekat nisan Ibu diganti jika sudah layu. Harus digantikan dengan bunga yang sesuai dengan namanya, Lily.


(Hai Ibu, aku rindu kamu Bu! Seandainya Ibu ada mungkin sekarang Ibu akan menjadi tempat curahan hatiku sesama wanita.)


Batinku.


“Hai sayang, hari ini aku datang bersama anak-anak. Bagaimana kabarmu sayang? Aku harap kamu ikut bahagia melihat kami disini..” ucap Ayah sambil duduk dan mencium nisan Ibu.


“Aku mengganti bunganya dengan bunga kesukaanmu, anak-anak dan aku rindu sekali denganmu sayang...” tambahnya kembali.


“Hai Ibu, aku datang kesini karena aku rindu padamu. Kapan kamu datang bermain ke mimpiku lagi? Sudah lama aku tidak bermimpi bertemu dengan Ibu...” ucap Nathan dengan mencium nisan Ibu.


“Hai Bu, aku rindu padamu juga..., maaf yah aku menangis terus seperti ini setiap ke makam Ibu...” ucapku dengan mencium nisan Ibu.


Ayah dan Nathan berbarengan merangkul, memelukku untuk menguatkanku yang selalu meneteskan air mata setiap ke makamnya.


“Datanglah ke mimpi Natasha yah sayang, dia begitu rindu padamu!” ucap Ayah dengan nada lirih.


“Oh yah kau tahu sayang? Nathan sekarang sudah ada wanita yang mengisi hidupnya..” lanjutnya sambil bercerita dengan nisan Ibu dengan nada senang.


“Kalau kamu bisa melihatnya sekarang mungkin kamu akan bahagia melihat anak-anak kita tumbuh dengan anak yang baik..” katanya kembali.


Setelah puas kami bertiga pun segera beranjak pergi dari makam. Nathan mengantarkan kami ke rumah terlebih dahulu, dilanjutkan dengan pergi ke kantornya. Aku berjalan menuju halaman belakang, untuk menikmati suasana karena aku malas masuk kamar.


(Aku harus meminta maaf sepertinya dengan Jun.)


Batinku yang diam-diam masih kepikiran.


Rrrr! Rrrr!


Bunyi ponselku ada panggilan masuk.


"Yah?"


"Nate ini aku Axel"


"Kak Axel? Kok tahu nomorku?"


"Iya dari Nathan, oh yah toko ayahmu tidak buka hari ini?"


"Oh iya, hari ini kebetulan tutup Kak."


"Loh tidak biasanya? Padahalku sedang didepan tokonya."


"Iya, hari ini kan peringatan kepergian Ibu jadi Ayah tidak membuka tokonya."


"Yah ampun maaf! Aku tak tahu, Nate."


"Yah tidak apa-apa Kak."


"Oh yah, kamu sedang dimana Nate?"


"Aku ingin mampir kerumah kamu yah? Ada siapa saja?"


"Hanya ada aku dan Ayah, Nathan kerja."


"Yah sudah aku kesana yah! Bolehkan?"


"Tentu!"


"Oke. Dadah!"


"Dadah!"


Aku mengakhiri teleponnya.


Selang tak beberapa lama bel rumahku pun berbunyi dan aku segera menghampiri untuk memastikan siapa yang datang.


(Oh, Kak Axel.)


Aku segera membuka, dan mempersilahkan masuk. Ayah pun menyambutnya dengan hangat dan berbincang mereka berdua di ruang TV. Aku membuatkan minum untuknya dan menghidangkan cemilan juga. Ayah dan Axel asik berbincang aku hanya memperhatikannya dari dapur sambil meminum jus jeruk yang kebetulan sebelumnya Ayah buatkan.


Tanpa sadar Axel yang sedang berbincang dengan Ayah melirik ke arah dapur dan mengetahui aku ada disitu. Dia tersenyum padaku, namun aku merasakan senyumnya ini berbeda dari senyumnya yang lain. Aku membalas dengan senyum keraguan, sambil mengangkat gelas tanda menawarkan jus jeruk dari jauh padanya.


(Kenapa dia tersenyum begitu ke aku?)


Ayah mengakhiri pembicarannya dengan Axel dan meninggalkannya di ruang TV. Aku yang menyadari segera menyudahi minum jus jeruknya dan menghampiri Axel karena tak enak jika tamu dibiarkan sendiri.


“Ayah kemana Kak?” kataku sambil mencari-carinya dan duduk di samping Axel.


“Dia tadi ke depan dahulu katanya...” balas Axel dengan ramah.


“Oh kemana?” tanyaku memastikan.


“Tidak tahu aku...” jawabnya dengan menaikkan kedua bahunya.


(Biasanya suka pamit jika Ayah akan keluar kepada aku. Apa dia lupa? Tidak seperti biasanya.)


Batinku yang masih mencarinya.


“Kamu sudah makan?” tanya Axel dengan menatapku.


“Belum Kak, sudah lapar memangnya?” tanyaku dengan acuh.


“Sedikit.” balasnya dengan senyum.


“Mau makan sekarang saja?” tanyaku kembali karena takut dia hanya pura-pura menahan lapar.


“Boleh. Mau makan disini atau?” jawabnya memastikan.


“Disini saja, aku yang masak!” kataku dengan beranjak dari sofa.


“Bisa?” tanyanya memastikan.


“Bisa dong! Jangan meremehkan aku!” kataku dengan cemberut.


“Hahaha, tidak kok. Aku hanya memastikan saja, kamu tidak akan membuat perut aku kesakitan kan?” ejeknya padaku.


“Yah tidaklah, memangnya aku akan memberikan makanan bagaimana? Aku juga sudah bisa memasak kok Kak!” kataku dengan nada sebal.


“Oke, oke..., aku tunggu!” ucapnya dengan senyum manis. Aku hanya membalas dengan muka cemberut karena tadi dia meragukanku.


Aku berjalan menuju dapur, sedangkan Axel masih menunggu diruang TV dengan menonton. Aku fokus memasak makan siang untuknya, aku membuatkannya mie instan spesial yang biasa aku buat untukku sendiri. Setelah dipikir aku terlalu malas memasak makanan yang rumit, jadi aku memilih yang simpel saja.


(Pasti dia akan tergoda dengan rasa mie instan spesial buatanku!)


Batinku dengan yakin dan percaya diri.


Aku selesai membuatkan makan siang untuk Axel, aku memanggilnya untuk ke dapur.


“Ini.” ucapku dengan memberikan masakan buatanku ini.


“Mie instan?” tanyanya dengan muka masih tak yakin.


“Iya, cicipi saja dahulu jangan berkomentar yah!” protesku yang sudah tau bahwa nanti pasti akan diledek olehnya.


“Hm, oke.” tahan Axel yang tadi akan berkomentar.


Axel segera menyendok mie instan buatan Natasha. Dia meniupi terlebih dahulu, karena masih panas. Dia segera memasukkan mie instan tersebut ke dalam mulutnya dan mukanya menunjukkan ekspresi yang suka dengan rasanya.


“Enak kan?” ucapku dengan percaya diri.


“Hm, enak. Ini kuah tomyam?” celetuk Axel yang sudah tau rasa kuah yang ku buat.


“Iya, kok tahu?” tanyaku yang masih tak menyangka.


“Aku di Paris sempat ikut kelas memasak dan kebetulan pernah membuat resep kuah tomyam mangkanya ketika aku cicipi langsung tahu.” jelasnya dengan yakin.


“Tapi enak kok kuah yang kamu buat.” tambahnya lagi yang berusaha menyenangkanku.


“Terima kasih loh!” kataku dengan tertawa senang. Axel hanya membalas dengan tersenyum.


“Habiskan yah!” kataku kembali dengan riang.


“Kamu cantik yah kalau senyum begitu.” celetuk Axel sambil menyendok mie instan di hadapannya.


Aku yang mendengar merasa canggung sendiri, karena aku tak biasa di puji secara jujur begitu oleh lawan jenis. Axel yang menyadari, melihat padaku dan tersenyum.


(Kok jadi salah tingkah yah aku disenyumin dia?)


Batinku dengan membuang muka sedikit dari Axel.


*****