
Nathan sedang menyiapkan sarapan dibawah, hari ini Ayah tak sempat untuk membuatkannya dikarenakan ada pesanan roti yang banyak untuk dikirimkan siang ini ke sebuah acara tak jauh dari toko. Aku yang baru bangun tidur melihatnya begitu sibuk, dengan memakai celemek layaknya ibu-ibu Nathan memasak didepan kompor membuat sarapan untukku dan dia.
“Cepat kemari! Nanti kamu telat ke kampusnya!” tegur Nathan yang menyadari bahwa aku sudah bangun. Aku segera menghampirinya sambil berlari kecil, dan segera duduk di meja makan.
“Masak apa?” tanyaku yang memperhatikan apa yang Nathan buat.
“Nasi goreng.” Jawab Nathan yang masih sibuk di depan kompor.
Aku yang tak mau menggangunya pun segera meraih gelas yang berisikan susu, yang sebelumnya sudah Nathan siapkan.
“Jangan diminum yah! Itu susu milik aku!” celetuk Nathan yang posisi masih membelakangiku. Spontan aku yang sedang meneguknya pun memuntahkan kembali susu ke dalam gelasnya. Nathan berbalik dan melihat tingkahku itu.
“Tuh kan! Ih jorok sekali sudah kamu minum pula lalu dikembalikan kembali ke gelasnya.” omelnya yang melihatku.
“Yah tadi kata kamu tidak boleh aku minum yah sudah aku kembalikan kembali ke gelasnya.” ucapku sambil mengusap mulutku dan meletakkan susunya kembali.
“Buatkan kembali untukku ah!” rajuk Nathan dengan mimik wajah sebal.
“Ih.” kataku yang sekarang mau tak mau membuatkanya susu.
“Mangkanya kan bisa kamu tanya dahulu sebelum diminum.” ujar Nathan sambil memukul halus kepalaku, aku memalas hanya dengan cemberut sambil mulai membuat susu untuk Nathan.
Nathan akhirnya selesai membuat sarapan dan menyajikan ke masing-masing piring. Aku segera mengaduk-aduk cepat susu yang sedang dibuat, segera meletakkan susu di tempat Nathan dan duduk kembali.
“Ini.” ucap Nathan yang menyajikan padaku. Aku segera menyendok nasi goreng buatannya tersebut. Untuk seorang lelaki masakan Nathan termasuk tergolong enak, mungkin karena sudah terbiasa tanpa kehadiran Ibu makanya Nathan harus bisa masak untuk menggatikan Ayah jika tidak bisa. Aku sendiri bisa memasak, namun keseringan mereka berdua sudah menyajikan makan pagi dan makan malam untukku. Nathan pun duduk, sebelumnya dia melepaskan celemeknya dan meneguk susu yang aku buatkan.
Kami berdua fokus menghabiskan sarapannya, kami mempunyai kebiasaan untuk segera menuntaskan makanan kami dahulu baru memulai obrolan pagi. Aku sudah selesai, begitu pula dengan Nathan. Aku meneguk susuku, sedangkan Nathan terdiam sejenak dahulu.
“Akhir-akhir ini kamu semakin dekat yah dengan siapa tuh Senior kamu? Jun?” celetuk Nathan sambil melihatku.
Aku menghentikan sejenak, dan melihat ke arah Nathan “Kenapa memang?”
“Yah dia tertarik dengan kamu.” balasnya
“Sok tahu.” balasku sambil mengabiskan segera susu.
“Aku kan lelaki Nate sayang! Jadi yah aku tahu lah. Yah sekarang mana ada sih lelaki berbaik hati mengajak makan terus, lalu ditambah selalu memberikan waktunya dengan wanita dan bersikap manis?” terang Nathan dengan mimik wajah yakin. Aku hanya menatapnya dan memikirkan sejenak.
“Mungkin Kak.” kataku sekenanya.
(Yah memang sih Nathan benar, tapi aku tidak mau terlalu berlebihan dengan berpikir seperti itu.)
Bisikku dalam hati.
“Yah lalu kamu mau bagaimana dengan lelaki itu?” tanya Nathan yang masih berlanjut.
“Menunggu...”
“Menunggu?”
“Iya, aku mau mengalir saja Nathan. Aku tidak mau terlalu yakin dan berlebihan berpikirnya dengan dia.” terangku sambil memainkan sendok yang ada di hadapanku.
Nathan menghela nafasnya, “Aku hanya mau kamu senang saja Nate! Aku tidak mau kamu sedih atau lain halnya, mangkanya aku berpesan kepada kamu pikirkan baik-baik.”
Nathan pun segera beranjak dari meja makan dan membawakan piring kotornya ke bak cuci piring.
“Kamu sendiri dengan Clarissa bagaimana?” tanyaku mengubah topik.
“Aku?” balik Nathan melihatku.
Aku menunggu jawab dari mulutnya, Nathan menggarukkan kepalanya yang tak gatal tersebut.
“Aku menunggu loh..” celetukku menggingatkannya.
“Yah aku sayang dengan dia, aku cinta dengan dia, aku mau berbagi susah senangku dengan dia, dan aku..” Nathan tidak melanjutkannya dia terdiam sesaat dan kemudian melihat padaku.
“Aku akan menikah dengannya!” lanjutnya sambil tersenyum manis.
“Waw!!! Kabar bagus! Ayah harus diberi tahu!” ucapku antusias.
“Oh yah? Ayah kan ulang tahun beberapa bulan lagi Nathan...” jawabku yang melihat kalender diatas kulkas dapur.
“Iya, mangkanya itu aku sedang memikirkan sesuatu.” ucap Nathan sambil termenung.
“Apa?”
“Aku masih gugup mau melamar Clarissanya!” balasnya dengan mimik muka gusar.
“Aku bukan ahli dalam hal ini, tapi kamu coba saja melamar dia saat di tempat romantis.” usulku sambil memasang muka berpikir.
“Dia pasti sudah bisa menebak Nate.” jawabnya sambil menghela nafas.
“Atau mungkin pas Ayah ulang tahun saja kamu melamarnya?” balasku yang masih antusias.
“Ide gila!” dengan mimik muka tertawa.
“Yah kan, berbeda dari yang lain. Dan juga anggap saja kamu memberikan kado yang teramat spesial di hari ulang tahunnya Nathan!” celetukku.
“Iya, tapi nanti akan kupikirkan kembali ide kamu itu.” ucap Nathan dengan wajah serius berpikir.
Nathan melihat jam yang berada di dapur sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi.
“Ah sial! Nate kamu cepat mandi, aku antarkan kamu ke kampus! Sudah jam segini, cepat!” perintah Nathan yang panik. Dia masuk kantor jam 9.00 pagi. Aku melihat ke arah jam tersebut, dan panik juga karena ada kuliah jam 8.30 pagi.
“AKU MANDI DAHULU NATHAN!” teriakku yang sedang berlari ke arah kamar mandi.
*****
Sore ini beberapa anak jurusan Manajemen berkumpul dilapangan basket, bukan karena ada turnamen hanya saja menerima tantangan dari jurusan lain yang mengajak bermain. Aku dan Caca sudah duduk dipinggir lapangan, sambil menyediakan minuman untuk Dion.
Kebetulan dia ikut tanding dalam permainan basket ini, dan saat ini Dion sedang sibuk mengganti sepatu di dekat kami berdua. Tampak hadir Jun, Wira, Aldo, dan beberapa Senior lainnya yang ikut tanding basket. Sekilas aku melihat Siska, dia duduk tak jauh dariku dan Caca. Disitu dia duduk sambil tetap memperhatikan kami berdua, aku rasa dia memperhatikan Dion tapi karena Dion mendekati kami berdua otomatis dia pun memperhatikan aku dan Caca juga.
“Kamu yakin ingin main?” tanyaku dengan pelan pada Dion.
“Iyalah, soalnya ini pakai uang. Lumayankan untuk makan-makan bersama.” celetuk Dion yang masih fokus kepada sepatunya.
“Aku melihat Siska..” lanjutku kembali.
“Iya aku tahu...” balas Dion yang tak peduli.
“Siapa Nate? Siska?” timbrung Caca yang sambil melihat sekitaran untuk memastikan.
“Oh, yah Tuhan! Dion kamu guna-guna dia yah? Gila itu wanita posesif.” lanjut Caca sambil melihat pada Siska dengan ekspresi terkejut kedua tangannya menutup mulutnya.
“Dia lihatin kita loh...” katanya yang masih tidak berhenti.
“Sudah Ca, kamu nanti malah mencari masalah saja.” celetuk Dion yang tak suka.
“Ini menarik Dion, gila gila semempesona apa sih diri kamu? Ckck...” ucap Caca yang masih takjub dengan mimik muka mengejek. Siska melihat kearah Caca, dia memberikan pandangan tak suka pada Caca.
Dion melihat Caca dengan muka tak peduli, “Jangan membuat masalah...”
“Iya, iya...” dengan menekukkan bibirnya.
Dion selesai mengganti sepatunya dia pun beranjak dan mulai melakukan pemanasan sebentar.
“Kamu tahu Nate? Jun sepertinya sedikit-dikit mencuri perhatian dengan kamu..” ucap Caca sambil memandang ke arah yang di maksudkan. Aku yang tak menyadarinya ikut melihat ke arah yang dimaksudkan, namun Jun membuang wajah ketika aku melihatnya.
“Tidak ah...” jawabku sekenanya.
“Iyalah sekarang, waktu tadi aku melihat dia memperhatikan ke sini melihat kamu...” ucap Caca dengan senyum mngejekku.
“Jangan membuatku salah tingkah ah, Ca!” jawabku yang tak mau menggubris mungkin saja Caca hanya menjahiliku.
“Hahaha, ada rasa nih takut tiba-tiba terbawa perasaan yah?” celetuk Caca sambil menutupi mulutnya dengan ekspresi mengejek. Aku membalas hanya menepak lembut pahanya.