NIRBANA

NIRBANA
Episode 5



“Natasha?”


Aku pun melihat dari kejauhan Jun melambaikan tangannya kepadaku. Aku pun membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.


(Makin kesini makin sering saja dia menyapaku!)


Jun pun sudah dihadapanku sekarang.


“Natasha sendiri saja?” tanya Jun yang segera duduk disamping bangku.


“Iya Kak.” balasku sambil menggeser duduk.


“Sedang apa memang?” tanya Jun kembali sambil senyum.


“Sedang menunggu Caca sih Kak, kelas dia belum selesai. Soalnya aku mau makan siang bersama dia.” terangku sambil melirik ponsel, barangkali Caca Chat aku karena kelasnya sudah selesai.


“Oh begitu, tadinya aku mau mengajak kamu makan siang.” jawab Jun kecewa.


“Mungkin lain kali Kak.” balasku menghiburnya sambil tersenyum.


Tring! Tring!


Suara dering ponsel punyaku. Aku membuka isi chat tersebut.


Caca: Nate, kelasku ada tambahan! Kamu makan terlebih dahulu saja yah? Maaf! :'(


Me: Oke! :(


“Kenapa Natasha?” tanya Jun yang tiba-tiba kepadaku. Aku pun segera mengunci layar ponselku.


“Tidak apa-apa sih.” balasku singkat.


“Hmm, oke. Kalau begitu aku pergi deh yah. Kamu kan mau pergi makan siang dengan Caca.” Jun pun segera berdiri dari bangku.


“Kak?” kataku dengan ragu-ragu.


“Yah?”


“Bisa makan bersama?” tanyaku ragu-ragu.


Jun membalas dengan senyuman.


“Tentu!”


Aku pun segera beranjak berdiri dari bangkuku.


“Mau makan di kantin lagi?” tanya Jun dengan ramah.


“Terserah sih Kak.” balasku malu-malu.


“Hmm, aku tahu tempat yang enak dekat kampus! Kita ganti menu yah? Aku bosan hehehe.” uajarnya sambil tertawa kecil.


“Boleh Kak.”


“Oke, sekarang kita ke parkiran mobil yuk!” ajaknya kepadaku dengan ramah.


Aku segera berjalan mengikutinya, rasanya aneh aku dan dia baru beberapa kali bertemu tiba-tiba bisa jadi dekat gini.


(Dia benar tidak suka aku kan?)


“Ah! Itu mobilku! Yuk cepet!” serunya sambil menunjuk ke arah mobilnya. Aku segera berjalan ke arah mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya.


Dalam perjalanan menuju tempat makan yang di maksudnya pun aku tak banyak bicara dengannya, begitu pun dengan dia. Dia fokus menyetir mobil. Ada rasa canggung sih antara aku dan dia.


“Hmm, Natasha?” tegur Jun yang memulai percakapan denganku.


“Yah?”


“Ngomong-ngomong tidak merasa tak enaka kan kalau aku mengajak kamu makan siang bersama terus?” tanyanya kembali yang pandangannya masih fokus ke depan.


“Yah.., tidak sih Kak. Kenapa memang?” balasku dengan bingung.


“Oh, aku kira kamu merasa tak nyaman.” balasnya sambil senyum.


(Tunggu dia tadi merasa tak enak mengajakku makan siang terus? Aku pikir dia tak kepikiran ke arah sana?)


“Oh iya Natasha, kamu ingat waktu acara kumpul-kumpul anak jurusan tahun lalu?” tanyanya kembali tiba-tiba yang membuatku terkejut.


“Y-yah.., ingat kok Kak.” jawabku ragu.


“Waktu itu lucu yah! Kita tak saling kenal tapi akhirnya jadi kenal karena insiden sup krim jagung!” balasnya sambil tersenyum.


(Yah Tuhan!! Ternyata dia ingat dengan kejadian memalukan itu!)


“Hahahahaha iya Kak.” jawabku sambil menunjukan ekspresi tidak enak.


“Aku berfikir kalau itu keterlaluan!” ujarnya kepadaku dengan nada datar.


“M-Maaf Kak...” balasku yang merasa tak enak dengan Jun.


Jun menoleh ke arahku dan memperhatikan raut mimikku, lalu dia tersenyum.


“Tapi Caca sudah menjelaskan dan minta maaf kok kalau kamu mabuk!” timpalnya yang kembali fokus pandangannya ke depan. Aku hanya terdiam mendengarkan ucapannya tersebut.


“Semestinya kamu kalau tidak kuat minum jangan di paksakan! Tidak baik juga buat kamu, untungnya cuma acara kumpul-kumpul yah?” tambahnya kembali dengan ramah.


(Tidak akan mau lagi kok aku. Jera! Nathan saja murka denganku seperti itu!)


“Iya maaf Kak sekali lagi, waktu itu benar-benar tidak ada maksud, aku dipaksa minum dengan Kak Aldo. Maaf yah Kak.” ujarku dengan muka memelas. Jun melirik ke arahku dan lalu dia tertawa terkekeh.


“Hahahaha! Santai saja Natasha kan kejadiannya sudah tahun lalu. Kalau tanpa kejadian itu mungkin sekarang kita tidak akan makan siang bareng!” balasnya dengan santai.


Aku terdiam dan malu mendengar ucapannya itu. Seaakan-akan ini cuma mimpi.


“Oh iya, maaf yah aku jadi bilang dan membahas hal-hal yang mungkin saja ini tak kamu suka. Padahal ini sudah lalu, tapi ini malah ku bahas kembali. Tak apa-apa kan?” tanyanya kembali yang sambil fokus menyetir.


“Aku sih gak masalah Kak.” balasku dengan nada bingung. Jun hanya membalas dengan tersenyum kepadaku.


(Ya tidak masalah sih? Ya kan?)


Mobil pun agak melambat dan segera membelokkan mobil ke tempat makan yang dimaksud. Jun pun segera memparkirkan mobilnya.


“Sudah sampai nih. Turun yuk?” ajak Jun yang mematikkan mobilnya. Kami berdua pun segera bersiap-siap untuk turun dari mobil. Kami langsung berjalan masuk menuju tempat makan tersebut. Dekorasinya terlihat klasik ini bisa dibilang mirip-mirip restaurant di luar negeri. Tidak banyak yang makan disini, ada alunan musik klasik yang dibawakan oleh biola. Aku merasa nyaman masuk ke dalam tempat makan ini. Jun memilih tempat duduk di balkon belakang yang pemandangannya taman belakang tempat makan ini. Ketika kami datang pelayan restaurant tersebut dengan cekatan melayani kami.


“Duduk Natasha.” ajaknya kepadaku sambil tersenyum ramah.


“Iya Kak.” jawabku ragu-ragu. Kami pun duduk saling berhadapan dan aku merasa canggung.


“Gimana suka tidak dengan tempatnya?” tanya sambil melihatku dengan ramah.


Aku malu dilihatnya seperti itu.


“Bagus Kak, suka.” balasku malu-malu.


(Ini bukan mau nembak aku kan? Kok tempatnya berasa romantis banget.)


Aku canggung sekali sampai bingung mau bersikap seperti apa.


“Kenapa? Tidak suka Natasha di sini? Mau pindah di dalam?” tanya Jun yang ternyata dari tadi memperhatikan gerak gerikku.


“Ah! Tidak usah Kak. Cuma aku bingung kita makan di tempat sebagus ini.” balasku.


“Oh, hahaha maaf yah terlalu berlebihan ya tempatnya? Tapi aku suka dengan tempatnya, terutama masakannya. Kamu nanti harus coba yahbmenu spesial disini! Aku biasa pesan menu itu, soalnya enak sekali!” terang Jun dengan mimik wajah antusias.


“Oke, Kak.” jawabku dengan senyum.


Jun pun memanggil pelayan restaurant tersebut, dia pun memesan menu yang seperti biasa dia pesan. Aku sekali-kali mencuri pandang kepadanya, setelah aku perhatikan dia orangnya menarik. Ada satu sisi dimana aku melihat dia beda dari Laki-laki lain.


“Sambil menunggu aku boleh tanya sesuatu?” tanya Jun yang sudah selesai memesan makanan.


“Boleh, tanya apa Kak?” balasku penasaran.


“Hmm, agak sensitif sih. Cuma mau tahu saja sih, kamu sudah punya kekasih yah?”


Tiba-tiba aku terkejut dengan pertanyaannya itu.


“Kata siapa Kak?” balasku dengan penasaran.


“Yah aku waktu itu lihat kamu dijemput dengan lelaki, jadi aku berpikir mungkin itu pasti kekasih kamu. Jadi, mangkanya sekarang aku bertanya deh.” jawabnya santai.


“Oh? Hahahahahaha...”


Jun pun bingung mengapa aku tertawa mendengar ucapannya tadi.


“Kok ketawa?” tanyanya bingung.


“Dia Kakak aku hahahahaha...” balasku yang masih tertawa.


“Oh, maaf yahbaku kira dia kekasih kamu.”


“Memang kalau ternyata lelaki itu kekasih aku kenapa?” kataku balik bertanya sambil cekikikan.


“Yah berarti aku kecewa..” balasnya datar sambil menuangkan air putih yang sudah tersedia di meja. Aku terdiam mendengar jawaban darinya, dia menjawab dengan santai tanpa ekspresi apapun. Dia pun meneguk air minum sambil tersenyum kepadaku.


(Ini apa sih? Kok aku merasa digombalin dengan orang ini?)


*****