
Sebulan setelah kejadian itu,
Naira tak lagi melihat Dove di sekolah namun situasi dan kondisi yang dialami tidak berubah. Ia tetap menjadi bahan gosip seluruh anak di sekolah. Keputusannya untuk bekerja sama dengan Ricky menjebak Dove membuatnya dijauhi teman-temannya dikelas. Ia sangat menyesal melakukan itu, bahkan teman-temannya tak mampu mengatasi situasi ini dengan ide-ide mereka. Kemarahan dan kebencian teman-teman perempuannya yang menganggapnya musuh adalah hal yang paling menyakitkan. Image-nya berubah menjadi adik kelas yang tidak tahu terima kasih, padahal Dove sudah banyak membantunya.
"Kenapa semua ini harus terjadi? Aldo kamu dimana? Kenapa kamu belum pulang, aku butuh kamu." Panggilnya.
"Hey siapa didalam ngapain?" Gedor salah satu petugas pembersih toilet.
"Neng, jangan nangis disini nanti bisa jadi pembicaraan orang. Mereka pikir neng lagi isi." Ucap petugas itu sambil memberikan tissue pada Naira.
"Isi apa pak?" Tanya Naira dari dalam.
"Tahun lalu juga ada yang kayak neng. Nangis di dalam kamar mandi, ternyata dia ketahuan hamil neng. Apa tuh inggrisnya, pregrant." Balas Petugas itu.
"Pregnant pak." Naira langsung sadar. Naira langsung keluar dari kamar mandi. "Pak, saya baik-baik saja." Ucapnya.
"Hey kalian ngapain sih, jangan suka ngomongin orang!" Tegasnya saat mendengar sekumpulan kakak kelas yang asik membicarakannya dan menyebutnya orang yang tidak tahu malu.
"Liat tuh si anak baru, abis nangis dikamar mandi ya? makannya jadi anak baru jangan sok deketin kakak kelas, mimpi kamu bersama Dove!" Ucap beberapa siswi yang hobinya hanya ngegosip.
"Hey, kalian maksud lo apa sih!" bentak Naira.
"Hey! hey! yang sopan dong! maksud gw!" Ia tersenyum nyinyir pada Naira. "Lo tuh adik kelas gak tahu diri, lo udah dibantu sama Dove, eh malah gak ada terima kasih!" Balas seseorang dari mereka lalu mendorongnya.
"LO PANTES TERIMA ITU!" Ucap mereka.
"KALIAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Teriak Sinta membela Naira. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Naira berdiri. "Kalian, gak boleh memperlakukan Naira seperti itu, dia hanya salah membuat keputusan dan salah memihak, Naira juga masih baru jadi dia belum terlalu banyak mengenal Dove. Aku sebagai teman dekatnya, akan membantu kamu mengenal dia." Serunya didepan anak-anak yang lain lalu ia berbisik di telinga Naira, "Membuatmu menyesal! Membawa dia dalam masalah besar!"
"Naira! Kamu harus lebih hati-hati ya!" Seru Sinta dengan ekspresi licik dan senyum nyinyir penuh arti.
"Sinta, kamu ngapain belain dia, dia itu udah buat Dove dalam masalah!" Teriak salah satu dari mereka.
"Hey, gw gak butuh bantuan lo!" Naira mendorong bahu Sinta.
"Hey!" Namun ia mencoba menahan amarahnya demi menciptakan image yang baik diantara teman-teman yang lain. Dia membutuhkan mereka untuk mendukung hubungannya dengan Dove nantinya.
"Jangan jadi orang bermuka dua!" Teriak Naira lalu meninggalkan mereka semua.
"Minggir!" Teriaknya
Naira, liat aja aku akan buat kamu dikeluarkan dari sini batin Sinta. "Jangan berpikir yang macam-macam atau gak lo akan kehilangan Dove, orang yang sangat lo sukai itu!" Ucap Wira sepertinya ia tahu apa yang sedang dipikirkan Sinta.
"Wir seharusnya lo dukung, gw mencoba mempertahankan kebahagiaan gw dan keutuhan team kita." Sinta masih mencoba mempengaruhi Wira.
"Sinta, saat ini lo lagi berhalusinasi. Kebahagiaan lo, kalau itu udah milik lo dari dulu Sinta. Sadar Sinta!" Balas Wira yang malas berdebat dengan Sinta. "Gw gak akan menghalangi atau mendukung lo, jangan nangis saat lo jatuh dalam sakit yang lebih dari ini."Kalimat terakhir membuat Sinta semakin yakin dengan keputusannya menyakiti Naira sementara Dita mencoba menghibur sahabat satu kelasnya itu yang sedang murung dikelas. Ia memeluk tasnya terkadang ia juga menitikkan air matanya.
"Naira, semua akan baik-baik saja. Semua akan berlalu, orang-orang akan melupakan semua yang terjadi." Usap Dita pada Naira.
"Udah belajar belum buat ulang matematika hari ini, bahannya pitagoras. Kalau belum tenang aja nanti gw bantuin." Dita terus mencoba menjadi teman yang baik untuk Naira."Gw akan selalu ada buat lo, Nai" tambahnya.
"Semuanya! Ayo masukkan buku kalian, siapkan alat tulis!" Suara itu terdengar dari luar pintu, ia menyuruh anak-anak untuk masuk kelas dan mempersiapkan diri untuk mengikuti ulangan matematika.
Suara itu terdengar khas, "Eh bro, bantuin dong nanti!"pinta beberapa anak cowok yang merengek padanya.
"Udah-udah masuk-masuk!" Balasnya.
"Hello semua, aku Dove, aku akan membantu Pak Daeng menjaga kalian selama mengerjakan ulangan matematika. Keluarkan alat tulis sementara tas kalian taruh di depan ya" Dove lalu membuka amplop besar berisi kertas ujian dan soal yang dibagikan secara terpisah.
Dove, kenapa sih dia musti muncul disini, bikin bad mood aja ucap Naira dalam hatinya.
"Bro katanya mau bantu!" Teriak salah satunya.
"Abis ulangan kita bahas ya!" Balas Dove santai.
Waktu terus berlalu, jam menunjukkan pukul 13.00 dan sudah waktunya mengumpulkan ulangan mereka. Anak-anak yang sudah selesai boleh melanjutkan istirahatnya.
"Naira! Tunggu!" Panggil Dove.
"Apa lagi?" Jawab Naira ketus.
Dove menarik tangan Naira dan menyuruhnya untuk duduk dan memberikannya lembar jawaban yang baru.
"Kak Dove, lo gila ya! Kenapa lo robek kertas ulangan gw!"
"Naira, jangan ngomong pake lo pake kamu, lebih enak didengar!"
"Bodo amat, lagian ngapain lo disini, bukannya lo udah pergi! ngapain balik!" Balas Naira Jutek.
"Oh kamu marah karena aku kemarin gak di sekolah, kemarin selama 3 minggu aku ikut lomba fisika. Aku balik kerena perlombaannya udah selesai." Balas Dove tersenyum.
"Waktu itu makasih udah mau menolong aku, dan maaf karena waktu itu aku sempat berbuat kasar sama kamu! Kamu benar, kamu gak pernah minta bantuan aku. Cuman aku yang mau" Dove memberikan tangannya sebagai permintaan maafnya.
"Gila!" Teriak Naira yang membuat Dove tertawa, "Ok, sekarang kerjain ulang soalnya kamu hanya punya waktu 20 menit." Naira menolak dan tetap kekeh.
"Ok, aku pergi berarti kamu gak ikut ujian ya, tadi kertasnya udah aku robek." Dove membereskan kertas-kertas dan memasukkannya ke amplop coklat.
"Hey! Tunggu. Aku kerjakan ulang!" Pinta Naira. Dove tersenyum lalu berbalik arah, "OK, Let's do it!" Ucapnya menutup pertemuan itu.
Entah mengapa, terkadang aku membiarkan diriku mengikuti apa maunya. Entah karena terpaksa atau diriku memang menginginkannya. Kini, aku terpaku pada selembar kertas ujian yang harus ku kerjakan ulang. Entah mengapa aku membencinya tapi aku juga ingin melihatnya.
Dia duduk dengan santai dimeja guru sambil mengecek sekilas jawaban temanku yang lain. Sesekali dia tertawa dan mengangguk, ku rasa dia sedang memprediksi nilai tiap anak.
"Kenapa ngeliatin melulu. Mau aku bantuin?" Tanyanya padaku. Aku dapat mencium bau parfumnya yang gentle. Jantungku berdebar kencang, entah bagaimana caraku menghentikannya.
"Abis ini ke kantin yuk?" Ajak Dove dan aku mengangguk. Hey! Naira. Mengapa kau mengangguk. Ingat Naira, kamu sudah punya Aldo. Tapi saat ini aku tidak menginginkan Aldo. Rasa di hatiku bercampur dengan rasa bersalah atas apa yang aku lakukan pada Dove.
"Kak, aku minta maaf." Ucapnya di samping Dove yang sedang melihat lembar soalnya.
"Iya, kamu kan sudah minta maaf waktu di rumah sakit. Kalau kamu mau kumpulin ini, kira-kira kamu bisa dapat 65." Ucapnya menarik kertas itu.
"Lebih baik dari yang sebelumnya." Tambahnya. "Aku tunggu di kantin." Lalu pergi meninggalkanku.
"Kak Dove, tunggu. Apa kelebihan yang Naira punya yang aku gak punya?" Tanya Dita setelah Dove keluar dari kelas.
"Kamu menguping dari tadi?" Jawabnya. "Aku gak perlu jawab Dita, kamu renungkan sendiri." Balas Dove santai.
"Kak Dove, aku gak akan pernah berbagi kamu dengan yang lain!" Balasnya.
****
Naira berjalan pelan sambil melihat kanan ke kiri. Untung! Gak ada Lita dan yang lain. Aman nih kayaknya. Kalau aku lurus, aku harus melewati kelasnya Lita tapi muter lebih jauh. OMG gimana nih?
"Naira!" Panggil Dita sambil menangis. Ia menunjukkan tangannya yang merah bekas cengkeraman orang lain.
"Siapa yang lakuin ini, Dita? Tanyanya panik sambil melihat tangannya yang bengkak. "Patah Dit ?" Tanyanya lagi.
"Dove, Naira. Dia kasar sekali." Ucap Dita semakin membuat Naira emosi. "Tenang Dita aku akan membantumu untuk balas dendam pada kakak kelas satu itu. Dia akan menyesal sudah membuat kamu terluka."
"Terima kasih Naira." Ucapnya senang satu langkah mendapatkan Dove akan segera dia menangkan. Jika, ia bisa membuat Naira membenci Dove. Dia tidak akan pernah mau bersama Dove.
*****
Di ruang OSN, Dove sedang mengerjakan soal-soal latihan sambil melihat sebuah foto lama yang selalu ada di dalam dompetnya. Ia menitihkan air mata, terlihat hatinya begitu sakit, matanya pun berkaca-kaca.
"Kak Dove!" Teriak Naira dari diluar. Tak hanya berteriak dia juga mengunci pintu. "Kak Dove keterlaluan. Kakak kasar sekali sama Dita. Ia memukul Dove dengan kedua tangannya."
"Auuu, Naira. Kenapa kamu mukul aku. Stop Naira, sakit." Dove menahan tangan Naira. Ia juga meringis kesakitan. Aku gak melakukan apapun yang salah ucapnya lalu mendorong Naira ke dinding. Justru kamu yang berbuat salah sama aku. Dove lalu mencium bibir Naira dengan putus asa.
"Kak Dove, apa yang kakak lakukan." Naira mendorong Dove. Namun, ia tak peduli dan terus mencium Naira.
Mengapa hati ini begitu sakit, dia terus menolak ku. Seharusnya kamu minta maaf Naira. Aku merasakan air mata ini mengalir dari ujung kedua mataku. Bibir ini begitu dingin, dia bahkan mengigit bibirku. Namun, aku tak peduli. Dia selalu mendorongku dan mengatakan ia membenciku. Aku ingin menghapus kata-kata itu dari bibirnya. Aku terus mendorongnya dan menciumnya.
"Kak Dove! Berhenti!" Naira mendorongku. Aku merasakan dinding ini menghantamku.
"Kak Dove gila ya!" Ucapnya sambil menutup mulutnya. "Aku akan balas kak Dove!" Ucapnya mengancam ku.
Aku tahu Naira, kamu tidak pernah benar-benar menyukai Aldo. Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan.
Ciuman ini mengapa begitu berkesan bagiku. Ucap Naira dalam hatinya. Cukup! Kamu punya Aldo Naira.