
"Do, kamu dimana?" Ucap Naira mencoba menghubungi Aldo terus menerus. Hujan semakin besar, ia menatap ke langit dari balik jendelanya. "Kenapa harus aku? Kenapa harus terjadi? Bagaimana hubunganku dengan Aldo? Kenapa mama dan papa jahat, kenapa menjodohkan ku dengan orang lain." Dia lalu memeluk sebuah boneka babi merah kecil.
Naira menangis semalam setelah kejadian itu. Orang yang aku benci akan menjadi suamiku.
"Naira, mama yakin Dove adalah pilihan terbaik dari dulu." Ucap Minarti.
"Ma, dari dulu? Aku gak pernah kenal Dove. Dari dulu yang aku kenal hanya Aldo ma. Pacar aku sekarang, bukankah mama dan papa sudah menjodohkan aku sejak kecil." Balas Naira membuat Bimo membentaknya.
"Naira, sekali Dove tetap dia. Papa gak perlu menjelaskan panjang lebar. Pernikahan akan terjadi sebelum Dove berkuliah ke Amerika. Kalau perlu kamu juga pindah ke sana." Ucap Bimo tegas pada putri semata wayangnya itu. "Kembali ke kamar kamu."
"Sudah pa." Minarti mencoba menenangkan suaminya.
"Ma, tapi kita gak bisa mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Papa juga gak mau hubungan persahabatan kita dengan Alfredo dan Mirna terputus. Papa mau Dove ma bukan Aldo." Bimo mengeluarkan isi hatinya pada Sang Istri. "Anak kita ada andil dalam hal itu." Ucapnya penuh penyesalan, disini lain juga mencoba kuat demi keluarga.
Sementara, Naira terlarut dalam kesedihannya. Ia menatap fotonya bersama Aldo namun dalam otaknya membayangkan kebersamaannya dengan Dove. "Remember Naira." Ucap Dove padanya.
"Do, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" Ucapnya.
*****
"Dove! Sialan! Brengsek! Lo adik macam apa! Lo rebut pacar kakak Lo sendiri!" Dove terus menghajar Dove bertubi-tubi.
"Aldo! Pukul aku sampai puas gak akan merubah kenyataan! Kamu yang seperti ini berusaha untuk menutupi kenyataan. Buat apa? Sampai kapan Do?" Balas Dove.
"Naira, milik gw!" Balas Aldo.
"Dia bukan milik siapapun. Dia adalah Naira bukan milik Aldo atau Dove." Balas Dove.
"Nyokap Lo membuat nyokap gw sakit! Lo! sama jahatnya sama mama Lo itu!" Balas Aldo.
"Kamu hidup di keluarga Ricardo bukan keluarga Winata. Dalam darah kita ada darah Alfredo Ricardo. Kita hidup di dunia karena mereka, kita gak berhak menyalahkan siapapun. Al mama Anya meninggal karena sakit bukan karena mama." Balas Dove
"Stop!" Aldo mulai emosi. "Naira, milik gw, Dove!" Tambah Aldo.
"Ia milik Lo. Tapi orang tuanya menginginkan gw bukan Lo." Balas Dove. Membuat Aldo tersadar ia memang tidak akan pernah sebanding dengan Dove. Meskipun ia telah berusaha tetap Dove yang lebih unggul. "Bisakah mengalah kali ini?" Tanyanya sekali lagi sambil melihat ponselnya yang terus berdering dengan nama Naira. "Gw, benar-benar jatuh cinta kali ini." Tambahnya sambil menangis. Ia takut kehilangan lagi, terutama Naira.
*****
"Lo ngapain disini?" Bentak Dove melihat Naira duduk di meja kelasnya, "Aku mau bicara sama kak Dove!"
Dove mengajak Naira ke Taman dekat Sekolah, "Kak Dove aku mau membatalkan pertunangan kita." Jleb hal ini langsung mematahkan hati Dove.
"Kenapa? Gak mau dicoba dulu. Putus sama Aldo apa susahnya?" Balas Dove.
"Kak, muka kakak kenapa?" Tanya Naira. " Gak perlu sok perhatian, kalau kamu mau putus sama aku. Kamu harus Lulus seleksi anggota OSN kalau gak pertunangan akan tetap terjadi." Dove segera mengakhiri pertemuan itu, ia berjalan sambil menitihkan air mata. Hatinya seperti teriris-iris dengan penolakan Naira.
Keesokkan harinya, Dove kembali menjumpai Naira duduk di bangkunya. Pagi-pagi benar sebelum orang lain datang.
"Naira, kamu ngapain disini?"
"Aku mau minta diajarin matematika sama kamu" Naira menunjukkan setumpuk buku matematika.
"Kamu?" Jawabnya heran.
"Saya gak mau ngajarin kamu. Sebaiknya kamu keluar sekarang dan cari yang lain." Pinta Dove dengan nada datar.
"Saya, mau kakak, kakak pemenang lomba olimpiade matematika tahun lalu." Pinta Naira.
"Kamu tuh gak bosen dikerjain satu sekolah masih aja cari masalah sama saya" Jawab Dove.
"Ya, saya mulai terbiasa, sepatu basah, sepatu diatas tiang, sepeda jebol, baju olah raga robek, kursi jebol" Lalu Naira menghembuskan napas panjang, "Saya sudah sangat terbiasa kakak."
"Mau kamu apa?" tanyanya lelah bertengkar dengan Naira. "Ikut tim observasi kakak" Pinta Naira sambil tersenyum seolah dia sudah berbaikan dengan Dove.
"Kenapa kamu mau ikut? Bukankah kamu mau putus dari aku. Aku gak membutuhkan tim." Dove marah, dia benar-benar pusing dan rasanya ingin meledak menghadapi Naira. Perasaannya telah dipermainkan Naira seperti sebuah mainan.
"Eiitsss! Tunggu sebelum marah kamu harus makan ini" naira menunjukkan sebuah coklat dan menyuapi Dove. Dove kaget dengan coklat itu, "Ok, Naira kalau kamu maksa." Dia lalu menarik tangan Naira membawanya ke ruang OSIS. Didepan ruang OSIS puluhan anak sudah mengantri.
Dove berdiri di barisan paling depan dan mengumumkan sesuatu hal, "Semua perhatian! Mulai hari ini saya tidak akan membuka volunteers untuk tim observasi, karena Naira dia akan menjadi volunteer observasi kali ini." Dove lalu mengangkat tangan Naira layaknya sang juara.
Chua lalu bertepuk tangan untuk meramaikan suasana. Dove lalu pergi meninggalkannya. "Puas kamu? Sekarang kembali ke kelas kamu." Dove lalu masuk dan mengunci ruang OSIS. Tak ada yang diizinkan masuk olehnya. "Naira, aku akan membuat kamu menyesal mempermainkan aku." Ucap Dove, pipinya sudah basah dengan air mata.
"Lo kasi apa ke dia sampai mau terima lo? Dia sengaja bikin nomor antrian ini supaya orang jera karena dia mau pergi sendirian aja katanya." Tanya Chua heran.
"Gak tahu" Ucapnya.
"Naira" teriak Chan-chan, dia berlari kearah Naira namun ia langsung menghindar. Akhirnya Chua yang dipeluk Chan-chan.
"Chan, ini gw Chua" Chua merasa jijik dipeluk Chan-chan lalu berlari pergi.
Dibalik tangga menuju ruang OSIS, Aldo merasa cemburu setelah mengetahui tindakan Dove pada Naira. "Never Dove!" katanya.
"Hallo, Kak Dove" Sapa Naira yang baru saja sampai dengan tas koper dan ransel dipundaknya, "Kita mau pergi naik apa?" tanyanya.
"Kita cuman pergi sehari bukan satu minggu, ini koper isinya apa?" Tanya Dove sambil menunjuk kedua koper yang dibawah Naira.
"Ini baju, ini juga baju, yang di ransel juga baju" Jawab Naira santai.
"Pilih salah satu saja. Saya hitung sampai tiga atau gak tinggal. Saya akan bilang ke pak Anton kalau kamu membuat masalah baru dengan saya."
"Loh ayo pilih kok diam aja kamu, 1 .. 2.. ti.."
Buset dah, ini cowok nyebelin juga ya gak tahu apa kalau gw, cewek dan kebutuhan gw banyak, pake diitung segala. Naira, sabar, demi proposal, demi proposal Naira, sabar.
Dove menatapku dengan aneh. Tatapannya benar-benar membuatku terpesona dalam sekejap, aku rasa aku pernah mengenal tatapan itu. Tatapan itu sepertinya tak asing bagiku, tapi dimana aku melihatnya dan kapan aku melihatnya?
Naira mencoba mengingat namun kepalanya mulai terasa sakit, aduh, pala aku sakit banget. Naira memegang kepala yang terasa sakit. "Naira, kamu kenapa?" Dove panik, dia terlihat cemas melihat Naira. Dove mengelus punggung Naira.
Tiba-tiba Naira teringat sesuatu.
"Aduh" Teriak Naira karena terjatuh.
"Naira kamu gak papa?" Lelaki itu datang dan mengelus pundaknya.
"Aku gendong!" Katanya. "Selama kamu aman aku akan baik-baik saja." Ucapnya mengendong Naira di pundaknya.
Sentuhan ini aku yakin aku pernah mengalaminya, aku menatap dove yang sedang memapah. "Aku gendong!" Ucap Dove.
Pegangan ini aku pernah merasakannya. Dove siapa kamu sebenarnya? Kenapa aku merasa aneh setiap kali kau bersikap seperti ini?
"Naira, mama yakin Dove adalah pilihan terbaik dari dulu." Ucap Minarti kembali terlintas di benaknya.
"Eh, lo ngeliatin apa?" Tanyanya ketus, "Ini yang mana yang mau dibawa?"
"Yang itu, ransel" jawabku menunjuk ranselku yang berwarna biru. "Biru, warna biru warnanya sama seperti air laut. Kalau seseorang menyukai biru, apa lagi biru laut berarti dia punya hati yang sebesar lautan, artinya orang itu." Naira memotongnya, "Baik". Mereka sama- sama terdiam untuk beberapa detik.
"Waktu kecil?" Bahas Dove.
"Iya, waktu itu umurku masih 6 Tahun. Orang itu Aldo, kami berteman sejak masih kecil." Balas Naira. Namun ekspresi Dove berbeda, ia merasa kecewa akan jawaban itu. "Kamu masih aja tertipu, itu cuman karangan anak kecil. Setiap orang bisa berkata seperti itu" Balas Dove seperti mengalihkan perhatian Naira.
"Sudah lah, ayo kita jalan" Selama diperjalanan Dove memilih untuk tidur untuk menghindari perbincangan dengan Naira.
"Udah sampai nih" Naira mencolek Dove untuk membangunkannya.
"Makasih pak, besok jemput saya lagi ya disini" Naira turun lebih dulu. "Wow! keren banget!" Hamparan hijau pegunungan memanjakan matanya. Sawah dengan padinya yang sudah mulai menguning membuat keindahan ciptaan TUHAN benar-benar terlihat luar biasa.
"Ayo lewat sini!" Dove membuka petanya dan mulai menyusuri jalan sesuai petunjuk. Naira benar-benar masih terpukau, dia berputar-putar melihat keindahan pohon-pohon besar suara air terjun yang menyejukkan hati.
"Naira cepat, nanti kalau kamu nyasar, aku yang susah" Dove lalu melanjutkan perjalanannya.
Dasar cowok egois! Orang lagi enak-enak juga.
"Dove masih berapa lama sih, kok kayaknya jauh banget mana berat lagi istirahat dulu ya" Naira lalu duduk diatas batu dan merenggangkan kakinya.
"Naira ayo lanjut, ini masih jauh, udah deh jangan manja, makannya udah aku bilang gak usah ikut ngeyel" Dove lalu mengambil air minumnya.
Naira lalu datang menendang minumannya, "Gw gak butuh!" Ucapnya tegas sambil menggenggam erat kerah Dove.
Dove kaget dan ketakutan, dia langsung minta ampun padanya. Memohon pengampunanya. "Ampun Putri Naira!" Ucap Dove sambil berlutut sementara Naira tertawa terbahak-bahak. Dia lalu mengendong naira dan mereka berjalan menyusuri hutan. Tapi semua itu semua hanya khayalan Naira semata dan berbanding 360 derajat dari kenyataan yang ada.
"Woi mau gak? Kalau udah cepat berdiri masih duduk!" Dove lalu memasukkan botol minumnya.
"Dove A.R! Kakak kelas yang paling sok asik dan sok galak, sebenarnya lo ada masalah apa sih sama gw?" Tanya Naira kesal sambil menunjukkan ID Card ransel Dove yang jatuh
"Lo bisa baik sama yang lain, kok sama gw gak bisa? Sama yang lain bisa senyum kalau sama gw kok gak bisa? Oh karena gw sahabatnya Dita jadinya lo kesel. Bener sih! Pantesan jangan-jangan lo sengaja ya bikin Dita gak temanan lagi sama gw." Naira terus menuduh Dove namun dia tidak menggubrisnya.
"Dove, gw tuh lagi ngomong" Naira menarik tas Dove.
"Lo tuh ya, cerewet banget sih" Dove menunjuk Naira dengan gulungan kertas yang dipegangnya.
"Gw tunangan Lo!" Ceplos Naira.
"Bentar lagi Mantan, setelah ini aku akan minta orang tuaku membatalkan semuanya." Balas Dove santai sambil melanjutkan perjalanan.
Dia menatapku dengan kesal, aku tak peduli, dia memang menyebalkan sangat menyebalkan. Tapi kenapa setelah mengatakan putus perasaanku jadi kacau. Aku pun merebut gulungan kertas yang dipegangnya dan ku buang jauh-jauh kertas itu.
"Naira, kok dibuang!!!"
Yes! Liat dia marah, dia pikir, dia siapa, aku gak takut melakukan apapun yang aku inginkan. Aku tak takut meskipun dia marah.
"Naira petanya kenapa dibuang!!" Kalimat itu membuatku shock. Apa Peta itu peta perjalanan kami. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Aku panik, aku panik.
"Ya lo masa, gak hafal jalannya!" jawab Naira santai sambil menutupi kepanikannya. "Aku itu kesini 1 tahun yang lalu, ya mana mungkin gw hafal. Kamu bener-bener cuman bisa bikin onarrrr, udah ayo lanjut jalan." Dove lalu melanjutkan perjalanan dengan tampang keselnya.
"Aduh" Teriak Naira. Dove berbalik dan lari kearahnya. Naira dengan tampang tidak bersalahnya malah tertawa, "Naira, lo tahu gak sih gw panik, lo bisa gak sih gak menjadikan hal ini sebagai bahan becandaan" Dove marah dan meninggalkannya.
"Lo, itu sengaja ngerjain gw, dari tadi lo sama sekali gak buka petanya dan lo jalan-jalan aja, lo cuman mau nakutin gw doangkan!" balas Naira dengan mukanya yang sedang menantang orang membuat Dove kesal.
"kalau gw mau hafal atau gak itu urusan aku, justru aku yang tanya sama kamu, Buat apa kamu sok ikut campur urusan orang lain?" Balas Dove tajam.
"Urusan orang lain?" Naira semakin kesal.
"Berbaikan dengan aku lalu membuat aku sakit hati dan demi proposal baksos itu." Jawab Dove membuat Naira kaget.
"Lo tahu dari mana?" Naira terbata-bata.
Dove mengambil buku dari tasnya. Ternyata itu buku catatan Naira yang hilang dan dicarinya. Pada halaman pertama tertulis visi tahun ini membuat Dove si cowok nyebelin sakit hati.
"kamu mau ikut atau tinggal disini. Aku gak peduli" Dove lalu melanjutkan jalannya, akhirnya Naira mengikutinya dibelakang, "Aku rasa kita tersesat deh"
"Apa!!! Tersesat gak mungkin!!" Balas Naira.
"Eh, kita tersesat karena kamu. kamu yang buang petanya, kenapa aku yang salah" Dove mengelak.
"Naira, itu dipundak kamu ada laba-laba!" Dove lalu mundur menjauh dari Naira, "Naira, jangan deket-deket aku." namun Naira tidak peduli dia juga takut langsung berlari kearah Dove dan melompat keatas tubuhnya.
"ahhhhhhhh laba-laba!" Dove berteriak, kaki Dove tidak sengaja menginjak ranting dan mereka jatuh terguling.
"Naira, lo gak papa kan?" Dove bertanya dengan cemas, dia pun melihat luka ditangan Naira dan merasa miris. Dove lalu mengambil ponsel dan menghubungi kepala suku Desa Sekar. "Pak, ini saya Dove, saya tersesat. Apakah bisa kirim bantuan?"
"Disini ada sinyal? Gitu, gw bawa HP. Kemarin lo gak bisa pake HP. Gak ada sinyal. Kak Dove, lo tuh bener-bener nyebelin ya" Naira semakin ketus.
"Gw cuman bilang disini kadang-kadang gak dapet sinyal bukannya gak ada sinyal" Dove lalu mengendong Naira dipundaknya. Setelah orang dari Desa Sekar datang dan membantu mengarahkan mereka.
Tarian khas desa pun dipertunjukkan untuk menyambut mereka. Para warga juga terlihat senang dengan kedatangan mereka.
"Hey, kamu harus ikutin gerakan tarian ini kalau kalau gak diusir loh. Setiap ketemu orang wajib menari kayak gini." ucap Dove lalu tersenyum.
"Iya" Balas Naira. Naira pun belajar tarian itu, dan coba menghafalnya. Hari berganti sore, Naira mendapat tugas untuk menumbuk padi, untuk beras makan malam.
"Aduh! berat banget." Naira mengeluhkan beratnya penumbuk padi tersebut lalu Dove datang dan membantunya. "Jangan modus ya" Naira memperingatkan.
"Heh, ngapain modus kalau ini gak selesai mau kita gak makan, udah sini!" Dove mengerjakan tugas yang harusnya dikerjakan oleh Naira. Malam harinya, keduanya makan dengan lahap bersama dengan warga lainnya. Dove tertawa bahagia, tawa yang tidak pernah diberikannya pada Naira.
Cahaya lampu senter berkedap-kedip dari luar pintu kamar yang terbuat dari anyaman rotan, Naira menunggu Dove sambil mengoyang-goyangkan kakinya. "Kamu kenapa?" Tanya Dove yang baru saja kembali.
"Aku mau ke toilet, temenin" Pintanya
"Yaudah, tunggu ya." Dove mengambil senternya dan mengantar Naira.
"Naira, udah belum jangan lama-lama, gak ada suaranya, tidur ya?" Teriak Dove sementara di dalam kamar mandi Naira berdiri tegap di dalam kamar mandi kecil sementara ada tokek yang berjalan didinding. Dia lalu mendorong pintu pelan dan langsung memeluk Dove, "tokek!" Naira menarik tangan Dove untuk lari bersamanya.
"Tokek, tokek, tokek, jijik" Teriak Naira membuat Dove tertawa.
"Kak ini dimana?" Tanya Naira dan hal yang sama juga dipertanyakan Dove, "OMG! sumpah gak tahu ini dimana." Ucap Dove.
Terdengar suara-suara dan itu membuat nyali mereka menciut dan bersembunyi di balik semak-semak, "Naira, dipundak aku ada apa?" Naira mulai takut, "Tokek.. tokek!" Naira langsung lari, "Naira, jangan lari. Tokek kamu balik ke tempatmu ya." Dove menaruh Tokek itu di tanah dan mengejar Naira.
"Fix, kita tersesat, aku gak tahu ini dimana" Dove menghela nafasnya setelah berlari.
"Gw cape!" Ucap Naira.
"Duduk yuk!" Naira menarik tangan Dove dan memeluk lengan Dove.
"Maaf ya, kita jadi tersesat karena aku."
"Kamu selalu kayak gitu sejak dulu. Selalu buat aku dalam masalah." Jawabnya tersenyum.
"Dove!" Panggil Naira lalu mencium kening Dove. Setelahnya, Naira kaget dengan apa yang dia lakukan. Dove juga terdiam, "Why Naira?" Dove lalu mencium bibir Naira. Mereka saling berbalas.