
Setelah aku memberikan kartu cintaku padanya. Aku bahkan tak pernah lagi bertemu dengannya. Waktu libur semester yang cukup panjang dan keputusannya untuk menerima kesempatan belajar di Philipina selama 2 bulan membuatku semakin sulit bertemu dengannya. Sejak awal aku masuk Kelas 11 sampai sekarang, aku belum melihat wajahnya. Tak terasa satu tahun berlalu, kini aku seorang siswi kelas 11.
Hari terasa sepi dan hatiku mulai terasa hampa, entah mengapa dan sepertinya aku merindukan my trouble maker itu. Dita dan aku juga tidak bertemu, aku memilih untuk menghindarinya karena aku jatuh hati pada orang yang juga dia sukai. Aku tak ingin berkonflik dan memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman.
"Nai, kantin yuk!" ajak Dina.
"Yuk!" jawabku, hari-hariku masih merasa sepi saat ku lihat semua temannya berkumpul di satu meja dan bercanda gurau satu dengan yang lainnya. Aku semakin merindukannya. Keesokkannya masih sama dan begitu seterusnya.
"Nah ini dia nih, si Naira yang selalu datang jam 7 kurang 10 menit" sapa Nasya.
"Hei, udah ayo jangan marah-marah, sekarang mending kita ke kelas" balas Naira manja.
Seseorang memanggilku dan memberitahuku sebuah berita besar yang mengejutkan, aku terpilih sebagai panitia. Aku tidak pernah mendaftar dan bagaimana mungkin aku jadi panitia. Kakiku langsung berlari menuju papan pengumuman untuk melihat namaku. Naira Seno namaku tertulis di sana asisten ketua pelaksana. Tidak !!!!!!
"Tunggu, ini kan tanda tangannya Dove" ucap naira, "Kak Dove sudah kembali!" Ia kaget bukan main.
Lapangan basket,
Dove berdiri di hadapan Naira, dia masih merasa sakit pada tangannya, "udah sana minggir" Ucap Dove mendorong Naira pelan dari hadapannya. Naira kembali menghalanginya dan Dove kembali mendorongnya dan tidak mempedulikannya.
"Aku mau mengundurkan diri" protes Naira lagi, tiba-tiba Dove manarik tangannya kepinggir lapangan dan menyuruhnya duduk di kursi lapangan, "ini kenapa? jatuh?" Tanyanya tak berbalas.
Naira tidak membalas pertanyaan itu dan bersikap dingin. Dove mengambil air mineral dari tasnya lalu menyiramkannya pada luka di lutut Naira.
"Auwww, sakit, bilang-bilang dong!" Naira hampir memukul tangan kiri Dove dengan cepat ia memegang tangan naira, "Cewek itu jangan suka mukul, kamu itu curang, aku baru aja pulang, baru pertama sekolah masa harus dapat masalah." Dove memasangkan plester itu pada luka naira.
Dove sedikit tersenyum, dia berdiri dan memandang Naira, kedua tangannya berada dipundak Naira. Dengan tatapan tajam dia berkata," Kalau lo keluar, lo gak lebih dari seorang anak manja yang looser ingat itu Naira Seno" lalu pergi meninggalkan Naira.
Dove sedikit tersenyum meskipun dia harus menahan sakit pada tangannya, sesaat Naira merasa jantungnya berdebar lagi dan ini karena Dove.
"Aduh Din, gw musti kerja bareng dia lagi, setiap hari ketemu dia, jelas aku gak mau, aku males, gw bakalan kerjain dia abis-abisan" keluh naira di telpon."
"Udah, gak papa terima aja, nanti dia juga pasti bakalan berubah baik, kamu jangan terlalu benci, nanti suka loh." Dina membalas Naira dengan nada yang sedikit kuatir, begitupun juga Dion yang berada disampingnya.
Lalu Dina memeluk Dion. "Aku kuatir Dion."
Didepan kelas dove, Wira keluar setelah mendapat telephone dari Naira,
"Kak Wira ini gw Naira, bisa minta bantuan? gw mau lo bilang ke Si Dove kalau gw mau keluar dari tim ini."
"Naira! aku denger ada anak yang sukanya buat onar ke temen aku karena dia merengek minta keluar."
"Kamu pikir dia bisa ngelakuin apa, aku ketuanya dan yang bisa nentuin kapan dan siapa yang boleh ada di tim aku." Dove mendorong Naira ke dalam lorong dekat gudang olahraga tempat mereka pernah terkunci.
"Kalau lo mau ngerjain gw, pikir 2x, sebelum lo menyesal berurusan dengan gw!" Naira berusaha lepas namun Dove mencengkeramnya lebih kuat dan mendorongnya sampai menempel pada tembok, Dove menempelkan kedua tangannya ditembok dan mencium bibir Naira lembut.
"Bukankah kamu ingin bersamaku. Apa hubunganmu dengan Aldo?"
"Aku udah putus" Dove lalu mengecupnya lagi.
"Good Job! Aku kembalikan kartu ini." Dove mengembalikan kartu hati yang pernah dia berikan. "Aku kalah."
"Kak Dove" Naira terpaku dengan ciuman tadi.
"Kalau gw menginginkan lo berarti harus lo, paham!!" Ngerti??"
"So, besok datang ke ruang OSIS dan jangan terlambat atau punishment nya akan lebih berat" Dove mengambil kotak putih yang dibawanya dan memberikan kotak P3K itu tepat disebelah Naira.
"Stop kak!" Panggil Naira. Dia memberanikan diri mencium Dove. "Kenapa, mau ngecek apa ini mimpi." Ucapnya langsung di cubit Dove.
"Kenapa Kakak mau dekat aku, setelah kakak menolak aku!" Teriak Naira.
"Buktikan kamu menginginkanku." Tantang Dove.