Nairadove

Nairadove
IT'S YOU



"Auuuu" seseorang tak sengaja melemparkan kaleng minuman bersoda kosong padanya, sambil mengusap kepalanya, "Siapa itu?" teriaknya kesal. Gak tahu apa orang lagi sedih!


"Nah ini mbaknya akhirnya ketemu juga, saya cariin. "Mbak, kata Bu Tiur, kemarin teman mbak ketinggalan barangnya. Sepertinya barang ini harganya mahal jadi saya nyariin mbak. Maaf ya mba soal yang tadi."


"Iya" ucap Naira.


Barang apa ya? kayak kotak perhiasan? buka ahh.


Apa!! kalung ini bisa sama Dove? dari mana dia bisa mendapatkannya? Kalung ini, kalung yang pernah aku kembalikan pada Aldo, kenapa bisa di Dove? Dan kenapa kalung ini ada dua?


Naira kaget saat dia melihat kalung itu. Kalung yang pernah diberikan Adi untuknya bisa berada di dalam kotak yang diberikan oleh pemuda tadi.


"Apa mungkin Dove adalah Adi yang sebenarnya?"


******


"Aku harus tahu jawabannya sekarang, aku harus tahu siapa itu Dove." Naira keluar dari mobilnya, menyalakan senter dan masuk ke gedung sekolahnya. Suasana gelap dan kosong membuatnya takut.


Gak Naira! Lo gak boleh takut! Lo harus tahu kebenarannya!


Dia membuka ganggang pintu dan mendorongnya kedalam, gelap tanpa cahaya, diputarnya kepala senternya agar mengeluarkan cahaya yang lebih terang. Dia mulai meraba satu persatu nama yang terpasang didepan loker. Dicarinya satu per satu, hingga ia berhenti di satu loker dengan nama Dove R, science.


'"Dove R" Naira membuka loker itu. Semua buku, tas, sepatu, seragam cadangan tersusun rapi. Di bagian dalam pintu locker terdapat foto Dove bersama teman-temannya dan juga tim basket SMA HARAPAN. Di rak paling atas terdapat tumpukan buku dan ulangan-ulangan miliknya, di bawahnya terdapat jaket almamater yang bertuliskan Dove R.


"Wow! Dia benar-benar rapi, dimana aku bisa menemukan bukti itu, aku harus menemukannya, harus disini!"


Naira terus membongkar isi loker Dove dan akhirnya menemukan apa yang selama dia cari. Sebuah dokumen data pelajar milik Dove, di sana tertulis namanya adalah Doveadi Ricardo. Lahir, Surabaya 10 Oktober. Selain dokumen itu dia juga menemukan kotak musik yang sama diberikan untuknya. Di rak paling bawah, dia menemukan foto Dove dan Aldo saat masih kecil.


"Dove dan Aldo?"


"Mereka bersaudara?"


"Doveadi Ricardo?"


Siapa itu! Teriak satpam penjga sekolah. Jangan main-main ya! Teriaknya lagi ketakutan. "Kenapa lockernya Dove bisa kebuka, kamu fans nya Dove juga?" Teriaknya lagi.


Aku harus segera pergi, Naira menyusup kembali keluar dari sekolah.


*****


"Tante, ini Naira. Besok Naira boleh main ke rumah Tante?" Tanya Naira kepada Mirna.


"Tentu saja Naira, boleh. Besok Tante minta supir jemput ya."


"Gak perlu Tante. Aku ke sana aja." Balasnya. Selama ini kalian membohongiku, Aldo kamu kenal Dove? Kalian ada hubungan apa? Doveadi Ricardo, aku akan temukan jawabannya.


Ragu, itulah yang ku rasakan hari ini. Aku ragu pada kenyataan yang selama ini tertutupi. Bagaimana jika selama ini, Aldo dan Dove membohongiku? Bagaimana jika Aldo dan Dove ternyata bersaudara? Bagaimana kalau Aldo memang betul Adi, dan aku sudah mengkhianatinya dengan saudaranya sendiri? Bagaimana aku menghadapi Aldo dan Dove nanti? Gimana Tante Mirna memandangku?


Aku berubah menjadi overthinking, aku takut menghadapi kenyataan, hampir 80 persen bukti menunjukkan bahwa kedua orang itu sudah membohongiku. Aku merasa bodoh, aku bertemu dengan mereka hampir setiap hari, namun aku bahkan tak tahu semua ini.


Pikiran-pikiran itu muncul seiring dengan langkah kakiku yang semakin dekat dengan rumah Dove. Hi! Naira! Sambut Tante Mirna dengan pelukan hangat. Aku merasakan kehangatan calon mertua. "Dove lagi pergi, Naira latihan basket sama kakaknya."


"Punya, satu kakak dan satu adik sepupu. Aldo dan Diva."


Aldo? Kakaknya? Bagai tersambar petir mendengar nama itu disebutnya. Aku berjalan memasuki rumah yang sangat besar, berkonsep Eropa. Ketakutan ku menjadi nyata di ruang makan, terpajang suatu foto keluarga besar disana ada Dove, Aldo dan Diva dibelakang Tante Mirna dan Alfredo.


"Diva itu udah Tante besarkan sejak kecil, orang tuanya sudah meninggal jadi dia manja banget sama Dove. Dari kecil kamu sama Diva itu selalu berantem. Semoga sekarang tidak ya Naira, sudah pada besar."


Detik, ini diriku tersadar bahwa aku bahkan tidak mengingat kenangan ku dengan Diva, dimana rumah Aldo? Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku tidak bisa ingat? Kenapa seperti ini?


Kini di depanku, ada dua bingkai foto berwarna coklat. Di masing-masing bingkai terdapat foto masa kecil dari Dove dan Aldo. Aku masih berharap jika ingatanku tidak salah, aku berharap wajah anak kecil yang sama seperti foto di bingkai kanan adalah Adi yang ku kenal Aldo. Aku masih berharap!


"Tante, diantara foto ini yang sering dipanggil Adi yang mana Tante ?"


"Naira, yang sebelah kanan. Dove masih kecilnya lucu ya. Dove punya nama kecil, Adi. Selain Tante, cuman kamu yang panggil Adi."


"Kalau yang di kiri, siapa Tan-te?"


"Aldo"


"Al-do Tante" Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Aku langsung berlari menerima kenyataan ini. Kenapa aku gak sadar? Kenapa aku percaya? Kenapa aku gak tanya?


"Remember Me, Naira!" Ucap Dove.


"Kamu yakin udah ingat semua? Kamu yakin bisa membedakan kebenaran?" Ucap Dove ketika kami bertengkar.


"Naira, Lo bakal nyesel!" Kata Robert.


"Aku gak akan pernah membiarkan orang ke tiga menghancurkan hubunganku dengan Aldo!"


"Tapi kamu melakukannya"


"Aku gak pernah mengkhianati hubungan aku sama Aldo!"


Kenapa! Kenapa! Kenapa kalian bohongin aku?


Setelah, Naira terbangun ia menemukan dompet di laci meja disebelah tempat tidurnya. Di dalam dompetnya, dia menemukan sebuah foto dirinya dan Dove kecil di belakangnya tertulis, tunangan ku.


"Naira kamu sudah sadar." Tanya Aldo.


"Siapa kamu?" Tanya Naira menatap Aldo.


"Kamu orang ini?" Naira menunjuk gambar di dompetnya.


Awalnya ragu, tapi Aldo mengiyakan semuanya. "Iya itu aku, pacar kamu, Aldo."


Naira tersenyum dan mengandeng tangan Aldo. "Do" Panggil Naira membuat Aldo kaget.


"Panggil aku Aldo, Naira bukan Do."