Nairadove

Nairadove
SPECIAL: OUR FUTURE



"Happy birthday, Dove!" Teriak Naira menghampiri Dove yang baru keluar dari pintu bandara. Enam tahun sudah berlalu, Dove telah menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang accounting yang handal.


"Hi, Nai nai... I miss you.." Peluk Dove erat, sudah hampir 2 tahun mereka tidak bertemu. Hal ini karena Naira yang sibuk mengejar deadline thesis kedokterannya. "Gimana Bu Naira, sudah berapa pasien yang ditangani?" Tanya Dove merangkul Naira di pelukannya.


"Nanti malam aku jemput ya... Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Ajak Naira.


"Kemana?"


"Rahasia." Jawab Naira, berkedip pada Dove.


"Udah mulai genit ya kamu." Jawab Dove.


"See you tonight." Balas Naira, memeluknya erat.


******


Suasana romantis dengan alunan musik menemani Dove dan Naira. Naira mengajak Dove untuk makan di danau favorit mereka. Tempat dia dan Dove sering menghabiskan waktu di sana.


"Naira, dekorasinya romantis banget. Kita dansa yuk." Dove mengajak Naira untuk berdiri dan berdansa dengannya. "Naira, gak terasa udah lebih dari 10 tahun aku kenal kamu. Aku bahagia banget." Dove menyampaikan isi hatinya pada Naira.


"Naira, di hari ulang tahun aku tahun ini. Aku mau Tuhan kasih aku kekuatan untuk bisa melangkah ke jenjang berikutnya sama kamu. Menjadi teman hidupmu, sahabat dikala sedih, sahabat dikala bahagia." Dove lalu memeluknya.


"Mulai sekarang hubungan kita harus lebih serius ya." Pintanya lagi.


"Dove, kenapa sih kamu kayak orang tua gitu. Sudahlah, kita let it flow aja." Balas Naira cuek dengan ucapan Dove. "Jodoh gak ada yang tahu, mungkin aja aku sama yang lain." Tambahnya.


"Ngaco! Kamu itu sama aku." Jawabnya cemburu.


Mereka terlibat saling cekcok dalam membicarakan hubungan mereka. Dove kaku dan serius harus berdebat dengan Naira yang cuek. Perdebatan tak ada akhirnya itu akhirnya membuat keduanya bertengkar.


"Yasudah aku ke toilet dulu ya." Ucap Naira memilih untuk mengalah dalam perdebatan ini.


*****


"Doveadi Ricardo!" Suara Naira terdengar melalui speaker suara yang terpasang di sekitar tempat mereka makan malam.


"Naira." Dove melihat ke segala sudut, "Doveadi Ricardo." Ucapnya lagi membuat Dove salah tingkah. "Kamu bagaikan mentari dalam hidupku. Tanpa kamu hidupku tidak akan semenarik hari ini. Dove cinta pertamaku, cintaku satu-satunya." Ucap Naira, semakin membuat Dove berbunga-bunga, tiba-tiba kedua orang tua dan keluarga mereka hadir di sana.


"Ma, Pa." Sapa nya, "Mau kemana kamu?" Tanya Bimo mencegah Dove beranjak dari posisinya saat ini. "Om, aku mau menghentikan Naira..."


"Gak perlu." Bimo lalu mengajak Dove ke tengah panggung tempat dirinya dan Naira berdansa. Dove terlihat gelisah, ia mencari Naira dan terlihat malu dengan keluarganya.


"Doveadi Ricardo." Sebut Naira lagi sambil membawa sebuket bunga, "Banyak kisah yang sudah kita lalui. Rintangan yang tidak mudah. Dove, masih ingat kejadian di ruang OSIS, saat aku terkunci di sana dalam keadaan gelap gurita. Aku sangat takut dan ketika kamu muncul, kegelapan itu sirna. Dove, aku tidak pernah menyesal mengenalmu." Ucapnya berjalan mendekati Dove dari antara keluarganya.


"Naira, kamu mau ngapain?" Tanya Dove.


"Menikahlah dengan Naira!" Kata Naira.


"Naira, siapa yang minta kamu ngelamar aku. Seharusnya, aku yang melamar." Dove lalu berlutut dan mengeluarkan cincin berlian turun temurun milik keluarganya. Dari kejauhan, lampu bertuliskan Will You Marry Me menyala dengan terang.


"Naira, Will you marry me?" Dove berlutut di depan Naira yang membawa buket bunga mawar merah.


"Yes!" Naira lalu memeluk Dove erat. "Terima kasih Naira." Jawabnya. "Ma, pa Naira nikah sama Dove!"


"Selamat ya kalian berdua." Ucap seluruh keluarga. "Selamat datang di keluarga kami, Naira." Peluk Mirna.


Kebahagiaan ini tidak hanya dihadiri oleh keluarga tapi juga sahabat mereka berdua, The JOJO dan Shot Genk.


"Dove, kita punya hadiah buat kamu." Dina lalu memberikan sebuah kotak kepada Dove. Dina yang tengah mengandung 6 bulan, anaknya dengan Dion mendekat dan berbisik di telinga Dove, "Sejak awal kamu sudah berhasil merebutnya." sambil menepuk lembut pundak Dove.


"Apa ini?" Tanyanya pada Dina.


"Kemarin camera lama Naira rusak. Dia minta tolong aku untuk reparasi kamera tersebut. Tapi, dia lupa bawa SD Card nya, jadinya gak sengaja aku liat dan ternyata isinya..." Ucap Dina.


"Dina jangan dilanjutkan..." Teriak Naira membuat semua orang penasaran. "Jangan dibuka Dove.."


"Naira... ada apa sih..." Ucap Dove lalu membuka kotak itu. Setalah membuka kotak itu Dove tersenyum, "Ini foto aku saat di pekan pengenalan sekolah kan?"


Naira hanya tersenyum malu sampai ia harus menutupi sebagian mukanya. Pekan pengenalan sekolah itu, adalah awal dari semua ini. Tanpaku sadari Dove telah masuk dan memilki hatiku diam-diam. Sejak aku bertemu Dove, hubunganku dan Aldo tidak lagi sama. Aku mulai mengkhianatinya. Hatiku mengkhianatinya bersama Dove.


"Waktu itu kamu udah suka sama aku?" Tanya Dove spontan di depan semua orang.


"Belum, eh udah... Gak tahu ..." Naira enggan untuk menjawab dan memilih kabur. "Naira... jangan kabur.." Dove mengejarnya dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa gak ngomong. Aku mau kok..." Ucap Dove semakin membuat Naira malu.


*****


Flashback Malam Terakhir Pekan Pengenalan Kampus.


Pekan pengenalan kampus akan diakhiri dengan acara api unggun. Dimana, setiap anggota OSIS akan mengikatkan gelang merah ditangan setiap anak sebagai bentuk penerimaan secara resmi. Ini adalah acara yang paling ditunggu terutama anak cewek karena mereka bisa langsung berbicara dengan Dove dari dekat.


"Api unggun, apa yang menarik?" Ucap Naira bosan dengan kegiatan ini.


"Huttss!" Panggil seseorang padanya.


"Eh, siapa nih!" Teriak Naira spontan ketika tangan seseorang menutup kedua matanya.


"Masa sih kamu gak bisa kenalin." Ucap lelaki itu.


Siapa sih ini! Ucap Naira dalam hatinya, tak ada satupun clue yang terlintas dalam pikirannya.


"Aldo, aku aldo" Bisik Aldo melepaskan tangannya.


"Hei, Aldo!" Naira memberikan senyum termanis untuk cowok di depannya. "Kamu lagi apa disini?" Tanyanya manja sambil mengandeng tangan Aldo mesra.


"Aldo!" Teriak Robert. "Ngapain, Kamu ngapain disini? Udah jam istirahat?" Tambahnya lagi.


"Berani lo!! Dasar anak cupu!" Tambah Chua yang kesal.


"Udah!! Stop!! Gak enak diliatin yang lain! Aldo lebih baik kamu kembali ke kelas." Dove berusaha melerai mereka.


"Naira, sampai ketemu ya!" Aldo menatap tajam pada Dove. Tatapan yang sedikit mengintimidasinya.


"Naira, aku senang kamu bisa melewati 1 minggu ini dengan baik." Ucap Dove bersamaan dengan seruan murid-murid yang terkesima dengan antraksi para pemain basket dan Volley. "Hah, tadi kak Dove ngomong apa sih sebelum dia pergi?" Tanya Naira mulai pusing dengan teriakan cewek-cewek melihat antraksi yang dilakukan.


"Eh ketua Volley nya siapa sih? Dove ya? Kenapa gak dia sih yang tampil" Ucap beberapa cewek diantara kerumunan anak baru.


"Kamu ketua Volley?" Tanya Naira.


"Iya, tapi gak harus aku juga yang majukan." Balas Dove. Tersenyum disebelahnya. "Bukan urusan kamu juga siapa yang maju. Btw, kamu jangan sampai daftar di tim volley ya. Kriteria kayak kamu gak masuk." Ledek Dove lalu meninggalkannya.


"Resek! Kayak bagus aja dia!"


 


Api unggun telah tersedia dan semua panitia sudah berkumpul. Lagu mars dinyanyikan dengan semangat. Mereka bergandeng tangan sambil berjalan berkeliling.


Robert mengucapkan selamat datang mengantikan Dove yang tidak hadir.


Naira kaget dan semakin merasa bersalah.


Wira menyuruh setiap siswa berbaris untuk mendapatkan gelang merah. Semua orang mendapatkan gelang kecuali Naira. Tak ada satupun yang mau memberikannya gelang itu.


"Bagi yang tidak dapat gelang maju ke depan dan siap terima hukuman!" Ucap Sinta dengan nada tinggi membuat Naira takut.


Teman-teman satu angkatan melihat padanya, dia malu menjadi pembicaraan temannya dan merasa dibedakan karena kesalahan yang tidak dia mengerti.


Apa karena Kak Dove?? Matilah riwayatmu Naira. Aldo tolong aku, please!


Naira tertunduk melihat tangannya tak terikat satu gelang apapun.


"Hukumannya adalah menyanyi di depan kita semua!" Kata Chua menggunakan toa.


"Nyanyi! Nyanyi!" Teriak semua orang sambil bertepuk tangan.


"Gak ada yang nyanyi di depan karena semuanya mendapat gelang. Kata Dove tiba-tiba dengan menggunakan kaos polo dengan gaya cool, dia berjalan dan mengucapkan selamat kepada semua orang.


"Selamat sudah melewati satu Minggu ini dengan baik. Selamat datang di SMA Harapan." Ucap Dove menarik tangannya dan mengaitkan gelang merah padanya.


"Kak Dove." Panggil yang lain bergembira.


"Dove bukannya Lo udah pulang dan gak pernah mau hadir di acara ini." Ia lalu mengambil toa di tangan Chua dengan lantang ia berkata, "Kamu yang suaranya, jelek dan cempreng kamu boleh turun sekarang. Kalau kamu nyanyi bisa buat semua orang sakit kuping." Ucap Dove sambil menunjuknya di depan banyak orang. Itu membuatnya lebih malu.


Dove lalu mengambil gitarnya, "Kamu mau nyanyi bareng kita?" Tanyanya lagi. "Kenapa belum turun? Go!" Suruh nya.


Ia lalu bernyanyi bersama Shot Genk. Tak disangka suara Dove sangat merdu dan asik, diiringi dengan Gitar klasik miliknya, dan drum oleh Robert, Bass oleh Chua dan Dion, serta Keyboard ditangan Wira.


"Kak Dove! Kak Chua! Kak Wira!" Teriak anak-anak.


Sinta semakin tak suka dengan Naira. Naira pun merasa risih dengan lingkungannya. Beberapa anak cewek yang iri padanya mulai melirik dan membicarakannya terutama karena gelang ditangannya special. Gelang pertama yang diberikan Dove pada adik kelasnya.


Saat pulang, Dove berniat ingin mengantarnya namun Naira menghempaskan tangannya dan menamparnya.


"Berhenti mendekatiku, aku tak ingin bertemu kakak lagi!"


Dove marah dan mendorongnya, "Aku terluka karena kamu. Gini cara kamu memperlakukan aku." Ia memperlihatkan bekas lukanya pada Naira. Dove menarik Naira agar bisa menatap dirinya. "Kak, aku bilang..." Kedua mata mereka saling beradu, napas mereka juga bertemu, jarak diantara mereka bahkan kurang dari 1 CM.


"Setidaknya kamu harus berterima kasih." Ucap Dove dalam jarak sedekat itu, Naira terus menatapnya. Tiba-tiba, sesuatu yang lembut menyentuh bibir Dove. Bibir mereka saling bertautan. Naira mencium Dove.


Dove memberanikan diri untuk membalas ciuman yang tak terduga ini. Irama jantung Naira jelas tak beraturan, tangannya terasa mati hingga hanya bisa diam. Bibir Dove terlalu lembut. Bibir yang sama yang menciumnya waktu itu. Dove menarik Naira menjauhi kerumunan orang-orang.


"Naira, kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu bisa terkunci di ruang OSIS tadi?" Tanyanya panik. Sementara, Naira masih terpaku dengan ciuman tadi.


"Kak Dove! aku udah punya pacar. Kenapa harus ngelakuin itu." Naira marah dan menendang kaki Dove. "Aku udah punya pacar" Balas Naira sambil menyentuh bibirnya, "Jangan sampai pacarku tahu." Jawabnya berlari meninggalkan Dove.


"Auuu!" Rintih Dove kesakitan.


"Tadi aku nyariin kakak. Mau kasih ini.." Naira mengurungkan niatnya. "Gak jadi!" Jantung Naira tak berhenti berdebar, Naira ayo berhenti!


Tak kembali lagi dan memberikan salep luka untuk Dove. "Ini pake ya!"


*****


"Naira!" Panggil Dove yang sudah menunggunya di tempat parkir.


Melihat Dove di sana, muka Naira langsung merah. "Kak Dove ngapain sih."


"Nai, aku dengar kamu di kunciin dikamar mandi, kamu gak papa kan?" Tanya Dove panik. "Sorry.." Ucapnya kuatir.


"Aku..."


Aldo tiba-tiba mendorong Dove, "Jangan sakiti pacarku! Jauhi dia!" Ucap Aldo.


Dove menarik kerah baju aldo, "Cowok cupu, memangnya bisa melindungi cewek manja dan gak tahu terima kasih kayak dia! Pergi dasar cupu!" Usir Dove seperti mengusir pembantu.


"Kalau kamu bisa, Naira gak mungkin di kunciin." Balas Dove menohok.


"Remember me, Naira" lalu dia mendorongnya hingga jatuh.


Semenjak hari itu, tanpa disadari Naira terus berjalan ke arah Dove.