Nairadove

Nairadove
PLEASE DOVE!



Kringggggg!!!


Bel sekolah berbunyi, semua anak berhamburan keluar menuju mobil mereka masing-masing.


"Dove, lo udah gak papa? Tanya Chua. "Pulang bareng gw?" Ajaknya, ia melihat Dove masih sangat lemas.


"Gak usah Chua, aku bawa mobil kok, aku duluan ya!"


"Gw bareng ke depan Dove!" Celoteh Dion


"Ok!" Dove menyetujuinya.


*****


"Kak maukah kau pergi denganku akhir minggu ini? I love you"


"Dove! dia itu pacar gw, lo gak perlukan bikin dia menderita, I like her, i will take care of her, Dove you are my brother" Kalimat-kalimat itu terus menganggu pikiran Dove.


"Dove! Gw tahu apa yang lo pikirin. Gw saranin Lo lupain dia Dove, lupain, dia pacar Aldo, kakak tiri Lo sendiri." Dion kembali menegaskan status Aldo.


"Dion, iya aku paham. Btw, kamu mau ke tempat latihan? Bareng aja, aku juga mau ke sana" Dove menaruh tas yang di bawa di bagasi mobilnya.


Doveee! Teriak Aldo berdiri tepat dibelakangnya dan langsung melayangkan pukulan di wajah Dove. Dove yang tidak siap langsung jatuh tersungkur, mulutnya berdarah.


"Lo gak pantes buat Naira karena Lo dia jadi begini! Lo lupa! Merasa diri Lo pantas!" Teriak Aldo, matanya kini penuh dengan amarah dan kebencian. "Lo mau ngelakuin hal yang sama seperti nyokap Lo!" Teriaknya lagi.


Dove langsung membalas Aldo dengan pukulan yang cukup keras. "Aldo! Berhenti menyalahkan nyokap gw! Gw dan nyokap gak pernah tahu keberadaan Lo dan nyokap Lo!"


"Nyokap gw! Gak pernah nyuruh gw membenci Lo! Dia selalu minta gw untuk menganggap Lo saudara! Puas Lo!"


"Soal Naira, apa yang gw lakuin itu urusan gw bukan Lo!" Dove lalu memukulnya lagi.


"Aldo! Kenapa Lo mukul Dove!" Dion keluar dari mobil dan meleraikan mereka berdua.


"Pergi lo gak ada urusan! " Bentak Aldo. Mereka terus terlibat saling pukul satu sama lain.


"Gw! Gak terima Lo mukul Dove!" Dion menarik Aldo dan gantian memukulnya. "Gw gak ada urusan sama Lo!" Tendang Aldo membabi buta. Belum juga Dove sempat berdiri, ia kembali terkena pukulan Aldo.


"Aldo, aku gak mau berantem. Stop sekarang juga! STOP!" Pinta Dove tapi Aldo yang penuh dengan rasa kecemburuan tidak menggubrisnya dan terus berusaha memukul Dove. "Tinggalin dia!" Teriak Aldo.


"Bukan gw tapi dia yang akan datang ke gw." Kalimat itu membuat Aldo terdiam. Dove langsung membalikan keadaan untuk membuatnya sadar.


Dion mencoba untuk melerai keduanya, "Jangan ganggu gw, ada yang perlu gw selesain dengan Dove!"


"Kalau lo mau limpahkan semuanya ke gw ayo do, pukul gw tapi gw gak akan tinggal diam!" Dove memukulnya lagi, semua murid langsung ribut melihat ini. Siswa teladan di sekolah berantem dan terancam masuk ruang BP dan surat peringatan sekolah. "Woi! Dove ribut lagi!!"


Semua hal yang berurusan dengan Dove akan dengan cepat tersebar hampir ke seluruh sekolah termasuk ketika dia berantem. Perkelahian itu menjadi headline news dan bahan pembicaraan seluruh sekolah dari penjaga WC hingga Guru-guru. Mereka heran Dove murid teladan dan berprestasi bisa berantem sama Aldo.


Masalah ini juga terdengar oleh Naira yang baru saja keluar dari kelas dan berjalan menuju tempat parkir.


"Eh gila, Aldo berani juga ya nantang Dove, pantes lah anak cupu kayak dia habis ditangan Dove" seru beberapa anak yang membuat mata Naira melotot tajam langkah kakinya semakin cepat dan semakin cepat.


Ia berlari sampai di lapangan parkir yang sudah penuh dengan murid-murid lainnya. Dia berjalan menyusup diantara murid-murid dan melihat Aldo yang terbaring lemah dengan mukanya yang penuh luka tanpa perlawanan sedangkan Dove terus memukulnya.


Tiba-tiba Aldo memukul sisi kiri Dove dan membuatnya langsung terpental jatuh, Aldo lalu berbalik memukuli Dove. "Aldo! Stop!" Dia mendorong Dion menjauh.


"You promise me tapi lo tetap aja datangin dia, dan menarik perhatiannya!" Ucap Aldo. Dove tak tega melihat tatapan mata Aldo yang tersirat penuh ketakutan akan kehilangan Naira. "Al, apa yang harus aku lakuin?" Ucapnya. Aldo menangis mendengarnya. "Lo udah puas setelah mukulin gw!"


Kenapa jadi begini, dove? Sadar, dia Aldo your brother! Ucap Dove menguatkan hatinya. Muka Aldo penuh dengan luka, dia hanya bisa terdiam melihat Aldo yang terkulai lemah.


"Al" Dove mendekat namun Aldo bangkit berdiri dan berniat memukulnya lagi namun ia menepis dan mendorongnya. Aldo jatuh terkulai lemas. Dion mengingatkan Dove, begitu yang lainnya, Wira, Chua, Robert dan Sinta juga sangat menyayangkan kejadian ini.


Dove pun mulai menitikan air mata. Dia melihat Naira sedang memandangnya.


"Tante bukan Dove yang salah, aku yang salah" Aldo kecil rela di jewer oleh Mirna. Dia memberikan robot mainannya kepada Dove. Ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Pa, dia siapa?" Tanya Mirna pada Alfredo. "Anak teman aku. Dia akan menginap disini selama beberapa hari karena mamanya sakit." Tambahnya. "Kamu main bareng sama Dove ya." Ucap Mirna menerima kehadiran Aldo kecil.


"Aldo, sorry!" Dove ingin mendekati Aldo serta membantunya dengan mengulurkan tangannya, "Berhenti!" teriak Naira dari kejauhan lalu menampar Dove.


Dove menahan tangan Naira tepat di depan wajahnya, "Naira, Aldo yang mulai, Dion saksinya, Pacar lo yang tengil ini yang mulai ini semua, ngerti lo!" Dove menghempaskan tangan itu, " Mulai sekarang lebih baik lo berdua pergi dari sini! Gw muak liat lo berdua!" Dove mengusir mereka dengan kasar lalu Sinta datang dan mengelap darah yang ada di bibir Dove.


"Aku, berantem karena dia buat kamu pingsan tadi" ucap Aldo.


"Kalian berdua itu cocok, sama-sama suka buat onar!" Ucap Dove menyakiti Naira.


"Jangan asal! Lo berantem sama dia karena..?" Bantah Dion namun Dove mencegah, ia tak ingin mengklarifikasi apapun hanya diam sambil mengambil botol minum milik Naira yang ada di dalam mobilnya.


"Jangan ganggu gw!" itu kalimat yang justru keluar dari mulutnya lalu meninggalkan semuanya.


"You promise me! you promise me! you promise me!"


*****


Di depan makam ibunya Aldo.


Aldo menangis sendirian ditengah hujan. "Mama!" Panggilnya lalu Dove kecil datang dan memeluk Aldo


"Aku gak punya orang tua lagi Dove, Aldo sendirian" jawab Aldo menangis.


"Aldo punya Dove, kita saudara, aku akan berbagi denganmu mulai hari ini" Dove mengandeng tangan Aldo lalu pergi meninggalkan makam itu.


10 tahun kemudian,


"Bi, semenjak aku pulang. Aku gak liat Aldo. Di masih tinggal dirumah ini kan?" Tanya Dove setalah ia sampai dari Amerika.


"Den Aldo sekarang tinggal di tempat kos sudah semenjak Den Dove pindah ke Amerika." Balas Mbok Sum, salah satu pengurus rumah tanggal dirumah Ricardo.


"Kasih aku alamatnya bi. Aku mau ketemu dia."


Dove mengendarai mobilnya menuju lokasi yang beritahukan oleh Mbok Sum. "Seharusnya ini rumahnya." Dove langsung bersiap untuk turun sambil membawa hadiah yang dia persiapkan untuk Aldo.


Ketika ingin masuk ke dalam perkarangan rumah KOS tempat Aldo tinggal, langkahnya terhenti saat ia melihat Naira keluar dari rumah itu. Tak lama setelahnya Aldo juga keluar dan mereka saling bergandengan tangan. Serasa belati yang menembus jantungmu, itulah yang dihadapi Dove sekarang. "Impossible" Ucapnya menahan sakit dalam hatinya.


Ia ingat pembicaraannya dengan Aldo dua bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa dia belum pernah bertemu dengan Naira semenjak peristiwa itu. Dia juga tidak mendapatkan informasi apapun terkait Naira. Dia juga melihat Naira, menggunakan kalung berbandul D miliknya. Kalung itu yang dicarinya sejak pulang dari Amerika namun jejaknya tidak ada.


"Aldo! Gak mungkin! Kenapa Do?" Teriak Dove sambil memukul stir di depannya.


"Aldo, kamu sudah punya pacar?"


"Sudah, dia gadis yang periang, energik, dan pemberani."


"Dia kah yang kamu maksud? Kenapa harus bohong, Al!" Tanyanya parau. Hatinya sakit menerima kenyataan pahit yang bertubi-tubi.


*****


"Kak Dove, kamu berantem lagi?" Tanya Diva, yang tidak dijawab oleh Dove.


Dove masuk ke kamarnya, duduk di atas meja belajarnya lalu membuka bingkai foto yang tepat ada di depannya. Di dalamnya ada foto masa kecilnya dengan seorang gadis kecil, mereka sama-sama menggunakan baju seragam TK berwarna kuning, bertuliskan TK berkat. Gadis kecil itu adalah Naira.


Naira, bolehkah aku egois kali ini. Kita sudah banyak melewati waktu bersama.


14 tahun yang lalu,


Dove kecil berjalan disebuah lorong, dia mencari tempat persembunyian yang paling aman untuk sembunyi dari teman perempuannya yang sedang bermain petak umpet dengannya. Tiba-tiba Bel pengumuman dinyalakan, semua murid TK Berkat harus dievakuasi karena adanya gempa. Dove kecil yang mendengarnya langsung kembali ke tempat dimana teman perempuannya itu berada dan mereka lari bersama. Namun, Dove jatuh ke dalam sebuah lubang, tangan yang semula saling bergandengan kini terlepas, "Naira! Naira!" Ucap Dove lirih dengan tangannya yang penuh luka.


"Adi! Tunggu!" Naira melemparkan tali dan menariknya. Naira yang tidak kuat menarik tali akhirnya terluka. "Adi, aku cari Ms. Diana. Tunggu ya."


Naira kecil berlari sekencang mungkin sambil menarik tangan Ms. Diana. "Ms, Adi Ms." Dia menunjuk ke dalam lubang.


"Adi pegangan ya, Ms. tarik dari sini."


"Adi, Adi" Peluk Naira


"Naira, Jangan tinggalin Adi." Ucap Adi. Naira lalu mengaitkan kelingkingnya. "Promise!" Ucapnya tersenyum.


*****


Naira, aku minta maaf!


"Apa bisa aku memilikimu lagi, apakah mungkin kamu akan kembali?" Dove menitihkan air mata sambil menggenggam foto itu. "Kenapa harus Aldo!" Tangisnya.


Air matanya terus mengalir, mengingat tatapan mata Aldo padanya, "PLEASE Dove, leave her!" Ucap Aldo sebelum Naira menamparnya.


Air matanya membasahi pipinya karena hatinya yang sakit mengingat bertapa kerasnya tamparan Naira di pipinya bertapa dalamnya rasa cinta Aldo untuk Naira, dan bertapa sakitnya hatinya saat melihat Aldo saudara terbaring lemah penuh luka karena dirinya.


"Aldo, sorry! Kenapa kamu Al, Kenapa Naira!" Ucapnya.


*****


Kak Dove maaf, aku gak bermaksud ingin menampar kakak. Kak apakah hari Minggu ini kosong. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, please kak - Massage from Naira.