
Tangisan tak henti -henti keluar dari air matanya, deras membasahi pipinya, bertapa malunya dia setelah penolakan yang baru saja dia terima. Apa salahnya hingga cintanya harus ditolak, mungkin benar apa kata Dita, bahwa Dove adalah cowok yang suka mempermainkan hati cewek, mungkin benar dia pernah menyakiti hati Dita. Puluhan tissue berserakan di lantai, berkali-kali Naira mengelap hidungnya yang meler karena tangisanya. Air mata tidak berhenti terus mengalir.
"Hi, lo tahu gak pada, si Naira adik kelas yang selalu bermasalah sama ketua OSIS, dia nembak Dove hari ini!" Gosip ini terus tersebar dan menjadi perbincangan beberapa cewek di toilet.
"Terus gimana?" Tanya yang lain.
"Ya ditolak!" Jawab yang lain lagi dan mereka menertawai Naira yang juga berada disitu.
Mendengar hal itu, membuatnya semakin malu, dia tak berani keluar dan memunculkan mukanya di depan orang-orang. Apa yang harus aku lakukan kenapa aku harus mengalami hal ini? Bagaimana caraku untuk bertemu dengan mereka? Aku bahkan tidak punya muka untuk bisa bertemu dengan mereka. Aku benci hal ini, aku benci Dove, aku benci dia, aku akan membalas dia! liat saja nanti, aku akan mendapatkan mu!
"Kenapa lo harus tolak dia?" Tanya Dion.
"Karena Aldo?" Tambahnya lagi dan Dove masih tidak bergeming, dia masih diam dan fokus dengan buku bacaannya. Dion mengenal Dove sejak mereka masih kecil. Ia juga sangat mengenal Naira.
"Lo gak perlu ngerjain dia lagi. Dia gak perlu jadi sasaran geng kita. Kasih dia White Line besok." Pinta Dove lalu meninggalkan Dion, berbaring di kasurnya. Air matanya keluar dari ujung matanya.
"Aldo itu penting buat aku, dia saudaraku, dan aku tak ingin berantem hanya karena masalah percintaan." ucapnya lagi.
Dion merasa aneh sekaligus kasihan pada sahabatnya, "Dove dia merebut tunangan kamu. Dia bahkan merebut identitas mu. Aku tahu semuanya, meskipun aku gak kenal secara personal dengan Naira. Aku tahu semuanya."
Keadaan menjadi semakin sulit dan rumit. Hal ini membuat semuanya kacau.
"Kalian berdua itu pembohong ulung. Kebohongan yang mungkin akan menyakiti mereka pada akhirnya. Lo bukan saudara yang baik. Lo bawa Aldo ke jurang, dia bakal sakit diakhir."
"Stop! Stop! Dion! Kamu pikir aku mau nyakitin Naira. Aku serba salah, aku dilema. Kamu tahu, Aldo pernah hampir mau bunuh diri karena Naira. Naira bisa jadi kayak gini karena aku. Kalau bukan karena Aku dan Dita, ini gak akan terjadi." Dove mendorong Dion.
"Jadi Lo mengakui, Lo menghianati Naira? Lo jelas tahu siapa yang menyebabkan Lo harus berobat ke Amerika karena tangan kiri Lo patah?" Tambah Dion menyudutkan Dove.
"Dion cukup! Aku gak mau membahas lagi. Aku sudah memutuskan untuk melepas dia."
"Lepasin, Hati Lo atau cuman bibir mu yang berucap. Gw balik!" Ucap Dion sebelum pulang pada Dove.
"Dove, bangun lo!!" teriak Aldo yang semakin marah padanya.
"Aldo, lo apa-apaan sih!" balas Dove yang mulai risih dengan apa yang dilakukan Aldo. Aldo pun hendak memukulnya tapi kali ini Dove tidak tinggal diam. Dia memukul Aldo lebih dulu dan membuatnya terjatuh di lantai.
Dove bangkit dari tempat tidurnya, "Apa sih yang kamu mau? Aku gak ada hubungan dengan Naira. Aku menolak dia, apa lagi mau kamu?" Dove sangat marah, dia mencengkram kerah baju Aldo dan membuat muka mereka menatap mata satu sama lain.
"Ka-rena, dia mencintai lo, meskipun dia gak tahu, pacar sebenarnya adalah lo!" Ucap Aldo terbata-bata.
"Oh, kamu sadar? Dia memang hanya dan akan mencintai aku. Sedangkan kamu itu hanya bayangan yang dirimu ciptakan sendiri, kamu mencoba menjadi Adi" Dove membentaknya.
"Kalau kamu sadar mending kamu keluar, kalau sikap kamu seperti ini, aku menyesal menolak Naira, aku akan merebutnya dan memilikinya sekali lagi!"
Dove membentaknya lebih kencang dan aldo semakin marah. Dia berusaha memukulnya namun Dove mencegahnya dan mendorongnya keluar dari pintu kamarnya, menguncinya rapat-rapat hingga dia tidak dapat masuk ke dalam.
Aldo, kali ini kami salah dan aku akan buat kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan salah! Ucap Dove geram dalam hatinya.
Setelah satu minggu libur, lonceng sekolah berbunyi, pagar sekolah di dorong oleh Pak Satpam dan digembok dengan gembok besi berwarna hitam. Lagu kebangsaan di kumandangkan, upacara sedang berlangsung.
"Duh telat lagi dah!" Ucap Naira mengeluh, sama halnya seperti dia, Dove juga telat dan ini pertama kalinya buat dia. "Telat juga lo?" tanya Naira ketus pada Dove.
"Kasar banget sih" Balas Dove.
"Lo pikir setelah apa yang Lo lakuin ke gw. Gw bakalan baik sama lo, jangan pernah mimpi, mimpi disiang bolong, gak berguna." Naira ketus sambil menunjuk Dove. Dove berusaha cuek meskipun ia sedih mendengar Naira mengatakan hal yang cukup menyakitkan baginya. Naira terus bicara dan mengerutu padanya, Dove langsung melempar tasnya dan mengendong Naira, "Hi! Jangan ngintip!"
"Cepatan berat tahu!" Balas Dove sambil menutup matanya. "Cepat buka pagarnya, tombolnya ada disitu. Jangan sampai satpamnya bangun." Balasnya.
Setelah pagar itu terbuka, Dove mengendarai mobilnya masuk. "Nai, ayo ikut aku. Aku antar sampai ke parkiran."
"Gak perlu!" Naira memilih jalan kaki dan Dove akhirnya meninggalkannya. "Gimana sih Kak Dove!"
*****
Ketika sedang menunggu jemputan datang, Naira mampir ke sebuah warung di depan sekolahnya. Warung kecil bertenda dengan jajanan super lengkap.
Dove datang dan memeluk Naira tiba-tiba dan ini cukup membuat jantung Naira berdebar, "Apa yang akan kamu lakukan, balas dendam?"
"Ini kunci ruang OSIS, kamu boleh lakukan apapun di sana, sesuka kamu" Dove membalikan tangannya dan melepaskan kunci itu yang jatuh ke atas tangan Naira.
"Aku tahu kamu mau ngapain. Setelah kamu rusak barang di sana, mungkin kamu akan kehilangan uang jajan mu selama 1 bulan atau 3 bulan" Ucap Dove lalu duduk didepan sebuah warung kopi kecil.
"Maksud kamu apa sih" Naira melempar balik kunci itu. "Aku cuma mau kasi tahu kamu, balas dendam bukan solusi masalah yang ada nambah masalah tahu kamu" balas Dove santai.
"Mas dove, kok telat kemarin" tanya seorang satpam yang membukakan pagar untuknya.
"Dove, gw tahu lo kan yang sengaja ngerusak proposal gw dan menggantinya dengan foto-foto korea, dimana proposal gw, cepat balikin!!" Bentak Naira, hal ini sedikit menganggu untuk Naira.
"Aku gak tahu, lagian bukan urusan aku" jawab Dove tak peduli dengan sikap Naira.
"Dovvveeeeee!!" teriak Naira.
Naira bersiap mendorong Dove ke kolam ikan di depan sekolah, dia bersiap untuk berlari tapi bukan Dove yang masuk tapi dia yang masuk ke kolam. Dove kaget mendengar suara orang tercebur. Naira yang tidak bisa berenang mencoba untuk bertahan dalam air.
"TOLONG !!" teriak Naira.
Dove hanya tertawa dan merasa heran, dia turun dan menarik Naira. Naira dengan kuat memeluk Dove, "Naira ini cetek, cuman 1 meter, turunin kakinya." perintah Dove.
"Jelas-jelas kamu liat nama siapa di proposalmu? Kamu masih aja nuduh aku."
Naira malu dengan kelakuannya, semakin malu karena semua orang datang membuatnya menjadi tontonan semua orang.
"Dove" tarik Sinta menolongnya sementara Dove mengulurkan tangannya pada Naira. Dove langsung mengambil handuk dari tangan Sinta dan membantu Naira mengeringkan rambutnya.
"Makannya jangan berpikir untuk ngerjain orang!" Ledek Dove meninggalkan handuknya di kepala Naira.
Dia menolak ku, tapi sekarang dia membuatku menjadi orang yang sangat bodoh berusaha untuk mengerjai dirinya,
Mengapa aku tidak bisa sedikitpun membencinya? Aku tidak akan menyerah, aku yakin dia menyukaiku. Kali ini aku yang akan berjuang. Semangat Naira. Aku sangat menyukainya.
*****
"Naira, kamu ngapain disini?" Tanya Dove melihat Naira berdiri di depan lokernya.
"Aku mau kasih kamu ini." Ia menyodorkan kartu bergambar love.
"Apa ini?" Tanyanya bingung melihat kartu dihadapannya.
"Mulai hari ini!" Naira langsung berteriak membuat Dove kaget. Dove langsung menutup mulai Naira, "Naira jangan teriak-teriak, hutsss!"
"Sorry! Aku gak bermaksud." Ucap Dove menarik tangannya.
"Aku akan mengejar kakak!" Balas Naira sambil mengarahkan wajah Dove kearahnya.
"Aku gak akan menyerah! Aku sudah putus dengan Aldo!"
"Sebaiknya kamu menyerah!"
"No, tidak ada di kamu Naira untuk menyerah."