
Menangis adalah hal paling sederhana yang dapat aku lakukan saat ini, tega sekali dia melakukan itu padaku dan meninggalkanku begitu saja. "Aku sudah minta maaf."
Kejadian-kejadian mulai terjadi padanya dari dirinya yang tersiram saat hendak lewat dibawah gedung parkir, harus terkunci di toilet, baju olahraganya yang hilang dan bukunya yang ditemukan basah oleh tumpahan minyak dan air.
"Yaampun Naira, kena hukuman lagi ya, kali ini kenapa? gak bawa baju lab?" Ledek teman-temannya.
"Diam semua keluar!" Naira menahan air matanya mencoba tegar menghadapi semua ini.
"Aldo, kamu dimana? Kapan kamu pulang? Apakah kamu gak punya waktu untuk meneleponku disela-sela pertandingan mu? Aku harap kamu menang?" Naira menghapus air matanya dan mengambil handphonenya.
"Pa, ma Naira pasti bisa, melewati ini semua!" Ucapnya.
Keadaan semakin diperburuk karena dia bertengkar dengan Aldo. Aku takut Aldo akan marah padaku karena membuatnya terlibat masalah ini. "Bagaimana ini, bagaimanapun Robert adalah ketua team lukis."
Setelah kejadian itu, Robert sebagai ketua ekskul lukis mengeluarkan Aldo dari anggota club. Konsekuensinya adalah dia tidak akan lagi bisa mengikuti lomba lukis didalam maupun antar sekolah.
Air mata ini bahkan tidak berhenti mengalir. Kenapa semuanya jadi begini ? Aku tahu aku salah berurusan dengan Dove.
"Hi, siapa di dalam? Kamu gak papa, Kamu nangis kenapa?" Gedor salah satu anak murid yang saat itu juga berada di toilet.
"Gak papa kok, saya baik-baik saja" Naira menyeka air matanya dengan tissue kamar mandi
"Eh, keluar ini kamar mandi cowok!"
Naira kaget dia langsung keluar dengan muka penuh rasa malu.
"Naira, lo gak papa kan?" tanya Dita padanya. "Semuanya pasti berlalu kok" tambahnya lagi mengusap punggung naira
"Gw malu Dit, tadi gw masuk kamar mandi cowok" ucap naira malu. Dita tertawa terbahak" mendengarnya. "Udah-udah gak usah dipikirin. Lagian kenapa sih, dia gak suka banget sama kamu?"
"Dita kamu masih mau jadi temen aku, jangan musuhan sama aku lagi ya" Pinta Naira yang masih menangis pada Dita.
Dita pun mengiyakan, "Jadi sebenarnya, Dove itu mantan aku, dia selingkuh dibelakang aku dan dia itu jahat Nai. Dia mau bikin aku hancur, padahal kan dia yang salah bukan aku Naira" ucap Dita pada Naira. Dita pun ikut menangis.
"Oh ya, Dove mantan kamu?? Dia selingkuh ???" Naira gak percaya, "pantes nyebelin, kamu tenang aja aku gak akan takut sama dia, kalau perlu aku akan buat dia nyesel udah pernah selingkuh dari kamu" Naira memeluk Dita yang menangis.
Naira mulai menyusun rencananya untuk mengerjai Dove, hal pertama yang harus dia lakukan adalah berbaikan dengan Dove untuk bisa membalasnya.
"Gw, gak akan kalah dari lo, kalau lo punya garis hijau, gw punya garis warna-warni" Naira membentangkan garis warna warni dan menempelkannya di loker Dove. Lalu dia memakai band merah di kepalanya dan bergerak berputar-putar layaknya balerina kemudian berdiri tegak dan bertingkah seakan-akan ingin masuk ke medan perang.
Dia melangkah mundur ke belakang, lalu berbalik dan "Auuu" dia memegang hidungnya yang tak sengaja menabrak dinding.
"Enak cium dinding?" Kata Dove yang memperhatikan Naira dari tadi. "Garis warna-warni nih?" Dove tertawa sambil mencabut garis itu. "Suka nari?" Tanya Dove merasa lucu.
"Gak aku nari buat pacar aku, dia disebelah aku tadi" Dove kaget dan melihat ke sebelahnya dan tertawa. "Besok ada acara di panti asuhan, kayaknya kamu perlu ikut deh" ajak Dove sambil membereskan bukunya.
"Ngapain, males!" jawab Naira ketus.
"Buat menghibur oma-oma di Panti Jompo" balas Dove.
"Oh, daftar dimana?" Naira tertarik.
Dove lalu memberikan kertas dengan warna merah didalamnya, "Daftar bareng pacar kamu tuh, kayaknya gak bakal di lepasin deh. Gak nyangka Aldo mengalami perubahan yang drastis." Dove tersenyum.
"Aldo" Naira mempersiapkan dirinya. Saat dia berbalik arah justru mimpi buruk di siang bolong yang ia dapat. Cowok gendut berkaca mata dengan tompel di pipi sedang memajukan bibirnya ingin mencium Naira,
"aaaaaaaa" Teriak Naira, matanya terpejam takut. Dia kemudian membuka matanya dan tangan cowok ada didepan matanya.
"Sorry, gw lupa dia bukan type lo." Tangan Dove menahan muka cowok itu sementara di depan muka cowok tadi ada kertas yang tadi diberikan Dove padanya. Ya ampun! Dia ganteng banget, aduh jantung gw mau copot rasa, denger gak nih dia.
"Huts! mending lo pindah kesamping sini, cepat." Perintah Dove menyuruh Naira berpindah tempat lalu menarik tangan dari muka cowok itu. Cowok gendut itu masih menutup matanya dengan bibirnya yang maju. Ketika mata cowok itu terbuka, dia kaget karena mendaratkan ciumannya pada Sinta yang tak sengaja lewat disitu.
"Maaf Sinta." Ucapnya takut.
Mata sinta terbelalak, melihat apa yang dilakukan can-can, cowok gendut itu.
"CAN... CAN...." kepala Can-can langsung pusing dan berputar mendengar teriakan Sinta.
Sementara Dove mengangkat kedua tangannya, ekspresinya kaget begitu juga dengan Naira. "Si...nn..ta" ucap dove terbata-bata, dia menahan tawanya.
"Sorry, gw gak tau kalau lo sama Can-can" dia menunjuk keduanya. Sinta lalu menendang Can-can. "Aduh, Sinta!" Dove ikut berekspresi miris melihatnya.
"Dove, ini pasti kerjaan lo!" Sinta marah-marah, Dove menarik Naira ke belakangnya.
"Gw gak tahu lo disitu, Sorry!" Dove mencoba minta maaf, sedangkan naira tertawa.
"Eh, lo malah ketawa lagi, Can cium nih cewek!" Perintah Sinta membuat Naira takut. Namun, Can langsung jatuh cinta pada Sinta setelah menciumny tadi.
"Ok Sin!" Balas Can.
Dove dengan sigap mengambil kertasnya dan menunjukkannya pada Can-can. Dia pun berhenti tepat di depan kertas itu.
"Udah-udah gak usah berantem, aku cape, lagian percuma lo berantem sama anak pencari masalah" Dove menempelkan kertas berwarna merah itu dimuka Can. "Dove, apaan ini?" ekspresi can-can masih polos tak sadar apa arti dari kertas itu.
Dove lalu meninggalkannya, Sinta dan Naira juga pergi. Can-can bingung, dia pun melangkah dan terpleset kertas panjang berwarna-warni buatan Naira dan kini dia berakhir dengan mencium tembok lalu merosot kebawah.
"Can-can dari pada cium itu mending cium aku." Cewek dengan rambut kepang di kuncir dua, bergaya centil dengan tompel yang lebih besar darinya. Tersenyum didepannya, Can-can pun pingsan.
Semua berkerumun, "Can-can sadar berat banget badanmu, kita gak kuat, udah biarin aja" teman-teman meninggalkannya.
"Hey, tunggu!" Can-can sadar lalu pingsan lagi melihat cewek itu. Cewek itu lantas berteriak-teriak dan memanggil orang menolong Can-can. Saat itu Can-can bergerak merayap diam-diam untuk menghindari cewek itu.
Di tangannya ada kertas bergaris merah itu, dia sadar artinya dan mulai berteriak, "Red line!" dia lalu memberikannya kepada Bejo yang sedang bermain gitar dengan santai. Bejo anak dari yogya yang medok, rambutnya gondrong dan keriting, giginya sedikit maju, tapi suara bagus dan merdu.
"Red line!" Bejo pun bingung dan tak berapa lama kemudian semua orang mendatanginya, lalu mulai mengerjainya. Mulai dari rambut sampai sepatunya. "Ono opo toh ini? Kok sepatuku jadi diatas?" Muka Bejo penuh dengan garis merah, rambutnya di kuncir sehingga persis seperti badut.
Bejo pun jalan dengan santai dan masih bingung, "Loh, Bejo lo kenapa?" tanya Dove.
"Gak tahu nih, aku yo bingung Dove. Aku dikasi ini sama si Can-can, tiba-tiba arek-arek iki kayak tertarik sama aku, Dove" Bejo masih lugu dengan tampangnya yang udah seperti badut. Dove mengeluarkan handphonenya dan membuka camera nya, dia memperlihatkannya pada Bejo.
Bejo menghela nafasnya, "Dove" Sebutnya parau. Dia menyentuh wajahnya, muka ku kok gini ya, mana lipstik dimana-mana lagi, kalau ketahuan aku playboy kan aku susah" dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dove menahan tertawanya geli, "Top! Bejo ganteng deh!" kata cewek yang lewat, muka Bejo berubah dan Dove mengangguk mengiyakan, hal ini membuat Bejo semakin percaya diri. Dia berjalan bagaikan di catwalk dan mencoba menyebarkan pesonanya.
"Bejo mana bisa lari kan bajunya ditahan sama pak dami." semua anak tertawa termasuk Dove.
Bejo berbalik dan melihat Pak Dami sedang memelintir kumis lalu membuang nafasnya dari hidung dengan kencang.
"Dovveeeee! kon awas yaaa. Bantu aku dong!" teriak Bejo.
*****
Dikelasnya Naira bersiap-siap dengan strategi berikutnya, dia mengeluarkan kemeja baru dari tasnya.
"Dia pasti suka, hihihi." Naira tertawa. Dia bangun dan melangkahkan kakinya, kakinya seperti tertahan, dia mencoba menariknya dengan kencang.
Breeekkkkkk! naira menghela nafasnya melihat sol sepatunya lepas karena lem besi yang ditaruh dilantai mejanya.
Doveeeee teriaknya dalam hati. "Naira, fighting!" dia memberi semangat pada dirinya, mengambil sepatunya dari loker dan sepatunya basah. Sehingga dengan sangat terpaksa dia lalu mengambil sendal jepitnya yang dia pake jika ada hujan.
Dia berjalan menuju ke Ruang OSIS, dia membayangkan ekspresi Dove jika menerima kemejanya ini. Dia tertawa sendiri merasa menang.
Hari ini Ruang OSIS terdengar begitu ramai dan ribut. Naira berjalan mendekatinya sambil mengintip dari luar jendela, yang tertutupi oleh Horden berwarna merah.
"Aduh gak kelihatan lagi, ada apa sih, suaranya kok ribut banget" Naira semakin penasaran. Terdengar suara orang tertawa, sepertinya mereka sangat gembira. "Naira" panggil Wira.
"Oh Kak Wira" balas Naira. Ya ampun! ketahuan deh. Gimana nih? Harus bilang apa nih. Naira langsung menyembunyikan paper back yang dibawanya di belakang punggungnya.
Dove terlihat sedang tertawa bersama teman-temannya, sambil bermain gitar, dan beberapa menonton film lucu di layar proyektor.
"Kak Dove" teriak Naira, membuat Dove kaget dan heran dengan sikap Naira. Naira berjalan kearahnya, sambil membawa pop ice coklat kesukaan Dove. Dove semakin heran dia meletakkan gitarnya. "Gila dingin!" teriak Dove setelah Naira menumpahkan pop ice itu ke bajunya.
Naira kaget, mati gw! Gw gak sengaja numpahin pop ice nya. Kalau kak Dove marah bisa-bisa. Naira langsung ingat lagi semua hal yang dia hadapi sebelumnya. Bisa gagal rencana aku.
"Kak maaf tadi aku kesandung." Kata Naira sebelum Dove marah. "Kamu gak usah banyak alasan. Kami bisa gak usah cari masalah?" Dove gak bisa berkata setelah melihat bajunya yang basah dan kotor.
"Naira kalau lo kayak gini terus, aku bisa-bisa borong baju kemeja di koperasi." Dove marah pada Naira.
"Aku bilang tadi aku gak sengaja, kaki aku di selengkat orang, lo gak percaya banget sih" Naira teriak lebih kencang.
"Siapa yang mau ngerjain kamu, disini semua temen aku." dia menunjuk semuanya. "Cuman kamu yang bukan" dia menunjuk Naira.
Naira kesal, dia merasa tidak bersalah, "aku datang kesini mau minta maaf."
"Iya, udah aku maafin sekarang pergi, kamu cuman hanya bisa bikin onar disini" Dove mengusirnya.
"Lo tuh yang tukang buat onar, playboy, suka nyakitin orang, dasar cowok buaya." Dove kesal dengan perkataan Naira, hatinya sakit, matanya memerah. Baru saja Naira minta maaf namun kini sudah mencari masalah baru.
"Kamu barusan minta maaf." Ucap Dove
Dia berjalan mendekati Naira, "Tapi apa bedanya sama lo? Lo seorang playgirl yang gampang gonta-ganti cowok" Naira menampar Dove.
"Pergi lo sekarang!" bentak Dove. Naira kesal dan marah dia melempar paper bag nya. "Ini kemeja buat gantiin baju lo!" ucap Maira songngong.
"Lo pikir dengan baju ini semua selesai! Lo tuh, belajar menilai orang lain dan gak semena-mena" Teriakkan Dove membuat yang lain takut melihatnya marah.
Naira gak terima, "Berapa yang lo butuh?" Dove semakin marah. Naira menunjukkan uangnya dan Dove mengambil semua, "Lo pikir lebih kaya dari gw. Keluarga Lo itu kerja sama keluarga gw. Ngerti lo! Jadi sekarang lo keluar!!!" Teriak Dove, melukai hati Naira.
Naira pergi, hatinya sakit dengan perkataan Dove, "Hey, Naira kamu gak punya sepatu?" Tanya Dove.
Naira melihat kakinya, diambilnya sendal jepit itu dan ditaruhnya diatas laporan bulanan OSIS yang akan dipresentasikan oleh Dove.
"Naira! you are so much, ini kan kotor, lo tuh memang tukang bikin onar, cewek nyebelin" Dove menahan lengan Naira, "Lo, jangan muncul lagi dihadapan gw, pergi!" Dove menatap matanya tajam, penuh amarah dan kekecewaan.
Tuhan ada apa ini, kenapa hati aku sakit sekali, aku seperti mendapat penolakan dari orang yang aku cintai. Aku sering diusir Aldo dari kamarnya saat dia sibuk main game, tapi aku tidak merasakan hal sesakit ini. Kenapa bibirku ingin mengucapkan kata maaf? Tidak aku tidak boleh mengatakannya. Tidak akan pernah.
Naira pergi meninggalkan Dove yang terlihat kesal dengan laporannya. Ditambah laporan itu sudah ditanda tangani oleh pembina OSIS.
"You're my enemy!" kata Naira menunjuk Dove.
Tangan Dove melemah, matanya pun memerah, dia menghela nafasnya. "Yes!"
Naira pergi, tanpa dia sadari air mata keluar dari matanya. Naira! what's wrong with you!
Naira! Aku gak menyangka kamu menjadikan aku musuh mu hari ini Naira, Dove memegang tangan kirinya, diapun menangis dalam diam tanpa diketahui teman-temannya. Dia melempar semua kertas di depannya dan pergi.
Dove menangis, muka sangat sedih dan kecewa. Dia duduk dipinggir danau tempat favoritnya. Suara perempuan menangis, berasal dari balik pohon besar.
Dove menghampirinya, "kamu lagi, kamu lagi!" teriak Dove saat melihat Naira. Naira mendorong Dove.
"Naira, masih aja nyebelin!" Tiba-tiba Naira pingsan. Dalam keadaan tidak sadar dia di teringat sesuatu.
"Nai, Naira, naira" Panggil lelaki itu parau, badannya penuh dengan darah. Dia menggenggam tangan lelaki itu dan mukanya samar, "Maaf! Maaf! "katanya.
"Naira, semua akan baik-baik saja." Ucap papanya memeluknya dengan erat. Dia terlihat berantakan, rambutnya yang panjang terurai. Tangannya juga penuh darah, "Semua salah aku, pa." Ucapnya menangis kejar.
Air mata keluar dari kedua sudut matanya. Ia masih tidak sadarkan diri.
"Remember me, Naira!" Naira terbangun dari tidurnya dan dia sudah berada di kamarnya.
*****
"Dove, gimana keadaan Naira?" Ucap sang ibu diruang tengah rumahnya yang besar. Ia juga menawarkan coklat hangat untuk anak laki-lakinya itu.
"Dove, kamu harus bisa sabar. Mama yakin suatu saat semua akan menjadi baik adanya."
"Ma, aku sudah sabar. Aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Tapi, Naira dia sangat membenciku." ucap Dove parau
"Bi, siapa yang membawaku pulang?" Tanya Naira.
"Den, Adi non. Non sekarang den Adi ganteng ya. Sudah lama tidak mampir kesini." Balas Bibi padanya. "Adi? Siapa dia? Sudah lama tidak mampir?" Naira mulai bertanya-tanya.
"Aldo, kamu sedang apa?" Tanya Naira melalui voice notes yang dikirimnya berulang-ulang tanpa ada respond dari Aldo. Respond dari Aldo hanya "Naira, aku lagi belajar, kita lanjutkan besok ya." Hanya itu saja.
Kenapa Do, kamu gak pernah ada disaat aku butuh. Siapakah cowok itu, bukankah hanya Aldo teman cowokku sejak kecil? Adi? Siapa dia?