
Naira berjalan menyusuri sebuah lorong buntu yang menuju ke ruang tusuk sate bertuliskan ruang BP.
"Semangat Naira, tidak akan terjadi apa-apa." Ia membuka pintu itu dan langsung disambut oleh proposal miliknya yang sudah berada di lantai.
"Kamu itu ya, proposal apa ini !!" Suara Pak Bondan menggelegar ke seluruh ruangan. Ia sangat marah dengan Naira lalu melemparkan proposal lainnya ke arah pintu. Naira lalu mengambil proposal itu dan kaget melihatnya, "ini bukan punya saya" elaknya.
"Saya tahu kamu suka Korea tapi gak perlu seperti ini. Proposal macam apa itu sudah sana pergi, kamu gak bisa diandalkan !!! " Pak Bondan menyuruh Naira keluar, sebelum keluar tak sengaja ia menemukan proposal miliknya ada diatas meja dengan nama Aldo.
"Proposal ku..."
Bertapa kagetnya naira melihat surat keterangan itu, dia langsung lari mencari Aldo.
"Nai" sapa Aldo yang asik membaca di perpustakaan. "Do aku lagi sedih nih."
"Oh, udah biarin aja. Anggap aja sudah berlalu." Balas Aldo santai, ia bahkan tidak melihat Naira, ia hanya fokus pada komiknya. Lucu! Naira ucapnya membuat Naira muak.
"Do, aku lagi sedih. Kamu cuman bisa fokus sama komik kamu doang." Keluh Naira semakin membuatnya kesal.
"Nai, aku dari dulu gini kok. Kamu yang berubah karena di hati kamu bukan cuman aku Nai."
"Do, kamu jangan nyalahin aku. Kalau aku punya orang lain itu karena kamu gak pernah perhatiin aku. Kamu bahkan melupakan kenangan kita, tentang aku dan tentang kita. Aku gak mau berdebat sama kamu!" Naira pergi meninggalkan Aldo yang sedang bicara padanya. Hatinya mulai gundah, Aldo sadar jika Naira mulai menjauh dan berubah. Ia terus saja membahas masa lalu. Masa lalu yang tidak pernah dia alami bersama Naira.
"Naira, tunggu! Aku mau ngomong!" Aldo menarik tangan Naira dan mencegahnya untuk pergi meninggalkannya. "Naira! Apa sih pentingnya masa lalu? Lupain masa lalu, kita mulai lagi dari awal! Ok! Aku pasti gak akan lupa." Jawabnya, dia terus membujuk Naira.
"Do! Kenapa harus melupakan masa lalu, jika masih bersama orang yang sama? Kenapa harus mulai yang baru kalau dari dulu kita sudah bersama? Kenapa harus berubah kalau aku bahagia dengan kenangan kita. Kamu yang waktu itu aku butuhkan."Balas Naira semakin membuat Aldo sesak.
"Stop! Naira kita sudah dewasa, banyak yang berubah. Tinggi badan, Wajah, dll. Kita juga berubah, sifat juga berubah, semua berubah termasuk kita dan masa lalu Nai." Aldo coba memberi Naira pemahaman.
"Aku tahu, semua berubah. Seharusnya, perasaan dan perhatian yang kamu kasih dulu ke aku, gak akan pernah berubah. Hal lain boleh berubah tapi hati ini gak pernah berubah. Aku gak setuju, kita lupain masa lalu dan mulai lagi dari awal. Karena hubungan ini dimulai karena masa lalu kita, aku bahagia saat sama kamu. Kecuali, aku mulai dengan orang yang baru." Balas Naira membuat Aldo kesal.
Naira, kenapa kamu begitu keras kepala? Nai, orang yang kamu inginkan itu bukan aku. Gimana bisa aku melakukannya sementara moment itu tidak kamu lalui bersamaku. Nai, aku bahkan mengkhianati adikku demi kamu.
Kenapa Aldo, kamu seperti orang asing bagiku?
"Nai ... nai, ini aku bawain kamu cilok. Kamu harus cobain, saat aku lapar dan sedih aku selalu makan ini. Kamu suka? Mulai sekarang aku akan bawain cilok ini saat kamu sedih" ucap teman masa kecilnya.
Dove! Kamu suka banget cilok ya? Tanya Naira pada Dove ketika mereka sedang mengerjakan proposal Live In bersama. Iya! Aku suka banget, kalau aku lapar dan sedih, Cilok bisa membuatku lebih baik. Kenapa? Lucu ya balas Dove membuat Naira terkejut. Aneh juga ya! Balas Naira spontan.
Aku akan membuktikannya hari ini!
Naira langsung menarik tangan Aldo dan menyuruhnya menghantarkannya ke tempat cilok itu. Di sana, Ia membeli semua cilok dan menyuruh Aldo makan bersamanya. Naira, memaksa Aldo untuk memakannya, "naira, aku bilang aku gak suka!" Bentaknya keras pada Naira.
Naira hanya terdiam mengepalkan kedua tangannya. Ia lalu menatap pada Aldo, "Siapa kamu? Kamu bukan tunangan aku. Kamu bukan pacar aku. Kamu bukan Adi." Ucapnya dengan nada yang rendah.
Aldo kaget, mukanya tegang, nafasnya mulai tak karuan, "Nai-ra, kamu kok ngo-mong gitu? Adi, kamu sudah ingat?" ucapnya terbata-bata.
"Kenapa? Kamu gak suka? Aku udah ingat nama kecil kamu?"
Naira melemparkan semangkuk cilok itu, mangkok itu pecah, semuanya jatuh dan tumpah.
"Kamu juga gak tahu warna kesukaanku padahal kamu tahu kalau aku suka biru dan itu karena kamu, kamu tahu aku gak suka sama kucing, tapi kamu kasi aku hadiah anak kucing, kamu ingat waktu kecil aku trauma karena dicakar kucing."
"Kenapa kamu bisa lupa? Aku yang koma selama 1 tahun, gak lupa semua kesukaan kamu, satu hal lagi, aku paling benci kalau kamu itu baca komik!"
Naira pergi, "Jangan ikutin aku!!" bentaknya.
*****
"Dove, dia adalah milik Aldo sekarang. Naira, berhak dapatkan laki-laki lebih baik dari aku." Dove lalu memasukan semua kenangan itu ke dalam sebuah kotak merah.
"Nai, semoga kamu bahagia bersama Aldo. Lupakan masa lalu yang menyakitkan itu Nai. Aku akan belajar ikhlas melepaskan mu."
Disisi lain, terlihat langkah kaki Aldo berjalan menaiki anak tangga dengan wajah yang marah, kesal, kecewa. Dia mendobrak pintu kamar Dove dengan paksa, "Dove !! dimana lo!!"
"Ngapain sih, pintu lo dobrak" tanyanya santai, tanpa basa basi Aldo langsung memukul Dove. Dove terhempas ke kasurnya dan Aldo memukulnya lagi.
"Aldo cukup, kamu mau apa sih! Aku udah lepasin Naira! Apalagi!" Dove mencoba menahan tinju dari tangan kiri Aldo.
Matanya Aldo berkaca, diusapnya air mata itu dengan tangan kanannya. "Lo, punya rahasia apa? Lo sama Naira, punya masa lalu apa? Apa makanan kesukaan lo? Apa warna kesukaan lo? Apa tempat favorit lo sama Naira? Apa sebutin! Gw mau tahu, ayo sebutin!!!!" Teriak Aldo pada Dove.
"Lo kenapa sih?" ucap Dove.
Aldo menarik Dove duduk di kursinya.
Ditariknya selembar kertas putih, dibantingnya pulpen diatas meja belajar Dove. "Tulis! tulis semua kesukaan lo! Tulis, ayo tulis!" teriak Aldo.
Dove dengan santai merobek dan membuangnya ke tong sampah.
"Buat apa?"
"Kalau kamu mau mendapatkan cinta dia jangan pernah jadi orang lain, jangan menggunakan kenangan orang lain, jangan pernah hidup jadi orang lain, jangan mencoba menyukai apa orang lain sukai, jangan... !!"
"Jangan sakiti diri Lo sendiri." Ucap Dove tapi sepertinya ucapan itu semakin membuat, Aldo membencinya, air matanya mengalir, hatinya marah dan sakit.
"Aku bisa menjadi apapun, aku bisa!! Aku bisa! AKU AKAN MILIKI NAIRA DENGAN ATAU TAN-PA BAN-TU-AN!! KAMU!!" Teriak Aldo.
Dove melihat rasa takut dimata Aldo, kekecewaan, dan keputusasaan. Mata yang selalu mendukungnya kini tak lebih seperti tatapan seorang laki-laki pada musuhnya. Hatinya tahu, jika Aldo memang menyukai Naira dari pandangan pertama ketika ia memperkenalkannya padanya.
Aldo, kenapa kita menyukai wanita yang sama. Kenapa harus terjadi pada kita.
"Aku akan buang kamu dari pikirannya!" Ancam Aldo.
"Cari tahu apa yang dia butuhkan, Do." Balas Dove.
Kamu Dove yang diinginkan dan dibutuhkan Naira tapi aku akan merubah semuanya. Aku sudah sampai sejauh ini, tidak ada jalan kembali.