Nairadove

Nairadove
Your heart, mine



Naira- I'm sorry, but i'm falling in love with him


Aldo- Naira, you are mine


*****


"Naira, naira, naira" suara itu yang terdengar jelas ditelinga ku, terbesit sekilas lalu menghilang, "Naira!" suara yang lebih keras disertai dorongan kecil di bahuku membuatku tersadar dari lamunanku.


Kedua mataku bergerak mendekati kedua mata lain yang terus memandangi dengan intens, dan tajam, dengan senyum kecilnya dia bertanya padaku, apa yang terjadi padaku, mengapa aku terus melamun belakangan ini, dan terus saja menghindarinya?


Disisi lain Dita juga memandangiku dengan tatapan penuh tanya. Kedua alisnya bermain menanyakan keadaanku dan apa yang sedang kulakukan?


Sesaat aku merasa seperti orang asing diantara mereka berdua, bahkan terhadap diriku sendiri. Aku bahkan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mata Aldo terus menatap padaku dan ekspresinya menunggu jawaban dariku. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, aku bingung dan tak tahu harus bagaimana?


Aku sedang memikirkan seseorang yang tidak ingin aku pikirkan, aku tidak ingin memikirkannya tapi pikiranku justru berpaling melawanku dan semakin menyimpan memori tentangnya. Aldo semakin mendekat padaku dan memegang tanganku, dia kembali bertanya hal yang sama dan aku masih terdiam membisu, bibir ini terlalu sulit untu berkata, dan otak ini terlalu lelah mencari alasan.


"Naira, kamu kenapa dari tadi kok diam aja. Ini makan baksonya bentar lagi mau masuk kelas, nanti kamu sakit" Ucap Aldo, sambil memegang tangan Naira.


"Naira, lo kenapa sih?" Tanya Dita ikut bertanya.


"Ehmm, aku cuman lagi kepikiran soal.. soal.. soal.. proposal kemarin yang di tolak jadi aku harus buat ulang. Serius!cuman itu kok, gak ada yang lain." Balas Naira.


"aku balik ke kelas duluan ya" diapun pergi meninggalkan Aldo dan Dita berduaan di kantin.


"Mungkin dia mulai mengingat sesuatu yang harusnya tidak pernah dia lupakan" ceplos Dita pada Aldo, "Maksud kamu?" respon Aldo dengan cepat.


"Kamu yang paling tahu maksud aku, sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga, seharusnya kamu jauh lebih hati-hati Aldo" Dita membalasnya dan membuat Aldo mulai berpikir.


"Seharusnya yang hati-hati itu lo, Dove tidak akan menyukai lo sampai kapanpun. Meskipun lo melakukan apapun bahkan memfitnah dia. Lo gak akan pernah jadi wanita di depan dia dengan mendekati Naira dan berpura-pura menjadi sahabatnya tapi menusuk dari belakang justru membuat Dove semakin melindungi Naira" Aldo membalas lebih to the point pada Dita yang menjadi sedikit kesal.


"aku bisa membantu kamu mempertahankan dia, jika kamu mau?" Teriak Dita yang ditinggal begitu saja oleh Aldo.


She is mine not dove anymore ucap Aldo dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


*****


“Naira, kamu dipanggil sama Pak Bondan. Sepertinya mau bahas tentang proposal yang kamu ajukan minggu lalu.”


“Naira, sini masuk. Saya dan Dove sedang mengecek ulang proposal kamu. Ada beberapa part yang harus kamu perbaiki. Setelah kamu revisi langsung kasih ke Dove.” Kata Pak Bondan sambil memberikan map berisi proposal itu.


“Aku tunggu di ruang teater revisinya.” Kata Dove sebelum meninggalkan ruang guru dengan setumpuk kertas di tangannya. “Semangat!” Ucapnya menepuk pundak Naira dan tersenyum padanya.


Seperti pelangi sehabis hujan semangat yang diberikan Dove memunculkan harapan baru bagi Naira. “Ok, Kak!” Balasnya segera mengerjakan revisi itu di perpus.


“Naira, kamu lagi apa?” Sapa Dita yang juga sedang menghabiskan waktu di Perpus.


“Dit, kita lanjut nanti ya. Aku perlu bertemu seseorang dulu.” Balasnya meninggalkan Dita.


Naira berlari sambil membawa revisi proposal yang baru. Ia merasa gugup seperti orang yang ingin bertemu dengan pujaan hati. “Naira, lo udah cantik” Katanya sambil membetulkan posisi jepit kupu-kupu di kepalanya. “Semangat!” Sebelum masuk kedalam ruangan teater yang hanya berisi beberapa orang dan tidak terlihat Dove di sana.


“Kak liat Kak Dove?” Tanyanya pada salah satu anak teater di sana.


“Dia dibelakang panggung tuh.” Balasnya menunjuk kearah samping panggung tak lupa dia juga memberi tahu jalan menuju ke sana.


“Terima kasih kak.” Balas Naira berjalan sesuai dengan petunjuk kakak kelas tadi.


Suasana gelap dan sepi, ia menaiki anak tangga dan memasuki sebuah ruangan besar yang terisi dua kursi. Kursi pertama diisi oleh Dove yang duduk sambil menghadap kearah panggung. Dia melipat tangannya dengan earphone di telinganya. “Kak Dove!” Panggil Naira.


“Taruh aja disini. Setelah itu kamu boleh pergi. Besok pagi ambil di ruangan OSIS ya.” Balasnya tanpa melihat Naira.


“Kak, boleh duduk disini?” Tanyanya menempati bangku kosong itu.


“Gak perlu nanya kalau sudah duduk.” Balasnya cuek dan tidak peduli.


“Kak, aku baru tahu disini lebih enak nonton teater. Selanjutnya, bisa jadi tempat favorit aku.” Naira mencoba mencairkan suasana.


“Cuman orang pembohong yang bakal ngomong kayak gitu. Jelas-jelas disini kamu gak akan bisa liat apapun. Kamu hanya bisa liat mereka dari samping atau belakang.”


“Kalau gitu kenapa kakak disini?”


“Karena aku mau menenangkan hatiku sebelum membuat suatu keputusan besar untuk hidupku. Melihat mereka dari sini, sama halnya seperti hidup kita. Terkadang kita hanya mau melihat dari satu sudut saja. Hanya mau apa yang kita inginkan dan membuang sisi lainnya."


"Maksudnya? Gak paham aku." Ucap Naira menimpali.


"Nevermind. Selamat ya, kamu udah lulus join team OSN. Sesuai janji aku, soal pertunangan akan aku batalkan.” Balasnya lalu membereskan kursi itu dan pergi meninggalkan Naira. "Kalau kamu senang disini nikmatilah sesukamu."


"Kak Dove." Naira memeluknya dengan erat dari belakang. Perlakuan Naira membuat Dove kaget, "Nai. Kamu kenapa?"


"Kak Dove aku..." Dove langsung menutup mulutnya dan menariknya masuk ke sebuah lemari. "Ada yang datang. Huttss!" katanya.


Jantung Naira berdetak dengan kencang, panas juga menghampirinya. Ia terus memegang dadanya takut kalau Dove juga mendengarnya.


"Naira, sepertinya kita..." Ucapan Dove terpatahkan oleh sentuhan Naira di kedua pipinya. "Kak Dove, melihat dari depan jauh lebih baik dari pada hanya satu sisi saja. Saat kita bisa melihat secara jelas, hati kita akan menuntun kita memilih jalan yang tepat." Lontarnya.


"Hidup harus dijalan yang benar, sekali salah waktu tidak mungkin kembali." Tambahnya.


Keduanya saling menatap, Dove merasakan ketenangan sekaligus gejolak dalam dirinya, "Seperti diriku yang kehilangan dirimu. Saat itu, jika aku menolak. Apakah mungkin masih memilikimu." Tanyanya dalam hati.


"Naira, gimana kalau aku ingin menghancurkan hubunganmu dengan Aldo?" Ungkap Dove menyadarkan Naira.


"Aku tipe setia kak." Naira lalu menurunkan tangannya dan mengambil jarak dengan Dove. "Kak aku duluan!" Ucap Naira lalu meninggalkan lemari itu. Sementara, Dove masih terdiam mendengar pembicaraan tadi. Ia menitihkan air mata.


Kenapa aku tidak merasakan perasaan apapun saat bersama Aldo tadi. Ketika Aldo memegang tanganku muncul perasaan hambar dan tidak nyaman padahal aku selalu berharap Aldo akan menggenggam tanganku.


Setiap kali kami bertemu aku ingin sekali menghindar. Apa yang salah denganku?


Kenapa aku justru memikirkan Kak Dove dan berharap dia ada disini. Ada apa denganku?


Kenapa hati ini justru sedih saat Kak Dove memutuskan pertunangan itu.


*****


"Naira.. Naira! Aku tahu kamu disini. Aku cari kamu dikelas gak ada, aku tahu ini tempat favorit kamu" Aldo muncul tiba-tiba dan kini dia berjalan mendekatiku.


Apa yang harus aku lakukan? Tidak Naira sadarlah, dia adalah pacarmu, pacar yang selalu kamu tunggu.


"Aldo, aku cuman cari inspirasi aja kok, disini, siapa tahu dapat ide baru" Aldo lalu mendekatiku, semakin mendekat dan hanya meninggalkan jarak 5 cm dengan wajahku.


"Kenapa kamu menghindari aku, kamu tidak menyukaiku lagi, atau kamu telah menemukan yang lain ?" tanyanya membuatku kaget. Aku panik! Aku takut dia mengetahuinya bahwa aku mungkin saja menyukai orang lain.


"Aku biasa aja kok, cuman sekarang aku lagi fokus untuk mengerjakan proposal aja, jadi mungkin kesannya aku menjauh kali ya" balasku.


Aldo mencium kening Naira namun ia mendorongnya menjauh, "Aldo, bukankah kamu ada pertemuan dengan club komik, di perpustakaan aku harus masuk kelas OSN" Naira pun berbalik.


"Kamu bohong tapi aku itu gak bodoh Naira. Aku tahu kamu sedang menghindari aku. Kamu bahkan tidak membalas pegangan tanganku. Kamu bahkan mendorongku."


Naira terdiam sesaat, "Gak ada bedanya Aldo. Aku gak bohong."


"Kamu bersikap dingin padaku." Balas Aldo sebelum Naira meninggalkannya. Naira berlari menuju ruang OSN melewati jalan ruang OSIS dan melihat Dove yang sedang melakukan briefing Live In kepada semua siswa kelas 11 IPA.


Aldo maaf, aku memang berbohong. Namun ini adalah caraku untuk tetap bisa bersamamu meskipun hatiku kini tertuju pada yang orang lain.


Naira duduk dimeja setelah mengambil soal dan mulai mengerjakannya. Hatinya gelisah dan tidak fokus dengan soalnya yang ada di otaknya adalah ekspresi Dove ketika tersenyum padanya.


"Lo, tahu gak Dove bakalan pindah sementara waktu ke Filipina. Dia terpilih jadi siswa pertukaran sama murid Filipina lumayan lama loh, sekitar 6 bulan." Ucap salah satu cewek di club OSN.


"Yah, gak ada yang ngajarin kita lagi dong, sedih" balas yang lain.


"Kapan dia pergi?" Naira bertanya secara spontan, "Kenapa Naira bukannya lo seneng bakalan tentram dan gak akan masuk ruang BP lagi karena berantem sama Kak Dove." Balas mereka justru membuat Naira gelisah.


Naira langsung berlari meninggalkan kelas dan menuju ruang OSIS. "Ada Kak Dove?" Tanyanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Dia gak ada disini" Jawab Robert. "Dia ada di UKS, dia gak sengaja jatuh dan tangannya luka!" Teriak Wira. Naira langsung berlari ke UKS.


"Aduh" Keluh Naira, "Maaf Kak, Dion" Ucapnya lagi.


"Sorry, gak sengaja" Ucap Dion sinis setelah menyelengkat kaki Naira. "Dion parah kasian tuh" Ucap Wira.


"Saya, tahu kakak sengaja!" Ucap Naira dengan berani.


"Kalau lo tahu jangan pernah berurusan dan membuat masalah dengan sahabat gw, Dove. Paham!" Tatapan tajamnya serasa menusuk ke hati Naira. Tapi Naira tidak perduli, dengan luka di kakinya dia tetap berlari menuju UKS.


Lorong UKS selalu terlihat sepi, jarang ada orang yang berjalan di sana, Naira berjalan dengan perasaan takut.


"Hey, Naira" seseorang memanggilnya dan membuatnya merinding, "Nai..ra" ucapnya lagi semakin mendekat dan terdengar jelas.


Kini Naira merasa ada tangan yang menempel di bahunya. Tangannya terasa berat.Tangan itu lalu menarik bahu Naira, dengan spontan Naira berbalik


Plaaaakkkkkkkkkkk... suara tamparan keras mengenai pipi seseorang.


"Naira, sakit juga ya" Dia lalu pingsan.


"Chan-chan" Naira panik, dia berusaha membalikan badan Chan-chan yang berat namun tak berhasil. Dia mencoba berbagai cara dan arah tetap tidak berhasil.


"Kak Dove" langkah kaki Dove dan suaranya yang sedikit bass membuatnya dengan mudah dikenali. Dia sedang menghubungi seseorang dan terlihat serius.


"Iya Pa, besok aku bakal urus visa nya" Disaat yang bersamaan Naira bangun dan mereka tak sengaja bertubrukan ketika ia membalikan badannya. Posisi Naira yang berada di depannya membuat Dove terdorong. Ponsel Dove terlempar sedangkan Naira terjatuh di pelukan Dove.


Dove spontan mengarah ke Naira, "sorry, saya ngeliat tadi, maaf ya"


"Kak Dove" Ucap Naira.


"Naira, sampai kapan kamu mau berada diposisi ini." Dove meminta Naira bangun dari atasnya.


"Naira, kamu ngapain disini, kamu baik-baik aja kan?" Dove bertanya dia tidak sejutek biasanya, "Naira, kamu ada luka?" Tanyanya lagi. Kini dia mulai mengerakkan bahu naira, "Naira, kalau aku tanya jawab jangan diam aja. Kamu ada luka gak?" Dove kesal melihat Naira yang diam saja.


Mata naira kini menatap matanya. Tangan Naira bergerak memeluk Dove dengan erat.


"Naira, kamu kenapa?" tanyanya bingung, "Kamu berantem sama Aldo?" tanyanya lagi. Naira hanya menggeleng lalu menyandarkan kepalanya di dada Dove.


Rasa ini kembali muncul, jantungku yang berdetak dengan cepat. Hatiku berdebar, aku merasakannya sekarang, perasaan ini membuat hatiku tenang. "Kak maukah kau pergi denganku sehabis pulang sekolah?" Naira memalingkan wajahnya menatap Dove yang masih dalam posisi memeluknya.


Dove lalu membelai rambut dan wajah Naira, dia lalu mencium kening gadis di depannya lembut.


"Kamu itu cantik, pintar cuman sayang aku gak mau jadi selingkuhan kamu." Dove melepaskan tangan Naira dan beranjak pergi dari situ. Namun Naira menahannya, " I love You" Ucapnya.


Dove kaget mendengarnya. Ia mulai menganalisis apakah ini bagian dari rencananya dengan Dita. Jelas-jelas dia meminta pertunangan itu dibatalkan dan dengan rajin ia belajar agar masuk ke tema OSN. Bukankah itu semua karena dia membenci aku.


Dove berbalik arah dengan santai menanggapinya pernyataan itu, "Kamu ngajakin aku jalan? Kamu sakit ke UKS sana!" Dove lalu mendorong Naira ke arah UKS.


"Kak, tolong Chan-chan dulu." Naira menunjuk Chan Chan yang pingsan. Dove jelas kaget melihatnya pingsan.


"kamu sama Chan-chan abis ngapain?" Naira sadar Chan-chan pingsan. Dia menarik Dove masuk ke salah satu ruangan kecil, Naira menutup mulut Dove. "Kak tadi aku nampar Chan-chan sampai dia pingsan." Ucapnya berbisik.


"Apaaaa!!!!" Dove kaget. Tiba-tiba Dove mulai merasa sesak nafas, kepalanya pusing, "Kak, kamu kenapa?" Tanya Naira.


"Aku fobia dengan tempat gelap terlalu lama seperti ini jadi buka pintunya dan ayo kita keluar" Ucap Dove yang mulai melemah, nafasnya mulai tak beraturan, tarikan nafasnya terdengar kencang.


"Ok" Naira mencoba membuka pintu, namun pintunya terkunci. Naira menariknya lagi malah mendapati ganggang pintu ada ditangannya. Dia semakin panik saat melihat Dove semakin lemas dan terjatuh.


"Kak, maaf aku gak tahu" Dia lalu memeluk Dove, "Tolong aku, aku takut" Ucap Dove mengigau. Tiba-tiba naira mengingat sesuatu, "Tolong aku. aku takut, Nai..Nai" ucap seorang anak laki-laki. "Adi.. Adi... tunggu ya. Aku akan cari cara buka pintunya." Naira meminta pertolongan ayahnya untuk membuka pintu itu namun setelah terbuka Adi ditemukan pingsan. "Adiiiii!!" Teriak Naira.


"Chan-chan" Teriak Chua. "Lo ngapain disini?" bertanya pada Chan-chan yang masih setengah sadar.


"Udah dari pada lo diam aja mending bantuin gw ambil bola buat main basket." Chua lalu membuka pintu gudang dan merasa heran karena tidak dapat dibuka.


Setelah melihat dari jendela atas ruangan. "Dove!!" Teriaknya melihat Dove tak sadarkan diri dipangkuan Naira yang juga tidak sadarkan diri.


"Chan, Dion, Robert, Dove pingsan!" Teriaknya membuat sahabatnya itu datang dan membawa Dove sedangkan Chua mengendong Naira ke UKS.


Naira terbangun dari tidurnya, dan menyadari dirinya sudah berada di UKS sendirian tanpa teman, "Dimana Dove?"


"Dove haruskah dia yang pertama kali kamu sebut Naira?" Tanya Aldo keluar dari balik tirai.


"Apa yang kamu lakukan bersamanya?"


"Katakan Naira! Apa yang kamu lakukan!" Aldo memaksa Naira hingga dia kesakitan.


"Sejak kapan kamu berubah jadi seperti ini."


Aku tak akan pernah bisa melepas mu Naira, kamu adalah milikku, bukan milik Dove bukan dia dan takkan pernah menjadi miliknya. Dalam hatinya menyimpan rasa benci pada sang adik.


***** Bonus*****


"Kak Dove, please kak jangan pingsan." Naira menangis di samping Dove yang semakin lemah.


"Naira... kamu jangan dekat-dekat dengan Dita. Dia bukan orang yang baik." Ucap Dove lemas.


"Masih aja kak. Ngomongin Dita ada aku disini. Aku suka sama Kak Dove." Naira lalu mencium Dove.


Aku tahu ini salah tapi tetap menyukainya..