
Menangis adalah hal paling sederhana yang dapat aku lakukan saat ini, tega sekali dia melakukan itu padaku, dia membentakku dan meninggalkanku begitu saja, belum lagi pertengkarannya dengan aldo, aku takut aldo akan marah padaku karena membuatnya terlibat masalah ini dengan temannya. Air mata ini bahkan tidak berhenti mengalir.
"Hey, siapa didalam, kamu gak papa, kamu nangis kenapa ?" gedor salah satu anak murid yang saat itu juga berada ditoilet.
"gak papa kok saya baik-baik saja" naira menyeka air matanya dengan tissue kamar mandi
"eh keluar ini kamar mandi cowok"
Naira kaget dia langsung keluar dengan muka penuh rasa malu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Naira, lo gak papa kan ?" tanya dita padanya. "semuanya pasti berlalu kok" tambahnya lagi mengusap punggung naira
" gw malu dit, tadi gw masuk kamar mandi cowok" ucap naira malu.
Dita tertawa terbahak" mendengarnya. "udah-udah gak usah dipikirin.
"lagian kenapa sih, dia gak suka banget sama kamu? dita kamu masih mau jadi temen aku kan, jangan musuhin aku lagi ya" pinta naira yang masih menagis pada dita.
Dita pun mengiyakan," jadi sebenarnya, dove itu mantan aku, dia selingkuh dibelakang aku dan dia itu jahat nai, dia mau bikin aku hancur, padahal kan dia yang salah bukan aku naira" ucap dita pada naira, dita pun ikut menangis.
"oh ya, dove mantan kamu?? Dia selingkuh ???" naira gak percaya, "pantes nyebelin, kamu tenang aja aku gak akan takut sama dia, kalau perlu aku akan buat dia nyesel udah pernah selingkuhin kamu" naira memeluk dita yang menangis.
Naira mulai menyusun rencananya untuk mengerjai dove, hal pertama yang harus dia lakukan adalah berbaikan dengan dove untuk bisa membalasnya.
"gw, gak akan kalah dari lo, kalau lo punya garis hijau, gw punya garis warna-warni" naira membentangkan garis warna warni dan menempelkannya di loker dove. Lalu dia memakai band merah dikepalanya. Lalu berputar-putar layaknya balerina kemudian menjadi tegak dan bertingkah seakan-akan ingin masuk ke medan perang. Dia melangkah mundur ke belakang, lalu berbalik dan "auuu" dia memegang hidungnya yang tak sengaja menabrak dinding.
"enak cium dinding" kata dove yang memperhatikan naira dari tadi. "garis warna-warni nih" dove tertawa sambil mencabut garis itu. "suka nari" tanya dove merasa lucu.
"gak aku nari buat pacar aku, dia disebelah aku tadi" dove kaget dan melihat kesebelahnya dan tertawa. "besok ada acara di panti asuhan, kayaknya kamu perlu ikut deh" ajak dove sambil membereskan bukunya.
"ngapain, males" jawab naira ketus. "buat ngehibur oma-oma dipanti jompo" balas dove
"oh, ya daftar dimana ?" naira tertarik. Dove lalu memberikan kertas dengan warna merah didalamnya, "Tuh daftar sama pacar kamu disebelah, kayaknya gak bakal dilepasin deh" dove tersenyum. "aldo" naira mempersiapkan dirinya, saat dia nengok, dapat mimpi buruk disiang bolong, cowok gendut berkaca mata dengan tompel dipipinya sedang memajukkan bibirnya ingin mencium naira, " aaaaaaaa" teriak naira, matanya terpejam takut. Dia kemudian membuka matanya dan tangan cowok ada didepan matanya.
"sorry, gw lupa dia bukan type lo" tangan dove ada didepannya menempel dengan hidungnya sementara didepan muka cowok tadi ada kertas yang tadi diberikan dove padanya. yaaampun dia ganteng banget, aduh jantung gw mau copot rasa, denger gak nih dia. "hutttss, mending lo pindah kesamping sini, cepet" perintah dove yang merasa jijik, dia menarik tangannya dan membuat badan cowok gendut itu melaju masih dengan bibirnya yang maju. Mata cowok itu terbuka tak kalah dia mendaratkan ciumannya pada sinta yang kaget. Mata sinta terbelalak, melihat apa yang dilakukan can-can, cowok gendut itu.
"CAN... CAN...." pala can-can berputar mendengar teriakan sinta. Sementara dove mengangkat kedua tangannya, ekspresinya kaget begitu juga dengan naira. "si...nn..taa" ucap dove terbata-bata, dia menahan tawanya.
"sorry, gw gak tau kalau lo sama can-can" dia menunjuk keduanya. Sinta lalu menendang can-can. "auu" dove ikut berekspresi.
"dove, ini pasti kerjaan lo" sinta marah-marah, dove menarik naira kebelakangnya. "gw gak tahu lo disitu, sorrry" dove mencoba minta maaf, sedangkan naira tertawa. "eh lo malah ketawa lagi, can cium nih cewek" naira langsung takut, dove lalu mengambil kertasnya dan menunjukkannya pada can-can. Dia pun berhenti tepat didepan kertas itu.
"udah-udah gak usah berantem, aku cape, lagian percuma lo berantem sama anak pencari masalah" dove memberikan kertas itu, dan ekspresi can-can masih polos. Dove lalu meninggalkannya, sinta pun juga, naira juga pergi. Can-can bingung, dia pun melangkah dan terpleset kertas panjang berwarna-warni buatan naira dan kini dia berakhir dengan mencium tembok lalu merosot kebawah.
"can-can dari pada cium itu mending cium aku" cewek dengan rambut kepang dikuncir dua, bergaya centil dengan tompel yang lebih besar darinya. Tersenyum didepannya, can-can pun pingsan. Semua berkerumun, "ahh can-can gak kuat, udah biarin aja" teman-teman meninggalkannya.
"hey, tunggu" can-can sadar lalu pingsan lagi melihat cewek itu, cewek itu lantas berteriak-teriak dan memanggil orang menolong can-can. Saat itu can-can bergerak merayap diam-diam. Di tangannya ada kertas bergaris merah itu, dia sadar artinya dan mulai berteriak, "red line" dia lalu memberikannya kepada bejo yang sedang bermain gitar dengan santai, bejo anak dari yogya yang medok, rambutnya gondrong dan keriting, giginya sedikit maju, tapi suara bagus dan merdu.
"red line" Bejo pun bingung dan tak berapa lama kemudian semua orang mendatanginya, lalu mengerjainya. Mulai dari rambut sampai sepatunya. "ono opo toh ini, kok sepatuku jadi diatas" muka bejo penuh dengan garis merah, rambutnya dikuncir, persis seperti badut.
Bejo pun jalan dengan santai dan masih bingung, "loh, bejo lo kenapa?" tanya dove. "gak tahu nih, aku yo bingung dove, aku dikasi ini sama si can-can, tiba-tiba arek-arek iki kayak tertarik sama aku, dove" bejo masih lugu dengan tampangnya yang udah seperti badut. Dove mengeluarkan handphonenya dan membuka cameranya, dia memperlihatkannya pada bejo.
Bejo mengelah nafasnya, "dove dia menyentuh wajahnya, muka ku kok ngini ya, mana lipstik dimana-mana lagi, kalau ketahuan aku playboy kan aku susah" dia mengeleng-gelengkan kepalanya. Dove menahan tertawanya geli, "ihh, bejo ganteng deh" kata cewek yang lewat, muka bejo berubah dan dove mengangguk mengiyakan, hal ini membuat bejo percaya diri, dia berjalan bagaikan dicatwalk dan mencoba menyebarkan pesona. "bejo" teriak pak dami, bejo langsung kicep dan mencoba lari. "kok gak bisa ya" kata bejo masih mencoba berlari namun tidak bisa.
"bejo mana bisa lari kan bajunya ditahan sama pak dami" semua anak tertawa termasuk dove. Bejo berbalik dan melihat pak dami sedang memelintir kumis lalu membuang nafasnya dari hidung dengan kencang.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikelasnya naira bersiap-siap dengan strategi berikutnya, dia mengeluarkan kemeja baru dari tasnya.
"dia pasti suka, hihihihi" naira tertawa. Dia bangun dan melangkahkan kakinya, kakinya seperti tertahan, dia mencoba menariknya dengan kencang.
breeekkkkkk, naira mengelah nafasnya melihat sol sepatunya lepas karena lem besi yang ditaruh dilantai mejanya. doveeeee teriaknya dalam hati. "naira, fighting" dia memberi semangat pada dirinya, mengambil sepatunya dari loker dan sepatunya basah. Dia lalu mengambil sendal jepitnya yang dia pake jika ada hujan. Dia berjalan menuju ruang osis, dia membayangkan ekspresi dove jika menerima kemejanya ini. Dia tertawa sendiri merasa menang
Hari ini ruang osis, terdengar begitu ramai dan ribut, naira berjalan mendekatinya sambil mengintip dari luar jendela, yang tertutupi oleh horden berwarna merah.
"aduh gak kelihatan lagi, ada apa sih, suaranya kok ribut banget" naira semakin penasaran. Terdengar suara orang tertawa, sepertinya mereka sangat gembira. "naira" panggil wira
"oh kak wira" balas naira. yaampun ketahuan deh, gimana nih, harus bilang apa nih. Nairapun menyembunyikan paper back yang dibawanya dibelakang punggungnya menaikannya sedikit agar wira tidak dapat melihatnya. Dove terlihat sedang tertawa bersama teman-temannya, sambil bermain gitar, dan beberapa menonton film lucu di layar proyektor.
"kak dove" teriak naira, membuat dove kaget dan heran dengan sikap naira. Naira berjalan kearahnya, sambil membawa pop ice coklat kesukaan dove. Dove semakin heran dia meletakkan gitarnya. "gilaaa dingin" teriak dove setelah naira menumpahkan pop ice itu kebajunya.
Naira kaget, mati ya apa nih, rencana gagal total, gw gak sengaja keluhnya dalam hati .
"Tadi ada yang nyelengkat gw" kata naira sebelum dove marah" lo gak usah banyak alasan ya, lo tuh bisa gak usah cari masalah" dove gak bisa berkata melihat bajunya yang basah dan kotor
"naira kalau lo kayak gini terus, gw bisa-bisa borong baju kemeja dikoperasi" dove marah pada naira
"gw bilang tadi gw diselengkat, lo gak percaya banget sih" naira teriak lebih kencang. "siapa yang mau nyelengkat lo, disini semua temen gw" dia menunjuk semuanya. "dan cuman lo yang bukan" dia menunjuk naira.
Naira kesal dia merasa tidak bersalah, "gw datang kesini mau minta maaf"
"okey, udah gw maafin sekarang pergi, lo cuman hanya bisa bikin onar disini" dove mengusirnya. "lo tuh yang tukang buat onar, playboy, suka nyaketin orang, dasar cowok buaya" dove kesal dengan perkataan naira, hatinya sakit, matanya memerah. Dia berjalan mendekati naira, "Apa bedanya sama lo, lo seorang playgirl yang gampang gonta-ganti cowok" naira menampar dove.
"pergi lo sekarang" bentak dove. Naira kesal dan marah dia melempar paper bag nya. "itu buat gantiin baju lo" ucap naira songong.
"lo pikir dengan baju ini semua selesai, lo tuh belajar menilai orang lain dan gak semena- mena" teriak dove membuat yang lain takut melihat dove yang marah. Naira gak terima, "berapa yang lo butuh ?" dove semakin marah. Naira menunjukkan uangnya dan dove mengambil semua, "lo pikir, lo lebih kaya dari gw, lo dan keluarga lo itu kerja sama keluarga gw, ngerti lo, jadi sekarang lo keluar !!!" teriak dove, melukai hati naira.
Naira pergi, hatinya sakit dengan perkataan dove, "hey, naira kamu gak punya sepatu ya ?" tanya dove. Naira melihat kakinya, diambilnya sendal jepit itu dan ditaruhnya diatas laporan bulanan osis yang mau dipresentasikan oleh dove.
"naira, you are so much, ini kan kotor, lo tuh memang tukang bikin onar, cewek nyebelin" dove menahan lengan naira, "lo, jangan muncul lagi dihadapan gw, pergi" dove menatap matanya tajam, penuh amarah dan kekecewaan.
Tuhan ada apa ini, kenapa hati aku sakit sekali, aku seperti mendapat penolakan dari orang yang aku cintai, aku sering diusir aldo dari kamarnya saat dia sibuk main game, tapi aku tidak merasakan hal sesakit ini, kenapa bibirku ingin mengucapkan kata sorry, tidak aku tidak boleh mengatakannya. Tidak akan pernah Naira pergi meninggalkan dove.
"you my enemy" kata naira menunjuk dove.
Tangan dove melemah, matanya pun memerah, dia menghela nafasnya. "yes"
Naira pergi, tanpa dia sadari air mata keluar dari matanya, naira what's wrong with you
Aku gak menyangka kamu menjadikan aku musuhmu hari ini naira, Dove memegang tangan kirinya, diapun menangis dalam diam tanpa diketahui teman-temannya. Dia melempar semua kertas didepannya dan pergi.
Dove menangis, muka sangat sedih dan kecewa. Dia duduk dipinggir danau tempat favoritnya. Suara perempuan menangis, berasal dari balik pohon besar. Dove menghampirinya, "lo lagi, lo lagi" teriak dove saat melihat naira. Naira mendorong dove, dan dovepun pingsan tiba-tiba diteringat sesuatu dan pingsan.
"nai, naira, naira" panggil cowok tinggi yang selalu muncul dimimpinya. dia melihat mukanya dengan samar
"remember me, naira" naira terbangun dari tidurnya dikamarnya.
"dove, kamu harus hati-hati, tanganmu itu loh" ucap nita memberikan coklat hangat
"buat apa ma, dia bahkan membenciku" ucap dove parau