Nairadove

Nairadove
THE REAL TROUBLE!



Aku gak pernah minta kamu lakukan itu!


"Naira" Panggil Dove menunggunya di Halte sekolah. Letak halte ini tak jauh dari SMA Harapan. Biasanya disini tempat murid-murid menunggu jemputan mereka.


"Kak Dove! Ngapain disini?" Tanya Naira melihat keadaan sudah sore dan sepi.


"Kenapa gak boleh?" Tanya Dove seperti mencari ribut. Dove menarik tangan Naira, "Ngapain kak!" Cegah Naira.


"Kamu pikir aku mau ngapain? Aku gak punya niat buruk!" Dove lalu mengeluarkan tali dari celana seragamnya sebuah tali merah. Lalu mengikatnya di tangan kanan Naira.


"Selamat, kamu sudah menyelesaikan masa orientasi sekolah." Dove lalu memasangkan jaket pada Naira, "Badan kamu masih lemah tidak bagus kalau kena angin. Duduklah dan tunggu supir mu datang." Dove lalu masuk ke mobilnya.


"OMG! Robert Lo liat barusan? Dove kasih gelang ke adik kelas. Ini baru pertama kali cuy!" Ledek Chua. "Kita buat taruhan! Bisa gak Dove dapetin Naira, gw rasa dia mau balas dendam karena kejadian kemarin di ruang BP. Emang keren Dove, diam-diam menghanyutkan." Tambah Chua menggampangkan hal ini.


"Gw rasa ini tidak sesederhana itu, Chua." Robert akhirnya menanggapi hal itu. Ia merasakan Dove yang berbeda hari ini. Bukan seperti Dove yang dikenalnya.


"Cie! Naira. Bisa aja Lo ngedeketin Kak Dove. Tadi bilangnya gak suka, sekarang suka. Gak usah jual mahal lah." Ledek teman-temannya.


"Dasar plin-plan" Tambah yang lain menertawakannya.


"Bukan!" Naira membela dirinya,


Dasar cowok nyebelin! Sok banget sih! Emangnya gw yang minta dia berantem! Lihat, sekarang gw jadi bahan ledekan! Ucap Naira terus menerus. 


"Huuu... gelang apaan nih!" Naira membuang gelang merah tanda berakhirnya masa orientasi sekolah yang diberikan Dove seperti sampah.


"Dove, are you ok? Kenapa lo mukulin Ricky sampai kayak gitu?" Tanya Robert saat berkunjung ke rumah Dove, ia sedang mengobati lukanya.


"Gimana lukanya Ricky? Aku gak bermaksud buat dia terluka sampai seperti itu" Balasnya menahan sakit akibat luka di bibir dan tangannya.


"Gw tahu, selama gw berteman sama lo, baru pertama kali lo berantem hanya karena seorang cewek." Tambahnya membantu Dove membersihkan lukanya.


"Cewek itu udah punya pacar, masih banyak yang menunggu lo Dove." Membuat Dove semakin sebal dengan situasi ini. 


"Menunggu buat apa?" Balas Dove santai seperti biasanya. "Aku paham maksudmu, tapi gak ada yang aku inginkan dari mereka." Balasnya.


"Kalau yang kamu maksud adalah Sinta, aku rasa kamu sudah tahu jawabannya dari awal." Balasnya dingin. "Udah gw mau istirahat!" Dove menutup matanya. 


"Lo bisa cerita kalau waktunya udah tepat." Robert mengakhiri pembicaraannya dengan Dove.


Seminggu berlalu, pelajaran mulai berjalan normal.


"Selamat pagi anak-anak semua, saya mengucapkan selamat datang kepada kalian semua, selamat memulai tahun ajaran baru. Saya sudah mendengar banyak tentang kalian dari para panitia serta kakak pendamping yang bersama kalian semua selama masa pengenalan sekolah." Suaranya menggelegar ke seluruh sekolah, sambil memilir kumisnya yang seperti pak Raden.


"Anak-anak!" Teriaknya semangat sambil mengebrak sepatunya ke panggung. "Saya sangat bangga dengan perjuangan kalian semua. Siap menjadi yang terbaik?" Teriak Pak Anton menyambut mereka semua bersamaan dengan tepukan tangan dari semua orang juga berada di lapangan upacara. "Bagus!" Sambil menganggukkan kepala.


"Selebihnya saya serahkan kepada Dove sebagai ketua OSIS. Silahkan Dove." Mempersilahkan Dove untuk maju.


"Dove selamat atas kemenangan kamu di olimpiade kemarin." Pak Anton memberikannya selamat tak lupa ia juga menepuk bahu Dove sebagai apresiasi. 


"Pagi semua, selamat atas keberhasilan kalian semua sampai ditahap ini. Saya berharap melalui pekan pengenalan sekolah, kalian dapat saling mengenal satu sama lain. Sebagai tugas akhir, kalian diwajibkan mengisi yellow book yang sudah dibagikan kepada kalian kemarin." Dove menunjukkan buku itu dan menginformasikan jika semua anak harus mengisi buku itu hingga lengkap termasuk biodata semua anggota OSIS dan kepanitiaan pekan pengenalan sekolah. 


"Kalian harus mengisi buku ini hingga lengkap. Waktu pengisian dimulai sejak hari ini. Akan ada hukuman bagi yang tidak menjalankan tugas akhir ini. Sekian dari saya, terima kasih." Dove lalu turun dari panggung.


"Kak Dove boleh minta tanda tangannya" Cegat seseorang di depannya. "Boleh" Dove langsung memberikan tanda tangannya dengan percuma.


What!! Tugas lagi dan harus minta tanda tangan semua anggota OSIS termasuk kak Dove dong. Kenapa selalu harus berurusan dengan dia lagi sih! OMG!


Naira hanya bisa menatap Dove di depan matanya sambil memeluk buku kuning yang baru saja didapatkannya. Mengapa berat sekali beban ini ?


"Naira!" Suara halus dan lembut itu bergetar ditelinga Naira. "Ada apa ma?" Tanyanya.


"Papa kamu Nai, dia masuk rumah sakit! Kamu cepat kesini." Ucap Miranti kuatir.


"Ma, aku segera kesana!" Naira langsung berlari. Menuruni anak tangga dengan terburu-buru. "Maaf" katanya ketika bertemu dengan murid lain yang tidak sengaja di tabraknya. "Aku buru-buru, maaf nanti aku ganti." Mohonnya. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari kedua matanya. Ia tak lagi melihat jalan yang dirinya tahu adalah berlari secepat mungkin untuk menemui Sang Ayah.


"Papa." ucapnya sambil menangis, tak sengaja ia tersandung oleh selang yang sedang digunakan oleh penjaga kebun untuk menyirami tanaman di gedung utama.


Aku merasakan benda itu menyentuh pergelangan kakiku. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, pandanganku gelap. Mungkin aku akan melukai diriku. Tangan siapakah ini? Aku merasa dia memutar badanku.


"Naira, kamu gpp?" Tanya orang itu.


"Kak Dove!" Panggilnya lemas. Tatapannya kosong dengan mata yang bengkak.


"Naira!" Dove memanggilnya lagi dan langsung membawanya ke ruang UKS.


"Bu, tadi Naira pingsan!" Dove mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Bu Tina, penjaga UKS. "Kemungkinan dia shock, Bu!"


"Papa!" Teriak Naira setelah ia sadar.


"Naira, kamu kenapa?" Tanya Dove memeluknya. "Aku antar kamu ketemu papa kamu ya." Ucap Dove di telingannya. "Ayo." Ucap Naira. "Nai, gimana mau jalan kalau kamu peluk aku kayak gini. Kamu bisa jalan sendiri kan, gak perlu aku gendong." Naira kaget dengan perkataan itu dan menyadari dia memeluk Dove dengan erat sementara kedua tangan lelaki itu berada di sisi kiri dan kanan tubuhnya.


"eheem!" Bu Tina memberikan kode pada keduanya, "Kalian masih kecil udah, peluk-pelukkan. Sudah kalian balik ke kelas." Ucapnya. "Baik Bu." Ucap Naira lemas.


"Kak Dove, jangan dekat-dekat sama gak perlu liat ke belakang. Liat aja ke depan!" Keluh Naira.


"Nai, sebelum ngomel liat dulu. Kamu yang narik kemeja aku. Aku mana bisa jalan cepat." Balasnya juga risih karena jalan Naira yang lama.


"Naira, jalannya cepat dong. Lambat banget sih!" Keluh Dove lagi.


"Kakak niat nganterin gak sih. Aku udah jalan cepat banget. Kakak dong yang seharusnya." Mendengar itu Dove langsung berbalik dan melepaskan tangan Naira dari dari dirinya.


"Kamu pergi sendiri." Balasnya lalu meninggalkan Naira.


"Kak, tolong anterin aku." Pinta Naira.


"Kalau tahu gitu jangan ngomel." Dove lalu menarik Naira untuk mengikuti iramanya berjalan.


"Kak kita naik ini? Motor?" Tanya Naira lagi.


"Kenapa? Kamu gak suka naik motor?" Balasnya sambil memakaikan Helm di kepala Naira.


"Kak, makasih ya." Tambahnya.


"Gak ada yang gratis di dunia ini." Ucapnya.


"Bagaimana caranya aku bisa membayar tumpangan ini." Balasnya.


"Aku akan kasih tahu kamu, aku pikirkan dulu bayaran yang pas. Ayo! cepat. Jam istirahat keburu selesai nanti. Aku ada pelatihan olimpiade." Ajaknya terburu-buru. "Pegangan! Kamu kira aku tukang go jek!"


"Nai, aku antar sampai disini aja. Aku harus balik soalnya." Ucap Dove sebelum meninggalkan Naira.


"Ma, papa gimana?" Tanya Naira pada Miranti. "Sayang papa baik-baik aja. Untung ada Om Hendra dan Tante Nisya, yang bisa kasih rekomendasi supaya papa diprioritaskan.


"Om Hendra, Tante Nisya. Makasih ya." Ucap Naira.


"### Jeng, kita langsung balik ya." Ucap Nisya mengakhiri pertemuan hari ini.


"Dove!" Ketuk Nisya. "Dove!" Ketuknya lagi. Suaranya sangat lembut, sama halnya dengan sifatnya yang sangat keibuan. Pakaiannya sangat sederhana, ia tidak menonjolkan kekayaannya atau statusnya sebagai Nyonya Ricardo.


"Dove bolehkah mama masuk?" Tanyanya lagi.


"Boleh Ma." Jawab Dove, Ia masih bergulat dengan tugas-tugas sekolahnya.


"Gimana sekolahmu hari ini?" Tanya Nisya memeluk anaknya dari belakang. "Dove, jangan terlalu diforsir, ingat kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Bagaimana kata dokter?" Ia lalu duduk di tempat tidur Dove yang serba putih.


"Mama lihat kamu sedang murung ya?" Nisya mencoba membuka topik pembicaraan. Biasanya jika Dove diam saja, ia pasti sedang tidak baik, kesal atau marah dengan seseorang. Dove termasuk orang yang tenang dan tidak suka mengumbar masalah pada orang lain kecuali Nisya, mamanya.


"Ok, mama akan kasih kamu waktu. Kamu boleh cerita ke mama boleh juga tidak. Semua adalah keputusan kamu sebagai seorang yang sudah dewasa." Ucap Nisya menenangkan Dove.


"Ma, kenapa mama gak penasaran dengan apa yang aku alami hari ini?" Dove balik bertanya dengan santai Nisya menjawab dengan bijaksana, "Mama sebagai orang tua pasti akan penasaran dengan apa yang terjadi sama kamu. Kamu anak mama satu-satunya, cuman kamu seorang. Tapi sebagai orang tua mama juga harus sadar anak mama ini laki-laki wajib menentukan pilihan dan jalan keluar dari masalah itu sendiri. Setiap orang butuh privasi, mama sangat menghargai itu. Kamu sudah dewasa, mama berharap pilihan yang kamu ambil adalah selalu positif bagi dirimu dan masa depanmu."


"Dove, bulan depan papa akan berulang tahun ke 50 tahun. Minggu depan kita mau pergi ke makan Opa, kamu jangan lupa aja dia." Kata Nisya sebelum meninggalkan Dove. "Hal terpenting bagi mama adalah kamu baik-baik saja sayang. Love you!" Ia lalu mencium kening Dove, dan tak lupa menyuruhnya untuk tidur dan istirahat yang cukup.


Nisya adalah pewaris tunggal kekayaan Ricardo. Nisya Ricardo adalah putri tunggal Ricardo de Silva, Opa Dove sekaligus pendiri jaringan usaha keluarganya. Sementara ayah Dove adalah seorang karyawan di perusahaan Nisya yang dijodohkan olehnya saat dirinya masih muda. Ayah Dove adalah Mahendra Ricardo.


"Aku berharap dia juga mau datang ma." ucapnya dalam hati.


"Sumpah! Kak Dove itu nyebelin banget! Bisa-bisanya banyak yang suka sama dia. Memang seganteng itu apa?" Naira lalu menempelkan kertas ulangannya yang penuh dengan coretan merah karena koreksi dari Dove. Awas kak Dove, aku bakal buktiin aku bisa masuk team OSN. Naira mengepalkan tangan lalu menariknya kebawah, bisa! aku bisa!


"Aldo." Wajahnya kini berubah menjadi gembira tak ada lagi raut wajah yang tidak menyenangkan seolah sirna hanya dengan mendengar kata halo dari lelaki yang saat ini menjadi pacarnya.


"Kamu lagi apa?" Balasnya ditelepon.


"Do, nyebelin banget. Kamu kenal gak Dove. Dia seharusnya seangkatan sama kamu. Anak 12 IPA, katanya dia ketua team OSN. Dia emang sepintar itu ya? Kamu tahu Do, kertas ulangan aku semuanya di coret-coret sama dia bahkan titik komanya juga." Naira terus berbicara, ia melimpahkan semuanya kepada Aldo, pembicaraan ini hanya berisi Dove. Tak hanya itu, ia bahkan bercerita dengan menggebu-gebu penuh emosi.


"Naira, kita udah hampir 25 menit ngomong dan semuanya hanya tentang Dove. Dove itu memang salah satu murid berprestasi disekolah. Dia memang perwakilan sekolah untuk ajang olimpiade bahkan sampai international. Bagus dong Naira, kalau di koreksi sama dia. Kamu jadi tahu salahnya dimana."


"Do, dia itu seumuran sama kita. Dia juga lahir di tahun yang sama dengan kita. Kadang, aku ngerasa ada yang aneh dengan tatapannya. Dia itu terkenal dingin, jutek, dan galak. Disisi lain aku ngerasa dia bukan orang yang seperti itu, dia lembut dan baik meskipun terkadang dia nyebelin, suka ngatur, maunya sendiri, dan.."


"Naira, please! Bisa berhenti ngomongin Dove. Hampir 30 menit kamu hanya cerita soal dia." Kesal mendengar Naira yang terus memanggil nama Dove di telinganya. Cukup Naira, ia meninggikan suaranya.


"Do, kamu marah? Aku mau berbagi semua hal sama kamu. Kamu pacar aku, Do." Naira mulai berargumen.


"Aku gak perlu tahu semuanya Naira, Aku cuman mau tahu tentang kita, aku dan kamu yang lainnya gak perlu. Aku minta kamu jauhi dia." Aldo semakin meninggikan suaranya.


"Do, kamu perlu tahu. Semua tentang aku dan apa yang terjadi sama aku. Siapa cowok yang aku temui, dia seperti apa. Aku gak mau kita salah paham, aku mau kamu dengar dari aku." Balasnya membuat Aldo memutuskan panggilan itu secara sepihak.


"### Do!" Panggil Naira pada panggilan yang telah putus. Aldo kamu kenapa? Seingat ku dulu kamu gak pernah tutup telepon duluan. Aku cuman gak mau kamu salah paham nanti. Naira sudah jangan dipikirin, perbedaan pendapat itu wajar, besok semua akan baik-baik saja.


"Naira!" Panggil salah satu murid, "Kamu harus ke lapangan sekarang!" Anak itu menariknya untuk ikut dengannya.


"Kalau mau berantem lawan gw!" Teriak Chua.


"Jangan main pukul orang sembarangan dong!" Chua mendorong Aldo yang terlihat lemah.


"Sok! Lemah Lo, mau minta dikasihani satu sekolah? Basi tahu gak Lo!" Teriak Robert menambahkan.


"Aldo!" Teriak Naira dan kejauhan. Naira lalu mendorong Chua dan Robert hingga jatuh.


"Jangan sentuh Aldo!" Teriaknya membela Aldo mati-matian.


"Oh ini dia, anak yang buat Dove masuk ruang BP. Sekalian aja kalau gitu kita kasih pelajaran!" Sambut Chua.


"Aduh sakit!" Teriak keduanya ketika Naira menendang kaki mereka. "Kasar banget sih Lo!" Teriak Robert. "Lo gak tahu permasalahannya, jangan main tendang aja!"


"Robert!" Teriak Dove dari belakang.


"Kamu gak boleh gak boleh kasar sama perempuan." Dove mengingatkan lagi Robert dan Chua.


"Kak Dove! Kenapa sih ganggu aku terus. Sekarang pacar aku. Kakak kalau ada masalah sama aku aja langsung. Aku gak takut sama kakak!" Dia lalu menendang kaki Dove.


"Jangan ganggu pacar aku." Ucapnya lagi.


"Naira! Aku gak pernah cari masalah sama siapapun disekolah. Kamu liat dulu kenyataannya, jangan selalu mengedepankan pikiran kamu." Ucap Dove.


"Liat! Baju Chua dan Robert. Semuanya basah karena cowok kamu itu nyiram mereka tanpa sebab." Dove lalu melemparkan Ember itu ke depan Naira.


"Aldo juga mukul Dove tanpa sebab!" Bentak Chua kesal.


"Jadi konfirmasi dulu. Jadi cewek kok kasar!" Ucap Dove.


"Bodo amat! Pokoknya kakak udah mukulin Aldo!" Naira tidak peduli meskipun dia sadar Aldo yang salah. Biarpun begitu aku harus membela Aldo.


"Biarin aja! Apa urusan kakak? Mulai hari ini aku gak mau ketemu dengan kakak atau berurusan dengan kakak. Dasar trouble maker!"


"Apa?" Balas Dove.


"Trouble maker!" Balasnya lagi.


"Kamu itu trouble maker. Semenjak ada kamu aku selalu kena masalah." Dove meninggikan suaranya karena kesal. "Aku benci kakak!" Ucap Naira lagi.


Dove lalu mengambil buku kuning Naira, "Naira Seto! Ok kalau kamu benci aku. Aku akan bantu kamu menyelesaikan buku ini." Dove lalu merobeknya di depan mata Naira.


"Jangan harap kamu bisa bebas dari hukuman kali ini. Aku akan buat kamu malu karena memperlakukan teman aku seperti ini." Ia lalu menendang ember itu menjauh darinya.


"Kak Dove, Naira milikku, sekarang." Ucap Aldo. Semakin membuat Dove kesal. Dove lalu menghampirinya, "Gak selamanya dia milikmu! Ingat itu. Merebut milik orang lain bukanlah hal yang sulit. Selama aku menginginkannya dan langit merestuinya. Aku mau tahu siapa yang akan berani menghalanginya?" Lalu menepuk pundak Aldo.


"Kamu salah! bermain-main dengan kita, Naira Seto!" Ucap Chua lalu melemparkan sebuah kartu merah di depan Naira.


"### Kartu apa ini?" Aldo buru-buru mengambil kartu itu dan membawa Naira pergi dari lapangan.


"Itu Naira kan?" Tanya murid-murid itu satu sama lain.


"Hajar bre!!!" Ucap salah satu dari mereka yang ternyata adalah gerombolan Ricky.


"Stop!" Teriak Naira.


"Kak Dove!" Teriak Naira. Di kepalanya sudah keluar banyak darah segar. "Kak Dove, bangun kak! Tolong!" Teriaknya lagi.


"### Dove!" Teriak semua orang menghampiri mereka. "Hai! Adik kelas, kenapa sih Lo selalu buat Dove susah!" Chua mendorong Naira menjauh dari dia.


Seminggu setelah kejadian itu, pihak sekolah mengumumkan jika Dove resmi mengundurkan diri dari olimpiade fisika tingkat nasional karena kondisi yang tidak memungkinkan.


"Nai, ini semua gara-gara Lo! Dove jadi gak bisa ikut." Mereka mendorong Naira hingga jatuh di kolam renang. "Tolong! Kakiku kram!" Teriak Naira. Tak ada satupun yang mendengarkanku, mereka meninggalkanku. Tuhan, tolong. Kakiku kram, aku tak mengerakkan kakiku. Seseorang please, tolong aku. Aku berharap masih dapat melihat dunia ini. Tubuhku mulai tenggelam dalam air setinggi 2 meter itu. Dalam mimpiku, aku melihat seorang mendekatiku, ia meraih tanganku dan memelukku erat. Ia membawaku berenang ke atas. Dia adalah heroku.


Naira membuka matanya perlahan dan melihat terangnya cahaya lampu ruang ganti. "Dimana aku?" Ia sontak terbangun. Naira mengecek seluruh tubuhnya. Baju siapa yang aku pakai? Tanyanya.


"Naira" Panggil Dove. Ketika mereka tidak sengaja bertemu dengan di depan ruang ganti kolam renang. "Kamu udah sadar? Tanya Dove santai. Ia lalu menyodorkan handuknya untuk Naira.


"Kakak yang ngelakuin ini semua?" Naira langsung menampar Dove tanpa bertanya sedikitpun. "Kakak gak lebih dari cowok gak bertanggung jawab. Kakak udah hancurkan hidup aku!"


"Naira, kenapa kamu nampar aku? Seharusnya kamu bersyukur kalau aku gak datang ke sini, siapa yang akan menolong kamu." Balasnya membuat Naira semakin muak. "Kakak adalah penyebab dari semua ini!"


Melihatnya membuatku muak! Entah apa salahku padanya! Semenjak pertemuanku dengannya, aku selalu menjadi pihak yang salah. Aku benci kak Dove!


"Stop kak Dove!"


"Aku Naira, gak akan pernah mau hidup kayak gini!" Ucap Naira.


"Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan?" Balas Dove heran dengan sikap Naira.


Apa maksudnya, apa salahku?


"Kehidupan tanpa kamu." Setelah mengatakan ini, Naira terdiam.


Kenapa Naira ? Apa salahku! Kalimat itu sangat menyakitkan. Sangat tajam hingga menusuk jantungku.


Dove terdiam untuk sesaat, ia mengepalkan tangannya dan berjalan mendekat padanya. "Apa kamu jujur?" Tanyanya. "Aku terluka karena kamu, liat luka di kepala ini karena kamu. Tapi kamu sama sekali gak peduli, dimana hati kamu?"


"Baiklah, aku gak akan ganggu kamu lagi. Aku membebaskan mu. Kamu akan membayarnya." Ucap Dove diakhir pertemuan ini.


Tatapan matanya begitu menyakitkan, me-nga-pa dirimu menatapku seperti itu? Aku bukan orang jahat! Aku bukan trouble maker. Dove mengusap air matanya. Melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan Naira. Seburuk itukan diriku di matamu, Naira?