Nairadove

Nairadove
MY MEMORY!



Dove kamu dimana? Kenapa belum menghubungiku?


Aku terus melihat kearah jam dinding itu, 18.00, 20.00 dan 23.00. Waktu terus berjalan, sudah sampai tengah malam dan Dove belum juga menghubungiku. Ini bukan Dove, dia selalu memberitahuku dan tak ingin membuatku kecewa dan cemas. Setelah lama menunggu akhirnya ponsel Naira berdering.


Massage from Dove,


Naira, hari ini aku belum bisa menemui kamu. Aku akan hubungi kamu lagi - Dove.


*****


Akhirnya aku tahu kabarmu Dove. Syukurlah! Jika kamu baik-baik saja. Ia lalu membalas chat tersebut dengan rasa lega, baik ketiknya.


Hari ini, adalah hari pengumuman hasil ujian penyaringan masuk Universitas. Aku buru-buru berlari ke papan pengumuman, jujur aku berharap bisa bertemu dengan Dove.


"Masuk Sob! Masuk Bro!" Teriak Chua disambut gembira oleh Robert dan yang lain.


"Tunggu, nama Dove kok gak ada. Doveadi Ricardo. Ia itu gak ada sob!" Ucap Chua lagi.


"Gak mungkin dia gagal, gw mungkin." Tambahnya tak sengaja terdengar oleh Naira.


Apa Dove gak ikut ujian, selama ini dia kemana? Kenapa dia gak datang ujian. Aku pikir dia sedang fokus belajar. Dimana Dove sekarang. Kenapa Dove gak datang ke sekolah?


"Awas! Neng" Teriak salah satu penjual di seberang jalan, Naira segera menyingkir. "Neng jalan jangan melamun. Kamu hampir aja keserempet sama motor tadi. Hati-hati Neng."


"Iya pak, maaf." Ucap Naira, ia bingung jika motor tadi ingin menyerempet ku, mengapa dia berhenti di sebelahku dan malah memberikan aku sebuah surat yang berada di genggamannya sekarang.


Naira! Kamu jahat! Kamu menghancurkan hidup Dove! Kamu membuat dia hampir cacat!


Siapa yang mengirimkan surat ini? Tidak! Tidak itu tidak mungkin. Tidak bukan aku!


"Siapa kamu?" Ucap Naira.


"Naira, masa kamu lupa? Kita pernah bertemu di Surabaya." Namun Naira tidak mengingatnya, "Aku tidak pernah bertemu denganmu."


"Kalau kata-kata ini kamu ingat, Aku pacarnya Adi, pergi kamu! Dia tunangan ku! Pergi kamu!" Naira mulai bereaksi.


"Atau ini, Aku gak nyangka kamu bisa bertindak seperti ini. Aku gak mau dengar kata-kata kamu lagi dan hutsss!" Wanita itu seperti melakukan adegan mendorong seseorang.


"Bukan! bukan aku!" Teriak Naira.


Ia mulai ingat semuanya kejadian 3 tahun lalu, Dia berada bersama dengan Dove dan Naira berada dilantai dua gedung sekolahnya. "Naira, dengerin aku. Aku sama dia." Dove mengejar Naira sampai ke tangga sekolah.


"Stop! Lepasin aku! Aku gak mau dengar apapun dari mulut kamu Dove! Lepasin aku! Aku gak nyangka kamu bisa bertindak seperti ini. Aku gak mau dengar kata-kata kamu lagi. Lepasin!" Naira terus berusaha melepaskan tangan Dove.


"Naira, kamu jangan emosi. Bahaya. Kamu itu kalau marah selalu buru-buru. Kamu lupa, waktu marah sama aku kamu jatuh di lapangan karena gak liat batu." Ucap Dove dia paham sekali soal Naira.


"Aku gak peduli!"


"Tapi aku peduli, kamu tunangan aku Nai." Ucap Dove sabar. "Dengarkan aku. Aku tahu aku salah. Maaf, aku gak akan ulangi lagi." Tambah Dove memohon maaf padanya.


"Bohong kamu!" Naira tak sengaja mendorong Dove hingga terjatuh. Naira! Panggilnya. Naira shock, ia menuruni anak tangga untuk memeluk Dove. "Dove! Maaf.. aku gak bermaksud." Namun, Dove sudah tak sadarkan diri. "Dove!" Teriaknya.


Ini adalah memory-ku, kejadian yang ku lupakan. Tidak! Tidak mungkin! Dove! Teriaknya dalam hati sambil terus menangis.


Naira, mencoba menghubungi Dove dengan berbagai cara namun tak membuahkan hasil.


Dove! where are you!