
"Naira, aku boleh ya duduk di sebelah kamu?" Seorang gadis periang dan modis datang menghampirinya. Tubuhnya mungil sementara rambutnya berwarna merah, dia suka sekali menata rambutnya dengan ponytail.
"Boleh Dita, silahkan." Mengiyakan permintaan tersebut.
"Nanti istirahat kita ke kantin ya." Ajak Dita.
"Boleh Dit." Naira kembali mengiyakan perkataan Dita.
Sejak kemudian,
Naira terus berjalan menelusuri sudut sekolah untuk mencari Dita. Awalnya mereka janjian di kantin namun setelah hampir 10 menit, ia tidak kunjung datang. Apa mungkin dia tersesat?
"Dimana Dita? Loh itu Kak Dove sama Dita ngapain?" Seru Naira dari jarak jauh. Dari gelagat mereka, sepertinya keduanya sudah lama saling kenal.
"Dit, aku gak perlu kotak makan ini. Kamu bawa balik aja." Balasnya menolak dengan sopan sebuah kotak makan merah yang di bawa oleh Dita.
"Kak, please diterima." Balas Dita memaksa.
"Dita, aku bilang gak perlu. Rendra! Ini makanan buat kamu. Kamu gak bawa bekal?" Tanya Dove pada Rendra yang kebetulan lewat di depannya.
"Makasih Dove." Rendra membuka tangannya untuk menerima kotak makan itu. Namun dengan kasar Dita mendorong kotak makan itu hingga jatuh dan berantakan.
"Dita! Kata kamu makanannya spesial harus dihabiskan kenapa kamu buang?" Tanya Dove tak habis pikir. "Kamu pergi dari sini jangan ganggu aku!" Dove mendorong Dita dengan lembut agar menjauh darinya. Ia sangat tidak nyaman Dita dekat dan mencarinya.
"Kak aku gak mau pergi." Dita sengaja membuat drama untuk menahan Dove. "Gak perlu drama, Dit." Ucap Dove.
"Kak Dove, kenapa kasar banget. Kasian Dita." Tegur Naira tanpa tahu asal usulnya.
"Naira, kamu belain dia? Kamu dekat sama dia?" Tanya Dove heran. Bagaimana mungkin mereka bisa sedekat itu.
"Naira, aku gak mau bertengkar. Sekarang bawa temanmu pergi. Jangan buat keributan disini." Dove lalu menutup pintu kelas. Naira, satu kelas sama Dita?
"Dita! Menjauh dari aku. Aku gak akan pernah melihat kamu lebih dari anak sahabat papa aku. Kamu dengan itu." Dove menunjuk Dita dan menyuruhnya pergi dari hadapannya. Sebenarnya hal ini cukup kasar untuk seorang wanita. Namun, Dove berharap Dita akan menjauhinya. Ia tahu Dita tidak akan semudah itu menyerah.
"Kak Dove, emang gak punya hati." Teriak Naira lagi. "Sikap kakak kasar banget buat seorang cewek. Kak, bisa bersikap lebih baik gak? Dita ini seorang cewek, perempuan." Bentak Naira tiba-tiba tanpa tahu asal usul dari semua ini.
"Naira, kamu kalau mau teriak-teriak bukan disini. Disini itu sekolah, bukan hutan. Aku tahu Dita itu perempuan tapi kalau gak suka kamu mau maksa?" Balas Dove menohok. "Aku memang kayak gini kok. Kamu tahu aku lebih dalam?" Tanyanya lagi menyudutkan Naira.
"Kak Dove stop!" Dengan kedua tangannya menahan dada Dove yang hampir menyentuhnya. "Be my girlfriend" Bisik nya ditelinga Naira.
"Kak Dove, kakak pikir aku cewek macam apa? Aku udah punya pacar!" serunya kaget dan entah mengapa jantungnya berdebar kencang.
"Baru pacarkan? Kalau kamu gak mau aku gangguin. Jangan muncul dihadapan aku lagi dan bawa temanmu itu pergi. Lagian kamu bukanlah type ku." Balas Dove cukup keras.
"Kak Dove! Awas ya!" Kebencian Naira pada Dove semakin menjadi ditambah lagi Sinta yang selalu mengganggunya, you're loose!" katanya. Tak hanya disitu, ia juga memprovokasi teman-temannya untuk mengerjainya.
Hal ini jelas menimbulkan kekuatiran dalam diri Dina dan Lita, ia tidak ingin Naira terus bermasalah dengan Sinta yang akan membuat semuanya menjadi runyam.
Ditambah lagi pertemanannya dengan Dita yang justru membuat Naira semakin bermasalah di sekolah. Tak hanya itu, Naira justru lebih mempercayai Dita dari pada Dina ataupun Lita yang lebih lama berteman dengannya.
"Eh kantin yuk!" Ajak Dina.
"Ayo!" Naira yang memang hobinya makan akan rela meninggalkan segalanya demi pergi ke kantin.
"Ayo Dina cepat aku udah lapar!" Tarik Naira tanpa melihat jalan didepannya.
"Aduh!" Ceplos Naira sambil memegang kepalanya yang sakit, "Kakak lagi! kakak lagi! Ngapain sih!" Ucapnya tidak menyadari bahwa ini adalah kesalahannya bukan Dove.
"Kamu yang nabrak, kamu yang marah, kamu dong yang seharusnya lihat. Mata aku letaknya di depan bukan di belakang." Balas Dove santai namun lembut.
"Emang kakak aja yang gak mau ngaku. Kakak yang salah siapa malah nyalahin orang lain! Dasar kakak kelas nyebelin!" Balas Naira lebih galak dari pada Dove.
Dove hanya menatapnya heran lalu menghembuskan napasnya mengibaratkan dirinya sudah lelah harus terus berantem dengan Naira. Ia tahu gadis di depannya itu tidak akan mengakui kesalahan yang dia buat.
"Sabar Dove." Menghela dadanya serta mengatur pernapasannya. Ia memejamkan matanya dan mendengarkan Naira yang terus saja komplain terhadap dirinya.
"Naira, tapi emang lo!" Potong Chika salah satu anak OSIS yang sedang berkonsultasi dengan Dove sambil menunjuk kearahnya, ekspresinya kesal. Kemungkinan besar dia adalah salah satu pengemar Dove di sekolah.
"Apa!" Balas Naira berani.
"Naira, lo yang nabrak terus malah nyalain Dove. Gw saksinya Dove gak salah, betulkan teman-teman!" Ia mengajak anak-anak lain bersatu membela ketua OSIS mereka.
Anak-anak di sana mulai berseru dan membuatnya semakin malu, Apa yang harus gw lakuin ? Sekarang, gw gak mungkin mengakui kesalahan dan malu. batinnya sambil menunduk malu.
Dove lalu menundukkan kepalanya mengintip Naira. "Udah-udah, gak usah diperpanjang." Ucapnya membuat Naira merasa harga dirinya jatuh.
Naira membayangkan ekspresi muka Dove saat ini, Dia pasti tertawa terbahak-bahak, Oh tidak!! Batinnya. "Gak aku Naira Seno gak boleh kalah dari cowok itu!" Naira lalu menegakkan badannya, Aku Naira gak akan takut sama siapapun. Hiaaa!" Ia mengarahkan kakinya ke wajah Dove.
"Aduh!" Dove mengelus pipinya yang terkena tendangan Naira. Tak hanya di wajah tetapi juga di perutnya dan kakinya dan setelah itu Naira merasa sangat puas. Sebagai selebrasi tak lupa dia berteriak, Aku menang!
"Apaan sih!" keluhnya saat seseorang menepuk bahunya. "Naira!" Teriak Dove membuatnya kaget dan sadar bahwa apa yang dia lakukan tadi adalah sebuah ilusi semata. Ia menatap anak-anak yang tadi memojokkannya. Mereka menatapnya sinis setelah ia menyadari tangannya sedang menggenggam lengan Dove erat.
"Maaf" Ucapnya refleks melepaskan tangannya dari lengan Dove.
"Mau kemana?"Tanya Dove, "Nai, apa yang kamu lamun kan tadi?" tanyanya lagi.
"Bukan urusan kakak! Aku mau ke kantin!" Jawabnya jutek. "Jutek banget sih kamu" Balasnya manis.
"Bodo amat!" Sifat Naira yang paling dominan jutek kepada orang yang tidak dia sukai lalu berjalan lurus ke sebelah kiri dari posisinya tadi berdiri.
"Hey!" Dove menarik pakaiannya. "Katanya kamu mau ..."Dove menghentikan perkataannya setelah menatap kedua mata Naira yang kini sangat dekat dengannya. Kedua tangannya menyanggah badan Naira dengan memeluknya dari depan sementara tangan Naira memeluk leher Dove. Lelaki itu tersenyum pada Naira, sekejap kedua matanya tak bisa berpaling dari Dove. Sesuatu yang aneh terjadi getaran rasa itu muncul. Jantungnya terasa berdetak dengan kencang, ia malu menatap Dove begitu dekat, bibirnya terasa kaku untuk sekedar mengucapkan 1 kalimat.
"Do-ve" sebutnya parau.
"Hey! Sampai kapan kamu mau berdiri diatas kaki aku, gak malu diliatin yang lain." Kalimat itu menyadarkan Naira akan situasi yang tidak menguntungkannya. Sadar akan hal itu, ia buru-buru melepaskan diri dari Dove dan mencoba berlari. Namun untuk kesekian kalinya Dove menarik bajunya.
"Kenapa sih? Ucapku. " Kak Dove, jangan main-main, aku gak mau ada urusannya sama kamu dan jangan coba-coba ya aku bisa karate loh!" Naira terus berbicara sambil menunjukkan gaya-gaya karate yang salah sementara Dove tersenyum geli dengan sikap itu.
Dove menarik tangannya sehingga hidungnya menempel pada dada lelaki itu dengan cepat badannya diputar menghadap pada sebuah lorong yang terdapat petunjuk arah panah ke depan jika ingin pergi ke kantin. "Kamu mau ke kantin kan? arahnya ke sana bukan ke situ." Bisik Dove dari belakang.
Ada apa ini? Naira mengernyitkan dahinya. Mengapa aku merasakan hal seperti ini? Mengapa aku merasa sentuhan dan jemari ini begitu familiar?
Mengapa aku terpaku?
Mengapa aku diam saja?
Mengapa bibirku tidak bisa berkata apa-apa? hatinya terus bertanya.
"Hey" Dove menegakkan kepala Naira yang terus menunduk dari tadi.
"Itu jalannya." Tunjuk Dove.
"Stop! Get Away!" Naira berteriak membuat Dove terkejut.
"Kamu ini sakit?" Tadi diam sekarang teriak-teriak mending kamu ke UKS, jangan ke kantin!" Balas Dove lalu meninggalkannya.
Naira terpaku melihat Dove yang berjalan membelakanginya, hatinya terenyuh, ia mulai bersedih. "Apa yang terjadi? Kenapa ini? Do? Kenapa selalu kata itu yang keluar? Do itu Aldo bukan Dove!" Ucapnya.
"Naira!" Panggil Dina.
"Dina kamu dari mana tadi, kok menghilang?" Keluh Naira.
"Semua baik-baik aja, yuk kantin aku lapar." Mereka bergandengan tangan menuju kantin. Dalam pikirannya, ia terus bertanya. Mengapa aku selalu memikirkan Dove dan memanggilnya Do. Padahal Do adalah panggilannya untuk Aldo pacarnya. "Naira, mungkin kamu sedang merindukan Aldo." Ucapnya menenangkan diri.
Setelah hari itu, Naira selalu menghindar dari Dove. Setiap berpapasan dengan Naira, ia memilih menghindar bahkan disaat Dove ingin menyapanya. "Hei, kamu kenapa sih?" Tanya Dove menyapanya.
"Jangan ngikutin aku!" Jawab Naira berbisik sembaring berjalan menjauh dari Dove, ia ingin lelaki itu jauh darinya sehingga dia tak akan lagi menjadi pusat perhatian setiap orang. "Hah! Aku gak denger." Dove mengeluhkan suara Naira yang terlalu kecil.
"Hei Dove!" Sapa anak lain yang mengenalnya lalu menatap Naira heran dan mulai berbicara satu dengan yang lain.
"Jauh-jauh!" Ucapnya lagi.
"Apa?" Mendengar itu, Naira langsung menarik tangan Dove dan membawanya kesebuah lorong kecil pembatas antara kelas IPS dan IPA.
"Kamu ngapain bawa aku ketempat sepi kayak gini?" Tanya Dove memancing pikiran Naira.
"Huttss! Kecilkan suaranya!" Pinta Naira pada Dove, sembaring menutup mulut lelaki itu dengan tangannya. Dove mengerang menggunakan suara dari lehernya sambil menunjuk tangan Naira, "Kamu abis pegang apa? Ikan asin ya?" ia berkata rasanya ingin muntah mencium tangannya.
"Kamu itu ngomong apa? tanya Dove yang dibarengi rasa sakit akibat Naira yang mencubit lengan kirinya.
"Aduh! Sakit!" Teriaknya.
"Jangan temui aku lagi, nyapa aku, ngomong sama aku, belain aku, Paham!" Teriak Naira sementara Dove masih menahan rasa sakit di tangannya. Dengan lembut ia mencoba meraih tangan Naira dan menggandengnya, "Salah aku apa?".
Naira menghembuskan napasnya, seolah meledek Dove soal pertanyaan yang diajukannya. "Hah? kamu tanya aku salah kamu, aku itu gak suka kalau kakak belain dan kamu adalah orang paling nyebelin, sok dekat, dan orang yang paling malas aku temui! Ngerti gak!"
"Kenapa kamu diam aja?" tanya Naira mempertanyakan ekspresi Dove yang sepertinya terpukul mendengar itu.
"Kalau kamu gak suka, apa yang tidak kamu sukai dari aku? Kamu bisa bilang, aku bisa berubah menjadi seseorang yang kamu sukai." Balas Dove. "Kenapa diam saja?" Dove mengelus pipi Naira yang terdiam menatapnya. "Kamu suka aku yang seperti apa?" Sambil mendekatkan dirinya pada Naira. "Kalau kamu gak bisa jawab, aku bisa cari tahu sendiri." sambil mengelus dagu dan bibir Naira.
"Aku udah punya pacar, dia akan pukuli kakak kalau tetap ganggu aku." Balas Naira menghentikan pergerakkan Dove.
"Aku yakin kamu akan melupakan dia, jika kamu mengenal aku lebih jauh." Balas Dove yang langsung disambut dengan tendangan dikakinya.
"Auu! Naira tunggu!" Saat ingin mengejarnya langkah kaki Dove terhalang oleh beberapa orang yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Lo! Ngapain disini!" Ucap Dove matanya berkeliling mencari cara untuk menghindar.
"Hi Bree! Jadi, dia itu kelemahan lo, guys hajar dia." Ucap Seseorang dengan ban kuning di kepalanya.
"Kasian! Dia yang bawa lo ke Gw! Habis lo sama gw hari ini!" Teriaknya melayangkan pukulan pada Dove diikuti oleh temannya yang lain. Mereka mengeroyok Dove bersamaan.
"Aku yakin kamu akan melupakan dia, jika kamu mengenal aku lebih jauh." Ucap Dove dengan ekspresi dan tatapan mata yang hangat. "Naira! Apa sih yang kamu pikirkan! Stop!" Ucapnya.
"Naira lo dari mana aja!" Ucap Lita dan Nesya, mereka menghela napasnya seperti orang yang baru mengikuti lari marathon.
"Kenapa kalian? abis ikut pertandingan lari?" Tanya Naira heran.
"Lebih dari itu! Kita itu mau ngajak lo kelantai atas, itu yang lorong kecil diantara kelas IPA dan IPS. Dove sama Ricky berantem lagi, Pak Dami juga udah jalan ke sana. Ayuk Naira!" Ajak Lita buru-buru.
"Naira!" Teriak Robert.
"Apa yang lo lakuin? Tadi Dove pergi sama lo kan? Kenapa sekarang jadi berantem sama Ricky?" Tuduh Robert pada Naira.
"Kak Robert jangan suka nuduh orang ya, tadi aku memang pergi sama kak Dove tapi setelah itu aku gak ketemu lagi sama dia. Kalau dia berantem itu bukan urusan gw!"
Kesal mendengar jawaban itu, Robert memilih pergi meninggalkan Naira yang juga panik dengan situasi ini. Mungkinkah aku akan terbawa kasus ini? Aduh jangan sampai aku masuk ruang BP lagi batinnya.
"Dove tuh kenapa ya? Sekarang jadi suka berantem padahal dulu dia lebih milih untuk menghindar dari pada berantem sama Ricky." Ucap anak-anak yang lagi membicarakan Dove.
"Dari dulu meskipun mereka berantem, Ricky gak pernah hampir babak belur kayak gitu." Ucap yang lain melanjutkan pembicaraan itu sedangkan yang lain memuji Dove yang selalu tenang dan gak pernah main pukul.
"Kayaknya semenjak ada anak baru itu ya." Ceplos salah satunya. "Heh, ada orangnya tuh!" Colek temannya yang lain.
Naira kembali menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Sementara Dove dan Ricky saling beradu, "Ric, aku bilang berhenti, aku gak mau nyakitin kamu." Pinta Dove sambil mendorong tubuh Ricky ke tembok dari belakang. "Jangan banyak bicara lo!" Ricky terjebak dan tak bisa bergerak. Ricky terheran-heran melihat semua anak genknya kalah dari seorang Dove, lima lawan satu.
"Hei kalian berhenti! Dove berhenti!" Teriak Robert. "Bukan aku yang mulai Rob, mereka yang mulai." menunjuk pada anak-anak yang udah terkapar. Roy salah satu teman Ricky, tak terima dengan kekalahannya, "Hey Dove lepasin Ricky gak!" Teriaknya mendekati Dove dan ingin memukulnya namun Robert menghadangnya. Terbukalah peluang emas bagi Kiki untuk membalas Dove dan Robert, ia melihat Naira dan teman-temannya berlari kearah mereka.
"Dove! Liat pembalasan gw!" Mata Robert dan Dove tertuju pada gadis yang sama Naira.
"Naira awas!" Sontak Dove melepaskan tangannya dari Ricky dan berlari ke Naira.
Robert tak ingin Dove bermasalah, ia mendorong Roy dari tangannya, "Dove! Tenang!" Teriaknya sambil memeluk Dove dari belakang. "Lo, ketua OSIS, please jangan gini! Naira bakal kena imbasnya."
Sementara Ricky bersiap dengan senjatanya, "Dove awas!" Teriak Robert berusaha melindungi Dove.
"Dove terimalah kekalahan ini." Teriak Ricky lalu mengejar Dove.
"Kiki jangan sentuh Dia" Dove berhasil mendapatkan Kiki sebelum ia berhasil menyentuh Naira dari belakang Ricky mendorong Dove lalu menginjak tangan kirinya persis tak jauh dari Naira.
"Dove!" Teriak Robert panik sementara dirinya sendiri terikat oleh Roy.
"Liat sahabat lo!"
"Tolong!" Teriak Naira. Ia membantu Dove.
"Ricky lepasin Dove!" Naira memukul Dove memukulnya dengan gayung yang dia dapatkan dari kamar mandi tak jauh dari dari situ.
"Woy! Musuh Lo dia bukan gw, Naira!" Teriak Ricky kesakitan. Naira terlihat sangat marah melihat perlakuan Ricky pada Dove.
"Lepasin Dove!" Teriak Nesya yang juga membantu sementara Dove hanya bisa terdiam menahan sakit.
"Kalian!!!!!" Teriak Pak Dami.
"Berhenti dan cepat kalian keruang BP, itu ngapain Robert diikat, buka cepat!" Teriaknya lagi.
"Kamu lagi! Anak baru kok bikin masalah terus!" Ucap guru killer itu padanya.
"Perempuan loh kamu ini, sukanya berantem!"
"Hey! Lo yang main pukul teman gw!" Bela Robert di dalam Ruang BP. "Bapak lihat tadi mereka ini mukulin teman saya! sampai temen saya masuk RS! Bapak tahukan siapa Dove!" Tambah Robert.
"Sudah-sudah bapak tahu, kita bicarakan baik-baik ya, Robert." Ucap Pak Dami mencoba mengamankan situasi.
"Hari ini, Ricky dan teman-temannya akan bapak skor selama 2 minggu sementara kamu Naira akan bapak kurangi point prestasi kamu." Ucap Pak Dami menggelengkan kepalanya karena pusing dengan masalah ini selalu Ricky dan selalu Naira terlibat didalamnya.
"Kamu Naira masak baru masuk belum sampai satu tahun udah merah pointnya, weleh - weleh kamu itu." Keluhnya sambil memelintir kumisnya yang seperti pak raden.
"Pak saya gak terima hanya saya yang di skors, Naira juga pak! Dia itu rekan saya, dia yang membantu saya menjebak Dove. Adil dong pak!" Bela Ricky.
"Apa, lo yang bantu dia!" Teriak Robert. "Dasar lo, adik kelas gak tahu diri!" Naira hanya terdiam dan tak dapat berkata apa-apa sementara Sinta dan Dion mendengar semua itu dengan jelas termasuk seseorang yang akan menjadi musuh dalam selimut. Ia tersenyum mengetahui, peluang emas untuk menghancurkan Naira dan Dove berada didepan matanya.
"Welcome to the world, Naira.. Aku akan membuatmu menyesal pernah menjadi bagian dari hidupnya." Ucapnya tersenyum meninggalkan ruang BP dengan hati gembira.
"Naira, Lo tahu gak apa yang dilakukan Dove buat Lo? Lo akan menyesal bersekutu dengan musuh." Robert memperingatkan Naira.
"Aku ngelakuin itu karena Kak Dove kasar sama Dita." Bela Naira. "Dita, teman aku bukan musuhku."
"Kita liat nanti, apa yang bakal terjadi." Ancam Robert lagi.