
Naira turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa, dia berlari menuju kelas Dove dan berharap dia ada di sana. Sudah seminggu mereka tidak berjumpa, dan dia berharap agar Dove ada dikelasnya sehingga dia dapat meminta maaf atas kebodohannya selama ini.
"Sorry, kak Dove ada?" Tanyanya pada salah satu anak di sana.
"Dove udah seminggu gak masuk, tuh namanya masih tercatat dipapan absen." tunjuk yang lain ke papan absen yang tergantung disisi kanan meja guru.
"Ok deh" Naira mulai merasa kecewa.
"Oh iya, coba tanya ke anak genknya, mereka pasti tahu dimana Dove." Naira melangkah dengan gembira, harapannya muncul saat dia berpikir akan bisa bertemu dengan Dove.
Di Lapangan basket Shot genk sedang asik bermain basket dengan teman-teman mereka, terlihat Sinta juga duduk di bangku penonton sambil menyemangati mereka semua.
"Kak Wira, Kak Robert, Kak Chua" Teriak Naira keras, tapi melihatnya membuat keinginan mereka untuk bermain hilang. Mereka membubarkan diri untuk menghindari Naira.
"Kak, kalian kenapa sih, aku mau tanya kalian tahu dimana Kak Dove?" tanya Naira.
"Gw gak tahu!" jawab Chua ketus lalu pergi meninggalkan Naira. Naira tak patah semangat, dia bertanya pada Robert dan Wira yang masih bermain di Lapangan.
"Kak, dimana Kak Dove?" tanyanya baik-baik.
"Kalau gw tahu, lo mau apa?" jawab Robert.
"Aku mau ngomong sama dia." jawab Naira.
"Gak usah mimpi! Gw tahu lo mau nyakitin dia lagi?" jawab Wira ketus lalu mendorong Naira hingga jatuh.
"Aku udah ingat semuanya, Dia Dove, Adi, Tunangan aku, teman masa kecilku." teriak Naira.
"Hah, tunangan? Pacar aja baru, Jangan mimpi lo, dia gak akan pernah jadi tunangan lo. Tuh! pacar lo, si anak kampung yang suka cari masalah sama Dove, Si Aldo. Udah sana samperin dia, dan ingat jangan ganggu lagi Doveadi Ricardo, teman kita atau lo akan tahu akibatnya!" Ancam Robert lalu melepaskan tangan Naira yang di cengkeramnya kuat.
Chua tanpa berkata apapun langsung menarik, Naira ke lantai dua, diapun membunyikan sirine pengumuman khusus OSIS. Sirine ini membuat semua anak berkumpul, "Mulai hari ini, Naira anak 11 ini resmi, jadi sasaran kalian semua." Chua lalu mengeluarkan Green Light dan menempelkannya dipundak Naira.
"Aku gak takut kak." Naira melepaskan Green light itu dan memberikannya pada Chua. "Aku pacarnya Kak Dove, aku udah putus sama Kak Aldo. Ini buktinya." Dia menunjukkan gambarnya dengan Dove sedang makan bakso di restoran tempat mereka nongkrong.
"Lo!!! Paaaaa." Chua shock setelah melihatnya hingga tidak bisa bicara. Melihat ini, Wira langsung menepuknya, "Pacar Dove!" Lanjut Chua.
Para siswa yang lain heran, ada juga yang merasa senang dan berpikir rencana apa yang bisa mereka lakukan. Sementara Dina, Naira, Lita hanya bisa melihat sahabatnya itu dengan perasaan sedih. Tak lama kemudian Dion muncul dan menarik Naira berhadapan dengannya.
"Selamat menikmati, gak akan ada lagi Dove yang akan membela lo! Semua orang yang membenci lo akan muncul satu persatu Nai."
"Sakit Kak Dion!"
"Selama ini, Dove yang membela tapi Lo malah membencinya. Kita semua Shot Genk dan gw sangat membenci lo." Dion menghadapkan Naira pada Wira, Chua, Robert, Sinta dengan ekspresi mereka yang marah pada Naira. Dibelakang mereka juga ada Ricky, Silla, dan dkk yang siap untuk mengerjainya.
"Guys, ayo kita pergi!" seru Sinta.
Semua pergi meninggalkan Naira, sendiri.
"Gak lo gak boleh nangis! Lo harus kuat, iya udah jam olah raga aku harus ganti baju dulu."
Dia pun pergi ke ruang locker untuk mengambil seragamnya. Saat di ruang locker, dia melihat Dita sedang mengendap-endap dari locker nya.
"Dita, lo ngapain?" tanya Naira tanpa rasa curiga.
"Gak, tadi gw mau ngasi coklat buat lo biar gak sedih lagi" jawab Dita.
"Oh gak perlu kayak gitu kali. Lo langsung kasi aja." jawab Naira sambil tersenyum, Dita ikut tersenyum. Senyumnya palsu. Dia lalu keluar ruang locker dengan wajah kesal dan marah.
"Kenapa sih gagal, locker nya pake dikunci lagi, biasanya kan gak, sial!" Omel Dita dalam hatinya.
"Oh iya, proposal Dove musti aku kasi ke Pak Anton. Aku tidak akan mengecewakan Dove lagi" Naira dengan semangat membawa proposal itu pada Pak Anton, lalu menaruhnya dimeja kerjanya.
"Ngapain Lo disini!" Dorong Sinta dan langsung membuang proposal itu. "Kita udah gak butuh proposal Lo!" Bentaknya.
"Kak Sinta memang gak butuh tapi ini punya Kak Dove! Jahat kamu! Pergi!" Dorongnya membuat mereka terlibat bangku hantam.
"Lo ngaku jadi pacarnya, tunangannya, Lo tahu dia dimana?" Tanya Sinta menarik rambut Naira. "Sakit kak!"
"Sinta! Lepas!" Robert melepaskan tangan Sinta dari rambut Naira. "Gila! ini sekolah bukan ring tinju. Sinta, Lo udah mau kuliah masih aja suka dengan hal kayak gini!"
"Gw mau kasih pelajaran sama dia!"
"Lo siapa? cuman Dove yang berhak!" Tegas Robert.
"Kak Robert, dimana Kak Do..."
"Naira!" panggil beberapa teman-temannya. dan saat ia berbalik tumpahan tepung jatuh tepat diatasnya, ditambah lagi dengan tumpahan air yang membuatnya basah, beberapa yang lain juga masih melemparinya dengan tepung. Semua tubuhnya dipenuhi oleh tepung, mukanya, baju yang dia pakai kotor semua karena tepung.
"Kenapa kalian ngelakuin ini, apa salahku?" tanyanya berteriak.
"Karena lo adalah sasaran Shot Genk!" teriak anak-anak sambil tertawa.
Dari lantai dua, Dion melihat semua kejadian itu dengan tampang mukanya yang bahagia.
"Itu semua yang harus lo dapat karena membuat Dove seperti itu!" Ucapnya senang, bibirnya tersenyum nyinyir menertawakan nasib Naira.
"Dion! kamu jahat dia sahabat aku, seharusnya kamu gak begitu kasar padanya, dia itu gak sepenuhnya salah, sekarang lepasin dia dari Green Light mu yang konyol itu" teriak Dina didepan wajah Dion.
Dion mulai kesal dan tidak terima dengan sikap Dina, "Hei! Dia yang salah. Dia udah buat temen gw menderita. Lo gak tahu apa-apa jadi mending diam!" Ancam Dion.
"Aku gak takut!" Balas Dina.
"Gw gak akan berhenti! Sekarang, Lo adalah mantan gw, Dina!! Paham, jauhkan tangan lo dari gw!" dia membentak dan mendorong Dina tak berperasaan.
Dina, gak akan gw biarin Dove menderita sekali lagi, andai ucapan itu tidak pernah keluar dari mulut Dove, mungkin aku tidak akan pernah seperti ini!! ucapnya dalam hati.
Hatinya terbakar oleh amarah yang memuncak dan semua yang dilakukan Dina dan Naira membuatnya menjadi lebih kesal dari sebelumnya. Dia sangat membenci Naira.
"Dove juga salah!" Bela Dina.
"Salah, Naira yang salah. Dia buat Dove masuk RS! Dina jangan sampai Naira tahu!" Ancamnya.
"Apa? Dove masuk rumah sakit?"
Flashback sebelum Dove jatuh,
"Dion, kamu dimana?"
Aldo lalu mendorong Dove yang sedang menerima telepon dari Dion. Dove pun tersungkur di lantai bersemen. Ponsel itu juga terhempas dari genggamannya, "Dove, lo kenapa? Jawab!" teriak Dion.
Dion mempercepat gerakkannya menuruni anak tangga hingga dia berhenti pada satu titik dimana dia melihat Dove dan Aldo berdiri berhadapan.
"Lo jahat, Lo tega Dove, Lo bilang akan mengorbankan segalanya, Gw saudara lo. Kenapa lo gak bisa sedikit mengorbankan kebahagian lo demi gw! Lo punya segalanya, gw cuman mau Naira aja" Ucap Aldo yang berjalan mundur mendekati anak tangga.
"Aldo, aku akan mengorbankan apapun tapi gak Naira. Aku gak bisa Do! aku udah coba tapi aku gak sanggup kehilangan dia. Tolong ngertiin Do, jangan begini." Dove memohon sambil berjalan mendekat pada Aldo yang penuh amarah pada Dove.
"Kalau gitu hubungan persaudaraan kita berakhir sampai disini!!" Teriak Aldo dipenuhi amarah, kekecewaan, kesedihan, rasa iri yang terlalu besar. Air matanya sudah terhenti berganti dengan luapan kebencian pada Dove.
"Gak! Lo saudara gw, kita punya ayah yang sama. Gimana bisa putus hubungan! Aldo, gw mohon jangan hanya karena Naira, hubungan persaudaraan kita hancur. Do, please jangan!!!"
"Iya, karena Naira, dia cinta pertama gw Dove, puas lo!! kalau lo mau kita tetap bersaudara, serahin dia ke gw" Ucap Aldo memaksa sambil terus berjalan mundur mendekati anak tangga.
"Gak, dia bukan barang yang bisa gw serahin ke lo, dia juga cinta pertama aku Do, kamu tahu itu" Ucap Dove tegas pada Aldo.
"Fine!! Kalau gw kehilangan dia, gw akan" Aldo tak sengaja menginjak batu, dan membuatnya terjungkal kebelakang. Dove yang melihatnya menariknya dan berputar arah. Aldo yang kaget melepaskan tangannya dan membuat Dove, jatuh dari tangga.
Melihat pertengkaran mereka, persaudaraan itu harus hancur karena seorang wanita, Naira. Dion semakin terkejut, saat dia melihat Dove jatuh di depan matanya, kakinya terasa lemas, tangannya gemetar, mulutnya pilu terlalu sulit untuk meneriakkan namanya Dove.
"No!!! Dove!!!" Teriak Dion dari kejauhan, hanya penyesalan yang didapatkannya, Dove sudah tak sadarkan diri dengan darah keluar dari kepalanya. Dia berlari menuruni anak tangga, yang iya rasa tangannya sudah penuh dengan darah Dove.
"Aldo cepat telepon ambulance!" Teriaknya.
"Cepat! Dove!" Teriaknya lagi pada Aldo yang masih shock.
Di rumah sakit,
Dokter keluar dengan mukanya yang cemas, "Tangan kirinya mengalami luka yang cukup serius." Dokter itu menghela napasnya, "saya takut, dove tidak akan pernah bisa menggunakan tangannya lagi. Luka di kepalanya sudah kami tangani. Operasi ini berjalan lancar."
Dokter itu pun pergi setelah memberitahukan kabar buruk itu. "Pa, Dove pa!" Mirna tak kuasa mendengar itu semua dan jatuh pingsan.
*****
"Naira, it's you" ucap Dion penuh amarah.
"Kak Dion!!" teriak Naira dengan bajunya yang kotor karena tepung.
"Aku gak takut, dan gak akan pernah takut! Ingat! kalian pernah mengerjai aku, bahkan membuatku masuk ke ruang BP tapi aku takkan goyah atau takut dengan semua ini, beritahu aku dimana Dove!" tegas Naira dengan berani.
Dion mencengkram tangan Naira, kuat. "Lo mau tahu keberadaan Dove? Kalau bukan karena lo, dia gak akan menderita!!" Dion mendorong Naira dan tak menghiraukannya.
Ditiupnya bekas tepung yang ada dipundaknya, serasa jijik setelah berada dekat dengan Naira. Naira hanya bisa menatap punggung Dion yang kini menutup jalannya menemui Dove.
Bel pengumuman berbunyi dan lagi-lagi nama Naira Seno disebut dan berakhir dengan panggilan menuju ruang BP.
Ditambah pengumuman itu juga ditujukan untuk dirinya, Wira, Chua, dan Robert. Mereka bertiga heran mengapa mereka dipanggil, kesalahan apa yang mereka lakukan?
Mereka akhirnya berempat bertemu didepan ruang BP. Mereka saling melirik satu sama lain, dan bertanya-tanya apa yang menjadi alasan bagi mereka untuk dipanggil ke ruang BP.
"Ini pasti lo, dasar trouble maker!" ucap Wira jutek.
"Udah mending kita masuk!" Lerai Dion.
Bunyi lemparan berkas diatas meja menjadi pemandangan dihadapan kelima orang itu, dengan kencang Pak Anton membanting proposal yang dibuat Naira tadi pagi.
Ekspresinya marah dan kecewa, semua menjadi satu. "Apa yang kalian lakukan, begini cara Dove menjadi penanggung jawab, acara tinggal sebentar lagi, proposal apa ini semua isinya gak bener, acak-acakan dan berantakan ini sama sekali gak pantas untuk dibaca, saya benar-benar kecewa terhadap Dove!" lalu Pak Anton menyuruh mereka keluar dari ruangan secepatnya.
Dari kejauhan Dita datang dan membantu Naira, dia hanya bisa menangis melihat proposal palsu yang membuatnya dibenci oleh semua orang.
"Gw mau sendiri, Dit" pinta Naira yang berjalan ke ruang locker dan menangis di sana.
Dove kamu dimana?
"Eh sori, disini locker nya Dita dimana? tadi katanya dia suruh taruh ini didalam locker" ucap salah seorang anak murid menghantar buku catatan milik Dita.
"Memangnya tidak dikunci?"
"Kata Dita, tidak dikunci."
Naira mengambil buku itu dan berjalan mencari locker Dita. Saat membuka lokernya, kedua mata Naira berubah, kedua pupil nya membesar, dihadapannya ada sampul dengan judul proposal perayaan ulang tahun SMA Harapan, dan disisi lain terdapat beberapa proposal-proposal atas nama dirinya yang sudah basah karena air.
"Proposalku kok bisa disini? isinya dimana?"
Semuanya kok bisa disini? semua ini kan proposal yang selama ini gw buat? Ini baju olahraga gw kan, kok bisa robek-robek? kok ada sama Dita?
Dia lalu membongkar kebagian lain dan menemukan foto Dita bersama dengan Dove. Mereka terlihat mesra. Tak hanya satu, ada juga foto pertunangan Naira dengan Dove. Muka Naira sudah dicoret-coret oleh spidol hitam. Aku pernah tunangan sama Dove?
Naira berlari mencari Dita, dia menemukan Dita sedang ada diruang BP dan membawa map berisi proposal atas nama Doveadi Ricardo. Di sana juga ada Wira, Robert, Dion, dan Chua yang sedang berdiskusi dengan Pak Anton.
"Pak, ini proposal atas nama Dove, kemarin dia menitipkannya pada saya, dia tahu naira akan mengacau jadi dia menitipkan ini pada saya" Ucapnya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah. Menerima proposal itu, ekspresi Pak Toni berubah saat membaca isinya. Pak Toni dan Pak Anton terlihat senang dan gembira begitu juga dengan yang lain kecuali Dion.
Pak anton memberikan tepuk tangan pada pekerjaan Dove dan Dita.
"Bohong!!" Ucap Naira dengan paksa membuka pintu ruang BP "Ini semua kerjaan saya!" Ucapnya membela diri.
"Eh jangan ngaku-ngaku punya bukti apa kamu?" Ucap Wira.
"saya, menemukan ini di lockernya" Ucap Naira membela dirinya terus.
"Omong kosong, bisa aja kamu yang ngelakuin pekerjaan bodoh kayak gini!" ketus Robert memojokkan Naira.
"Udah mending, kita nonton CD nya ini adalah konsep dari saya dan Dove" ucap Dita bangga pada kebohongannya.
CD pun diputar bukannya kebahagiaan malah kehancuran bagi Dita. Di dalam video itu adalah CCTV ruang BP, Ruang locker dimana dia sedang beraksi mengambil proposal Naira, membakarnya, menyiramnya dengan air dan bahkan menganti isinya dengan proposal lain. Selain itu juga ada video dia dan temannya yang dengan sengaja mengambil baju OR milik Naira dan merobeknya.
"Dita! Lo gila! gila!" Teriak Chua. "Lo bukannya anak orang kaya!" Tambah Wira heran dengan sikapnya yang seperti orang tidak normal.
"Dita!" Suara Dove muncul dari rekaman itu. Suara Dove! Ucap Wira.
"Dimana Aldo? Kamu telepon dia kecelakaan? Dimana?"
"Dia gak disini, kak!" Ucap Dita santai.
"Dita! Kamu gila ya. Aku itu panik Dit. Aku takut terjadi sesuatu sama kakak aku. Dita, please jauhi Aldo. Dia begini itu karena kamu. Kami pikir aku gak tahu!" Dove berusaha menjauh namun Dita memeluknya dari belakang, "Dita lepas!"
"Aku suka kak Dove, aku lebih pantas sama kakak. Naira gak pantas, dia bahkan lupa sama kakak." Teriaknya membuat Dove pusing dengan tingkahnya.
"Dia lupain aku karena kamu. Kalau kamu gak telepon dia hari itu. Dia gak ngeliat kita berdua, hal itu gak mungkin terjadi. Kamu adalah keselahan terbesar aku Dit."
"Aku gak mau kamu sama dia! Gimana kalau Naira tahu, aku adalah selingkuhan kamu dulu!"
"Dita, cukup. Aku akui, aku memang salah saat itu. Aku akan membayarnya, aku akan mengakui semuanya pada Naira. Dita, kamu lupa? Naira suka sama aku. Dia nembak aku di depan orang banyak. Dia jatuh cinta sama aku bahkan saat dia gak inget apa-apa. Tapi kamu? Setelah ini, ingat atau tidak dia akan membenci kamu."
"Kamu akan di cap penghianat!" Tambah Dove .
"Satu lagi Dit, aku tahu semua yang kamu lakukan. Jauhi Aldo atau aku akan membuat kamu malu! STAY AWAY FROM ME!"
"Gw benci Naira! Gw akan melakukan segala cara untuk membuat dia gagal!"
*****
Naira tidak pernah menyangka sahabatnya tega melakukan hal itu.
"Eh, dasar cewek berhati busuk!"
"Bukan saya, Pak!!" Dita mengelak.
Tak lama, Aldo datang dengan bukti paling kongkrit di HP nya.
"Kalau ini gimana Dita?" Ucap Aldo lalu memutar rekaman di HP nya.
Aldo, gw mau mengajak lo kerja sama. Lo mau mendapatkan Naira kembali kalau mau gw punya caranya ucap Dita. Aldo pun membalas dengan menanyakan bagaimana caranya. Dengan gamblang Dita mengatakan rencananya untuk menyuruh Aldo mengancam Dove untuk bunuh diri. Dia menyakinkan Aldo jika Dove pasti akan melakukan apapun untuknya. Di rekaman lainnya, terdengar Dita yang menyuruh Aldo untuk mengatakan pada semua orang jika kecelakaan yang terjadi pada Dove adalah murni kesalahan Naira, agar semua orang membencinya.
"Bagaimana Dita, lo masih mau berbohong!" ucap Aldo.
"Awas lo, itu semua bukan gw!" Ucap Dita masih terus mengelak.
Air mata Aldo menetes, dia mengambil handphonenya yang lain dari kantong kirinya, mengangkatnya, dengan tersedu-sedu dia berkata, ditariknya nafas yang panjang sebelum berkata, "Kalau ini bagaimana Dit?" Aldo memutar rekaman lain dari ponsel lamanya.
"Aldo, Lo lagi sama Naira?" Tanya Dita.
"Ajak ke lorong kelasku ya. Dove nyariin masih kasih kejutan." Tambahnya diiyakan oleh Aldo.
Naira mulai ingat semuanya, Dia ingat melihat Dove dan Dita sedang bersama-sama membaca buku di ruang kelas Dita. Dita adalah adik kelasnya 2 tahun di bawahnya.
"Dove!" Teriak Naira.
"Naira! Kamu kok bisa ke sekolah aku." Dove kaget dan berlari mengejar Naira.
"Kamu selingkuh sama dia, keterlaluan ya kamu. Aku gak mau dengar lagi, Naira membuang cincin pertunangan mereka."
"Naira! Aku gak mau putus!" Teriak Dove.
*****
"Gimana Dit, masih kurang?" Aldo memutarkan recording lainnya.
"Aldo, gimana Dove?"
Nada suara Dita terlihat gemetar dan ketakutan, "Lo kenapa? Dia baik-baik aja kok" balas Aldo kepada Dita.
"Do, lo harus bantu gw, gw gak sengaja ngebuat Naira kumat, dia teriak-teriak histeris. Gw cuman iseng aja, gw sengaja ngerjain dia, tapi gw gak tahu kalau bakal kayak gini, rencananya gw mau membuat dia merasa bersalah sama Dove" Ucap Dita yang semakin panik.
"Apa? Kok bisa udah-udah gini ya besok, Dove bakal balik ke Indonesia. Dove belum tahu keadaan Naira. Gw akan bantu lo!" Ucap Aldo menenangkan Dita.
"Dit, gw akan bantu lo, asal lo tutup mulut. Naira tahunya gw pacarnya. Tugas lo adalah buat dia membenci Dove, dan sekarang lo harus bisa berteman dengan Naira, paham!" Ucap Aldo dengan tegas.
"Paham!" akhir kata dari perbincangan mereka, Dita menutup pembicaraan mereka.
Setelah mendengar itu semua, mereka yang ada disitu terdiam. Naira, Dion, Chua dan Robert, Wira tak dapat berkata apapun.
"Maaf, Naira." dengan air mata penyesalan Aldo mendekati Naira yang masih terpukul mendengarnya.
"Naira, i'm sorry, i'm wrong" Kedua tangannya, bergerak mendekati tangan Naira yang masih kaku.
Bruuuukkkkkk !!!
"Wira!!" teriak Pak Anton kaget dan segera melerai mereka berdua.
Pukulan keras mendarat di pipi Aldo, pukulan dari Wira yang bahkan tidak pernah memukul orang lain. "Jangan pernah lo bawa dia." menunjuk pada Dita. "Atau diri lo masuk ke kamar Dove, lo gak pantes dan gak akan pernah pantas! Kakak macam apa Lo!" ucapnya lalu keluar sambil mendobrak pintu ruang BP keras.
"Ayo, Nai. Aku antar kamu ketemu Dove" Ajak Aldo dengan mata yang sangat menyesal sementara Dita duduk dilantai dengan lemas.
"Mau kemana Lo, jangan pernah lo menginjakkan kaki lo di sana!"
"Ngerti Bahasa Indonesia, ngerti ucapan Dion!" Ujar Robert mengikuti Wira.
Dion yang masih duduk di sana dengan santai berjalan mendekati mereka bertiga, dia mendekati Dita untuk pertama kali, "Dit, kira-kira gimana ya kalau orang tua Naira tahu, penjara mungkin tempat paling menarik bagi lo sekarang!" Ucapnya meledek.
Dia membelai rambut Dita, "Naira ! ini alasan mengapa Dove gak suka kamu berhubungan dengan Dita, karena dia tahu Dita membenci kamu! dengar itu Naira." ucap nya lagi dengan nada penekanan di setiap katanya.
"Dan sekarang sekutunya!" Dion berdiri memberikan tepuk tangan sambil mendekati Aldo. "Saudara rasa musuh!" tanpa aba-aba memukulnya. "Lo, gak lebih dari seorang penghianat berwajah baik dan sok alim. Dulu waktu lo kecelakaan, Dove yang memberikan darahnya buat lo."
"Apa yang Lo lakukan akan kamu sesali seumur hidup bahkan saat Dove sudah memaafkan lo, ingat itu!" Dion mengancam dan mendorongnya hingga jatuh.
Terakhir dia mendekati Naira, "Dan, lo bagaimana perasaannya saat tahu kalau sahabat dan mantan pacarmu adalah orang yang menyakiti kamu dan orang yang seharusnya lo cintai" Ucapnya membuat Naira tak bisa menahan air matanya.
"Jawab!" pinta Dion. "Oh! mungkin gak bisa jawab, tahu gw, ingat gw?" tanya dion lagi.
"Lo itu, Dion kan" Jawab Naira.
"Gw Dion, sahabat Dove masih kecil, lo ingat gw pernah bermain ke TK berkat bersama Adi, lo ingat kecelakaan yang terjadi di gedung itu, Lo kunciin Dove di ruangan yang gelap?" ucap Dion semakin menusuk.
"Jawab dong, bisu ya?" Ucapnya semakin memaksa, Naira tetap diam dan tak bisa membuka mulutnya.
"Lo dan Aldo, cocok kalau pacaran sama-sama penyebab penderitaan Dove, tapi Naira meninggalkan bekas paling kejam untuk Adi, jadi lebih baik lo gak usah ketemu sama Adi lagi!" Ucap Dion mengakhiri semuanya. Dia mengajak Chua keluar.
"Tidak Nai, kamu harus bertemu dengan Dove, dia menunggu kamu!" Aldo menarik tangan Naira, dengan cepat Dion menahan mereka.
"Lepasin, lo itu musuh Dove, lo mencegah kebahagiaannya!" Ucap Aldo. Dion mendekat dan menarik kerah Aldo, "Not me, but it's you!"
Dia mendekati Naira, lalu berbicara dari sebelahnya dia mengangkat tangan kanan Naira yang mengepal jari-jarinya kuat, "Your real enemy!" and "She is, your best friend is a traitor." Naira tak kuasa menahan semuanya, dia pun terjatuh didepan pintu ruang BP.
Dina yang melihatnya hanya bisa menangis dan mencoba menghibur Naira yang benar-benar terpuruk atas segalanya.
Dipandangnya semua didepannya, semua berakhir dengan penghianatan, dan aku adalah salah satu penghianat itu - Naira
"Aku dulu jahat banget ya Din ke Adi."