Nairadove

Nairadove
STOP IT!



"Aldo berhenti, cinta yang kamu dapat dengan cara seperti ini akan membuatmu sakit pada akhirnya"


"Aku yang telah memilih jalan ini." Aldo membanting pintunya keras, membuat Diva keluar dari kamarnya.


"Aldddoooo!!!" teriak Dove geram


Dove hanya sedih melihat saudaranya itu telah berubah menjadi seperti itu, menakutkan, melakukan segalanya hanya demi cinta bahkan menjadi orang lain.


Naira terus menghindar dari Aldo, dia berbohong dan terus mencari cara jauh dari Aldo, Naira memilih makan dikelas dibandingkan dikantin. Dove juga melakukan hal yang sama dia memilih untuk makan di ruang OSIS dan menghindari pertemuannya dengan Naira.


"Naira!" teriak Aldo. Naira heran dengan Aldo, mengapa dia menjadi begitu perhatian padahal biasanya dia termasuk pacar yang kaku dan cuek.


"Makan yuk, aku bawa nasi goreng" ajak Aldo dengan sedikit memaksa. Naira menghela nafasnya panjang.


"Oke deh" ucapnya.


"Kamu suka banget jaket itu ya?" Tanya Naira. Muka aldo pun senyum dengan bangga dia berkata bahwa itu adalah jaket kesayangannya. "Hitam? Kesukaan kamu" tanya naira penasaran. Aldo mengangguk dengan polos.


"Kita putus" ucap naira, menutup tempat makannya. "Putus? Kenapa ?" tanya Aldo.


"Karena kita udah gak cocok dan aku udah gak merasa nyaman sama kamu!! Aku merasa asing sama kamu Aldo. Do, lebih baik kita pisah, sekarang kita udah gak ada hubungan jadi lebih baik aku pergi." Naira melangkahkan kakinya namun Aldo mencegahnya.


"Aku gak mau putus!"


"Aku menyukai Dove!" Balasnya menohok.


"So, setelah putus, apa yang mau kamu lakukan?, menyatakan cinta pada Dove?" Ledeknya, matanya merah dan tangannya gemetar.


"Betul, aku akan bilang kalau aku mencintainya!" Naira mendorong Aldo agar segera menyingkir dari hadapannya.


Lapangan basket penuh dengan sorak sorai, pertandingan basket antar sekolah sedang berlangsung. Dove ditunjuk sebagai kapten basket. Banyak point yang sudah dihasilkannya. "Dove! Cahyo! Dove! Cahyo!" Teriak para gadis di sana.


"Kak Dove! Semangat! Semoga kamu menang!" Teriak Naira kencang sekencang mungkin. Dia merasa terbebas dari segala perasaan yang mengikatnya selama ini.


Setelah beberapa menit berlalu, bunyi Pluit berbunyi dan menandakan bahwa sekolah Harapan berhasil mendapatkan kemenangan untuk kejuaraan basket antar SMA tahun ini. Semua orang bersorak, teman satu teamnya mengangkat Dove seperti pahlawan. Berkat dirinya, SMA Harapan selalu menang.


"Ini semua juga berkat kalian!" Ucap Dove. "Chua, kenapa kamu diam aja." Tanya Dove kepada Chua yang tiba-tiba memberikan dia kode melalui matanya yang bergerak ke kanan. "Kenapa Chua?"


Tiba-tiba, dari belakang seseorang memeluknya dengan erat.


"Kak, aku suka dan cinta sama kamu, maukah kamu jadi pacarku?" Ucap Naira. Mendengar hal itu sontak membuat Dove berbalik arah dan melihat tulisan yang dibawa Naira, Maaf selama ini aku menyebalkan.


"Kak Dove, maukah kamu jadi pacarku?" Ucapnya sekali lagi. Dove hanya terdiam, bukankah dia pacar Aldo? Apa mungkin dia sudah putus dengan Aldo?


"Kak jadilah pacarku." Naira memeluk Dove lalu mencium pipi kirinya.


Setelahnya, tulisan I LOVE YOU terbuka, Nesya, Lita dan Dina ada disana memegang tulisan itu. Naira tersenyum sementara Dove mengingat kenangan mereka dimasa lalu.


"Adi adalah tunangan ku, kamu jangan dekat-dekat." Ucap Naira ketika mereka masih SMP. Ia mendorong teman-teman Dove yang ingin menggodanya. Dia memeluk Dove, "Jangan dekat-dekat!" Dia sangat protektif padanya.


"Gw, gak tertarik jadi cowok lo!" Ucap Dove lalu pergi meninggalkannya.


Diliriknya ke sisi kanan, Aldo dengan muka yang penuh amarah menatap dirinya seperti ingin memakannya. Semua genk nya ikut dibelakangnya. Dita yang duduk diantara bangku penonton kesal, sementara Diva yang duduk disebelahnya tersenyum kecil dengan tampang sombongnya.


"Lo yakin?" Tanya Dion namun Dove tak menjawab dan hanya memejamkan matanya dan masuk ke toilet.


"Kak Dove, aku benci sama kamu!" ucap Naira dalam hati.