Nairadove

Nairadove
MEMORY



TOK.. TOK.. TOK!!


"Boleh gw, masuk?" Tanya Aldo dengan mukanya yang masih biru-biru.


"Boleh, Al" Ucapnya Dove sambil menghapus air matanya.


"Dove, ini buat lo, coklat kesukaan lo, dan ini .." Dia melemparkan sarung tinju ke Dove. Dove mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah, "Aku gak mau berantem lagi" lalu beranjak pergi, sebelum dia keluar, Aldo memanggilnya.


"Dove !!!" panggil Aldo dengan suara yang nyaring namun adik laki-laki itu tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan lalu mengambil jaketnya bersiap untuk pergi, Aldo pun mendekat, "Dove dia pacar gw" Teriak Aldo.


Dove tetap tidak perduli, Aldo kesal lalu menarik baju Dove dan mendorongnya ke kasur, "Jauhi dia, dia pacar gw!" Ucapnya sekali lagi. Tangannya siap memukul Dove tepat di depan matanya. Dove mendorong Aldo dan bangkit dari tempat tidurnya,


"Gw tahu dia pacar Lo! Tapi, kenapa Lo takut?" Jawab Dove. Aldo semakin kesal dan putus asa setelah Dove mengatakannya, dia mulai merasa terancam dan takut.


"Lo harus mengalah, lo memiliki semuanya, lo bilang kita bersaudara, gw sendirian Dove, gw gak punya siapa-siapa lagi, lo bilang akan membagi kebahagiaan lo, mana janji lo waktu kita kecil dulu" sambil menarik leher kaos Dove.


"Semua pasti akan kembali, Aldo, kenapa lo harus takut?" Tanya Dove balik, "gw.." Aldo lalu memukulkan kepalanya ke samsak yang terpasang dikamar Dove. "Gw udah suka dia sejak pertama kali aku ketemu dia."


Dove kaget dengan tindakan Aldo yang menyakiti dirinya sendiri, "Gw gak akan berhenti, sebelum lo bilang gak ada apa-apa sama Naira!" Ucap Aldo menangis. "Dove bukannya dulu Lo gak suka sama Naira. Lo nolakkan waktu di jodohin sama dia."


"Aku gak ada apa-apa sama Naira" Dove memeluk Aldo. Dove juga menitihkan air matanya sedangkan Aldo dalam pelukannya, ia juga merasakan sakit di hatinya.


Aku gak bisa membohongi perasaanku, ini terlalu sakit Aldo, sakit, kita mencintai orang yang sama. Al, kenapa harus dia hidup dan harapanku.


Aldo melepaskan pelukannya dan kembali ke kamarnya. "Promise!" Ucap Aldo memperingatkan lagi.


Dove hanya bisa memandangnya dengan rasa sakit yang cukup dalam.


*****


Setelah kejadian itu, Dove mulai menjauhi Naira tanpa alasan. Dia semakin menghindar justru membuat Naira terus mengejarnya.


Kenapa seperti ini? Mengapa Aku terus mengejar Kak Dove?


Dove membuat keputusan besar demi menghindari Naira, ia memilih untuk mundur dari kelas OSN dan menyerahkan tugas sebagai ketua kepada Sinta. Naira semakin merasakan kehilangan Dove.


"Kak Dove." Panggil Naira.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Dove yang sedang bertugas membersihkan Perpustakaan.


"Kak Dove" panggil Naira, membuat semua anak-anak di perpustakaan menoleh padanya,


"Ajarin aku mat boleh, besok seleksi olimpiade, bisa?" tanya lagi.


"Gak, aku gak mau ngajarin kamu, minta tolong kakak yang lain aja. Aku bukan anak OSN lagi." Jawabnya dengan ketus.


"Kak, bisa ajarin ini?" Tanya siswa lain.


"Oh, boleh!" Dove menerima buku yang disodorkan oleh siswa itu dan mengajarinya dengan senang hati.


Naira cemburu dan kesal dengan sikap Dove, hatinya panas dan ini belum pernah dialaminya. Dia menarik nafasnya panjang, lalu dia menyelipkan kepalanya diantara Dove dan siswi itu.


"Oh! kalau ini mah aku juga bisa. Ini gampang banget, ini ada kok dibuku, bentar ya aku ambilkan jadi kamu gak perlu belajar dari orang lain" celoteh Naira.


Dia lalu berlari dan mengambil buku yang berhubungan dengan fisika dan pertanyaan siswi itu. Semua buku fisika yang ada di perpustakaan. Dove yang merasa terganggu ketika mengajarkan adik kelasnya itu sementara Naira terus bolak-balik sambil membawa buku-buku yang tidak berhubungan dengannya.


Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pindah tempat dan Naira tetap mengikutinya.


Dove beranjak dari tempat duduknya dan mendekati tumpukan buku yang dibawa Naira.


"Kak ini bukunya, semua jawaban pertanyaan itu ada disini." Ucapnya menganggu Dove dan siswi itu.


"Naira.." Panggil Dove, "coba kamu liat, ini semua benar buku fisika, tapi buku yang kamu ambil itu gak ada hubungannya dengan sama pertanyaan dia, ini semua buku fisika kelas 2-3, sedangkan dia masih kelas 1"


"Oh gitu, ok!" Naira buru-buru mengambil buku fisika kelas 1. Saat hendak kembali Dove sengaja menyandung kaki Naira dan membuatnya jatuh dan ditertawakan murid lain,


"Apa yang mau kamu lakuin? Sakit jatuh?" tanyanya sinis pada Naira. Naira tak bisa berkata apapun dia hanya melihat Dove.


"Jangan ganggu aku." Dove meninggalkan perpustakaan sambil membawa buku novel ditangannya berjudul the Miracle Can Happen buku kesukaannya.


Kejadian selanjutnya, Ditempat Parkir. Naira dan Dove saling bertemu. "Kak Dove!" Sapa Naira. Dove justru berpaling dan menyapa yang lain, "Sinta, pulang bareng yuk" Sinta kaget dan merasa sangat senang orang yang disukainya selama ini memberikan respon untuknya sementara Diva dan Dita tidak terlihat senang dengan pemandangan ini.


"Naira, pulang bareng yuk!" Ajak Aldo dan Naira mengiyakannya. Selama perjalanan, tak ada pembicaraan diantara mereka, hati Naira tetap kesal selama perjalanan. "Aldo, kita mampir ke tempat favorit kita yuk, aku lagi bete banget. Kalau kita ke sana akan lebih baik." Ucap Naira mengajak Aldo.


"Tempat favorit, oh restauran mie ayam itu ya" ucap Aldo.


"Hah, bukan Aldo, tempat favorit kita waktu main dulu, kamu ingatkan masih kecil kita suka main di sana?" Naira bingung Aldo bahkan tidak ingat tempat itu.


"Dimana ya, aku lupa? Oh TK ya, kitakan suka main di sana? Ayo kita ke TK?" Aldo lalu memutar jalannya menuju ke TK Berkat.


"Gak usah Aldo, aku gak mau ke sana, aku lapar, sekarang aku mau kamu ikutin aku, aku mau kasi kejutan buat kamu?" Naira menunjukkan jalan ke suatu tempat dan Aldo mengikutinya, mereka berhenti di depan sebuah warung cilok dan roti bakar yang sangat kuno dan tua. Naira turun dan membelikan satu porsi untuk Aldo namun ia menolaknya dan malah menyuruh Naira membuangnya.


"Naira, aku gak suka sama cilok ataupun roti bakar, udah deh mending kita pulang ya" Ajak Aldo lagi.


Apa? Aldo tidak suka cilok? Gak mungkin ini makanan kesukaannya saat kecil. Saat SMP kami masih sering kesini. Dia yang memperkenalkan aku dengan tempat ini.


Dia mulai merasa ada yang berbeda dengan Aldo dan mulai bertanya-tanya tentang dia apalagi setelah dia melihatnya membuang cilok itu begitu saja.


"Hey! Kucing kamu lucu banget!" Panggil Aldo didepan Naira.


"Kamu suka kucing, Aldo?" Tanyanya heran karena seingetnya seharusnya Aldo membenci kucing karena ia alergi bulunya. Dia bisa bersin-bersin sampai menangis kalau udah kena binatang satu ini. Namun, kini dia suka sekali. Mungkinkah bisa berubah?


Apa kah dia benar pacarku? Tanyanya dalam hati.


"Nai, ayo naik!" Aldo memberikan helmnya.


"Gak, gak perlu, sejak kapan kamu gak suka cilok, terakhir kali kamu meneleponku kamu bilang kamu ingin makan cilok bersamaku. kamu benar- benar pacarku kan ?" Tanya Naira. Aldo seketika terdiam dan membeku, "aku Aldo Nai-ra. Pacarmu." Jawabnya terbata-bata. Naira lalu pergi meninggalkan Aldo sendirian.


Kenapa dia berubah? Ada apa sebenarnya? Apakah mungkin orang bisa berubah secepat itu? Apa mungkin dia tidak menyukai apa yang dia sangat sukai dulu?


"Sejak kapan kamu suka kucing?"


"Sejak kecil. Aku punya banyak peliharaan kucing."


"Oh gitu...." Tanyanya.


Aldo bahkan tidak pernah tahu apa yang aku sukai, warna kesukaanku, apa makanan kesukaanku, padahal aku sudah memberitahunya jauh sebelum aku mengalami kecelakaan.


Naira mulai mengingat saat pertama kali dia bangun dan melihat Aldo di sampingnya sambil bermain game ponsel ditangannya.


"Hey, kamu udah bangun?" tanya Aldo. Naira lalu memegang tangan pacarnya dan Aldo mulai jatuh cinta padanya. "Kamu siapa?" tanyanya yang masih setengah sadar.


"Aku pacar kamu." Dia lalu menunjukkan kalung bandul D dan memakainya ke tangannya, Naira pun tersenyum.


"Namaku Aldo, D berarti Aldo." Tambahnya, "Kita bahkan sudah bertunangan."


Dia juga ingat bahwa Dove yang tahu warna kesukaannya, tahu makanan kesukaannya saat mereka sama-sama berada di Desa Sekar dan bahkan dia bertemu dengan Dove di danau tempat favoritnya.


Kenangan ketika di Desa Sekar, "Ini Ibu masakin ikan pedas Ini makanan favorit disini. Khusu untuk buat Dove dibuatkan yang tidak pedas, soalnya katanya kamu gak suka pedas kan?" Ucap Ibu Ninuk bangga karena ia hafal makanan kesukaan Dove.


Bu Ninuk memberikan piring khusus untuk Dove namun dia justru memberikannya untuk Naira. "Saya, tahu kamu gak suka pedas, ini makan punya saya. Saya masih bisa makan pake sayur." Ucap Dove.


Keesokkannya ada sebuah pelatihan yang diberikan oleh Bu Ninuk kepada warga untuk membuat tas dari bahan rajutan, Dove dan Naira mengikutinya. Naira memilih tali warna-warni untuk tasnya namun Dove hanya menggunakan warna biru muda untuk membuat tasnya.


Naira yang membuka lokernya terkejut melihat, kotak besar ada didalam lokernya didalamnya terselip kertas bertuliskan terima kasih sudah menjadi tim yang hebat. Didalamnya juga ada tas yang dibuat Dove untuknya. Dia sangat senang karena warnanya biru sama seperti warna favoritnya.


Kenapa harus dia yang lebih tahu?? tanya lagi dalam hatinya.


"Aldo, aku turun disini aja tadi janjian sama papa. Hati-hati ya dijalan." Pesannya sebelum Aldo pergi.


Hujan turun dengan lebat, Dove yang lewat disitu setelah mengantarkan Sinta ke rumahnya. Dove membunyikan klakson mobilnya untuk memberitahu Naira jika dia melihatnya. Naira berhenti dan berputar tak sengaja terjatuh. Dove lalu turun dan menghampirinya, dalam hujan yang lebat, Naira mengatakan sesuatu yang membuat Dove bimbang atas pilihan dan janjinya.


"Dove, kenapa aku punya perasaan ini, kenapa kamu lebih mirip dia dibandingkan dia yang selalu ada di depanku? Apakah aku berilusi mengingat hal-hal yang tidak dia sukai? " Naira lalu memeluknya.


"Dove, Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Naira lalu pingsan di pelukan Dove.


"Kamu mau aku jadi siapa?" Tanya Dove.


"Bukankah aku tunangan mu, i'm here Naira." Dove lalu memeluk erat Naira dan menggendongnya masuk ke mobil dan mengantarnya pulang.


Dia yang tahu banyak tentangku, kini memiliki hatiku.