
Ternyata dia selalu mencoba memberitahuku, membuatku berada di dekatnya untuk menghabiskan waktu bersamaku. Namun sayangnya, aku yang tidak pernah peka.
Krinnnngggg... kriiiingggg....
"Aduh! Jam berapa sih ini !!" naira menarik bantalnya lalu menutup kepalanya.
"Non, bangun non, ada temannya dibawah" ucap bibi sambil mengetok-ngetok pintunya.
"Bi, suruh pergi aja" Naira melanjutkan tidur dan tak peduli siapa yang datang.
Suara handphone berbunyi, bersamaan dengan suara klakson mobil yang bergema, membuat tidurnya terganggu.
Tin.. tin... tin... tin... tin.. tin ...
"Naira Seno bangun!!!" Ucap Dove lewat telepon.
"Duh, ngapain sih ini kan hari minggu bukan senin" balas naira dengan suara yang terdengar bermalas-malasan.
"Hari ini, kita musti check tempat buat acara, sebagai asisten kamu harus ikut" Ucap Dove tegas dengan nada yang sedikit menyuruh.
"Hari minggu yang bener aja." Naira menutup teleponnya lalu massage masuk dari Dove yang tertulis ada Pak Anton, gak mau ikut?" Membacanya membuat Naira buru-buru untuk bersiap-siap.
Dengan wajah senyumnya, dia masuk ke mobil dan mengucapkan salam, "Pagi pak Anton maaf pak saya kelamaan."
Sadar tidak ada Pak Anton kemudian ia mulai ngomel. "Loh mana bapaknya, katanya ada.." Ucap Naira kesal.
"Emangnya saya bilang kalau ada Pak Anton di mobil saya?" Balas Dove meledek.
Dove memasangkan sabuk pengaman dan memberikan Naira kotak makan berisi bola nasi, buatan mamanya.
"Ini, saya tahu kamu belum pasti makan." Dove menyodorkan tas makannya.
"Wah! enak banget! Kok kamu tahu aku suka bola nasi, ada udangnya lagi." Tanyanya sambil menikmati sarapan itu.
"Itu semua gak gratis! Bayar! kamu harus nulis laporan dan kumpulin di hari kamis!! paham!!"
"Gw tahu kok, Lo ngerjain gw. Mana ada jadwal ngecek gedung di Hari Minggu, terus bapaknya mana, dia gak ikut sama kita?" Celetuk Naira.
"Gak ada lah, lagi piknik sama keluarganya, tapi ini Pak Anton" Dove memberikan telponnya yang terhubung dengan nomor Pak Anton.
"Hallo!!" Jawab Pak Anton.
"Pak Anton, hari ini memang jadwal ngecek, gedung ya pak?" Tanyanya.
"Hari ini Minggu, kamu rajin sekali Naira. Bapak bangga. Lanjutkan tapi kamu jangan merepotkan Dove." Balasan dari Pak Anton membuatnya kesal dan merasa dipermainkan oleh Dove.
Dibantingnya handphone itu lalu keluar dari mobil. "Naira" Teriak Dove.
Handphone Naira kembali bergetar, ia membaca pesan yang dikirim untuknya. Isi pesan itu membuatnya memutuskan untuk kembali masuk kedalam mobil.
"Udah dihubungin gedungnya?" Tanya Naira lagi.
"Belumlah, kamu aja yang hubungin." Naira kesal sangat kesal, lalu meminta handphone Dove.
"Ngapain? Punya pulsa? telepon dong." Balas Dove tambah membuat Naira naik darah. Ditariknya nafas yang panjang, Naira mencoba sabar menghadapi Dove yang keterlaluan padanya. Dia menghubungi pemilik gedung dan membuat janji.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah tempat penuh dengan anak-anak gelandangan dan mereka yang bekerja sebagai pengamen. Mereka terlihat bermain-main dengan teman sebayanya dan mainan seadanya.
"Ayo turun!" Ajak Dove.
"Ngapain kesini, ini kotor, jorok lagi!" Naira menolak untuk turun.
"Percaya sama aku, kamu pasti akan suka disini. Disini kamu bisa ketemu sama anak-anak yang lucu dan baik " Dove turun sambil membawa kardus berisi hadiah dan mainan yang sudah dipersiapkannya. Dia mengajak naira untuk turun.
"Semuanya" teriaknya membuat anak-anak tersebut mengalihkan perhatiannya pada Dove dan Naira yang merasa jijik dengan tempat ini.
"Anak-anak hari kakak bawa teman kakak untuk bantu kalian mengajar disini. Kakak yang itu cantikan, namanya Kak Naira" Tunjuk Dove sambil tersenyum.
"Kak Naira" panggil anak-anak itu.
Naira masih merasa jijik dan enggan datang ke sana. Dove tahu Naira merasa jijik, dia lalu menghampiri Naira dan mengajaknya untuk mendekat tapi dia tetap saja menolak. Naira hanya ingin menunggunya di mobil, "kalau gitu kamu tunggu aja di mobil." Ucap Dove lalu kembali kepada anak-anak.
Dove membantu anak-anak disini dengan mengajar tanpa dibayar. Baginya, hidup yang benar bukan hanya untuk dirinya namun berguna bagi orang lain. "Keseimbangan hidup adalah kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri dan orang lain." Ucapnya membuat Naira terpanah.
Bagiku, ini baru pertama kali seseorang mengatakan tentang makna hidup dengannya. Awal mula pembicaraan yang dewasa, dia menganggap ku dewasa bukan lagi anak kecil atau gadis pembuat Onar.
"Nai, banyak hal yang kita bisa bagikan buat orang lain salah satunya adalah ilmu yang kita dapat di sekolah, kita bagikan ke anak-anak disini. Mereka berhak untuk tahu dunia." Tambahnya lagi lalu bertanya mengapa Naira terus melihatnya. "Aku ke sana ya, Naira."
Aku gak menyangka dia bisa sebaik itu. Tunggu! Wait! Naira, kenapa kamu memuji dia? Kenapa jantungku berdebar dan perasaan apa ini?
Aneh! Naira memegang dadanya. Sesuatu perasaan tidak nyaman saat Dove melepaskan tanganku dan melangkah jauh dariku, aku merasa ada yang hilang.
Kata-katanya yang menyuruhku untuk mengingatnya waktu itu selalu terbayang-bayang di wajahku dan pikiranku.
Ada hubungan apa aku dengan Dove ? Mengapa sampai sekarang aku mencoba untuk mengingatnya kalimat itu?
Tidak Naira, ingat dia hanya mengerjai mu, dan mempermainkan mu dia membuatmu jatuh cinta dan menolak cintamu begitu saja di depan banyak orang. Sekarang dia membuatmu bekerja untuknya hanya untuk mengerjai mu, kau tak boleh luluh olehnya. Tapi kenapa kakiku justru mengikutinya seperti ini?
"Tidak!!!" Teriaknya membuat semua anak tertuju padanya. "Ada apa Kak Naira?" Tanya salah satu anak di sana?
Naira tidak menjawab hanya menggeleng, "Aku tunggu di mobil aja ya" Naira memutuskan untuk kembali ke dalam mobil.
"Aduh" teriak Naira kesakitan karena tak sengaja menginjak batu.
"Naira!" Panggil Dove yang masih memegang buku ditangannya.
Aduh! Naira pake jatuh segala. Nai, mukamu mau ditaruh mana? Aduh! Dove ngeliat lagi.
Naira benar-benar malu, OMG! dia mendekat! Tenang naira, tenang. Ia mencoba untuk clam down.
OMG tangannya memegang bahu gw, Naira stay clam down.
Dove langsung lari menghampirinya, membantunya berdiri, dan membersihkan sisa tanah yang menempel dikakinya.
"Kamu, Kenapa Naira kok bisa jatuh sih? Ada luka? Syukur deh kamu gak terluka sama sekali" Dove membantu Naira dan memapahnya duduk di bangku kayu.
Dove, kenapa kamu harus sebaik dan perhatian ini, gw gak bisa move on.
"Udah sini biar gw aja sendiri." Ucap Naira ketus.
"Udah biar aku aja tapi ini gak luka kok. Hanya beset aja, ada salep di mobil, aku ambilkan."
"Gak usah!" Balas Naira tambah ketus.
Gak! Aku gak bisa kayak gini. Ini namanya aku di PHP! Luar biasa! Jujur, aku gak bisa membencinya. Aku menyukainya sangat menyukainya.
Air mata Naira mulai jatuh dan dove langsung memeluknya, "Udah jangan nangis, gak ada yang luka."
Oh My God! jantung gw mulai lagi. Aduh tambah kenceng lagi. Ini Dove denger gak ya, aduh mau copot nih jantung. Dove yang masih mencoba menenangkan Naira. Tiba-tiba Naira merasakan sesak di dadanya.
"Kamu kenapa Naira, dada kamu sakit? Kamu ada asma? Pipi kamu juga merah"
"Gak kok! Gak ada cuman kayaknya baru muncul hari ini deh. Aku merasa sesaknya udah akut deh, gak bisa nafas, udah deh kak mending balik tuh." sambil mengusir Dove pergi menjauh darinya.
"Ok!" Dove kembali mengajar anak-anak.
Naira duduk di bangku kayu, agak jauh dibelakang anak-anak duduk. Dari bangku itu, dia bisa melihat Dove lebih jelas. Dove kembali mengajar anak-anak, dia terlihat sangat bahagia ketika melihat anak-anak tersenyum bahagia dengan pelajaran yang diajarkannya. Senyum lebar dan tawa tak pernah berhenti muncul di wajahnya, dia selalu tersenyum kepada semuanya dan dengan sabar mengajarkan anak-anak itu satu persatu.
Pesonanya, senyumnya membuat Naira senyum-senyum sendiri. Sesekali dia melihat kearah Naira dan tersenyum padanya meskipun gadis itu pura-pura tak melihatnya dan sibuk sendiri.
"Kak Naira, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya salah satu anak di sana lagi.
Naira menggeleng, "lagi olahraga mulut." jawabnya jutek. Lalu anak itu berbalik dan bertanya pada Dove yang sedang mengajar anak yang lain.
Anak itu menghampiri Dove lalu menarik bajunya, menunjuk pada Naira. Ia lalu berkata, "Kak, itu pacarnya galak banget?" Dove tersenyum mendengar pertanyaan itu, diapun menjawab. "Gak mungkin cewek galak kayak gitu jadi pacar kakak, dia bukan type kakak." jawabnya sambil tertawa lalu membagikan hadiah yang telah dipersiapkannya.
What! Bukan type, awas ya!!! Ucap Naira kesal dalam hatinya.
Setelah membagikan hadiah dan mengajar Dove berjalan mendekati Naira, "Ayo balik!" ajak Dove, "Aku mana bisa jalan!" Naira mengeluh.
"Kamu punya kaki, kok gak bisa jalan?" jawab Dove ketus.
"Dasar pembuat onar, bukan itu, ini sakit!" Naira mengeluh lagi dengan nada yang kesal dan sedikit berteriak. Perkataan Naira benar-benar membuat Dove kesal, dia menghampiri Naira dan menanyakan kembali apa yang diucapkan Naira.
Naira menjawab dengan sangat polos, "Pem-bu-at-o-nar!" Teriaknya membuat Dove semakin marah, ia berniat meninggalkan Naira.
"Ayo" Dove mulai melunak.
"Gimana cara jalannya orang sakit gini." Ucap Naira lagi. Tanpa aba-aba, "Ini pegang" Dove memberikan kunci mobilnya pada Naira kemudian ia menempelkan tangan gadis itu dipunggung lalu mengendong nya. "Berat banget sih!" kalimat pertama yang diucapkannya setelah mengendong Naira yang berat.
"Turunin" Naira kesal.
"Kalau kamu bilang aku pembuat onar, lebih baik sekarang kita cepat ke gedung, abis itu pulang! kamu mau habisin waktu sama aku lebih lama lagi?" Dove berjalan ke mobil sambil mengendong Naira di depannya. "Buka mobilnya." Perintah Dove.
Didalam mobil, Dove membersihkan pakaian Naira yang kotor dengan tissue basah. Naira terus menatap Dove yang membersihkan bajunya, tangan serta kakinya yang kotor.
Sikapnya sangat gentleman, lembut dan perhatian, dia tidak terlihat menyebalkan tapi terlihat seperti pangeran kuda putih yang membantu sang putri.
Jantungnya mulai berdebar lagi dan pipinya mulai memerah. Saat Dove yang tiba-tiba mendekati wajahnya, dia bisa melihat dengan jelas mata lelaki itu, "Mata ini, sepertinya aku pernah melihatnya"
"Apa yang kamu liat?" Tanya Dove.
"Gak ada." ceplosnya.
"Hah, kamu gak bisa liat ada bayangan kamu dimata aku. Kalau gak mana mungkin aku bisa liat kamu." Balas Dove meledeknya.
"Kirain mau gombal" Ucap Naira.
"Kamu bukan pacar aku dan bukan siapa-siapa jadi buat apa aku gombalin kamu." ucapnya membuat hati Naira tertusuk.
Tapi jantung Naira tetap tidak mau berhenti, pipinya terus memerah.
Jantung gw! Naira stop!
Naira menyebutkan nama-nama makanan dan itu membuat Dove tertawa saat mendengarnya. Semakin Dove mendekat semakin cepat Naira berbicara.
"Lo lapar?" tanya Dove jutek.
"Gak kok, cuman.." Mulut Naira kaku saat Dove mengelap bekas kotoran yang ada di pipi Naira, jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
"Ngapain ngeliatin, katanya aku trouble maker tapi mau ditolong, gak takut sial!" Ceplos Dove meledek pada Naira. Naira yang mulai melunak kembali dibuat sebal oleh Dove.
Naira lalu mengambil tissue basah itu lalu mengelap mukanya sendiri.
"Oh iya, kalau makanan khas orang Papua apa tadi belum disebut?" Ledek Dove membuat Naira tambah kesal.
Hahahaha!
*****
Diruang kesenian,
Dove masih mengerjai Naira dengan menyuruhnya untuk mengerjakan semua dekorasi di Hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sabtu dan Minggu! Hari libur yang seharusnya dia pake untuk istirahat dan pergi dengan teman-temannya. OMG!
"Selamat siang bapak dan ibu sekalian saya dari SMA Harapan beserta rekan saya, Naira akan mempresentasikan tentang konsep dan jadwal dari acara ulang tahun sekolah kami yang akan diadakan pada bulan Oktober mendatang. Saya persilahkan Naira untuk mempresentasikan proposal kami, silahkan Naira." Dove mengarahkan pandangannya kepada Naira, memberikan kode melalui gerakan matanya.
"Aku!" Naira bingung dan kaget, dia bahkan tidak menyiapkan bahan apapun dan materi apapun untuk rapat hari ini. Dia benar-benar mati kutu, dia melihat ke sekelilingnya, semua orang menunggunya untuk berbicara, kaki dan tangannya dingin. Dia gugup sedangkan Dove terlihat tenang dengan sesekali melihat padanya.
Dove awas ya! Lo gak ngomong kalau mau meeting, udah mendadak, presentasi lagi. Awas gw balas nanti! Dia terus mengumpat sambil melirik pada Dove yang terlihat santai setelah apa yang dia lakukan pada Naira.
Dia butuh bantuan. Naira menendang kaki Dove, matanya melotot dan marah, dia juga mencubit tangan cowok menyebalkan itu.
"Apa?"
"auuuu, sakit!" Teriak Dove pelan, dia lalu tersenyum nyinyir lalu memberikan kertas yang sudah dipersiapkan Dove untuk presentasi.
"Itu baca" Bisik Dove ditelinga Naira.
Tak tahu apa yang harus dia lakukan, Naira lalu berdiri dan membacakan semua yang tertulis dalam kertas, tanpa dia sadari di dalamnya ada sebuah jebakan dari Dove untuknya.
"Saya sendiri yang akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi di lapangan, jadwal dekorasi gedung akan dilakukan pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu." setelah membaca kalimat terakhir dalam alinea itu, Naira langsung berhenti.
"Hari Sabtu dan Minggu??" Dia melirik pada Dove yang tersenyum tanpa merasa bersalah padanya.
"Jadi, begini pak masalah yang berurusan dengan dekorasi bisa langsung menghubungi Naira, karena seperti yang sudah dia dikatakan bahwa dia akan bertanggung jawabnya ke depannya." Ucap Dove di depan semuanya.
"Ok, saya setuju, kamu Naira saat dekorasi atau apapun yang berurusan dengan gedung kamu harus ada dan stay here. Sepertinya rapat bisa diakhiri, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak." Ucap salah satu yang hadir di sana.
Dove hanya tersenyum dan mengiyakan, mereka lalu bersalaman sebagai tanda kerja sama ini. Dia tertawa bahagia setelah berhasil mengerjai Naira sementara dia benar-benar marah, mulutnya cemberut dan bete.
"Ayo makan!" Ajak Dove tanpa rasa bersalah.
"Kak Dove tuh ngerjain aku, hari Jumat, Sabtu dan Minggu harinya orang buat senang-senang bukannya kerja. Kakak nyebelin banget!!" Naira mengeluh, sangking marahnya dia menangis di depan Dove yang terlihat tanpa ekspresi melihat Naira.
Naira terus menangis, Dove memberikan sapu tangan miliknya lalu mengusap air mata Naira. "Terus kamu maunya apa, tadi kan kamu udah setuju, kenapa tadi gak ngomong kalau gak setuju?" tanyanya.
Naira berharap Dove mau merubah jadwalnya, tapi itu semua hanya mimpi disiang hari bolong, "Lagian mau pergi sama siapa sih, aldo? bukannya udah putus? atau cowok lain?" Pertanyaan Dove cukup membuat Naira kecewa dan sakit hati.
Dove tahu apa yang dikatakannya menyakitkan tapi dia tidak perduli dan justru malah duduk dan membaca majalah yang ada disediakan dimeja sementara Naira berdiri.
"Kalau sampai dekor dan laporannya gak selesai sebelum hari Selasa, aku akan membuat kamu membayarnya, Naira Seno. Aku gak mau tahu kamu harus selesaikan ini semua, ini tanggung jawab kamu dan harus kamu selesaikan. Paham?" Dove melepaskan dagu Naira.
"Sekarang kalau mau nangis terserah, semau kamu sampe puas." Dove kembali duduk dan kini memainkan gadgetnya.
"Udah sana nangis, di sini kedap udara, jadi mau nangis kek, mau teriak terserah, lagian kalau mau pergi gak bisa apa di Minggu yang lain?" balas Dove santai.
"Aldo emang mantan gw, cuman gak harus musuhan, dan Minggu ini Aldo ulang tahun, gw janji mau ngerayainnya bareng dia." Balas Naira kembali mewek, Dove terlihat kaget mendengarnya.
"kamu yang janji bukan aku! Kamu rayain aja Minggu depannya lagi, bisa kan?" Balas Dove dengan santai.
"Kak.. Dov.." Teriak Naira, sebelum menyelesaikan kalimatnya Dove lalu menarik tangan Naira kearahnya membuatnya takut, mata Dove terlihat kesal. Naira melangkahkan kakinya kebelakang untuk menjauhi Dove namun lelaki itu menariknya lagi lebih dekat dari sebelumnya, "Cewek cengeng! kamu tuh tugasnya jadi asisten aku dan tugas selanjutnya adalah ini.." Dove menunjuk dokumen yang tadi di baca Naira.
"Tadi kamu sendiri yang baca, bukan aku, jadi lakukan tugas kamu. Aldo mau ultah atau gak itu bukan urusan aku, ngerti!!" Tambahnya lagi membuat air mata Naira menumpuk dimatanya.
"Tapi kan aku cuman baca yang Kak Dove ketik." balas Naira.
"Kalau gitu baca dulu dong, jangan langsung baca, makannya persiapan jangan percaya orang lain, kalau kamu gak suka bilang aja langsung ke Kepala Sekolah. Pak Anton bakal anggap kamu gak becus!" balas Dove lagi sedikit membentak membuat Naira kembali menangis.
"Ayo pulang atau aku tinggal" Dove keluar dari ruangan diikuti Naira beberapa detik kemudian.
Aku terus menangis, air matanya ini tidak ingin bisa berhenti, apa lagi setelah aku melihat Dove yang begitu santai tanpa ada rasa bersalah diwajahnya. Aku membencinya benar-benar membencinya. Aku harus bilang apa pada Aldo? ini tahun pertamaku bisa merayakan ulang tahunnya setelah 1 tahun aku terbaring koma di rumah sakit.
Meskipun kami putus, aldo sudah memperlakukanku dengan baik bagaimanapun kami sudah berpacaran sejak kecil.
"Mau makan dimana? Udah jangan nangis, atau aku turunin nih dipinggir jalan." Tanya Dove.
"Berhentikan mobilnya! Atau aku loncat!" Ancam Naira.
"Jangan Nai!" Cegah Dove. Namun, Naira nekat. "Naira, stop! Ok aku berhenti."
Naira tidak tahan lagi dengan semuanya, "Kenapa sih kamu harus ngelakuin ini? Aku tahu aku salah. Aku ngerjain kakak. Aku bilang kakak Trouble maker tapi itu dulu. Aku suka sama kakak. Aku ungkapin perasaan aku. Kalau kakak gak suka, jangan gini. Jangan temui aku, supaya aku bisa lupain Kakak." Naira terus berlari.
Dove juga mengejarnya dan menariknya dalam pelukan. "Naira, kenapa sih kamu gak peka. Aku cemburu Naira, aku liat kamu sama Aldo. Kamu bilang kalian putus, aku gak suka kamu sama dia. I want to protect you, aku mau kamu terus disamping aku."
Naira langsung mencium Dove, "Be my boyfriend." Ucapnya memeluk Dove erat. "Aku mau kamu ingat kenangan kita."
"Aku akan selalu ingat kenangan kita." Jawab Naira.
Bukan Naira, kenangan sebelum kamu melupakanku dalam hati Dove.
"Kita cari makan ya."
Dove membawa Naira makan ke suatu restauran sederhana favoritnya. Mereka turun di depan sebuah depot makanan yang rame dengan pengunjung, antrian didepan pintu masuk bahkan sampai ke lahan parkir mobil.
Makan malam pertama yang justru menjadi kenangan buruk dalam hubungan mereka.
Tapi pada akhirnya, dia meninggalkan Naira di sana sendiri hanya note dari Dove yang menyuruhnya pulang naik taksi karena dia ada urusan mendadak dan meninggalkannya sendirian. Di samping note itu terdapat selembar kertas nota dengan total yang harus dibayarkan mencapai setengah dari uang jajannya perbulan.
"Dovvvvveeeee!" teriak Naira. "Why! Kenapa kamu harus memperlakukanku begini. Kenapa kamu tinggalin aku sendirian."
Naira duduk di halte sambil melihat dompetnya yang kosong, tak sepeserpun uang yang tersisa bahkan uang koin sekalipun. Apa sih salahku?
Tak lama massage masuk dari Dove. Sorry Nai. Aku ada urusan mendadak. Laporannya dikumpul hari Selasa ya, Love you - Dove.
"Dove dasar cowok nyebelin, trouble maker !!"
teriaknya.
Namun, Trouble maker itu adalah pacarku.