Nairadove

Nairadove
ALWAYS!



6 Bulan Kemudian,


Naira sedang menunggu didepan pintu kedatangan dengan papan bertuliskan welcome Doveadi Ricardo, tak lama Dove keluar dan melambaikan tangan padanya. "Adi" ucapnya.


Dia lalu memeluk Adi sedangkan Dina memeluk Dion. "Aku menang!" Teriak Dion membuat semua orang melirik padanya.


"Duluan ya" ucap Dove lalu naik ke mobil Maserati hitamnya.


"YEY! Akhirnya Dove pulang ke Indonesia." teriak Naira.


"Naira, nanti kamu masuk angin, ayo duduk." ucap Dove.


Dove dan Naira berencana untuk pergi ke tempat favorit mereka berdua, danau tempat mereka menghabiskan waktu bertemu.


Dove dan Naira lahir di Jakarta, tapi keluarga Naira harus pindah ke Surabaya karena ayah Dove ingin membangun rumah sakit baru di Surabaya dan ayah Naira menjadi penanggung jawabnya.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Dove, dan secara mengejutkan Naira mengeluarkan scoop dan menarik Dove kebawah pohon untuk membuka kotak yang mereka tulis waktu pertama kali mereka bertemu. "Ini punya aku, ini punya kamu, baca bareng-bareng ya."


Wish Adi:


Mau jadi orang sukses, dan membuat mama, papa, dan Diva senang. Bersahabat dengan Naira selamanya.


Wish Naira:


Jadi Ratu dan Adi Jadi Rajanya.


Dove tertawa membacanya, membuat Naira penasaran. "Kamu dari dulu udah suka aku ya?" Ledek Dove.


"Gak kok" Naira lalu merebutnya dan membawanya lari. Naira malu, "Hey, itukan punyaku, Nai tunggu, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut."


"Wwoooooo!" teriak Dove, "I love you, Dove" ucap Naira.


Di pantai, Dove dan Naira duduk menikmati suara desiran ombak pantai, "Nai, ini surat dari Aldo untuk aku, tapi aku ingin membacanya bersama kamu, aku rasa ini penting untuk kamu. Kamu yang buka terus baca dengan kencang sampai habis."


Dear Dove, My Brothers


Dove, ini adalah surat pertama yang aku tuliskan untukmu, aku tak pernah bisa berkata langsung padamu. Jangan tertawa jika apa yang aku tulis ini terlihat lucu. Kamu harus menangis karena aku juga menangis menulis ini.


Hi! si tangan kanan, masih ingat nama itu yang selalu aku sematkan padamu. Ingat saat pertama kali, kita bertemu kamu berlari kearah ku dan loncat-loncat di atas tempat tidurku dan membuatnya ambruk. Kamu membuatku tertawa dan saat itu aku sadar bahwa aku harus terus hidup bersamamu, menemanimu, dan mengikuti kemanapun kamu pergi.


Dan sepertinya itu yang terjadi, aku bersamamu hingga saat ini. Aku sangat bahagia bersamamu, berbagi bersamamu, menemanimu, pergi ke sauna bersama, bermain bersama Diva hingga suatu hari aku harus bersaing dengan Dion dan Naira.


Terkadang kau lupa padaku dan lebih memilih bermain dengannya. Aku selalu berusaha menarik perhatianmu, ingat coklat kesukaanmu, ingat tarian kemenangan kita, semua terasa bahagia sampai aku menghancurkannya sendiri dengan tanganku, keegoisanku.


Kamu benar kita punya banyak persamaan dan perbedaan tapi untuk cinta kita sama, cinta pertamamu adalah cinta pertamaku.


Saat aku melihatnya, aku jatuh cinta dan dengan egois diriku merebutnya darimu.


Aku menyesal, aku ingin melepasnya, namun disisi lain aku ingin mempertahankannya. Aku selalu membohongi diriku, aku tahu dia tak pernah mencintaiku, aku adalah bayangan dari cintanya yang tak pernah dia ingat. Aku tak ingin menjadi bayangan, sehingga aku berubah menjadi orang lain. Hal bodoh kesekian yang ku lakukan, seperti punuk merindukan bulan, seperti katak dewasa yang mau berubah kembali menjadi kecebong, tidak mungkin bisa kudapatkan.


Tapi aku terus memilih menjadi bodoh hanya untuk mempertahankan dia. Terus dan terus, sampai suatu hari kebohongan itu mulai menghukum ku, dia sadar bahwa aku bukan Adi yang disukainya, dan dia memutuskan ku.


Tapi aku masih terus melakukan kebodohan, aku menyakitimu, memaksamu, dan bahkan memutuskan hubungan denganmu.


Malam itu, saat kamu terjatuh karena kecerobohan ku, aku sadar bertapa bodohnya aku, jahat sekali. Aku bahkan menyakiti orang yang ku cintai, Naira dengan memulai semua dengan kebohongan membuat dia begitu menyesal membencimu, tersiksa dan begitupun aku.


Aku sadar bertapa pentingnya dirimu, aku mulai merasa gelisah, ketakutan saat melihat dokter keluar masuk tanpa tahu keadaanmu, bajuku dan tanganku penuh dengan darahmu.


Aku takut Dove, sangat takut, aku takut kehilangan saudara laki-lakiku satu-satunya.


Melihatmu terbaring di sampingku ketika aku mendonorkan darahku, membuatku teringat saat pertama kali aku tidur di ranjang mu setelah kepergian mama, aku membuatmu tidak bisa tidur, karena diriku yang terus menangis.


Aku pernah berjanji tapi aku yang ingkar, kau tak pernah ingkar, dan aku yang memaksamu. Melihat Naira yang berjuang bertemu denganmu. Melihat dion yang dengan penuh amarah memukuliku, melihat Shot Genk satu persatu mulai membenciku, aku sadar bahwa aku adalah akar dari semuanya.


Dove saat kamu bangun, aku sangat berharap aku adalah orang pertama yang ingin kamu hubungi aku ingin mendengar suaramu lebih dulu, aku ingin jadi yang pertama Dove. Aku sangat merindukanmu dan kenangan kita saat bersama, saudaraku.


Kini aku ingin mengembalikannya meskipun tidak sempurna, tapi aku ingin Naira mendapatkan Adi yang sebenarnya. Aku sudah menukar, nama di tiket mu dengan namaku, maaf lancang sebelumnya, aku sudah membaca surat mu dan memberikannya pada Dion untuk diberikan pada Naira.


Dove, selalu ingatlah aku Aldo, saudara laki-lakimu.


With Love,


Aldo.


*****


"Nai, kok kamu yang nangis." Ucap Dove sambil mengusap wajah Naira. Naira memeluk Dove dengan erat tanpa berkata apapun. "I love you, Nai."


Aldo, kamu memanglah yang selalu ingin ku temui setelah aku sadar.


*****


Dove akhirnya pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu hampir 1 bulan di rumah sakit. Semua teman-teman menunggunya dan memberikan kejutan selamat datang. Kondisinya yang lemah, membuatnya ingin beristirahat di kamar.


Dia berjalan dengan tongkat disebelah kanannya, dia melihat sebuah surat dan kotak diatas meja belajarnya, dia merasa sedikit pusing pada kepalanya yang tertutupi oleh topi kupluk. Dibukanya surat itu dan mulai membacanya. Dia juga membuka kado dari Aldo berisi teropong bintang kecil bertuliskan Doveadi disisinya.


"Thanks Aldo, kamu membuat aku mengingat Naira."


Karena surat ini, dia tidak pernah mengusir Naira saat dia datang. Kalung itu membuat Dove mengingat Naira. Setelah dove mengingat Naira, dia membuka surat itu dan menuliskan sesuatu kalimat yang dibaca oleh naira dengan kencang.


Pada bagian bawah surat itu.


"Terima kasih sudah mengembalikan naira padaku" teriak Naira kencang.


Naira lalu memeluk Dove. "Naira mau ngapain?" Tanya Dove melihat Naira pergi sambil membawa ranting.


"Sini" Naira mulai mengerjakan sesuatu. Dia membuat kalimat I LOVE DOVE, melihatnya Dove pun membalas dengan I LOVE NAIRA dan lambang cupid dihatinya.


"Kejar aku!" Teriak Naira lalu berlari menyusuri pantai.


"Kenapa aku harus mengejar kamu?" Balas Dove. "Ini adalah hal yang ingin aku lakukan dengan pacarku, ayo kejar aku kalau bisa." teriak Naira lagi dan kali ini Dove mengejarnya dan mereka bermain di pantai bersama.


"Oh, Jadi Pacar bukan tunangan!" Ledek Dove.


"Tunangan! Tunangan! Dove" Balas Naira berbalik mengejar Dove.


Amerika, Spring.


"Dove, cepetan udah mau mulai nih, gw yakin Barcelona menang!" Ucap Aldo.


"Hmmm, gak mungkin" Balas Dove.


"Kapan balik Indonesia?" Tanya Aldo. "Minggu depan" Balas Dove.


"Yeeeesss masuk bolanya!" Aldo memeluk Dove sangat senang.


Mereka berfoto bersama di Amerika, Aldo juga selalu mengirimkan postcard Amerika setiap bulan pada Dove.


"Dove, cepat gw lapar nih!" teriak Aldo, diikuti Diva dan terakhir Naira.


"Hey, kalian itu!" ucap mama Naira.


"Iya-iya" Dove turun dan mereka makan malam bersama melewati tahun baru di Indonesia dengan keluarga yang lain juga.


"BBQ udah selesai!" Teriak Alfredo langsung diserbu oleh Diva yang maniak BBQ. "Div, jangan dihabisin!" Teriak Aldo.


*****


Kamar Rawat, Pasien Doveadi Ricardo.


Dove mengerakkan badannya dan meraih ponselnya, dia membuka kontak didalamnya dan menghubungi seseorang. Bunyi nada sambung terhubung dan seseorang mengangkatnya.


"Hallo"


"Aldo, kamu dimana? Kenapa tidak mengunjungi ku?"


Terkadang dunia menguji mu diawal, dan memberimu kejutan diakhir cerita. Dia mengujiku lalu mengejutkanku diakhir.


Terima kasih bagi yang telah membaca kisah ini doakan kami untuk selalu bahagia.


Naira Seno - Doveadi Ricardo