
6 Bulan kemudian, hari-hari yang di tunggu akhirnya terlaksana. Di depan semua undangan Dove berdiri dengan tegak mengenakan stelan tuxedo putih dengan pita kupu-kupu di lehernya. Tak hentinya, dia meneteskan air mata. Ia melihat bidadari datang dan berjalan kearahnya. Naira dengan Veil panjang dan dress putih Sabrina tersenyum padanya.
"Aku akan segera menikah, Aldo." Ucapnya pada Aldo yang berada disampingnya sebagai pendamping pihak laki-laki. Aldo tak kalah tampan dengan Dove, lama tinggal di Amerika membuatnya lebih dewasa dan realistis.
"She is yours" Ucapnya menepuk bahu Dove.
Bimo meletakkan tangan Naira di atas tangan Dove. Haru menyertai dirinya yang menyerahkan satu-satunya anaknya, putrinya, putri mahkota kerajaannya pada seorang pria yang akan menemani hidup anaknya.
"Pa, aku akan bahagia bersama Dove."
"Papa, titip Naira ya Dove. Jaga dia."
"Pasti pa." Mengandeng tangan Naira untuk mengikat janji suci. "Hari ini kamu cantik sekali." Pujinya.
"Setelah ini kalian sudah resmi menjadi suami dan istri. Selamat."
"Yes!" Teriak Dove memeluk Naira dengan erat. Ia menggunakan cincin yang dibelinya khusus bersama dengan Aldo. Cincin ini sudah dipersiapkan Dove sejak 3 tahun lalu. Ketika ia bertemu dengan Aldo setelah kecelakaan itu terjadi.
Dove menitihkan air mata bahagia setelah penantian panjang di hidupnya.
*****
Amerika, 3 tahun yang lalu.
Dove dan Aldo duduk dengan santai sambil menikmati udara malam dan daging BBQ yang telah mereka olah. Hanya mereka berdua.
"Dove, emang pantes dari dulu aku iri sama kamu." Dia lalu menyodorkan dokumen project kepada Dove. "Satu project lagi beres." Pujinya, "Perusahaan tanpa Lo, sama halnya tak bernyawa."
"Salah, justru perusahaan tanpa kamu yang gak bernyawa. Aldo, perusahaan ini milik kamu. Kamu yang berjuang. Aku hanya diatas kertas." Ucapnya santai menanggapi Aldo.
"Do, aku akan melamar Naira. Apakah kamu sudah bisa melupakan dia?" Tanya Dove membuat Aldo sejenak terdiam.
"Tunggu 3 tahun lagi, aku akan jadi pendamping mu. Kasih aku sedikit waktu lagi."
"Ok, take your time." Ucap Dove mengajaknya masuk kedalam. Udara sudah semakin dingin, di sana sudah memasuki musim dingin.
"Dove, Sorry! Sebagai permintaan maaf ku. Aku temani kamu beli wedding ring."
"Ok! Besok jam 8 am." Sahut Dove.
Aldo sampai kapanpun akan tetap menjadi saudaraku. Saudara yang selalu aku dambakan saat kecilku.
"Aldo, thanks. I'm married now!" Ucap Dove memeluk Aldo. "Yes! Now, kamu adalah seorang suami. Suami dari wanita paling istimewa."
"Kamu juga adalah saudara yang istimewa." Balas Dove. Kemudian, ia memanggil Naira dan memperkenalkannya secara resmi pada Aldo. "Aldo, she is your sister in law, my wifey."
"Yes! hello. My sister in law." Naira menangis, ia tak dapat menahan air matanya. Mereka menangis bersama.
"Guys! Stop. Hari ini kita gak boleh sedih. Harus bahagia. Al, Nai, aku ke sana dulu ya." Dove pergi menemui kolega bisnis keluarganya. Dia terlihat tampan dan bahagia menyambut para tamu undangan.
"Aldo..." Panggil Naira. "Terima kasih, udah kasih aku kesempatan bersama Dove. Maaf untuk semua rasa sakit itu." Ucapnya. Aldo lalu menyeka air matanya dan berbalik melihat Naira.
"Sejak awal aku tahu kamu memilihnya. Hanya kamu dan aku yang tidak menyadarinya. Saat pekan pengenalan sekolah aku melihatmu bersamanya. Kamu seharusnya memang bersamanya. Naira, aku titip Dove. Aku tahu kamu begitu mencintainya." Pesan Aldo.
"Pasti, karena dia lelaki impianku sejak kecil." Balas Naira memeluk Aldo.
Sekali takdir tetaplah takdir. Terima kasih Tuhan sudah membuatku memilih jalan yang tepat. Meskipun sakit tapi itu bukanlah lubang penderitaan.
Flashback 6 Tahun yang lalu,
Hal ini adalah awal dari kesalahan dan akhir yang membuatku melepaskannya. Dan kami berjuang memperbaiki segalanya.
Di Rumah Sakit,
"Adi" panggil Naira dengan suara yang parau.
"Hmmm, Adi nya gak ada disini, Nai." Jawab Aldo. Naira menggenggam tangan Aldo, "Don't leave me. I miss you, Adi".
Melihat Naira yang sangat lemah membuat keinginan Aldo untuk melindunginya semakin besar. Setelah kesalahan yang dilakukan Dove, ia merasa adiknya itu sudah tidak pantas bersama Naira.
"Nai, aku gak akan meninggalkanmu" jawab Aldo dia memegang kalung yang diberikan Dove padanya.
Aldo dengan sabar merawat Naira, sebagai Adi. "Naira, mulai besok panggil aku Aldo ya jangan Adi. Kamu gak usah tanya alasannya, lakuin aja apa yang aku minta. Oh iya kalung kamu boleh aku yang simpan?" Pintanya.
"Ya, boleh lah, ini kan dari kamu." Naira melepaskan kalung itu dan memberikannya pada Aldo yang disangkanya Adi.
3 Bulan setelah keluar dari rumah sakit.
"Adi! Sorry Aldo, gimana kabar tante sama om, aku pengen deh ketemu mereka." Ucap Naira dengan senyum khasnya.
"Baik kok, nanti aja ketemunya, mereka lagi di Amerika." Ucap Aldo panik.
*****
"Oh kalung itu .." Aldo panik. "aku gak sengaja ngilangin kalung itu, lagian itukan masa lalu, mending kita lupain, pikirin saja masa sekarang dan masa depan" Ucap Aldo mencoba untuk santai dan tidak panik.
"Tapi itukan kalung dari kamu." balas Naira lagi.
"Udah ya, jangan pernah bahas kalung itu!!" mereka melanjutkan makan malam romantis berdua.
*****
Naira mulai mengingat satu per satu kenangannya dengan Dove yang lebih tahu dirinya dibandingkan Aldo. Air matanya, mengalir, dia bingung dan tidak percaya apa yang sudah terjadi?
Sesampainya dikamar, dia mencari kotak merah berisi surat puisi dari Adi. Dibuka juga note kecil yang tadi ditinggalkan Dove di Restoran.
"Sama persis, kalau Dove itu Adi? Kenapa Aldo bisa punya kalung itu?" Naira menangis histeris, "Gak! ini gak mungkin, aku mengkhianati Adi, tidakkkk!!!"
"Naira, remember me!" kalimat itu terlintas di kepalanya semakin membuatnya bersalah.
"Apa yang sudah terjadi? Apa yang aku lakukan? Aku membenci Dove dan menyusahkan dia? Aku mengatakan dia Trouble maker tapi dia adalah Adi, pacarku tapi aku bersama Aldo, siapa dia?"
"Happy birthday!" air matanya semakin tak tertahankan saat dia melihat kotak musik dan boneka hello kitty yang dia pikir itu hadiah dari aldo ternyata itu hadiah dari Dove. Dia melangkah mendekati boneka itu, ditariknya boneka itu bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh diatas lantai kamarnya.
Dipeluknya boneka itu dan dimainkannya kotak musik itu. Dia ingat saat Dove membahas soal warna kesukaannya dan moment disaat dia melihat Dove dan Sinta makan cilok ditempat favoritnya dengan Adi.
"Dove" ucapnya lirih, "I'm sorry. Naira" Pesan Voice note dari Dove. Setelah mendengarnya Naira terus menghubungi Dove, namun tersambung pada kotak suara. Diulanginya panggilan itu terus menerus, lagi dan lagi.
"Dove angkat!" Teriaknya sambil memencet kontak Dove berulang kali dan tetap tidak dijawab.
"Naira, terima kasih kamu masih ingat bantuin aku." Ucap Dove dengan wajahnya yang babak belur karena dipukulin oleh Ricky.
"Ya ingatlah, mana mungkin lupa, aku tuh masih punya rasa kemanusiaan. Aku tuh yakin cowok kayak kamu pasti bakalan berantem terus, dasar trouble maker!" Ucap Naira.
"Bisa gak sih berhenti, aku bukan trouble maker. Kamu bilang, kamu selalu ingat, kamu salah karena kamu gak pernah ingat apapun! Stop bilang aku trouble maker karena kamu gak pernah kenal aku!" Dove mendorong Naira dan masuk ke mobilnya.
"Eh udah dibantuin nyolot lagi! Emangnya apa gunanya aku kenal kamu yang penting itu pacar sendiri dari pada orang lain!" Ucap Naira yang berubah nyolot pada Dove.
Dove berbalik arah dan membalas kata-kata itu, meskipun hatinya sakit dia tetap mengatakannya, "Kamu kenal pacar kamu, kamu mengenalinya, aku rasa tidak!"
"Aku kenal, namanya Adi nama aslinya Aldo dan aku sangat mengenalinya, dan tak mungkin salah."
"You wrong!!" Teriak Dove lalu pergi meninggalkannya.
"Dasar udah dibantuin, marah-marah ! trou-ble maker!!" Teriak Naira.
Dia sadar kesalahan ini dimulai darinya, dia yang tidak mengenal Adi lebih dulu. dia yang menganggap Aldo adalah Adi. Dia bahkan tidak percaya saat Dina mengatakan padanya untuk lebih menjaga jarak dengan Aldo dan bersikap lebih baik pada Dove.
"Gak! ini salah, dia bukan Adi! Bukan! Aku gak mungkin melupakannya! TIDAK! Aku tidak mungkin tidak mengenalinya!!" Air matanya terus mengalir dan tak bisa dibendungnya. Dia mencoba menghubungi Dove tapi tidak tersambung.
Di sisi lain beberapa suster dan dokter sedang menangani pasien darahnya terus mengalir. Sementara yang Diva, Dion, kedua orang tua Dove sedang berdoa agar nyawa pasien selamat. Di sana Aldo juga berdoa untuk adiknya yang sedang berjuang hidup dan mati karenanya, wajahnya babak belur.
"Tuhan, please! jangan ambil adikku." Pintanya dalam doanya. Ia tidak berani mendekat. Ia melihat semua dari jauh.
"Aldo, kamu baik-baik saja?" Tanya Mirna sambil mengelus rambutnya. "Mama kuatir sama kamu." Tambahnya.
"Mama!" Untuk pertama kali dia memanggil Mirna mama. "Aku yang salah, Dove begitu karena aku." Dia memeluk Mirna erat melimpahkan semua kesesakan pada mamanya itu.
"Aldo, mama ataupun Dove tidak akan pernah menyalahkan kamu. Aldo dengar mama, tangan ini pernah menyelamatkan Dove. Kamu ingat gak dulu, Dove itu anaknya pemurung. Tapi berkat kamu dan Naira dia berubah. Kamu ada kebaikan dalam hidup Dove. Percaya sama mama." Ucap Mirna menguatkan anaknya.
"Mama, maafin Aldo ma. Aldo udah jahat sama Dove." Aldo berteriak histeris.
"Dokter!" Cegat Aldo ketika melihat dokter yang menangani Dove keluar dari ruang tindakan. "Tolong selamatkan dia, dia satu-satunya saudara laki-laki yang aku punya" dia menangis melihat bajunya yang dipenuhi darah.
Ia berlutut dan memohon, hal yang sama dilakukan Naira di depan Dion.
"Kak, Naira mohon. Pertemukan aku dengan Dove. Aku berjanji tidak akan menyakitinya. Aku akan tetap disini sampai kakak kasih tahu aku." Teriak Naira di depan rumah Dion. Hujan turun dengan deras, tekat Naira kuat tak akan pergi meskipun hujan membasahinya.
Terkadang kita tidak mampu untuk memikul semua akibat dari apa yang sudah terjadi, penyesalan selalu datang terakhir tapi apakah kita mampu memanfaatkan kesempatan yang ada?
Dove! Aldo berjalan dengan tertatih, di lengannya terdapat luka bekas transfusi darah. "Dove! Bangun! Maaf, tapi Naira masih memilihmu dan mencintaimu." Aldo meninggalkan Dove dan merelakan Naira.
Kembali ke hari paling membahagiakan untuk Dove dan Naira,
"Siapa yang masih mau berpesta!" Aldo naik keatas panggung bersama Shot Genk serta gitar ditangannya. Dia mengajak Dove untuk naik dan bernyanyi bersama band mereka.
"Siapa pengemar Dove! Are you ready!" Aldo memetik senar gitar dan menyemarakkan pesta itu.
Takdir yang tertulis adalah pemenangnya. Setiap orang punya jalan yang luar biasa untuk melewatinya.
Ending.....