
"Sorry Naira, aku gak bermaksud." Ucap Dove mengakhirinya.
Hari semakin gelap, tak ada satupun dari mereka yang membawa senter atau alat lainnya yang dapat menghasilkan cahaya.
"kamu tunggu sini ya, aku cari kayu buat bikin api."
"Jangan tinggalin aku, Kak." Pinta Naira sambil memegang tangan Dove. Dove akhirnya duduk dan Naira kembali merebahkan kepalanya.
"Kenapa kamu mau bikin aku sakit hati?" Tanya Dove. "Karena kamu udah nyakitin Dita, dia sahabat aku jadi aku mau bantu dia untuk memberi pelajaran sama kamu biar kamu gak nyakitin orang lain lagi. Jangan mainin hati cewek lain." Balas Naira.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Bukankah kamu salah satu pelakunya." Balas Dove membuat Naira heran. "Kak, tadi itu kakak yang duluan .."
"Kamu tahu kenapa aku tanya dari mana kamu bisa ngomong tentang orang yang suka warna biru laut?"
Tanya Naira bergantian, "Kenapa?"
"Karena Opa aku mengatakan hal yang sama. Dan aku pernah mengatakan hal yang sama juga pada temanku saat kami pertama kali berkenalan. Dulu aku orangnya cengeng. Setelah kepergiaan Opa, aku sedang menggambar laut kesukaan Opa ku. Lalu, dia datang untuk membantuku. Dia mencampurkan warna biru dan putih, lalu aku mengatakan filosofi itu padanya. Sekarang, aku tahu bahwa itu hanyalah karangan belakang Opa." Jelasnya sambil tertawa, ia merindukan Opanya.
"Dulu, waktu kecil aku pernah bertemu dengan orang yang sama cengengnya dan berbakatnya seperti kamu. Dia suka menggambar dan warna favoritnya Biru. Aku selalu membantunya untuk mewarnai gambarnya." Mendengarnya membuat mata dove berkaca-kaca.
"You still remember?" Tanya Dove.
"Iya, dong orang itu Aldo. Itu adalah kenangan manis kami berdua. Meskipun dia tidak pernah mengingatnya atau mengatakannya lagi padaku" Naira tertawa.
"Gak ada bintang!"
"Gimana kamu berpacaran dengan aldo?" Tanya Dove lagi.
"Panjang, kalau diceritain ampe bulan depan gak selesai."
"Lebay, kamu, kalau gak mau cerita bilang aja, aku gak kepo." Jawab Dove seperti tidak suka.
"Karena kami dijodohkan sejak kecil. Selain itu dia orang pertama yang aku liat setelah sadar dari koma, aku pernah koma selama hampir dua tahun. Saat, aku bangun dia orang pertama yang aku liat, pacarku juga teman masa kecilku itu."
"Dari mana kamu tahu, dia orangnya?"
"Cukup aku yang tahu, katanya gak kepo!" ledek naira. "Aku tidur duluan"
"Iya, aku disini kok" Ucap Dove
"Karena kamu udah nyakitin Dita, dia sahabat aku jadi aku mau bantu dia kasi pelajaran sama kamu biar kamu gak nyakitin orang lain lagi. Jangan mainin hati cewek lain" kata-kata itu terngiang dalam pikiran Dove. Langit sepertinya tahu dengan suasana hatinya, langit tanpa bintang sama seperti hati tanpa rasa.
"Menyakiti cewek lain, aku bahkan gak punya rasa lagi untuk menginginkan seseorang. Naira, aku orang jahat! Aku bahkan membiarkan seseorang membohongi kamu. Dita bukanlah sahabatmu. Aku yang menyebabkan dirimu membenciku, diriku sendiri." Dove menitihkan air matanya sementara Naira semakin menggenggam erat tangan Dove. Dove semakin mengeratkan lagi pelukannya. Dia melihat kalung berbandul D di leher Naira.
*****
Matanya mulai berkaca-kaca, 5 tahun lalu, Dia ingat saat menyimpan kalung itu di sebuah kotak merah di laci mejanya. Setelah dia kembali dari Amerika, kalung itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Tunggu dengarkan dulu, aku gak ada hubungan apa-apa. Kamu dengarkan dulu berhenti. Hati-hati kamu bisa jatuh." Ucap Dove.
"Aku gak peduli." Naira menghempaskan tangan Dove.
"Diva, kenapa buku naira bisa ada dimeja kamu?" Tanya Dove marah.
"Kenapa? Apa peduli kakak?" Diva lalu mengambilnya dan merobeknya dan membuangnya ke tong sampah.
"Aku membencinya, sangat membencinya, i hate Naira" Diva lalu mendorong dove keluar dari kamarnya.
"Kamu gak perlu membencinya hanya untuk membela seseorang" ucap dove lalu kembali ke kamarnya.
"Kak dia udah buat kakak sedih dan tersiksa dan karena dia kakak terluka."
Dove masih menatap Naira sambil menitihkan air mata. Dibelainya rambut Naira, "Have a good sleep Naira."
"Adi, where are you!" Ucap Naira mengigau, Dove lalu menutup mulutnya rapat-rapat.
Keesokannya mereka terbangun disaat mata hari sudah bersinar terang, tanpa melepaskan tangan mereka, Naira dan Dove kembali ke Desa Sekar.
"Aku harap kamu bahagia bersama Aldo" Ucap Dove.
"Me too" Ucap Naira, Dove pun melepaskan genggamannya.
Entah mengapa aku merasakannya lagi. Kesedihan ini, aku merasa di tinggal sendiri. Mengapa harus melepaskan tanganku karena dia tahu aku memiliki Aldo. Mengapa aku tidak rela dengan apa yang dia lakukan dan dia katakan.
Aku rela melepaskan mu Naira, Aldo jauh lebih baik dari aku. Sebaiknya masa lalu biarlah menjadi masa lalu.
"Dove, Ayo ikut bapak mandiin sapi, kamu paling suka kalau main kesini ikut bapak mandiin si Chiki."
"Hah, sering?" Lontar Naira. "lo bilang kesini tahun lalu, ternyata lo sering main ke sini !" Tambah Naira.
"Gw emang sering kesini, tapi kalau bapaknya jemput gw pake jip, lewat jalan lumpur, kalau lewat hutan yang kemarin emang tahun lalu." Balas Dove lalu ikut bapak memandikan Chiki di Sungai.
"Doveeeeeeeeee, sekali nyebelin tetap nyebelin, awas ya" Teriak Naira. Membuat bapak Teo bingung, "Dove itu bukan pacar yang selalu kamu ceritakan ke bapak."
"Pak dia emang gitu, rada bawel." Tertawa sambil melanjutkan perjalanan.
Naira, kembali melihat Dove tersenyum. Senyuman yang tak pernah ia lihat.
"Naira, sudah pagi kita balik yuk. Kamu pake jaket aku." Ucap Dove lalu memberikan tangannya. "Pegang tanganku."
"Disini dingin, kamu gak papa."
"Selama kamu aman, aku akan baik-baik saja."
Mereka berjalan bersama kembali ke Desa setelah semalam tidur di hutan.
Kak Dove, kenapa aku merasa nyaman bersamamu ungkapnya sambil meraba bibirnya.
"Ayo ikut Naira, di Jakarta gak ada loh." Dove mengajukan tangannya pada Naira. Mereka memandikan Sapi itu bersama.