
Massage from Dove,
Naira, aku akan menjelaskan semuanya. Datanglah ke restauran yang waktu itu. Aku menunggumu disana.
Setelah menunggu berjam-jam, Dove tidak pernah muncul padahal salah satu pelayan disana mengatakan sejak dari tadi Dove pergi. Sekali lagi ia terpaku pada selembar kertas berisi permintaan maaf Dove untuk malam ini, ia ada keperluan mendadak.
"Naira, kemarin aku ada urusan penting soal OSN."
"Kenapa harus berbohong Dove?" Ia tak percaya Dove membohonginya lagi, ia sudah menanyakan hal tersebut pada team OSN dan mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Tidak ada pembahasan apapun malam itu, ia justru mendengar dari Dita jika keduanya bertemu malam itu.
"Why Dove!" Ia kecewa berat pada Dove. Ia tahu bahwa ia salah, ia tidak mengenali Dove. Namun, haruskan Dove membalasnya seperti ini? Dengan sebuah penghianatan?
"Nai, ini sapu tangannya kak Dove." Ucap Dita lalu memberikan kotak coklat berisi sapu tangan Dove.
"Kok bisa di kamu Dit?" Tanya Naira spontan, Dia merasa semenjak bersama Dove, dia menjadi sangat pencemburu. Dia tahu banyak wanita yang menginginkan Dove.
"Kapan hari kak Dove datang ke rumah, sapu tangannya ketinggalan. Jangan lupa di kasih ke dia ya." Ucap Dita sengaja ingin memanasi ya. Kapan? Tanya Naira lagi.
"Tanya aja ke Kak Dove, kapannya?" Balas Dita.
Naira, masih terus memegang sapu tangan Dove. Hari pertemuan mereka adalah hari dimana Dove meninggalkan dia setelah mereka jadian. Hatinya hancur, pikiran-pikiran buruk muncul di kepalanya. Ia takut kehilangan Dove dan takut menerima kenyataan jika pacarnya itu memang mengkhianatinya.
Dove kamu jahat! Tangis Naira membanjiri kedua pipinya.
*****
Di depan sebuah gedung,
Dove mencoba melangkahkan kakinya memasuki gedung kosong milik keluarganya yang sudah lama tidak digunakan. Gedung itu gelap dan sepi, disampingnya ada Dion yang juga ikut bersamanya. "Lo, yakin ini tempatnya?" Tanya Dion.
"Iya, aku yakin."
"Jangan" Teriak Dion, tubuh seseorang tergeletak di lantai paling bawah, setelah jatuh dari tangga, darah segar keluar dari kepalanya.
"Noooo!!!" Teriak Dion, "Apa yang lo lakuin? Kenapa lo dorong dia!" Teriak Dion pada orang di depannya yang terus menatap ke arah tubuh yang tidak berdaya yang dirangkul oleh Dion.
"Tidak, bukan aku yang mendorongnya!" Tangan gemetarnya terlihat memegang dinding, badannya lemas setelah menyadari apa yang dia lakukan, seseorang terluka akibat keegoisannya.
Dion menatapnya dengan mata yang penuh kekecewaan, tangannya berlumuran darah.
"Cepat panggil ambulance!!" Perintahnya.
Tak jauh darinya, ponsel iphone milik lelaki itu terus berdering, terlihat nama Naira di layar itu.
"Lo gila ya! Kenapa Lo kayak gini, cuman karena seorang cewek! " Teriak Dion memaki lelaki itu.
"Lo gak ngerti apa-apa!" Teriak lelaki itu.
"Gila! Gila! Lo udah ngelakuin tindakan kriminal tahu gak? Gimana kalau terjadi apa-apa sama dia. Lo bakal nyesel seumur hidup!" Dia terus berteriak dan memaki, lelaki itu tetap saja terdiam, ia shock. Darah yang mengalir semakin banyak, Dion berusaha untuk menghentikannya.
"Tunggu, bentar lagi ambulance datang! Semua akan baik-baik saja."
"Naira!" Ucapnya.
"Naira" Panggilnya.
"Naira" Ucapnya lagi.
*****
Dove kamu dimana kenapa kamu gak angkat telepon aku? Apa kamu sedang bersama Dita? Jawab Dove, Jawab!