
"Naira, selama kamu safety, aku akan baik-baik saja." suara itu terus bergema di telingaku. Lalu, aku melihat sosok lelaki dari belakang, ia menggunakan kemeja putih serta seragam sekolah khas sekolah SMA Harapan.
Hallo! Siapa kamu? Teriakku memanggilnya namun ia tidak menghiraukan ku dan terus berjalan. Akhirnya kita bertemu! Katanya padaku. Kami berada di sebuah hutan, disini terdapat sebuah mobil yang terbalik. No!! Teriakku ketakutan.
"Non! Bangun. Ada temannya yang jemput." Suara Minah membangunkan ku dari tidurku. Sekarang sudah pagi, jam tanganku menunjukkan pukul 06.30 pagi. OMG! 30 menit lagi masuk sekolah. Naira! Come on! kenapa alarm gak bunyi. Sementara, Aldo sudah menungguku di depan. Aku bersiap-siap secepat mungkin agar Aldo tak menungguku terlalu lama.
"Btw gaes, hari ini hari terakhir MOS! Yes!"
Semua orang berteriak sukacita mendengar pengumuman yang baru saja disampaikan Dove di depan semua siswa/siswi tahun ajaran baru.
"Hari ini, kami akan mengajak kalian untuk lebih mengenal kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini. Setiap kegiatan ekstrakurikuler, akan menampilkan kegiatan yang mereka lakukan. Apabila kalian tertarik untuk mendaftar dapat segera dilakukan setelah kegiatan mengajar dilakukan secara normal. Terima kasih." Ucap Chua mengakhiri pengumuman sebagai wakil kedua dari Dove.
"Diakhir acara nanti, kita akan mengadakan api unggun, kalau kalian gak ikut pasti rugi!" Tambah Chua.
Ini adalah acara wajib yang harus diikuti oleh seluruh siswa/siswi tanpa terkecuali. Lapangan yang biasanya selalu dipenuhi oleh murid-murid untuk upacara berubah menjadi festival kegiatan ekstrakurikuler. Terdapat lebih dari 10 stan kegiatan mulai dari music, olahraga, bahkan kelas olimpiade. Demi menarik perhatian murid baru, mereka sengaja memilih beberapa siswa/siswi favorit untuk membantu mereka dalam festival.
"Kegiatan apa yang menarik?" Ucap Naira bosan dengan kegiatan ini.
"Huttss!" Panggil seseorang padanya. Dita memanggilnya dan mengajaknya berkeliling. Terpaksa! Itu yang ada dibenaknya saat ini. Apa sih menarik, gak ada!!! Ucap nya dalam hati namun karena Dita, satu-satunya teman yang dia kenal selama seminggu ini akhirnya terpaksa dia melangkah masuk ke dalam setiap stan.
Satu jam berlalu, satu menit serasa satu tahun bagi Naira. Dihantui rasa bosan yang begitu besar membangkitkan jiwa pemberani dalam diri Naira yang tidak takut akan hukuman dari guru. Tanpa sepengetahuan kakak pembimbing, dia keluar dari barisan dan berlari meninggalkan lapangan.
"Yes!! Yes!! ucapnya dalam hati sambil berlari. "Mending keliling sekolah, dari pada acara membosankan kayak gitu!" Ucapnya
Dia ingin mengenal sekolahnya, dia berjalan melewati setiap koridor namun langkahnya terhenti tak kalah seseorang berteriak, "Chua! basket yuk, mumpung ada si ketua tuh!" Teriak siswa laki-laki berseragam basket lengkap dengan bola ditangan kanannya.
Dari dalam, terdengar suara teriakan semangat dari penonton, pelatih dan team cheerleaders. "Ayo team 12 IPA tunjukan kehebatan kalian."
"Basket! Aldo juga suka basket." Naira berlari mendekati sebuah ruangan besar seperti stadion kecil. Dari balik tralis jendela, ia coba mengintip keseruan yang terjadi didalam dengan bantuan bangku kayu yang ada di sana.
"Kira-kira ada Aldo gak ya, dia suka basket?" Ucapnya mencari Aldo.
"Kamu udah selesai belum mengintip dari situ? Kenapa gak masuk aja?"
"Hutss! Jangan berisik!" Ucapnya sambil memberi kode pada orang itu untuk pergi. "Aku masih kelas 10, aku kabur dari pekan pengenalan ekstrakurikuler. Acara itu sungguh membosankan." Balasnya mencela kegiatan itu. Pemuda itu hanya tertawa kecil. Ia tersenyum kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Naira.
"Oh! Membosankan? Gimana kalau kita bilang ke guru BP untuk gak perlu lagi mengadakan kegiatan membosankan itu."
"Hutsss! Diem! Aku bisa...ke-ta-huan!" Naira kaget dengan sekejap tubuh Naira membeku.
"Mati deh gw! Itulah yang bisa diucapkannya.
Aduh aku gak berani turun nih! Bisa-bisa ruang BP nih!" Naira terus mengeluh, ekspresi mukanya ketakutan, dia pikir orang ini pasti kakak pendamping. Dia tidak melihat dengan jelas siapa pemuda itu.
"Kak! Saya cuman ngeliat-ngeliat aja" Balas Naira terbata-bata.
"Udah ngeliatnya? Kalau sudah kita sama-sama ke ruang BP terus bilang kalau kegiatan pekan ekstrakurikuler membosankan." Balas orang itu. Kini Naira memberanikan diri berbalik arah.
"Ngapain kakak disini?" tanyanya lagi sontak membuat Naira kaget dan langsung terpesona melihat Dove. Ia terlihat keren dengan baju basketnya, bola ditangannya dan keringat yang membasahi rambut dan mukanya. Dove mengelap keringatnya dengan handuk sedangkan Naira masih terpesona dengannya. Dove lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Naira turun. "Kalau orang lagi bertanya seharusnya kamu jawab bukan balik bertanya." Ucapnya dingin sambil membersihkan dengkul Naira yang kotor.
"Mau liat-liat aja" Ucap Naira spontan. "Kak waktu itu, sorry, aku gak bermaksud untuk menampar kakak" Tambahnya.
"Hooh!" Ucapnya tetap dingin. "Kakak sendiri ngapain disini?" Ia berbalik bertanya setelah menjawab pertanyaan Dove.
"Mau nemenin kamu ke ruang BP." Balasnya santai.
"Ngapain kak! Aku bercanda, kegiatannya menarik kok! Sungguh! Menarik!" Naira mencoba menganulir kata-katanya barusan. Namun, Dove tidak bergeming.
"Terus kamu ngapain disini kalau acaranya tidak membosankan?" Tanya Dove.
"Aku mau balik!" Naira langsung berlari dan tidak sengaja menginjak kursi kayu kecil yang berada ditengah jalan.
Buk! Kencang sekali.
"Sakit!" Naira mulai mengiris. Mendengar itu Dove langsung lari lalu memeluknya,
"It's ok yang penting kamu aman. Kami ada luka gak?" Tanya Dove panik. Naira masih tak bergeming.
"Kalau aku tanya jawab!" Bentak Dove. "Ada yang luka gak?" Tanyanya lagi dengan nada tinggi. Naira hanya menggeleng. Ia lalu menarik Naira ke dadanya sehingga wajahnya berhadapan dengan wajah Dove. Ia lalu mengendong Naira dan membawanya ke bangku kayu disebelahnya.
"Naira, hati-hati kalau jalan. Kamu itu udah pake kaca mata masih aja jatuh." Dove mencubit pipi Naira lembut.
"Naira! Di dunia ini gak ada yang gratis, bayar!" Ucap Dove jutek lalu menarik tangan Naira.
"Hah! mau ngapain kak?" Tanya Naira bingung.
"Katanya mau liat-liat" Jawab Dove.
"Tapi kak" Ucap Naira.
"Kamu, mau apa sebenarnya?" Dove mendorong Naira ke dinding, wajah mereka hanya berjarak 5 cm, Naira dapat merasakan hembusan napas Dove, matanya menatap mata Dove, seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan Dove. Dove semakin mendekat, tangan kirinya masih mengandeng tangan Naira.
"Hey!!!" Teriak seseorang bertepuk tangan melihat kami.
"Romantis" Teriaknya dengan nada menghina.
"Ricky, It's my name! Gw tahu lo pasti mau nanya nama gw kan!" Ucapnya kepedean seakan dia penguasa yang sombong.
"Wah, ada siapa nih?" Ia berputar sambil melirik pada Naira.
"Anak baru ya, siapa nama lo?" Tanya Ricky menggoda Naira. Ricky dengan senyum nyinyir menatap Dove, lalu menunjuk padanya sambil tersenyum lalu membereskan band kuning di kepalanya.
"Na-ira kak" Jawab Naira mengajukan tangannya untuk berkenalan. Dove yang melihatnya langsung menepuk tangan naira.
"Aduh" Keluh naira, dove pun mendorong tubuh naira sehingga dia berada dibelakang badan Dove.
"Lo mau gak, jadi pacar gw?" Ricky tersenyum nyinyir.
HAH! Gila kali nih orang! Seru Naira dalam hatinya. Rambutnya di kuncir ke belakang, tampangnya berantakan, celananya ketat dan pendek di atas pergelangan kaki, lengan kemejanya dilipat ke atas, terpasang band kuning di kepalanya, mukanya sombong dan resek. Hidungnya mancung, matanya besar, rambutnya keriting mungkin kalau dibuka mengembang seperti brokoli. Tubuhnya kurus, ia selalu saja menarik celananya saat berjalan.
"Hey Naira! Jangan mau dibohongin sama Dia!" Teriaknya.
"Dia! itu cowok sok asik yang bisanya cuman belajar, nge-re-but posisi orang!!" Ucap Ricky ketus lalu mendorong Dove, Naira yang berada dibelakangnya hampir jatuh namun Dove menolongnya sekali lagi, sama seperti dia menolong Naira.
Dove menguatkan genggamannya, dengan cepat, ia menarik baju Ricky, lalu mendorongnya ke dinding. Dia lalu menahan leher Ricky, dengan lengan kanannya.
"Ricky, jangan cari masalah!" dengan nada baik-baik. Ricky tak tinggal diam dia mencoba memukul Dove namun di tahan oleh Dove. Tangan Dove menahan tangannya dan memelintirnya, Ricky mengeluh kesakitan. Namun pantang baginya untuk mengaku kalah pada Dove. Plintiran tangannya semakin kencang dan membuatnya terpaksa memohon ampun pada Dove.
"Stop Dove!!" teriaknya keras
"Ricky! Kamu! Jauh-jauh dari dia, jangan lo ganggu dia!" Dove mendorongnya dengan kencang lalu menarik tangan Naira. Ia tak berkutik, "Lo juga mau?" Teriak Dove. Dove menarik tangan Naira untuk segera meninggalkan tempat itu. Dove tidak pernah melepaskan tangannya dari Naira, mereka berjalan berlawanan dengan pandangan Ricky yang langsung mencari cara menghancurkan Dove.
Ricky menarik tangan Naira kedalam pelukannya, sedetik kemudian pukulan Dove melayang membuat muka Ricky terluka.
Ricky membalas, dan keduanya terlibat dalam pertengkaran di depan murid-murid lainnya. Naira mulai bingung dengan situasi yang terjadi. Apa yang harus gw lakuin??? Aduh gimana??? Kenapa jadi berantem gini!!! Naira panik.
Dia melihat ke sekelilingnya dan tak ada satupun yang berani melerai mereka dan hanya menonton sambil berbisik-bisik, bertanya siapa yang sekiranya akan menang. Mungkin sudah menjadi hal wajar, mereka justru membuat taruhan siapa yang akan menang.
"Hey, kalian berhenti!!" Naira berusaha melerai. Bukannya dapat hasil justru, ia mendapat pukulan dari Ricky. Ricky hanya tersenyum nyinyir, meledek, devil! Dove semakin brutal memukul Ricky.
"Kalian berhenti!!!!!" Suara lantang itu berhasil melerai mereka dan membuat semua orang lari.
"KEPSEK!" Teriak anak-anak kabur. "Eh ayo kabur, dia itu orang paling menakutkan disekolah!" Ucap salah satu dari mereka mengajakku lari.
"Hey, liat dia lari Dove!" Ucap Ricky tak kapok dan masih meledek Dove. Semakin brutal Dove memukuli Ricky hingga babak belur.
"STOP!" Seorang pria tua sambil menyalakan toa, turun melewati anak tangga kecil yang langsung terhubung ketempat kami berada sekarang. Badannya subur, kulit coklat matang, memegang toa serta pluit di tangan kirinya. Semua menyingkir memberi jalan, murid-murid takut. Pria itu menyebut nama Dove dengan suara keras, tinggi, dan tegas.
Dove ngeyel dan masih ingin memukul namun pria itu yang dipanggil Pak Dami menarik kerahnya. Dove lalu berhenti bertengkar.
"Kalian berdua!!! Dove!! kamu ini ketua OSIS!! Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini, memalukan!!" Ucapnya menghela napasnya panjang.
"Kalian itu! berantem terus, kalian ikut saya!!" Pak Dami mengiring mereka ke ruang BP.
Naira merasa lega karena pertengkaran itu sudah berakhir. Dia tersenyum dan melangkah, tidak bertahan lama saat Pak Dami menyuruhnya juga ikut keruang BP.
"Kamu, mau kemana?? kamu anak baru udah bikin masalah!!" perintah Pak Dami.
"Mereka berantem lagi, mereka itu musuh bebuyutan." Ucap salah seorang murid pada temannya didepan ruang BP.
"Iya! Tapi baru kali ini, Dove berantem sampai mukul Ricky" balas yang lain.
"Seorang Dove gak mungkin banget, mukul orang!" Ucap Sinta memarahi orang yang membicarakan Dove.
"Mungkin gara-gara anak baru itu, awas loh kalah saing, Sin-ta!!" Balas mereka sambil menunjuk ke arah Naira yang duduk depan ruang BP sambil memegang bola basket Dove.
Naira mulai terintimidasi oleh pandangan siswi yang membicarakannya. Tak lama, Dove keluar, dan menatap Naira, "Gara-gara kamu" Ucapnya ketus lalu memberikan surat peringatan pertamanya lalu mengambil bolanya kemudian pergi tanpa kata.
"Hey emangnya aku yang nyuruh kamu berantem" Tinggal Naira menatap surat, Oh My God, surat peringatan! baru juga masuk! Di kertas itu tercantum namanya dengan keterangan berantem, memalukan dan yang lebih gila, poin sekolahnya sudah dikurangi 50 poin. Kesal bercampur lemas, itu yang dirasakannya saat membuka kertas bertuliskan namanya di cop surat.
"Gara-gara lo nih!" Bentak Ricky. "Awas lo!" Ancamnya pada Naira. Ricky menunjukan surat keterangan belajar dirumah selama 2 minggu.
Pak Dami keluar lalu memberikan buku kuning pada Naira dengan cap merah, teguran pertama. Pertama kalinya selama sekolah, dia mendapatkan teguran karena berbuat masalah di sekolah padahal Naira termasuk tipikal cewek yang lebih memilih untuk masuk ke kelas matematika selama 4 jam dibandingkan ruang BP selama 1 menit.
"Jangan buat Dove bermasalah, paham itu Naira!" Ucap Pak Dami membuatnya kaget.
Bel masuk kelas berbunyi, semua murid diharapkan kembali ke kelas mereka masing-masing. Sinta tiba-tiba masuk ke kelas dan menyuruh Naira, maju ke depan. Dia kesal ia menyuruh Naira menyanyikan lagu mars sendirian. Wira sebagai kakak pembimbing yang bertugas dibuat kaget dengan sikap Sinta yang seakan ingin membuat Naira malu.
"Ayo nyanyi, kamu berani nyari masalah sama ketua OSIS sekarang malah diam aja! Ayo nyanyi!"
Cepat ucapnya, Naira akhirnya menyanyi, namun suaranya cempreng, membuatnya jadi tertawaan orang lain. Sinta senang setelah melihat Naira malu, ia semakin bertindak dan menyuruhnya lebih kencang lagi. Naira mulai menitikkan air mata, mendengar temannya menertawai dirinya. Wira yang tidak tega, segera mengambil tindakan membelanya.
"Sinta cukup! Keluar, lo gak berkepentingan disini!" Lalu menarik tangan Sinta, "Sinta jaga dong sikap lo!"
"Diam lo Wira! Gw mau kasih dia pelajaran karena udah buat masalah sama Dove! Dove itu masuk ruang BP karena dia!" Bentak Sinta.
"Sinta kecilkan suara lo!" Bentak Wira balik.
"Oke, boleh lo lakuin itu tapi jangan bawa nama Dove, karena lo ngelakuin itu semua bukan karena Dove masuk ruang BP tapi karena marah sama Naira." Ucap Wira sambil membuka pintu.
"Sinta!" Panggil Dove, ternyata ia berdiri dari tadi diluar. Ia lalu membuka pintu kelas. Semua murid kaget melihat Dove, Wira berada di satu kelas yang sama. Dua pentolan shot genk. Ia masuk dengan tenang, mengambil bangku, duduk, dan memainkan gitar yang dibawanya.
"Dove!" Ucap Sinta takut dan kaget.
"Inget Sin, lo gak mungkin bisa merubah Dove ataupun hatinya." Ucap Wira.
"Ayo! nyanyi, kamu ditertawakan karena salah nada. Sekarang hari terakhir masih gak bisa!" Dove mulai memetik gitarnya. Hal kedua yang belum pernah dilakukan Dove sebelumnya bermain gitar didepan banyak orang. Bahkan teman-temannya tidak tahu Dove bisa bermain gitar.
"Ayo mulai, buktiin kalau kamu gak bisa dibully sama orang lain!" Dia melirik pada Sinta.
Dove membantu Naira, menyanyi namun karena suara Naira yang cempreng. Membuat kuping Dove sakit, "Kamu tuh bisa nyanyi gak sih!" Tanya Dove ketus.
Melihat tatapan mata Dove padanya, membuat Sinta semakin kuatir akan semuanya. Dove membantu Naira menyanyi, bahkan menggantikan bernyanyi, mereka kini seperti melihat konser Dove. Meskipun begitu rasa malu Naira tetap ada namun hanya berkurang sedikit.
"Hahaha, dasar gak bisa nyanyi ya ?" Ledek teman yang lain.
"Semuanya, kita nyanyi bareng ya" Ucap Dove lalu mulai memetik gitarnya kembali. Sebelum memulai lebih jauh, Sinta buru-buru mengambil gitar Dove dan pergi. Dove ikut keluar sedangkan yang lain melanjutkan materi perkenalan.
"Semuanya, jangan lupa akan ada acara api unggun. Dimana, setiap anggota OSIS akan mengikatkan gelang merah di tangan setiap anak sebagai bentuk penerimaan secara resmi dan kalian bisa bertatap dan berbicara langsung dengan kakak kelas favorit kalian"
Wira kembali mengingatkan mereka semua.
Teriakan kembali menyambut pengumuman itu terutama bagi mereka semua sudah menunggu acara ini terutama anak cewek karena mereka bisa langsung berbicara dengan Dove dari dekat.
PESTA API UNGGUN,
"Come on! Let's a party together" Teriak semua panitia memanggil semua anak murid untuk turun ke lapangan. Semua murid keluar dari kelas dan pulang ke rumah masing-masing. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, semua orang berteriak dan bernyanyi. Api unggun akan segera dilangsungkan.
Semua anak berkumpul sambil membawa semua alat untuk berpesta, gitar, dll. Naira berjalan dengan muka sedih dan lemas, mengingat semua hal yang sudah dia alami. Pengalaman yang buruk dengan kakak kelas, dipermalukan, dan menjadi bahan gosip satu sekolah.
"Kenapa ya, hari ini, sial banget. Ketemu sama kakak kelas resek."
"Gaes! Ada yang berantem!" Teriak seseorang.
Naira teringat perkataan murid di ruang BP tadi. Dia langsung berlari menuju gang kecil yang berada disebelah bangunan sekolah. Gang ini penghubung antara SMA dan SMP Harapan yang letaknya bersebelahan. Di sana, semua orang sudah berkumpul, menyoraki Dove dan Ricky yang kembali berantem. Dove memukul Ricky berkali-kali begitupun sebaliknya ia mendorong Dove.
Mereka berdua terlibat perkelahian yang lebih parah dibandingkan tadi siang.
"Hey! kalian berdua stop!!" Robert dan Chua melerai. "Ricky! Stop. Lo udah babak belur kayak gitu. Udah Ricky stop!" Chua mencoba menahan Ricky yang masih ingin beradu kekuatan dengan Dove meskipun sepertinya dirinya sudah kalah.
"Kak Dove! Berantem. Mana kata orang dia baik, kalau apa-apa langsung main kekerasan. " Naira ikut mengomentari mereka berdua.
"Hutsss!" Bisik seseorang. "Kak Dove, gak pernah tahu berantem sama orang. Apalagi mukulin orang kayak gitu. Ini baru pertama kalinya!" Tambah murid itu.
"Kalian aja gak tahu.." Balasnya lagi, ia semakin ilfil melihat Dove setelah semua yang dia perbuat. Dimata Naira, Dove adalah seorang kakak kelas dengan nilai minus dimatanya. Baginya, Dove adalah pembuat Onar yang mungkin harus dia jauhi selama bersekolah di SMA Harapan. Dove adalah hal terburuk, ia bahkan membuatnya masuk ke ruang BP sampai dipermalukan oleh Sinta, dll.
Suara yang lain semakin bersorak-sorak karena peristiwa ini. Banyak sekali yang menyebutkan nama Dove.
"Dove! Cukup! Hentikan!" Teriak Robert.
"Jauhi dia!" Teriak Dove ingin menghajar Ricky lagi. "Dia bukan mainan yang bisa Lo ganggu!" Tambahnya.
"Dove! Berhenti. Semua anak ngeliatin Lo!" Teriak Robert. Semua? Mungkinkah dia juga...
Dove mengambil napasnya panjang, matanya melihat ke segala arah, dan menemukan Naira berada ditengah kerumunan itu. Matanya seperti jijik melihat Dove. Ia dapat merasakan pandangan tidak suka yang Naira tunjukkan padanya. Ia lalu melepaskan Ricky yang sudah terkulai lemas dengan mukanya penuh luka. "Aku akan bayar semua biaya pengobatannya." Ucap Dove sebelum meninggalkan pemuda itu. Chua langsung membawa Ricky ke ruang UKS untuk diobati, sedangkan Robert berusaha menenangkan Dove.
"Cemen Lo! Pukul lagi, gw Dove!" Teriak Ricky. Namun Dove tidak bergeming, tatapan matanya masih menuju pada Naira. Ekspresinya semakin jelas terlihat, ia tak menyukai Dove.
"Dove! are you okey?" Tanya Robert, Dove tidak menggubrisnya dan hanya melihat Naira yang ilfil dengannya.
"Dasar trouble maker! Jangan sampai aku temenan sama orang kayak dia!" melirik Dove.
"Aku gak papa!" Ia mengindahkan Robert dan berjalan menghampiri Naira. Badannya basah oleh keringat bercucuran. Baju seragamnya berantakan dan terdapat luka di sudut bibirnya.
"Ekspresi kamu kenapa kayak gitu? Kamu gak suka sama aku?" Tanya Dove bertubi-tubi.
"Muka- muka aku, gak kok, biasa aja!" Ia lalu meninggalkan Dove begitu saja. Ekspresi Dove berubah, ia seperti menahan sesuatu dalam hatinya.
"Tunggu!" Dove memegang lengan tangan Naira, namun gadis itu menghempaskan tangannya. Tiba-tiba ekspresi Dove berubah matanya mulai berkaca.
Dia hanya menatap Naira nanar, "Aku bingung, kakak itu ketua OSIS? Ketua OSIS itu selalu anak yang baik, pinter tapi ini sukanya berantem, jangan ampe deh aku punya temen kayak kakak, ups!" Ceplos Naira tepat didepan wajahnya.
"Sorry! kak, aku ada urusan!" Tambahnya lalu berbalik arah berjalan berlawanan arah dengan posisi Dove saat ini.
"Naira!" Teriak Dove menghadang jalannya, "Apaan sih!" Teriak Naira, dengan cepat Dove langsung menutup mulut Naira, "Apa yang kakak lakukan?" Ucap Naira berbisik sementara mulutnya masih di oleh tangan Dove.
"Kamu harus minta maaf sama aku. Kamu barusan menghina aku." Dove berbicara dengan suara rendah. Kini, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa marah diwajahnya dan juga dialami oleh Naira. "hemmm" Naira mengeluarkan suara melalui tenggorokannya. Tak mendapatkan respond, ia lalu mengigit tangan Dove. Tak ada sedikitpun perlawanan dari Dove. Dove kemudian menarik tangan Naira. Kedua matanya menggambarkan kekecewaan, genggamannya semakin kuat tak kala Naira mencoba untuk melepaskannya. "Lepas!"
"Lepas gak kalau gak aku teriak!" Naira berusaha melepaskan diri.
"Sakit!" Teriak Dove namun ia memilih untuk menahannya. Naira berusaha kabur namun Dove menariknya kembali, Ia mendorong badan Naira, membuatnya kaget. Ia mulai takut dengan situasi ini dan mencoba mencari cara agar amarah Dove menghilang.
Gawat, dia marah! Naira ayo berpikir, ayo berpikir!! Bisa habis kamu!! Naira ayo Naira!! Batinnya, matanya mengarah ke segala arah. Otaknya terus berpikir, bagaimana cara keluar dari situasi ini.
"Maaf kak. Aku gak bermaksud seperti itu. Kak Dove, kamu pasti haus ya? Kak pasti capek abis berantem!" Dia lalu mengambil botol minumnya dan memberikannya pada Dove. Namun Dove terus mengarahkan tubuhnya mendekat pada Naira.
"Kak, STOP Kak, a-ku" Oh My God, Jantung Gw! Dove berjalan semakin dekat, Naira semakin ketakutan, dia hanya bisa memejamkan matanya.
"Apakah ini masih sakit?" Dove mengelus rambut Naira dan memindahkan sebagian ke belakang kupingnya lalu memeriksa, pipinya yang terkena pukulan tadi. Dielusnya pipi itu lalu ditiupnya. "Nai, udah aku maafin kok." Balas Dove.
Hembusan itu membuat Naira mati kutu, "Ditanya kok diem aja! Gak punya mulut?"
"Auu, sakit." Ceplos Naira kesakitan. Dove kembali meniupnya.
"Bentar lagi sembuh!" Balasnya, "Aku udah maafin kamu, Nai." Tambahnya lalu mengambil botol minum Naira. "Besok! Jangan ngomong sembarangan ya." Balasnya lagi jutek.
"Nai, kakak panggil aku Nai?" Tanya Naira yang dibalas jutek oleh Dove, "Kenapa? Maunya dipanggil Ms. bawel. Suka bikin kepala orang pusing? Gitu?"
"Jutek banget sih, dasar nyebelin, untung Aldo gak kayak dia!" umpat Naira memasang muka anti terhadap Dove.
Mendengar itu membuat sikap Dove berubah, ekspresinya sedikit tidak suka lalu mengembalikan botol itu dengan sopan.
"Gak usah sombong!" Kritik Dove tajam.
"Thanks!" Dove menyebutnya dengan singkat, mukanya kini tidak menunjukkan ekspresi marah, justru dia tersenyum. Tapi senyum itu tidak disambut baik Naira yang justru ketus, dan menganggapnya aneh.
"Dasar trouble maker! Aku gak mau lagi ngeliat kakak!" Dia mengambil botol minumnya kasar lalu mengulurkan lidahnya pada Dove. Membuat semua orang tertuju padanya sebaliknya Dove kecewa dan terpukul tergambar dari kedua tatapan matanya yang sedih. Sementara Sinta yang melihat hal itu, mengepal tangannya dan melirik Naira dengan ekspresi kebencian.
"So, it's you Naira!"
Naira tak peduli dan berjalan seperti tidak terjadi apapun. "Dove, ini aku ada minum buat kamu." Sinta mendekati Dove dan mencoba membersihkan wajah orang yang disukainya itu dengan handuk kecil miliknya. Namun Dove tak mengindahkannya dan malah pergi, ia bahkan tak sengaja mendorong Sinta hinga ia terjatuh.
"Sorry Sinta, aku gak maksud" Ucap Dove membantunya berdiri kemudian berlari mengejar Naira. Tanpa berkata apapun dan didepan semua orang yang berada di koridor menuju pintu keluar, Dove menarik bahu Naira kemudian membalikan badannya agar searah dengan dirinya. Tangan kirinya otomatis memeluk pinggang cewek berbadan mungil itu, seketika jantung Naira berdetak kencang. Kejadian ini membuat cewek-cewek di sana berteriak mengundang lebih banyak orang datang melihat ini semua. Semua orang berlari mendekati mereka, terkejut dengan sikap ketua osis mereka yang tidak biasa, "Cie!!" ucap anak-anak.
"Lepas gak!" Teriak Naira.
Sementara Chua yang ingin melerai mereka dihalangi oleh Robert, sementara Wira yang melihat dari belakang mereka mulai mengernyitkan dahinya. Robert dan Wira menyadari sesuatu yang berbeda dengan sikap sahabatnya itu yang biasanya pendiam dan dingin. Keinginan utamanya adalah menghindar dari cewek-cewek yang mengidolakannya. Semua kebiasaan itu sirna, tak kala mereka berdua melihat bagaimana sikap Dove pada Naira. Sementara dari balik arah yang berbeda, Dion menatap keduanya dengan sinis terutama pada Naira.
"Diam! Apa kamu bilang tadi? TROUBLE MAKER! aku buat apa? Sampai KAMU BISA BILANG AKU TROUBLE MAKER! Tanya Dove bertubi-tubi.
Naira melepaskan tangan Dove dan mengacuhkannya, dia lalu pergi meninggalkannya. Namun Dove tidak membiarkannya. Dia menarik tangan Naira dan mendorongnya bersandar pada dinding yang ada di belakangnya, tangannya mencengkram lengan Naira erat.
"LIAT NAIRA! AKU KAYAK GINI KARENA KAMU!" Dove menunjuk Naira. "Aku berantem dan mukulin orang sampai babak belur karena kamu, Aku belain kamu dari orang paling bermasalah disekolah ini!!"
Menunjuk Ricky yang babak belur dengan luka diwajahnya. Mengatakan itu, membuat Mata Dove berkaca bercampur dengan amarah dan kekecewaan.
"GW GAK MINTA LO BELAIN!" Teriak Naira membuat Dove semakin marah. Dove memukul tembok tepat di sebelah naira, tangannya luka. Naira kaget sementara dari sudut mata Dove, ia meneteskan air mata, saat menatap kedua mata Naira yang tidak suka padanya.
"Sakit!" Ucap Naira ketus dan mendorong Dove.
Mata Naira tak berhenti menatap Dove, Ia melepaskan tangannya, menghela napasnya lalu memegang pundak Naira, "Aku gak pernah minta pembelaan kamu!" Balas Naira datar dan tak peduli.
"Aku melakukan ini semua, just because of you!" Nada bicaranya rendah dan menekankan pada tiap kata.
"Dan, maaf kalau aku membuang-buang waktu kamu" Ucap Dove menyeka air matanya sementara Naira yang sedikit merasa bersalah saat melihat luka ditangannya.
Dove lalu merebut botol minum Naira, tatapannya kecewa, dia langsung masuk ke mobilnya, Robert ikut bersamanya. Mobil dove melewati Naira yang sedang menunggu mobilnya di belakang mobil Dove. Sebelumnya Dove gak pernah berantem, sampai mukulin Ricky seperti itu, Naira, siapa Naira? Robert bertanya dalam hatinya, dia heran melihat sahabatnya itu berantem sampai masuk ruang BP demi adik kelas yang baru dikenalnya. Dove terlihat sangat kesal, matanya berkaca.
Dove melihat botol minum Naira lalu melemparnya, dia sangat marah dan kecewa dengan perkataan Naira yang tidak ingin bertemu dengannya lagi, dia benci hal itu sementara di mobilnya Naira masih merasa bersalah pada Dove.
Naira, kamu gak pernah sadar apa yang kamu lakukan.