
"Naira!" Panggil Dove.
Kami bertemu di depan rumahnya, ia sendirian sambil memegang payung ditangannya. Dia melangkah maju mendekatiku.
"Stop Dove! Kamu jahat, kamu bohongin aku. Aku benci kamu. Kamu dan Aldo kerjasama membodohi ku. I hate you!"
"Kenapa Naira? Aku dan Aldo?"
"Aldo kakak kamu. Kamu pasti selalu ketawain aku tentang Aldo. Jelas! Kamu dan Aldo bohongin aku. Aku benci kakak." Naira langsung berlari meninggalkan Dove.
"Kemana kamu, kenapa ninggalin aku gitu aja."
"Naira, aku bisa jelaskan!" Namun Naira tidak ingin mendengar apapun lagi.
"Jangan kejar aku!"
"Naira, ini hujan!"
******
Sudah dua hari aku tidak masuk sekolah. Semenjak kejadian itu, aku sakit dan memutuskan beristirahat di rumah. Ku pandangi layar ponselku yang terus berdering karena Dove.
Aku kacau juga merindu pada Dove. Aku rindu dia! Aku hanya bisa menangis, aku merasa asing dengan diriku. Jauh di dalam hatiku, aku merasa menyesal pada Dove. Aku masih penasaran, aku memilih kembali menyelinap dan membuka locker Dove kembali.
Aku melangkahkan kakiku perlahan, membuka pintu locker itu dan menemukan sebuah kotak merah.
Ku buka kotak itu, di menemukan sebuah boneka monyet coklat lucu, "Boneka ini punyaku." Aku ingat ini milikku sama persis dengan di foto saat ku kecil.
Ku tekan perut monyet itu, " Naira, maafin aku. Naira, aku tahu semua salah. Maaf Naira."
Tangannya gemetar, air mata mulai menetes. Hatiku meluluh.
"Auuuu!" Aku merasakan sedikit sakit di kepalaku. Dalam kepalaku, aku mengingat saat aku memberikan boneka itu pada Dove kecil. Naira memeluk boneka itu, hatiku bergetar, aku dengan mudah memaafkannya.
"Aku suka banget sama Dove. Boneka ini.."
Naira apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Dia adalah Adi dan kamu menganggap orang lain sebagai dia, kamu jahat Nai, jahat!"
Dia meluapkan emosinya pada boneka itu yang terus di pencetnya.
"Nai, Naira, kamu masih ingat boneka ini? melalui boneka ini, aku ingin mengakui sesuatu. Meskipun kamu gak ingat aku, aku tetap Adi-nya kamu. Itu gak kan pernah berubah. Aku rindu panggilan Adi dari kamu."
Mendengarnya, menangis lah Naira, air matanya membasahi pipinya. Suara tangisnya kencang sekali, membuat semua orang di rumah kaget dan takut.
"Don, itu suara apa ya?" tanya satpam yang bertugas, mas udin pun mulai berjalan mendekat kepada rekan satpamnya, "Kamu ini ngapain sih din, meluk-meluk saya kayak gitu ?" Doni melepaskan tangannya.
Naira lalu berteriak, "Adiiii! Maafin aku!"
Udin dan Doni kaget. Udin yang latah dan penakut langsung melompat dan memeluk Doni. Doni juga ketakutan setengah mati, kakinya gemetar dan kencing di celana.
"Kamu ngompol Don?" tanya Udin.
"Iya, Din. Masih mau hidup aku Din!." Balas Doni gemetar.
"Din, tadi itu suara apa ya?" tanya Mas Doni terbata-bata, "Mendingan kita liat yuk" Ucapnya.
Doni yang ketakutan, memilih diam-diam berjalan jinjit hendak meninggalkan Udin.
"Don, Lo setia kawan gak?" Ucap Udin.
"Enggak" Ucapnya sambil menangis, tapi apa daya kerah bajunya sudah di tarik oleh Udin.
Mereka pun, berjalan menuju, ruang loker yang gelap dan mulai mencari satu per satu. Lampu yang mati dan tak bisa dinyalakan membuat mereka harus mencarinya dengan senter.
"maafin aku, Adi !!" teriak Naira lagi, membuat mereka semakin kaget.
"Din, rasanya itu lagi patah hati deh, gak usah diganggu yuk, lagi galau ini penunggunya" ucap Doni yang takut.
Tiba-tiba Naira muncul dengan rambut yang terurai ke depan, senter putih yang menyala, dan boneka monyet ditangan kirinya.
"Hannnntuuuuu!" teriak Doni terbata-bata. Naira juga kaget dan ikut berlari dengan Doni dan Udin. Doni lari kearah yang lain sedangkan Naira dan Udin berlari kearah yang sama.
Saat Doni berlari dan tak sengaja menabrak lemari loker dan pingsan, "Aduh sakit!" memegang hidungnya lalu pingsan.
Senter Naira tak sengaja terlempar dan rusak, jadinya satu-satu cahaya baginya ilang seketika.
Udin yang berlari kearah pintu, merasa jika seseorang mengikutinya, saat dia berbalik dia melihat muka Naira dan berteriak "Yah! Dia ngikutin gw, Doni. Penunggunya ngikutin gw!" Teriaknya gemetar.
"Pak!" Naira memegang pundak Udin bersamaan dengan habisnya baterai senternya. "Waduh! senternya mati lagi. Nah loh! Dia ngikutin, Mba ini tissue masih bersih baru dibeli, jangan ngikutin saya ya" Ucap Udin yang mulai ketakutan.
"Makasih" ucap Naira, semakin membuatnya takut, "Mbaknya kok bisa ngomong?" tanyanya.
"Ya bisa lah pak!" Naira lalu menepuk pundak mas Udin dan membuat satpam itu langsung pingsan. "Loh kok pingsan, tapi tadi kata pak Doni ada hantu, ahh mending pergi mana senternya mati lagi. Pintu keluar kemana nih, gelap banget. Untung ada HP." Naira lalu membuka pintu dan keluar dari sekolah.
Hujan turun dengan deras, dia mengendarai mobilnya menuju rumah Dove
Rumahnya terlihat sepi dan kosong, tidak ada lampu yang menyala. Tanpa mempedulikan hujan yang turun, Naira turun dan memencet bel rumah itu berkali-kali.
"Dove, Dove, Dove !" teriaknya.
"Aku mau minta maaf Dove" tambahnya.
Hujan semakin besar, Naira tetap berdiri di depan pagar kayu, air matanya masih keluar dari kedua matanya, "Dove, aku minta maaf, maaf aku tidak mengenalimu Dove."
Dia memencet bel rumahnya sekali lagi dan tidak ada yang merespon. Setelah sekian lama menunggu, seseorang keluar dari taksi dan langsung menghampirinya. Seorang ibu paruh baya, memakai baju daster rumah.
"Neng, ngapain disini hujan-hujanan neng?" tanyanya.
"Maaf non, den Dove gak ada di rumah, non siapa ya, nanti kalau Aden udah balik, Mbok kasih tahu ?" balas Ibu itu lagi.
"Saya, Naira bi, pacarnya" ucap Naira.
Tatapan Mbok berubah, "Non, mending pergi dari sini, jangan sakiti Den Dove lagi"
Mbok Pinah langsung masuk dan mengunci pintunya. "Saya, tahu Mbok, justru itu saya mau minta maaf."
Tatapan Mbok Pinah, masih menatap pada gerbang pintu itu, "Non, maafin Mbok tapi Mbok gak mau Non jadi masalah diantara Den Dove dan Den Aldo lagi."
Mbok Pinah juga ingat bagaimana Den Dove menangis dan harus bertengkar dengan Den Aldo karena Non Naira.
"Den Dove, kenapa kok keliatannya sedih banget" tanya Mbok Pinah melihat Dove masuk terburu-buru ke rumah dan langsung berlari masuk ke kamar. Diluar kamar Mbok Pinah mendengar Dove menangis.
"Mbok, Naira gak mengenali saya, dia menganggap Aldo itu saya dan sekarang aldo menyukai Naira. Apa yang harus saya lakukan mbok? " Dove menangis sambil menggenggam kalung Naira.
"Dove, lo keterlaluan jangan lagi lo deketin Naira, dia milik gw Dove!" Ucap Aldo sambil memegang pisau yang diarahkan ke tangannya.
"Jangan Do, gw janji gak bakalan deketin Naira lagi" Ucap Dove mencoba menenangkan Aldo.
"Den, ini kompres dulu aden berdua kenapa sih berantem, karena Non Naira ya?" Tanya Mbok Pinah.
"Ya, begitulah Mbok" Ucap Dove, dari sudut matanya air mata menetes ke pipinya.
Dove kamu dimana? tanya Naira sambil memutarkan kotak music dan menggenggam kalung yang pernah diberikan Dove padanya.
"Naira, kamu kenapa nak, kok nangis" tanya mamanya pada Naira. "Oh iya, Nai ini tadi ada titipan dari Aldo, kamu pacaran ya sama dia? Kok bisa Nai, mama pikir kamu pacaran sama Adi? Karena ini Adi minta pertunangan itu dibatalkan?"
"Mama kenal Aldo?" tanya Naira heran.
"Loh, Aldo itu kakak tirinya Adi, mama pikir kalian itu hanya sahabatan aja. Mama gak sangka kalian berdua." Ucap mamanya membuatnya seperti tersambar petir.
"Mama tahu selama ini, kenapa mama gak bilang aku!" Ucap Naira tak tahu harus mengatakan apa.
"Naira, mama takut kamu belum siap. Jadi kami berempat setuju untuk mengubur masa lalu dan memulai yang baru, hubungan yang baru kamu dan Dove. Maka itu, kami sekolahkan kamu satu sekolah sama dia. Selama ini, mama pikir kamu ada masalah sama Dove dan minta bantuan dari Aldo. Mama anggap kamu sudah dewasa dan bisa menemukan solusi. Mamanya Dove juga gak bahas apa-apa sama mama, jadi mama pikir semua baik-baik saja, sebenarnya ada apa nak?" tanya Mama pada Naira yang menangis.
"Ma, ingat aku bilang benci banget sama trouble maker di sekolah aku, dia itu Dove dan yang selama ini aku pikir Adi itu Aldo, ma aku salah banget sama Adi" Ucap Naira dalam pelukan mamanya.
"Kamu udah jelasin ke Adi?" tanya mamanya lagi.
"Dia gak bisa dihubungin, ma" Ucap Naira terbata-bata sambil menangis.
"Coba mama bantu hubungin ya, kamu tunggu disini." Mamanya pun keluar mencoba menelpon Mama Dove tapi tidak ada respon.
Naira membuka amplop yang dititipkan, Aldo pada mamanya.
Dear Naira,
Maaf Naira, maaf telah membohongimu, aku menyesal sangat menyesal. Adi bukanlah aku tapi Dove, maafkan aku Naira. Sejak awal pertemuan kita, aku sudah menyukaimu. Saat kamu memegang tanganku dan mengatakan padaku untuk tidak meninggalkanmu, saat itulah aku mulai berbohong sebagai Adi.
Aku memilih jalan yang salah untuk mendapatkan mu. Ini tidak akan abadi Naira.
Tapi aku sadar aku salah dan aku akan menebusnya - Aldo Alfredo
Hanya air mata yang bisa ter-luapkan, tak ada lagi, hanya itu yang bisa Naira lakukan menyadari kesalahannya sejak awal, memang dia yang salah.
*****
"Naira! Jauhi Dove! Meskipun Lo tunangannya. Putusin Kak Dove sekarang!"
"Tidak akan pernah!" Balasnya berani.
"Ingat Naira, kamu gak akan pernah bisa kembali dan menghapus segala yang kamu lakukan, mungkin kata maaf gak akan pernah cukup untuk merebut hal yang sudah kamu tinggalkan ingat itu!" ancam Diva saat mengembalikan buku catatannya yang diambil Diva. Diva sengaja melakukan itu agar Naira mendapatkan hukuman dari guru.
Lalu dia melihat Diva berjalan kearah Dove dan memeluk Dove begitupun sebaliknya.
"Naira, ini aku Adi, kapan kamu bangun Nai? Aku mau jelasin apa yang terjadi. Aku gak akan menyalahkan kamu untuk apa yang sudah terjadi." Dove mencium tangan Naira yang masih terbaring lemah ditempat tidur rumah sakit, dengan alat-alat yang masih menempel ditubuhnya.
Naira pun merespon, matanya mulai terbuka meskipun kecil dan tipis. "Nai, kamu udah bangun, ini aku Adi, Dove, pacar kamu, ini kakak aku aku Aldo." Naira lalu menutup matanya lagi, Dove panik dan langsung menekan tombol perawat.
"Semua baik-baik aja, dia masih shock. Biarkan dia istirahat" Ucap dokter yang menangani Naira.
Sekarang Naira ingat, dia pernah melihat Dove, dia ingat Dove tunangannya. Dia ingat, dirinya tidak pernah kecelakaan. Justru dia melakukan kesalahan besar pada Dove
"Dove, tidak!" Teriaknya membuat seisi rumah takut. Ia berlari ke kamar mandi dan mencuci tangannya berulang-ulang. "Aku jahat!" Ucapnya berulang kali.
"Naira, buka!" Teriak Bimo. Pintu itu terkunci rapat. Naira terus berteriak dan membanting barang yang ada. Semakin dia ingat, semakin dia menyesal.
*****
3 tahun yang lalu,
"Naira, besok aku mau ke Amerika untuk berobat. Om Bimo memutuskan untuk membawa kamu tinggal sementara di luar. Sampai kondisi kamu membaik. Naira, aku gak pernah menyalahkan kamu. Aku sayang kamu." Dove mencium kening Naira dengan tangannya yang di balut perban. "Besok hari kelulusan Nai, selamat ya kamu lulus sebagai yang terbaik." Ucap Dove.
Naira, ingat ia berdiri di depan ruang UGD dengan kemeja penuh dengan darah. Dove sedang terbaring lemah dalam penangan dokter, "Mama aku yang salah, Dove kayak gini karena aku." Dia pingsan dan setelahnya dia sama sekali tidak mau bicara dan hanya duduk termenung.
******
Disisi lain, seseorang masih merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Setelah dokter mengatakan, jika pasien yang baru saja di operasi masih dalam kondisi yang belum stabil. Satu - satunya jalan adalah menunggu pasien itu sadar untuk mengetahui dampak dari benturan di kepalanya.
"Maaf..maaf Dove" Aldo menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Dove.
Aku yang salah! Aku tak pernah mengakuinya, aku yang menyakitinya tapi aku tak pernah menyadarinya mungkin maaf tak akan pernah cukup untuk mendapatkan kepercayaannya kembali. Aku adalah penyebab rasa sakitnya - Naira
Dove! Maaf. Aku egois, Aku menyesal sadarlah Dove. I still want my brother. - Aldo