
Aku sadar di hari ulang tahunku. Mampukah aku memaafkannya.
*****
Happy Birthday, Naira lalu emoticon hati dan senyum lebar mengikuti di samping kalimat itu. Naira tersenyum ini merupakan hadiah pertama yang diterimanya diulang tahunnya yang ke 16 tahun. Hadiahnya adalah sebuah kotak musik, lengkap dengan boneka hello kitty kecil kesukaannya. Kedua orang tuanya sedang pergi ke Inggris untuk urusan bisnis dan hanya mengiriminya ucapan tepat pukul 12 malam dini hari.
Dor!!! Dor!! Dor!! Suara Confetti menyemarakkan hari ulang tahunnya, persembahan terbaik dari sahabatnya The JOJO.
"Selamat ulang tahun, sahabatku tercinta!!" Ucap Nasya, Dina, dan Lita secara bersamaan. Ucapan selamat pun juga datang dari teman kelas lainnya. Kejutan lain dipersiapkan oleh Aldo, ia datang bersama dengan seorang teman yang jago bermain gitar.
"Selamat ulang tahun, Nai!" Aldo mengeluarkan kotak merah dengan pita pink diatasnya. Naira heran melihat, Aldo yang memberikannya kado lagi. Naira menerima, kado itu sambil tersenyum sendiri, membuat Aldo sedikit penasaran dengan sikap naira yang tersenyum sendiri.
"Kamu, kenapa kok ketawa?" tanyanya sambil mengelus rambut Naira lembut.
"Kamu ngapain kasih aku hadiah sampai dua kali, kamu mau kasih kejutan buat aku ya." Naira meledek Aldo sambil mencolek pinggangnya, lalu mengedipkan matanya.
Aldo dengan cepat menjawab, tangannya diletakkan di bahu Naira, "hadiah aku cuman yang ini doang, hadiah yang kamu maksud itu yang mana?" Dia melirik ke arah belakang untuk mencari hadiah itu.
Muka Naira berubah dia kaget dan bingung. Siapa yang memberikannya hadiah itu, hadiah yang selama ini sangat dia inginkan. Otaknya tak dapat menebak tapi bayangan dove muncul secara tiba-tiba.
"TIDAK!!" Teriak Naira
"Kenapa?" Tanya Aldo yang semakin penasaran melihat muka Naira yang seperti orang linglung.
Naira memasukkan hadiah itu ke dalam tasnya tanpa sepengetahuan Aldo.
"Bolos yuk" Ajak Naira.
"Apa ?" Spontan Aldo yang tak bisa menolak keinginan naira dihari pentingnya.
"Kita naik mobil aku aja, aku mau ke suatu tempat yang pastinya kamu juga suka" Ucap Naira girang.
Ini adalah moment pertama bagi Naira merayakan hari ulang tahunnya dengan Aldo. Setelah masuk SMA. Sebelumnya, Aldo bilang jika dia dan Aldo pacaran jarak jauh sehingga tidak banyak kenangan ulang tahun diantara mereka. Mendengar itu dengan mudahnya Naira percaya.
"Aku yakin kamu pasti ingat tempat ini." Naira membawa Aldo ke danau favorit mereka.
"Aldo kamu ingat gak jalan ini menuju kemana?" Tanya Naira sambil mengenang kejadian masa kecil mereka setelah kejadian gempa bumi itu.
"Ingat, dulu ini tempat pertama kali kita kenalan kan?" Celoteh Aldo namun tidak dengan Naira. "Pertama kali kita ketemu?" Balasnya sedih. Di sini adalah tempat favorit mereka, disini mereka berjanji untuk selalu ada satu sama lain. Mereka bahkan menuliskan impian dan harapan mereka dalam sebuah kertas yang dikubur dalam tanah di bawah pohon rindang.
*****
"Naira, kamu janji ya jangan tinggalin aku." Ucap Dove pada Naira.
"Janji, kamu tulis disini harapan kamu. Kata papa aku setelah kita tulis dimasukkan dalam botol ini lalu kita masukkin dalam tanah. 10 tahun lagi kita buka sama-sama." Naira coba menjelaskan kepada Dove yang masih bingung. Dia bingung gimana caranya dia bisa menulis sementara tangan kanannya masih di perban.
"Aku bakal kasih ini ke kamu. Ini boneka kesukaan aku. Dia bakal temenin kamu saat sendirian. Ambil jangan diam aja!" Teriak Naira pada Dove karena dia diam saja dan tak berkutik. Dove sendiri bingung dia adalah anak laki-laki masa bermain boneka.
"Iya, kamu mau kemana?" Balas Dove
"Aku mau jadi dokter supaya bisa nyembuhin kamu. Oh iya nanti kalau udah besar aku mau jadi dokter." Ucap Naira tersenyum pada Dove. Mereka berbagi coklat bersama.
*****
Aldo apakah hanya aku yang menganggap semua kenangan itu penting? Kenapa kamu lupa sama semua kenangan itu?
Tak ingin larut dalam pikirannya, Naira langsung berhenti di pinggir jalan, "Naira kamu kenapa?" tanyanya panik, dia mengecek apakah ada luka pada Naira.
"Kamu bener hanya memberikan aku hadiah botol minum biru itu?" tanyanya serius.
"Iya, kenapa? Kalau hadiah yang itu dari temen kamu kali, yang pasti bukan aku, tapi kamu suka gak?" Balasnya santai, "Aku gak tahu kamu mau hadiah apa jadi aku beliin aja kamu itu?" Tambahnya sambil memainkan games di handphonenya.
Apa Aldo bahkan tidak tahu hadiah apa yang aku inginkan? Apa Aldo lupa? Siapa yang memberikannya? Naira mulai menyetir lagi.
Mereka akhirnya sampai disebuah danau yang ada didekat TK mereka dulu, "Wah, keren banget tempat ini" Ucap Aldo kagum dengan tempat ini.
"Kamu, suka?" tanyanya juga senang.
"kamu tahu tempat ini? Inget kan?" Naira bertubi-tubi bertanya tapi Aldo tidak mendengarnya malah duduk santai di bangku yang mengarah ke danau. Naira juga duduk di sana dan membawakan ice cream, coklat untuk Aldo dan vanila untuknya.
"ice cream coklat untuk Aldo. Special kesukaan kamu." Melihat itu membuat aldo tertawa geli, "Kamu tahu gak, aku gak suka coklat tapi saudaraku suka sekali, dia kalau sedih makan coklat." Ucapnya membuat pandangan Naira berubah.
"kamu juga, setau aku kamu suka banget sama coklat kenapa sekarang gak suka?" muka Aldo langsung tegang, dia mulai berpikir untuk mencari alasan tepat untuk menjawabnya.
Apa yang harus aku katakan? Bagaimana ini hal ini gak boleh terjadi tenang, tenang!
Aldo menarik nafasnya panjang untuk menenangkan dirinya, keringat dingin keluar dari dahinya. Ia memejamkan matanya sesaat "Oh, gak kok, aku udah jarang makan aja, tapi aku masih suka banget kok" elaknya dengan cepat, hatinya cemas melihat lirikan mata Naira yang aneh menatapnya
"Ikut, aku" Naira mengulurkan tangannya.
Naira mengajaknya kebelakang pohon besar, dan mulai mengorek tanah dengan scope yang dibawanya.
"Kamu ngapain?" Tanya Aldo bingung
"Aldo, kamu lupa? Seharusnya kita gali ini udah lama, cuman karena aku koma jadi baru bisa sekarang, kamu inget isinya?" Ledek Naira.
Apa isinya? Apa yang ada didalamnya, apa yang disembunyikannya? Aldo kamu harus tenang.
Dia meraba kantongnya mencari keberadaan handphonenya. Dia coba mengetikan sesuatu dan mengirimnya.
"Aldo, waktu kecil dulu aku panggil nama kamu Adi ya? Kenapa sekarang kamu maunya dipanggil Aldo? Kamu tahu tempat ini kan?" tanya Naira sambil mengeruk tanah.
Aldo tertawa, "Tahulah, ini kan danau, kita suka main disini kan waktu kecil" Naira tersenyum mendengarnya akhirnya Aldo ingat ini tempatnya bermain. "Mulai sekarang aku panggil kamu Adi ya. Aku mulai ingat beberapa hal tentang kita dimasa lalu." Ucap Naira.
"Apa? Apa yang kamu ingat?" Tanya Aldo terburu-buru.
"Banyak Di." Balas Naira, "Adi kalau tempat pertama kali kita kenalan, saat itu aku lagi ngapain?" tanyanya lagi.
Aldo semakin panik.
"Di TK, kamu lagi main sama yang lain" jawab Aldo.
"Main?" Naira berdiri dan membuang scope itu.
"Aku lelah mending kita pulang." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Aldo. "Adi, adakah yang mau kamu sampaikan kepadaku?" Tanya Naira.
"Sebaiknya kamu panggil aku Aldo bukan Adi. Itukan panggilan waktu kita kecil, sekarang kita udah besar. Panggil aku Adi."
Air mata Naira menetes namun segera di seka olehnya. "Ok, yuk kita pulang."
Di kamarnya, Naira terus memandangi hadiah itu, hadiah yang seharusnya diberikan oleh Aldo. Dia lalu membuka foto masa kecilnya dengan Adi yang dipercayainya Aldo.
Why kenapa bukan kamu?
*****
"Aduh" Teriaknya.
"Sorry" Ucap Dove lalu berlari buru-buru ke lapangan basket.
" Kak Dove" sebutnya. "Semangat"
Naira ikut menyaksikan kepiawaian Dove dalam mengiring bola dalam pertandingan basket antar kelas untuk memperebutkan piala bergilir yang selalu diadakan pihak sekolah tiap tahun.
"Dove! Dove!" Semua bersorak setiap Dove memasukkan bola. Para sahabat dan team cheers setia mendukungnya.
Apa yang terjadi denganku? Aku bingung dengan perasaanku semakin kuat. Aku merasa sepertinya aku telah memilikinya sejak lama. Setiap kali aku mengingatnya, bertemu dengannya, diusirnya aku selalu ingin kembali dan kembali. Aku tidak pernah tahu kapan rasa ini muncul dan kapan juga hatiku mulai belajar mengkhianati rasaku pada Aldo.
Naira memilih untuk keluar meninggalkan pertandingan itu dan duduk di bangku belakang sekolah. Bangku ini adalah tempat yang jarang orang datangi dan menjadi tempat favoritnya saat ini. Ia bisa menenangkan dirinya disini.
"Tidak Naira, kau sudah memiliki Aldo, dia adalah Adi, dia teman masa kecilmu."
"Bi, Adi itu siapa? " Tanyanya pada salah satu pembantu rumah tangganya. Lalu, Bi Minah menjawab, dia adalah teman masa kecil dan juga tunangan non Naira.
Ia semakin bersalah setelah mengingat jawaban itu. "Naira, dia adalah cinta pertamamu, dia segalanya untukmu, dia juga yang selalu ada saat kamu koma, tidak kau tidak boleh menyukai yang lain."
Naira menarik nafasnya panjang, air matanya bertumpuk pada bagian bawah matanya. Hatinya sakit, dia seperti berbohong dan mengkhianati hatinya. Setiap kali dia menolak, rasa sakit dan kecewa semakin besar dan terlalu dominan untuknya. Sangat dominan. Langit berubah menjadi mendung, seakan mengerti kebimbangan yang dihadapi Naira.
"Naira" teriak Dita, "Ngapain sendirian aja" Tanyanya lagi.
"Apakah Dove benar-benar pernah menyakiti hatimu, Dit?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir.
"Kenapa, kamu suka sama dia?" Dita bertanya dengan ketus, suara nafasnya beradu dengan ketajaman matanya memandang pada Naira.
"Nai, gw balik ya, ke kelas duluan!"
Bertepatan dengan itu hujan turun, Naira masih terdiam di bangku belakang sekolahnya ditemani oleh kicauan burung di dalam sangkar besi.
"Aku tidak mungkin mengkhianati, temanku!" teriaknya kesal pada dirinya. Apa yang aku lakukan?
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Dove sambil memayungkan Naira dengan payung biru dongker miliknya. Sejenak mata mereka saling memandang, tatapan itu membuat hati Naira goyah. Rasa itu semakin kuat, ia menyukai Dove.
"Jangan dekati aku lagi" Teriak Naira pergi lari ditengah hujan.
"Naira. Kamu bisa sakit. Badan kamu masih belum kuat. Aku antar kamu pulang ya." Cegat Dove diujung jalan itu.
Please! Jangan seperti ini. Aldo pacarku seperti orang asing bagiku. Dove yang asing justru sangat dekat denganku. Naira tetap menolak ajakan itu.