
Akhirnya aku bisa kembali ke alam adalah hal terbaik untuk memulihkan diri setelah sibuk menjalani aktivitas yang melelahkan, angin sejuk menerpa wajahku dengan lembut. Senyuman yang diberikan oleh orang-orang disini membuat hatiku sangat bahagia. Mereka saling menyapa, menghormati, menghibur satu sama lain degan tarian khas mereka. Mereka bahkan tak sungkan untuk mengajari aku tarian selamat datang yang dipertunjukkan diawal kedatanganku. Para gadis selalu menari untuk meluapkan kebahagiaan mereka dan sepertinya aku harus berterima kasih kepada Kak Dove yang jutek itu karena udah membawaku ke sini.
"Naira bisa bantu ibu, Bumbu-bumbu ini akan digunakan untuk bahan masakan nanti siang." Tanya Bu Ninuk, istri kepala desa Pak Teo.
"Bisa Bu" Naira tersenyum gembira. "Gimana caranya ini, aku aja gak pernah masuk dapur" Ucapnya dalam hati.
"Seperti ini caranya, ibu tahu kamu gak pernah masuk dapur " Bu Ninuk lalu menunjukkan cara mengupas jahe dan kunyit yang akan digunakan. "Loh, ibu kok tahu, saya gak pernah masuk dapur. Saya gak pernah bilang" Naira mulai bertanya-tanya.
"Seseorang memberi tahu ibu." Jawab Bu Ninuk sambil tersenyum, "Kalau kamu mau liat Dove, dia ada di sungai dari sini kamu bisa berjalan lurus terus mengikuti jalan dan kamu akan melihat mereka sedang bermain air dengan sapi-sapi itu" Tambahnya.
Naira tersenyum malu, saat pikirannya dapat diketahui oleh Bu Ninuk. Tugas selesai, Naira pergi untuk melihat Dove di sungai, "Mana dia, kok gak ada?" Naira menyapukan matanya mencari keberadaan Dove yang tak terlihat di sana. Naira turun dan mendekat kearah sungai. Tiba-tiba, Dove muncul dari dalam sungai dengan sikat ditangannya. Dia tertawa bahagia, senyum lebar di wajahnya, mukanya terlihat begitu senang, dia lalu melanjutkan menyikat sapi-sapi yang lainnya sambil bermain air.
Naira terpukau dengan senyuman itu, senyuman yang mungkin hanya bisa dia lihat di Desa Sekar ini. Senyum terindah yang pernah dia liat. Muka yang selalu jutek, kini berubah seperti muka anak kecil yang sedang asik bermain air. Tawa selalu tergambar tak kala salah satu sapi mengibaskan air kepada menggunakan ekornya.
Senyuman itu. Kak Dove bisa senyum dan ketawa. Gila ganteng banget! Dia nyamperin, aduh gw harus gimana nih! Berpikir Naira ayooo!
"Hey! kamu ngapain disini, ayo ikut aku." Dia menarik tanganku masuk ke sungai yang jernih, dia memberikanku sikat yang dia gunakan dan menyuruhku menyikat badan sapi itu mengikuti alur tangannya. Dia kembali tersenyum dan kali ini padaku, dia sama sekali tidak mengesalkan justru membuat jantungku berdebar dengan kencang. "Hallo, Kenapa Naira ngeliatin aku terus, awas nanti kamu suka!" katanya membuatku mati kutu, "Gak kok" jawabku. sambil sesekali meliriknya.
"Udah jangan lirik-lirik malu nih sama sapi." Ucapnya lagi dan sapi itu melirik padaku.
Aku benar-benar bahagia kerena melakukan hal sederhana bersama yang sangat menyenangkan. Setelah makan siang kami memulai observasi, "Naira cepat sana, ganti baju yang bagusan dikit." Perintahnya.
"Buat??" Tanyaku spontan.
"Buat di fotolah, Lo kesini mau liburan apa observasi?" Jawabnya kembali jutek.
Aku akhirnya mengikuti semua keinginannya. Kami melakukan kegiatan yang diarahkan oleh Kepala Desa dan dia pun memotret setiap kegiatanku selama observasi. Tak terasa, waktu sudah hampir sore dan waktunya kami untuk kembali, "Dove, jangan bosen-bosen ya datang kemari" Ucap Kepala Desa sebelum kami pulang.
"Oh Iya, Naira besok kalau datang kesini, kalau ketemu orang kamu gak perlu menarikan tarian selamat datang, biasa aja" Ucap Bu Ninuk lalu tersenyum padaku. Aku langsung melirik pada Dove dan dia hanya tersenyum puas setelah mengerjai ku lagi.
"Semuanya sampai jumpa" Ucap Dove lalu naik ke mobil Alphard hitamnya.
"Kak, ngapain sih lo harus ngerjain gw terus." Tanyaku. "Terus sekarang kenapa mobil ini bisa jemput kita? Kalau gitu dari kemarin aja kita naik ini gak perlu sampai nyasar." Tambahnya.
"Lagian ngapain kamu percaya. Kamu bukannya selalu gak percaya sama aku." Jawabnya cukup menyebalkan
"Oh iya, gimana luka kamu?" Dia kemudian melihat tanganku dan mengambil kotak P3K di mobilnya, dia membukanya perlahan lalu mengoleskan obat di luka itu. Aku sempat berontak namun dia menahannya.
"Udah jangan keras kepala aku peduli sama luka kamu , bukan kamu nya." Jawabnya melanjutkan mengobati luka di tanganku.
"Kemarin lo bilang, ayah gw kerja sama lo, lo ada hubungannya dong sama Aldo? sepupunya?" Tanya Naira.
Dove melirik pada Naira seperti ingin menerkamnya, "Gak kok, aku cuman asal doang, lagian kamu nyebelin sih, sok kaya" balas Dove.
"Bagus deh, jangan ampe Aldo punya sepupu kayak lo, bisa ikut nyebelin dia" Dove mengeratkan plester di luka Naira. Menyuruh supirnya berhenti.
"Turun kamu, cepat!!" Dia melempar tasku keluar mobil.
"Gila ya lo, ini kan hutan" Jawabku takut.
"Makannya lo diem!" Dove turun lalu mengambil tasku dan memasukkannya kembali. Diapun tertidur selama perjalanan dan dia tidur seperti anak kecil tak berdosa.
Aku tak bisa berhenti memikirkan Dove, wajah dan senyumnya selalu terbayang bahkan suaranya saat dia memanggilku. Naira, Aku belum pernah merasa seperti ini atau memang benar benci dan suka itu tipis.
Pipiku memerah dan senyumku melebar sepertinya tidak berhenti membuatku bahagia hari ini. Ponsel pun berdering.
"Aldo, kamu lagi ngapain?" Tanyaku.
"Kamu kemarin dari mana?" Tanyanya lagi sebelum menjawab pertanyaan ku.
"Observasi di Desa Sekar" Sebelum aku selesaikan kalimatku dia menutup panggilan itu. Aldo tidak seperti biasanya langsung memutus panggilan itu.
"Desa Sekar, dia pergi bersama dengan Dove. Jadi Dove benar-benar memilih Naira sebagai timnya?" Aldo merasa kecewa pada adiknya itu.
"Dove kita harus bertemu, lo dimana?" Tanya Aldo jutek.
Dove sedang memandangi foto Naira selama observasi. Foto itu akhirnya direbut paksa oleh Aldo.
"Kamu bisa pelan-pelan buka pintu, kamu kenapa sih?" Bentaknya.
"Kenapa lo pilih dia jadi tim lo, kenapa Naira? kenapa? Lo mau rebut dia dari gw, jangan mimpi Lo! DOVE!" Aldo lalu meninju Dove.
"Gw gak akan pernah lepasin dia!" Balasnya memberikan ultimatum. dia mengambil semua foto yang ada diatas meja Dove dan merobek semuanya itu menjadi dua bagian.
Dove hanya bisa memandang foto itu.
"Aku gak perlu merebut dia, Al." Jawab Dove. santai. Tak terima Aldo keluar dan membanting pintunya.
Semenjak hari itu, aku sering sekali melihat Dove tersenyum dan tertawa bersama dengan teman-temannya entah itu di ruang OSIS atau lapangan Voli. Senyumnya benar-benar membuat jantungku berdebar. Aku berharap aku bisa melihatnya terus.
"Naira, kamu ngeliatin siapa?" Tanya Aldo. padaku. Pertanyaannya membuatku kembali pada kenyataan aku telah memiliki Aldo. Aldo sepertinya tahu siapa yang aku liat dan tampangnya berubah kesal.
"Gak kok, aku gak liat apa-apa tadi kamu ngomong apa, kapan kamu bisa ajarin aku ekonomi?" Tanyaku berbincang dengan Aldo.
Aku takkan membiarkanmu memilih yang lain Naira ucap Aldo dalam hatinya. Sementara Dita yang duduk di samping Naira sepertinya merasa terganggu dengan tatapan gadis itu pada Dove. Begitupun, Dion yang sedari tadi menatap Naira.
"Naira, kamu dipanggil tuh ke ruang BP." panggil salah satu murid, "Hah, Ruang BP?
Kenapa lagi?"
"Naira, apa sih yang kamu lakukan?" Ucap Pak Dami membentak. "Kamu tahu gak proposal ini mau diserahkan ke Pak Bondan. Kamu serius atau gak?" tambahnya.
Dia lalu menunjukkan proposal Baksos yang berantakan dan robek. Di dalamnya beberapa halaman tertulis, lo pikir lo menang !!" Kepala Naira mendidih di otaknya muncul satu nama Dove A.R.
Naira berjalan menuju kantin, tempat Dove dan teman-temannya berkumpul. Diambilnya segelas air dan di siramkan pada Dove yang sedang membaca buku catatannya.
Byurrrrr!! Suara siraman air mengenai wajah Dove, "Itu buat lo yang resek, maksud lo apa? gw pikir lo baik, ternyata lo gak lebih dari orang bermuka dua." Tak lama air yang sama mengenai wajah Naira. Dion menyiramnya sedangkan Dove masih berusaha menyelamatkan catatannya sambil menahan emosinya.
"Ini buat lo yang selalu gangguin sahabat gw!" Dion ingin menyiramkan gelas yang lain, namun Dove mencegahnya.
"Udah, kamu gak perlu menghabiskan tenaga untuk orang yang hobinya memulai permasalahan" Dove lalu menyiramkan air itu melalui atas kepala Naira, secara perlahan.
"Orang yang terlahir sebagai trouble maker itu kamu, Naira!" Dove lalu meninggalkan kantin diikuti oleh semua temannya.
"Doveeeeeeeee!!!" ucap Naira kesal. Saat dia pulang dia tidak menemukan sepedanya tapi dia menemukan tulisan, sana lo pulang jalan kaki!! Salam Dove.
Naira akhirnya berjalan kaki sampai halte bus, ia tidak bisa lagi menangis, sudah biasa baginya diperlakukan seperti ini. Dia merasa memerlukan Aldo tapi nomor yang dia hubungi adalah Dove.
Naira! What's wrong with you!
Dove terus memandanginya dari dalam mobil BMW-nya. Dia menunggu sampai Naira mendapatkan kendaraan.
"Naira, ayo naik!" Ucap Aldo yang kebetulan baru pulang dari ekskul komputer.
Naira akhirnya naik ke Vespa itu. "Thanks, Do selalu ada buat aku" Ucapnya. Air mataku mulai menetes tak tertahankan.
Aldo tersenyum padaku namun tak bisa membuat jantungku berdebar. Senyumnya manis tapi tak seperti senyum Dove yang bisa membuatku terpesona.
Apa mungkin aku telah berpaling?
*****
"Naira, Apa kamu bakal nyesel?" Tanya Dove. Namun, Naira tidak menjawabnya dan memilih mencium Dove. Hal ini terjadi disaksikan oleh api unggun dan dinginnya malam.
Tiba-tiba keadaan berubah, dia berada disebuah gedung. "Naira!" Panggilnya. Badan lelaki itu sudah penuh dengan darah.
Tidakkkk!!!!! Naira terbangun. Mimpi itu lagi.
"Aldo! Maafin aku!"