Nairadove

Nairadove
IT'S ME DOVE!



"aku mencintainya, tolong aku, aku ingin memperbaiki segalanya" – Naira


Ruang Rawat VIP, No 203.


"Nai, Dove sudah dipindahkan ke ruang rawat. Everything gonna be alright, Naira." Mirna coba menenangkan Naira. "Tante, sudah bicara sama dokter, gak ada yang serius. Kamu tenang ya, kita rawat Dove sama-sama."


"Makasih Tante, aku berharap Dove akan ingat sama aku Tante." Ucap Naira parau seharian ia sudah menghabiskan energinya untuk menangis setelah Dove mengusirnya. Lelaki itu tidak hanya mengusirnya tetapi juga menolaknya mentah-mentah.


"Tidak! Dia bukan tunanganku! Pergi kamu dari sini!" Bentaknya menunjuk kearah pintu masuk.


Mengingat kejadian itu membuat Naira hancur. Aku tahu rasanya kamu saat itu, Adi.


Gak Naira kamu gak boleh menyerah. Naira menghela air matanya.


Setelah kejadian ini, Naira mulai menyusun jadwal baru dalam kesehariannya. Naira yang biasanya bangun mepet dengan jam jemputan sekolah mendadak bangun dipagi hari. Kegiatan barunya adalah belajar masak untuk Dove. Dimulai dari hal kecil seperti nasi goreng hingga resep turun temurun yang diberikan oleh Tante Mirna pada calon mantunya itu. Mulai dari keasinan sampai kemanisan sudah di hadapi oleh Naira.


"Non, mending saya aja yang masak non." Kata salah pembantu dirumahnya.


"Tidak bi, aku mau masak sendiri." Kekeh Naira. Terakhir kali, ia hampir membakar dapurnya. Neng Naira, Api! Teriak semua penghuni dapur.


Sampai pada akhirnya ia berhasil setelah membuat Dove mencicipi makanannya dan mengatakan jika rasanya mirip dengan buatan ibunya.


"Ma, ini mama yang buat? Enak ma, meskipun ada beda dikit." Jawabnya menyantap dengan lahap makanan tersebut, rendang dan opor.


Setelah kejadian penolakkan itu, Naira belum berani untuk menemui Dove. Ia masih memandang Dove dari kejauhan sambil diam-diam menjaganya.


"Naira, Kamu harus berani menemuinya. Bagaimana dia mau ingat jika kamu diam saja."


Naira datang pagi-pagi dan membawakan makanan buatannya, dia yakin kali ini bisa membuat Dove mengingatnya.


"Morning!" ucapnya. "Ngapain kamu kesini?" balasan jutek yang didapatkan Naira dari Dove membuat dirinya bete.


"Kamu udah sarapan belum? Aku bawain sarapan buat kamu." Ucap Naira. Dove lalu menunjukkan satu set makan pagi yang sudah dibawakan oleh Dion.


Tak lama Dion pun keluar dari kamar mandi dan melihat Naira datang dengan makan pagi. "Dove, makanan ini kasi ke gw aja ya, lo makan yang dibawa Naira" Ucap Dion langsung memakan makanan Dove.


"STOP! kamu makan yang dia bawa dan aku makan ini." Ucap Dove tegas dan galak.


"It's the real you?" Ucap Naira.


"Yes!! Aku tidak suka orang asing berada disekitarku, paham!" Ucap Dove lagi membalas Naira.


Dove tidak ingin bicara sedikitpun, meskipun Naira terus mengajaknya bicara sambil memperlihatkan foto-foto mereka.


"STOP, I'm tired!" Ucap Dove membuat Naira sedih.


"Dove, aku bukan orang asing! Aku tunangan kamu." Teriaknya lelah menerima penolakan Dove. Melihatnya Dion mengajak Naira keluar untuk bicara sebentar.


"Naira, bisa kita bicara diluar sebentar. Aku tidak akan menyakitimu, aku ingin memberitahumu sesuatu." Ucap Dion.


Naira ragu "Tak perlu cemas aku tidak akan memisahkan mu dengan dia." Ucap Dion lagi.


"Duduk Naira" Pinta Dion.


Dion, lalu menunjukkan proposal acara ulang tahun sekolah yang sudah ditandatangani oleh Kepala Sekolah. "Itu, hasil kerja keras kamu dan Dove, Dita sudah mengakui segalanya dan membuat ulang proposal sesuai dengan apa yang kamu buat." Ucapnya membuat Naira senang.


Naira tersenyum mengungkapan kebahagiaannya, "Kamu senang? kamu tersenyum?" Kalimat itu seperti pisau yang mengiris hati Naira.


"Iya, aku senang!" Ucap Naira.


"Hal yang sama, saat pertama kali Dove tahu bahwa kamu sudah sudah sadar dulu dan mencarinya. Saat itu kami sudah berada di Amerika untuk pengobatan Dove." Dion lalu mengeluarkan sebuah buku traveller milik Dove.


"Kamu pasti sudah tahu, setelah kejadian waktu itu. Dove mengalami cedera yang cukup parah, tangan kirinya patah dan tulang rusuknya retak. Kakinya juga patah. Dokter menyatakan kemungkinan bahwa Dove bisa hidup cacat."


"Setelah itu, Tante Mirna memutuskan untuk mengobati Dove keluar negeri."


"Aku dimana saat itu?" Tanya Naira.


"Kamu mengalami shock dan gangguan secara psikologis. Kamu merasakan penyesalan terlalu dalam sehingga membuatmu tidak bisa bicara hampir 1 bulan, Kamu gak punya keinginan makan, bergerak, dll. Terakhir kali kamu pingsan untuk cukup waktu yang lama." Dion lalu membuka buku travel Dove dan mengambil foto keluarganya. Di foto itu juga ada Aldo dengan gaya yang biasanya. Gaya pakaiannya fashionable.


"Aldo adalah kakak tiri Dove. Ketika pertama kali Aldo masuk ke keluarga Dove sebagai kakak tirinya, Tante Mirna selalu mengingatkan Dove jika Aldo adalah keluarganya. Sejak itu, Dove menerima Aldo dengan sepenuh hati. Itulah kenapa Dove dan Aldo bisa ada dalam satu foto."


"Jujur aku baru tahu dia kakak Dove."


"Bukannya baru tahu, hanya lupa. Kita semua tumbuh bersama dari kecil Naira. Sejak kamu lupa ingatan, setiap kamu ulang tahun Dove selalu liat foto kamu." Dion menghentikan kalimatnya, menghela nafas yang panjang sebelum berkata, "aku mencintaimu!" itulah yang dia katakan saat melihat fotomu.


"Aku sangat menyukaimu, Naira! Itulah ucapan yang dia teriakkan saat kami bermain ice skyting bersama. Kalimat itu masih menjadi favoritnya sampai saat dimana kamu lebih memilih menggenggam tangan Aldo dibandingkan dirinya, kamu sebut Aldo itu Adi! lalu bertanya padanya kamu siapa? kamu ingat naira?" tanyanya.


"Iya, aku ingat, aku memang menyebut aldo, Adi."


"Aku tahu kamu menyimpan kalung itu, kalung yang di tinggalkan Dove di Restaurant. Aku datang untuk mengambil kotak itu, tapi seorang pemuda berkata padaku, jika kalung itu ada padamu." Ucap Dion lalu meminum kopinya.


Naira mengeluarkan kalung itu, "Itu kalung yang diberikan Dove sebagai kalian jadian, designnya dibuat khusus oleh Dove. Aku dan dia yang mengambilnya saat itu. Kalung itu sepasang."


"Sebelum Dove pergi ke Amerika, dia menitipkan kamu pada Aldo. Setiap hari dia selalu tanya keadaanmu dan Aldo selalu menjawab semuanya baik-baik saja."


Setelah sebulan kita dia Amerika, Aldo mengembalikan kalung itu pada Dove dan berkata jika kamu adalah pacarnya saat itu." Dion tak merasa sedih dan tak bisa melanjutkannya, dia hening sejenak dan kemudian melanjutkannya lagi.


"Aku melihat, Aldo memberikan kalung itu pada Dove. Dia bilang jika kamu sudah bersamanya, dia meminta Dove untuk mengalah dan merelakan kamu. Awalnya Dove tidak percaya dan ingin bertemu denganmu, tapi kamu sendiri yang menolaknya, dan itu membuat Dove hancur"


"Menolaknya, kapan?" Tanya Naira.


"Ikut aku jika kamu ingin tahu." Dion lalu mengajak Naira ke taman.


"Disini! Di bangku ini, ingat!"


Naira merasa tak asing dengan bangku ini, bayang-bayang terbesit dikepalanya semakin jelas. Memori itu kini teringat dengan jelas olehnya. Dirinya yang memakai baju pasien duduk dikursi roda sambil memejamkan matanya. "Naira" Dove datang mendekatinya, "Kamu siapa?" jawab Naira.


"Aku .." sebelum Dove sempat mengutarakan namanya, Naira memotongnya, "maaf aku sudah punya pacar" tak lama kemudian Aldo datang dan mengajak Naira masuk ke kamarnya.


"Dove, please leave" pinta Aldo.


Dove mencoba menghubungi Naira melalui sms.


"Maaf ya, aku tak ingin bertemu denganmu, aku takut pacarku marah" pesan itu menjadi pesan terakhir yang dikirim Naira lewat ponselnya.


"Ingat pesan yang kamu tulis? Saat itu Dove benar-benar hancur" Ucap Dion lalu dibantah Naira.


"Kenapa dia tidak pernah memberitahuku!" ucapnya kesal.


"Memberitahumu? Kamu bahkan membencinya dan tidak pernah menganggapnya, bagaimana caranya memberitahumu, disaat kamu menyebutnya trouble maker, membuatnya selalu dalam masalah, mengerjainya, mencoba untuk membantu musuh mu, membuatnya marah."


*****


Setahun kemudian, Dove melihat kamu bersama Aldo di kosnya. Saat itu kamu juga menolak dia.


"Naira, kamu apa kabar?"


"Kamu siapa?" Jawab Naira ketus lalu meninggalkan dia, berjalan meninggalkan dia.


*****


Naira semakin merasa bersalah, banyak waktu yang dia sia-siakan. Bukan Dove yang salah tapi dia yang menolaknya.


"Asal kamu tahu Naira, dia adalah orang yang melindungi kamu sejak hari pertama hingga sekarang. Dia menyuruhku melindungi kamu dengan memisahkan kamu dari Dita. Dia menjadikan kamu sasaran khusus Shot Genk, untuk menghindari kamu dari anak-anak lain yang mau mengerjai anak baru. Dia bahkan memukulku saat dia tahu aku mengerjai kamu." Dion menunjuk Naira. Membuat Naira semakin bersalah.


"Aku tahu dia banyak berkorban."


"Aku yang mengerjai sepeda mu, tulisan di bahu mu, menaruh lem di sepatu mu, selebihnya itu adalah kerjaan Dita dan satu lagi Naira. Dove bahkan berantem sama Ricky karena kamu, semua untuk kamu, dan apa yang kamu lakukan? Menghancurkan hubungan Dove dan Aldo!!"


Naira duduk di bangku itu lalu membuka surat itu,


Dear Naira, My Love, My First Love


Naira, ini mungkin akan jadi surat terakhirku untukmu kalau kamu membaca ini mungkin aku sudah di Amerika dan belajar melupakanmu.


Ini adalah pilihanku, merelakan mu untuk orang yang lebih mencintaimu dibandingkan aku, yaitu Aldo. Aldo pernah mencoba untuk bunuh diri dan datang ke kamar ku dan memukulku, dia berkata makanan apa yang aku sukai? apa tempat favoritku? Apa lagu kesukaanmu, apa warna kesukaanku, dan semuanya?


Awalnya aku marah, kesal, dan menganggapnya salah tapi aku sadar ini bukanlah salahnya. Dia hanya mencoba untuk menjadi apa yang kamu inginkan karena dia sangat-sangat menyukai kamu.


So, pada akhirnya aku membuat tantangan bagi diriku dalam waktu 1bulan, aku bisa membuatmu mengingatku dan tinggal 5 hari lagi dan sepertinya kamu tetap tidak mengingatku.


Sepertinya aku tidak harus menunggu 5 hari lagi untuk tau jawabannya. Jika kamu memang sudah melupakanku. I'M GIVE UP! Naira.


Nai, aku ingin mengakui suatu yang tak bisa dikatakan, aku adalah pacarmu, tunangan mu sejak dulu bukan Aldo. Aku pernah melakukan kesalahan, aku berselingkuh dengan Dita. Dita adalah anak dari salah rekan bisnis papaku. Aku tahu ini salah dan mengecewakanmu. Aku tidak pernah menyalahkan mu.


Naira, jujur aku sangat bahagia ketika kamu dan Aldo berantem. Aku merasa jika seluruh bumi mendengarkan keinginanku. Aku sangat bahagia, sampai- sampai aku mentraktir semua anak di Kantin tanpa sepengetahuan kamu dan Aldo, jahat ya sangat jahat.


Tapi itu adalah hal yang indah Naira, jadi tolong maafkan aku, Nai.


Naira, maafkan aku memilih jalan ini, ini adalah pilihanku melepaskan mu dengan Aldo. Dia adalah kakakku satu-satunya. Aku tak pernah bisa benar-benar menyakitinya atau membencinya, dia selalu merasa dirinya lebih kurang dari padaku, tapi sejujurnya dia punya banyak kelebihan dari padaku.


Terkadang aku merasa kalian berdua cocok meskipun hatiku sakit dan masih sangat menginginkanmu.


Kamu tahu alasan aku memilihmu sebagai timku, karena aku ingin bersama denganmu tanpa Aldo, mungkin ini terdengar curang tapi aku ingin memperkenalkan mu lebih dulu pada Kepala Desa jika kamu adalah pacarku. Aku tahu saat kamu pergi ke sana bersama dengan kelas mu dan Aldo sebagai kakak pendamping dia akan memperkenalkan mu sebagai pacarnya.


Maafkan aku mencuri start lebih dulu.


Naira, tahukah kamu jika saat ini dibawah puisi ini yang kamu tuliskan untukku, aku masih membacanya dan merasa tertawa, aku sangat merindukan masa dimana kamu memanggilku Adi, dan masih menganggap ku sebagai Adi bukan orang lain.


Aku rindu saat kita masih kecil, rindu kamu mengerjai aku, rindu kamu yang selalu menempel padaku. Aku rindu saat kamu mengatakan aku adalah tunanganmu, pergi!


Gara-gara kamu semua anak cewek di sekolahku takut. Pacarku galak kata mereka.


Nai, masih ingat, kamu pernah berkata, kamu mencintaiku, saat itu jantungku rasanya mau loncat. Aku memberanikan diriku bertanya kenapa kamu mencintaiku, kamu menjawab tidak tahu. Tapi ternyata cuman prank.


Tapi aku tahu jawabannya, karena memori indah kita yang menuntun mu mencintaiku.


Tapi saat itu sudah berubah aku bukan lagi cintamu, tapi aku adalah orang dari bayangan cintamu.


Kamu mencintaiku tapi kamu tidak mengenaliku siapa?


Kamu mengenalku sebagai trouble maker mu, dan tak pernah mengizinkanku memperkenalkan diriku.


Saat itu aku berpikir, mungkin ini saatnya aku berpacaran denganmu sebagai Dove bukan Adi teman masa kecilmu, namun aku takut Naira, aku takut menyakiti Aldo.


Dia juga sama mencintaimu, dia juga sama menginginkanmu, kamu adalah cinta pertamanya, lalu apa yang harus aku lakukan?


Apa aku harus tetap bersikap egois, dengan menerima kamu, atau aku harus kehilangan kamu meskipun aku tahu hati ini tak pernah benar-benar siap untuk pilihan itu. Aku bingung, ditambah Aldo yang menatapku dengan tatapan kekecewaannya, keputusasaannya.


Aku tak bisa melihatnya bersikap bodoh dengan terus berbohong, tapi aku tahu kamu adalah kebahagiaannya setelah kepergian mamanya. Aku tahu aku pasti menyakiti hatimu, jadi aku memilih untuk tidak memilikimu lagi.


Maaf Naira, jika setelah membaca surat ini kamu justru membenciku, tapi percayalah, aku melakukannya, karena aku tak ingin kamu tersakiti atau merasa kalau kamu adalah penyebab rusaknya hubunganku dengan Aldo.


Nai, kemarin aku mampir ke tempat pertama kali kita bertemu, danau, ingat pohon itu?


Aku berharap bisa ke sana bersamamu tapi kamu tak ada, ingat cilok bapak berkumis itu, rasanya masih sama, aku pernah mengajak Sinta makan di sana. Awalnya, dia nolak tapi sekarang dia sangat menyukainya.


Semuanya, aku merindukan saat-saat kita bersama Nai tapi mungkin ini hanya rindu yang tak pernah diijinkan untuk terjadi karena aku kini ingin menjadikannya hanya sebuah kenangan indah bersama cinta pertamanya.


Nai, si Cewek periang dan cerewet. Mulai hari ini hiduplah dengan baik dan bahagia, jangan lagi bermain-main dengan hal yang bisa membahayakan mu. Carilah cowok yang baik dan jangan pernah mengenal trouble maker sepertiku. Jika kamu memilih untuk mencintai Aldo, mulailah menerima dia apa adanya.


Aku ingin kamu selalu bahagia, tersenyum dan tertawa. Jangan pernah menangis apalagi sok mau membalaskan dendam sahabat. Nai, kamu harus bisa meraih cita-citamu meski sulit semua akan baik-baik saja.


Setelah ini aku harap tak akan ada lagi surat darimu dikotak pos ku, dan dengan surat ini aku mengizinkanmu melupakanku dan memulai hidup yang baru dengan orang yang kamu cintai.


Naira kamu adalah gadis yang istimewa, karena kamu pernah menjadi cinta pertamaku dan Aldo.


With love,


Doveadi Ricardo.


Membaca surat itu, membuat Naira menangis. Dia tidak ingin Dove pergi meninggalkannya. Dia sangat mencintai Dove. Kini bukan sebagai bayangan tapi sebagai the real Dove.


"Kamu ini gila ya?" Naira memaksa memeluk Dove tiba-tiba, sangat erat. "Lepas! Pergi sana, aku tidak kenal kamu!" Ucap Dove acuh pada Naira.


Keesokkannya, Naira datang lagi kini dia membawa puisi-puisi kenangan mereka yang di simpan Dove. Dove membacanya namun tak ada satupun yang membuatnya ingat.


"Kamu pikir aku anak kecil" Dove memarahi Naira.


Naira tak putus asa, dia menunggui Dove seharian. Hal ini cukup membuatnya lelah, bahkan saat Dove sudah diijinkan untuk pulang. Naira masih mengikutinya, "Aku dengar, kamu satu sekolah sama aku, kamu tahu kalau aku tangan kiri ku bermasalah, kamu mau kasi tahu seluruh sekolah?" Tanya Dove kasar.


"Gak, karena kamu tunangan aku" Ucap Naira.


Naira mendekat dan mencium hidung Dove. Dove marah dan langsung membentak Naira, "Cukup, aku tidak pernah mengenalmu, jadi jangan pernah menganggap ku tunangan ku!" membuat Naira menangis.


Tidak Naira, jangan menyerah. Dia kembali memasang wajah tersenyum.


"Naira, kamu mau bantu aku?Bantu aku berdiri dan antar aku ke kamar mandi." Perintah Dove.


Naira pun membantunya, Dove menaruh tangannya di bahu Naira. Dia mulai berjalan meskipun kakinya masih berasa kaku. Kaki Dove tak sengaja menginjak kain dikamar mandinya dan itu hampir membuat mereka jatuh, beruntung tangan kanan Dove memegang wastafel dan Naira memeluk Dove.


Kalung pemberian Dove keluar dari kerah kemeja Naira tepat didepan mata Dove. Jantungnya mulai berdebar. "Kalung itu!" Jantung Naira juga berdebar membuatnya buru-buru pergi dari kamar mandi dan menjatuhkan kalung itu.


"Hey, Naira jangan pulang tunggu diluar aja, kalau gak gimana aku baliknya, bisa putus leherku manggil bibi." ucap Dove lalu mengambil kalung itu.


Ditatapnya kalung itu baik-baik, dibalik kalung itu tertulis, my first love.


Keesokkannya Naira datang lagi, tanpa bosan dia membawa hal-hal kecil yang bisa mengingatkan Dove padanya. Kali ini yang dia bawa adalah monyet yang pernah dia berikan,


"Dove" teriak Naira, mendengarnya membuat Naira sebal.


"Dove, aku bawa sesuatu buat kamu" Naira mengeluarkan monyet dan menyalakannya. Hal itu tidak membuat Dove bergetar, namun tetap saja tak peduli. Naira mulai putus asa, dia mulai menyerah.


"Kenapa, udah menyerah, kenapa sih kamu ngelakuin ini?" Tanya Dove.


"Karena aku tunangan kamu, aku mau kamu kenal aku, ingat aku!" teriak Naira stress. "Dove! Kalau kamu gak ingat, cintai aku lagi dari awal, hal ini mudah Dove!" Ungkapnya.


Mendengarnya membuat Dove menghela


nafasnya panjang, "Dasar keras kepala, sini, mendekat" titah Dove. Naira memajukan dirinya mendekat pada Dove.


"kamu bilang apa? "Dove mempertegas kembali. "Aku tunangan kamu, please remember me, I want yo.." belum juga Naira menyelesaikan kalimatnya, Dove memeluknya dan memasangkan kalungnya.


"Ok, I remember you, my first love, Naira Seno". Ucap Dove lalu tersenyum, "and I want you too" ucapnya lagi lalu mengecup bibir Naira.


"My first kiss, my first love and my brother first love too" ucap Dove meledek.


Naira masih diam tak bergeming, "Kenapa diam aja? oh iya Naira, besok jangan tinggalin aku lagi dikamar sendirian, aku susah baliknya. Aku minta kamu tunggu di luar kamar mandi bukan diluar kamar." Dove mengajukan kelingkingnya, dan naira langsung mengecup bibirnya.


Mereka tersenyum bersama.


"Kamu udah ingat, aku siapa?"


"Tunangan Aku." Dove lalu meminta Naira memasangkan kalungnya.