
Pagi ini terasa begitu berbeda, semua melihatku dengan tatapan aneh. Beberapa berbisik membicarakan aku.
"Anak baru belagu!" Teriak salah satu dari mereka ke arahku.
"Bagus deh! Kalau sadar diri! Tapi gak perlu diumumin juga kali ya!" Ucap yang lain membuatku semakin heran.
"Jangan ganggu teman gw!" Teriak Dina membela. Dina juga menunjukkan kertas bertuliskan anak baru belagu yang tertempel di belakang tasnya.
"Dove!" Teriaknya. Tak hanya itu, di dalam lokernya sudah disiapkan satu jebakan Batman yang akan membuatnya menangis. Ketika membuka pintu loker ia akan di sambut dengan semprotan tepung serta permandangan buku yang basah oleh air.
"Yaampun semua buku gw!" Ucapnya kesal tak lagi bisa menangis dan hanya amarah yang membakar hatinya.
"Dove! Aku gak takut!" Balasnya.
*****
Melangkahkan kembali kakinya di lorong kelas paling rapi dan sepi, lorong IPA. Ia membuka pintu ruang OSIS yang berada di ujung lorong IPA. Di dalam sedang dilakukan meeting bulanan anggota OSIS.
"Kak Dove!" Teriak Naira tanpa melihat situasi dan kondisi. Dove berbalik arah ketika namanya disebut. "Naira, ada apa kamu kesini?"
"Kakak gak perlu sok baik." Naira langsung menyiram Dove dengan menggunakan air Aqua yang khusus dibelinya di kantin.
"Kurang kak?" Dia menyiram lagi botol selanjutnya.
"Stop! Naira. Kamu jangan mentang-mentang aku diam aja kamu marah-marah. Kamu bisa memperlakukan aku seenak kamu ya. Aku masih kakak kelas kamu!" Bentaknya. "Keluar kamu!" Bentak Dove. Bukannya minta maaf, dia malah mendorong Dove hingga tangannya membentur lemari yang tak jauh dari diri Dove.
"Auu!" Keluh Dove kesakitan di daerah tangannya. "Kenapa kak? Bajunya kotor ya, ini aku kasih uang supaya kakak bisa cuci baju di laundry." Naira lalu memasukkan uang ke kantong Dove. "Oh ia, kayaknya uangnya kurang deh! Kak Dove anak orang kayakan? Orang kaya yang gak MENGHARGAI ORANG LAIN!" Ledek Naira. Dove masih berusaha sabar.
"Naira, berhenti! Jangan resek lo sama kakak kelas!" teriak Chua. Sementara Dove mulai merintih kesakitan. Dia lalu meninggalkan ruangan itu dan tidak peduli lingkungan sekitarnya. Dia bahkan menabrak Satrio seorang anak yang sedang membawa makanan untuk dijualnya kepada teman-teman.
"Jalan pake mata dong!" Teriak Naira.
*****
Pintu kelas yang biasanya terbuka kini tertutup, semua anak kelas juga terlihat berdiri diluar dan mengintip dari luar jendela.
"Ini kan masih jam istirahat kok pintunya ditutup ya?" Tanya Naira pada Mita tapi dia hanya diam dan tak membalas, wajahnya terlihat takut. Mita menarik tangan Naira dan menyuruhnya untuk pergi dari situ. Naira ngeyel, ia memaksa untuk masuk untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia mengernyitkan dahinya, ia lalu mendorong Mita agar membiarkannya masuk.
"Naira, lo mending pergi, jangan masuk ke kelas dulu." Mita masih mencoba menahannya.
"Ada apa emangnya?" semakin dilarang, ia akan lebih berani untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Naira menepis tangan Mita, membuka handle pintu, dan mendorongnya. Naira heran melihat beberapa siswa berkerumun di mejanya.
"Ada apa in?" Tanya Naira.
Suaranya membuat anak-anak itu menghentikan aktivitas mereka dan memberinya jalan untuk melihat apa yang terjadi. Ekspresinya yang awalnya datar dan terkesan dingin berubah menjadi kesal, tak kala ia melihat kotak makannya berserakan dilantai.
"Ini kan kotak makan gw. Siapa yang berani!" Teriak Naira.
Awas! Teriak anak-anak, memperingatkan Naira, "Aduh! Siapa sih ini lempar-lempar!" Naira merintih kesakitan, saat kotak makannya yang lain mengenai tangannya. Kedua kotak makan itu kosong dan berserakan tanpa tutup.
Semua makanan yang dibawa dan dipersiapkannya khusus untuk pacarnya habis dan tidak tersisa. Kesal menjadi pilihan Naira saat menghadapi hal itu, ditambah ia melihat salah satu anak yang tidak dia kenal sedang memegang sendok miliknya.
"Kamu apa-apaan sih, makan makanan orang sembarangan!" Tegur Naira membuat semua orang tertunduk, "Siapa yang nyuruh kalian!"
Bentaknya lagi, mereka pun menunjuk kearah meja Naira dengan pala tertunduk. Tak berapa lama botol juice yang dibawahnya juga jatuh menggelinding kearahnya.
"HEY KAMU!!!" Tatapan matanya terpaku kepada seseorang yang sedang duduk sambil memegang tas makannya. Dia menatap Naira, "Ini punya kamu?" dengan suaranya yang berat lalu menjatuhkan tas makan itu ke lantai seperti sampah.
Legan baju kanannya terlihat kotor, mukanya juga terlihat marah dan kesal. Pipinya merah dan sudut bibirnya terluka. Dia lagi, ngapain dia disini! Ucapnya mengumpat dalam hati.
Naira tenang gak perlu takut, dia bukan siapa-siapa, kalian sama-sama bayar kok! Jangan takut Naira! Hadapi!
"Fighting!!!" Teriaknya menunjuk lelaki itu.
Suasana berubah sunyi, tak ada yang berani membuka mulutnya untuk membela Naira. Lelaki itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun. Dia melipat tangannya lalu, mendorong meja menjauh darinya dan duduk dengan santai.
"Sini kalau kamu berani." Ucapnya lagi.
"Emangnya kenapa gw gak berani! Lo gak bisa ngebully gw! Paham lo!" Balas Naira sok berani meskipun sebenarnya dia mulai gentar.
Lelaki itu tersenyum lucu, ia lalu mengelap darah yang ada di sudut bibirnya dan berjalan kearah Naira. "Akan ku buat kamu menyesal!" batin lelaki itu.
Ia berjalan dengan penuh percaya diri sambil berkata, "Kenapa kamu marah? Bukannya kamu punya banyak uang? Tadi kamu bilang aku orang kaya yang gak tahu diri yang gak menghargai orang lain? Masa sih sekarang kamu marah cuman karena makanan" Ucap Dove kesal.
Ia lalu menarik kerah Naira, "Aku mau buktiin sama kamu, kalau aku bukan anak orang kayak gitu. Jadi! Aku bagikan makanan kamu sebagai tanda aku menghargai dan peduli dengan orang lain." Tambahnya dengan penekanan nada.
"Hey! Kalau lo mau buktiin, lo bisa lakuin sendiri, gak perlu pake milik orang lain!" Balas Naira emosi dengan sikap Dove dan memukul lengan kirinya. Dove menarik napasnya panjang dan menguatkan kepalan tangannya menahan rasa sakit akibat pukulan itu.
"Aku rasa Aldo punya banyak uang untuk membeli makanan lebih enak dari makanan yang kamu bawa ini!" Ucapnya kasar membuat semua orang terdiam. "Berapa harga makanan ini? 100? 200? 300?" Dove lalu memasukkan uang yang diberikan Naira ke dalam kantongnya.
Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, dia bahkan tak tahu harus berlaku apa pada orang yang sangat menyebalkan ini. Dia tak menyangka, jika orang didepannya bisa bicara sangat menyebalkan seperti itu.
"Kenalkan namanya adalah Satrio, dia adalah salah satu anak dikelas ini. Berarti dia teman kamu kan? Atau kamu gak punya teman?" Tanyanya meledek Naira.
"Aku gak kenal dia." Jawabnya dia mulai menarik pinggiran roknya. Ia malu dengan tatapan teman-teman yang melihat padanya.
"Oh kamu gak kenal, oh iya aku lupa kamu anak orang kaya yang sangat menghargai orang lain." Matanya kini menatap mata Naira yang penuh amarah.
"Kalau kamu menghargai orang lain, kasian dong teman kamu, dia lapar. Jadi aku kasi makanan kamu ke dia. Aku ajak kamu berbagi loh." Ia mengarahkan tubuhnya searah dengan Satrio yang terus menaikan kaca matanya yang longgar akibat kejadian tadi di ruang OSIS
"Aku mau bilang ke Satrio, kalau seorang NAIRA bisa menghargai orang lain." Naira semakin malu, dia ingat Satrio adalah orang yang tadi bersama dengan Chua dan Dove tadi.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat anak cewek di kelasnya tersenyum gembira. Ia tak bisa berbicara apa-apa selain terdiam mendengarkan Dove.
Kelas semakin ramai, kakak kelas datang dan memenuhi kelas, disana ada juga teman-teman Dove, Chua, Robert, Dion, Sinta, Wira dan teman Naira. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.
"Ingat dia?" Dove menunjuk kearah Satrio sambil membentaknya.
"Ingat gak dia, orang yang kamu dorong sampai makanannya jatuh dan gak bisa dijual lagi." Ucapnya.
"Gara-gara kamu dia dan ibunya gak dapat pemasukkan hari ini, dan dia terpaksa gak makan hari ini. KARENA KAMU! JADI KALAU AKU KASIH MAKANAN KAMU KE DIA GAK PAPA DONG! kamu bisa beli di kantin kan? oh perlu aku bayarin!" Dove mengeluarkan uangnya lalu menyodorkannya pada Naira.
"Aku menghargai orang lain." Ucapnya membuat Naira mengeluarkan air mata. Ekspresi Dove berubah, ia ingin menyeka air mata Naira namun ia menghempaskan tangannya.
Ia memungut kotak makannya yang kotor, dan memasukkannya ke dalam tas makan, dia lalu mengambil tasnya lalu berjalan keluar. Dia sudah tidak tahan, hidungnya pun merah.
"Naira kamu tega ya sama Satrio" Ucap beberapa temannya.
"Mau kemana?" Dove menghalangi jalannya dan menjatuhkan tasnya ke lantai.
"Satrio maaf, aku gak maksud seperti itu." Dia menundukkan kepalanya meminta maaf pada Satrio lalu mengambil tasnya yang jatuh.
Dove lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Makanan kamu tuh gak pantes dikasi ke Aldo, semua bilang makanan kamu gak enak." Dia kembali bertanya pada Satrio, pertanyaan yang menguatkan perkataannya jika makanan Naira memang tidak enak.
Awalnya, Satrio menolak namun karena Dove menggertak, ia pun berkata jika makanan Naira terlalu asin dan tak pantas dimakan orang lain.
"Dengarkan kalau kamu gak terima, biar aku ganti, berapa harganya atau perlu aku kasih uang supaya kamu bisa traktir pacar kamu itu?" Tanya dove dengan nada meledek lalu jongkok, memegang dagu Naira agar menghadap kepadanya.
"KAMU! rugi udah buat masalah sama aku hari ini!" Ancam Dove berbisik di telinga Naira. Naira tidak menggubris perkataan Dove.
"Dengar Naira, suatu saat kamu akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan!"