
Tell me! Where is he?
Naira tersadar dari kesedihannya, dia mendekat pada Aldo yang terbaring lemah setelah dihajar oleh Shot CS "Dimana Dove, Aldo?" tanyanya. Kedua tangannya menggerak-gerakkan tubuh Aldo yang sudah sangat lemah.
"Ru-mah-Sakit-Cahya" Ucap Aldo tertatih.
Berpikir dan terus berpikir, apa yang bisa dia lakukan untuk bertemu dengan Dove. Teman-temannya pasti akan menghalanginya dengan mudah. Naira terus berpikir, "Tidak, aku harus maju dan tidak bisa diam seperti ini." Naira menguatkan tekatnya, dan berjalan maju melewati kerumunan orang yang asing dan menakutkan baginya. Puluhan suster berlalu lalang melewatinya, terus menanyakan sedang apa dan siapa yang dicarinya.
Aku tak berani mengatakan jika orang yang ingin aku temui adalah Dove. Aku juga tak berani untuk menangis.
"Aku tak ingin menangis, sangat tak ingin" ucapnya.
"Kamar, untuk pasien atas nama Dove dimana ya?" tanyanya.
Suster itu melirik padanya, "Dove? dia ada diruang khusus ICU, disebelah sana" Balas Suster itu.
Suster itu menuntunnya menuju sebuah pintu sliding bertuliskan ICU. Kaki Naira tiba-tiba lemas seperti tak bertenaga bahkan hanya untuk melangkahkan kakinya. Namun, ia tetap berjalan menyusuri lorong ICu yang terdapat lima kamar khusus. Semua dinding berwarna putih berisi peraturan dan larangan bagi pengunjung di lorong ini. Terdengar suara tangisan, kebahagiaan, kegelisahan, ketakutan, adapun senyuman para pengunjung melihat kondisi keluarga mereka.
Setiap pintu dijaga dengan pengamanan khusus hanya keluarga yang bisa masuk.
Terus bagaimanakah dengan diriku? Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa masuk dan melihat Dove, sementara lurus dihadapan ku Diva, dan Shot CS sedang menatapku dengan kemarahan, kekesalan, seakan aku ini adalah santapan yang siap dibuang ke jalanan.
"Keluar dan jangan kembali!" Ucap Robert kasar. Tiba-tiba, tangan Robert dan Wira menghalanginya.
"Kenapa kalian juga membenciku. Aku tidak melakukan apapun." Jawab Naira.
"Ok! Gw kasih tahu sama Lo. Lo kan yang ngelakuin ini. Thena ini Lo kan! Lo yang nulis berita tentang Dove di platfom mudaceria? Gara-gara Lo, Dove di diskualifikasi dari olimpiade. Lo gak tahu kan?"
"Bukannya karena Kak Dove memang gak lolos?" Balas Naira.
"Gak lolos, gak mungkin! Selama ini dia minta aku untuk diam. Sekarang aku gak akan diam, aku akan kasih tahu kamu semuanya. Dove selalu ngelindungi Lo. Dia berantem sama Ricky dulu karena anak tengil itu mau jadiin Lo sasarannya. Ricky itu yang real trouble maker." Balas Wira membela sahabatnya
"Dan ternyata, Lo adalah penyebab lukanya dia. Tapi dia masih ngebelain Lo! Gila Dove! Cinta banget dia sama Lo! Tapi Lo nusuk dia dari belakang!" Tambah Robert.
"Sekarang pergi, kita gak mau liat kamu lagi." Ujar Chua.
"Udah biarin aja, mungkin ini kesempatannya yang terakhir." Diva lalu mengijinkannya masuk.
"Lo hanya boleh berdiri disebelah kanan, sekarang udah ingat? Diva memberikan Naira sebuah kalung berliontin N, "Ini kalung sepasang, satunya lagi aku gak tahu dimana." Ucapnya.
"Aku tahu dimana? Dia menunjukan kalung di lehernya." Naira lalu memasangkan Kalung tersebut di tangan Dove. Air matanya tak henti menetes dari kedua matanya. "Sekarang lo udah liat, jadi sekarang keluar!" Diva lalu menarik tangan Naira keluar.
Adi bangun! ini aku Naira!
Dari luar pintu rumah sakit, "Adi, cepatlah sadar, dia menunggumu." Ucap Aldo. Ia terus berdoa dan berharap nada bicaranya sedih bercampur sesal dengan wajah yang babak belur.
*****
10 tahun yang lalu, setelah kematian ibunya. Alfredo membawa Aldo kecil yang masih berumur 7 tahun ke rumah keluarga Ricardo.
"Mulai hari ini, kamu akan tinggal disini bersama papa dan Tante Mirna. Tante Mirna akan jadi mama kamu." Ucap Alfredo.
"Pa, kenapa sama Aldo? Bukannya kamu bawa dia bertemu ibunya." Tanya Mirna sambil memeluk Dove.
"Mamanya sudah meninggal, dia akan tinggal disini dan jadi kakaknya Dove." Ucap Alfredo lalu meninggalkan mereka bertiga.
"Pa, kamu mengadopsi dia?" Tanya Mirna lagi.
"Dia adalah anak kandungku. Kamu harus terima dia. Dia anaknya Cintari. Kamu tahukan?"
"Cintari, wanita yang dijodohkan sama kamu pa? Jadi, kamu sudah menikah saat bersama aku? Tega kamu, Cintari gak salah apa-apa! Aku yang salah."
"Mirna, aku juga salah. Makannya, kita harus perbaiki semuanya. Kita besarkan Aldo dengan baik." Alfredo memeluk Mirna yang terpukul atas kenyataan ini.
"Dove siapa dia?" Tanya Naira kecil dan membuat Aldo jatuh suka padanya.
"Aldo, kakak aku, Naira. Kamu jangan galak gitu." Pinta Dove kepada Naira. "Kamu mau main gak bareng kita. Kamu jadi pengawal ya." Ajak Naira.
"Ayo, makasih Naira." Ucap Aldo. Itu kali pertama mereka berkenalan.
5 tahun kemudian, mereka sudah berada di bangku SMP. "Dove dan Naira, mulai hari ini kalian sudah bertunangan. Saat besar nanti kalian harus saling menjaga." Pesan Oma Rima pada mereka berdua, disaat itu Aldo patah hati.
3 Tahun kemudian, setelah insiden Dove dan Naira di Gedung sekolah. "Aldo, telepon siapa?" Pernyataan Dove membuat Aldo panik.
Dove mengajaknya untuk masuk namun ia menolak dengan berbagai alasan yang tak dapat diterima oleh Dove. Dia tidak ingin bertemu Naira.
"Aldo, sini masuk. Kalau aku ke Amerika, kamu yang bakal jagain Naira." Paksaan yang halus, selalu membuat Dove mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aldo semakin dekat dengan Naira yang terbaring. Satu detik kemudian, Aldo melihat wajah cantik, dia tidur dengan damai. Sejenak jantungnya berdetak dengan kencang.
Matanya terpesona dengan Naira. Dove menepuk pundak Aldo. "Aldo, ngeliatin Naira sampai segitunya, dia tunangan aku." Seru Dove. Aldo tak menjawab meskipun dalam hatinya ia kembali jatuh cinta pada seorang Naira Seno. Tapi di dunia nyata, Naira sangat membenci Aldo. Ia tidak suka dekat-dekat dengannya bagi Naira hanya Dove.
Dove mendekat dan mengangkat tangan Naira dan ditumpuknya dengan tangan Aldo dan tangannya. "Al, aku titip Naira. Besok aku akan ke Amerika dan keadaan dia belum stabil. Aku titip dia sampai selesai pengobatan. Aku percaya kamu Aldo." Aldo bahkan berjanji pada Dove.
"Senang bisa melihat kalian berdamai, kedua orang yang paling aku sukai" Dove pun tersenyum sebelum dokter datang dan memeriksa Naira.
"Kondisi Naira sudah mulai stabil." Ucap dokter itu lalu pergi setelah menulis laporan keadaan naira di form khusus yang dibawa suster. Setelah dokter meninggalkannya, Dove lalu duduk lagi di samping Naira yang masih tertidur.
"She is My everything's. Aku udah buat salah sama dia Do. Aku sayang banget sama dia. Aku gak nyalahin atau marah sama dia." Ucap Dove membelai rambut Naira.
Dove duduk di lapangan, keringat membasahi semua badannya setelah bertanding tinju dengan Aldo. Dove berbaring menghadap ke langit-langit dan Aldo menyusul dan tidur disebelahnya.
"Do, aku tahu kita memiliki banyak persamaan dan perbedaan tapi kenapa kita harus menyukai orang yang sama?" Dove lalu pergi.
"Karena aku jatuh hati padanya." Ucap Aldo sendiri mengakui. "Gw gak mau bohong."
*****
Selama di perjalanan kembali kerumah, Aldo terus mengingat momentnya dengan Dove.
"Dove, aku gak akan minta maaf. Aku udah salah, jangan maafin gw! Tapi Lo harus sadar." Pinta Aldo.
Aldo membuka kamar Dove hatinya rindu kebersamaannya dengan Dove, canda dan tawa. Berbagi dan saling mengejek dia merindukan segalanya.
"Dove, aku tidak pernah ingin berpisah." Ucapnya lalu menaruh sebuah surat diatas meja belajar Dove tepat di depan sebuah foto dirinya, Dove dan Diva di samping box biru berpita merah.
Andai saja waktu bisa kembali, aku tak akan bersikap egois, aku tak ingin menginjakkan kaki dirumah ini hari itu. Aku tak ingin mengenal Naira, menjadi kakakmu. Aku tak akan memilih jalan ini, disaat aku tahu aku memulainya dengan ketidakbenaran.
Aku cuman mau jadi temanmu!
"Div, beritahu aku jika Dove sudah sadar " Aldo lalu memeluk Diva, dan yang lainnya sebelum masuk ke mobilnya. Sebelum pergi Aldo membunyikan klakson mobilnya, hal yang selalu dilakukan Dove setiap ingin pergi ke sekolah dan kini dia lakukan untuk yang terakhir kalinya.
"Dove! Aku sedang lari dari kenyataan. Aku tak sanggup bertemu denganmu." Ucapnya sambil melihat jendela kamar Dove.
Keesokkannya,
Naira mencari akal untuk bertemu dengan Dove, dia datang pagi-pagi dan masuk dengan menyelinap saat semua orang masih tidur terlelap. Naira langsung memeluknya.
Tak sengaja dia menarik selimut putih, tangan kiri dan kanannya diperban. Di dadanya ada tanda operasi yang begitu besar.
"Dove, morning!" ucap Chua yang kaget melihat Naira dan selimutnya yang sudah terbuka, "Naira!" semua melirik cewek didalam.
Dion dan lainnya lalu berlari keruang ganti baju khusus penjaga pasien, mereka berlari dan langsung mendorong pintu masuk bertuliskan ICU 203.
"Stop" Ucap Mama Dove yang datang tepat waktu, dia lalu mendorong keempatnya keluar dan menunjuk pada satu tulisan maksimal pengunjung 2 orang. Dia pun menunjuk dirinya dan Naira yang sudah ada di sana.
Keempatnya terlihat kesal, tapi apa yang bisa mereka lakukan itulah peraturan yang berlaku.
"Tante luka di dada Dove, apa karena aku?"tanya Naira, dia merasa seperti orang bodoh yang bahkan tidak tahu apapun tentang Adi.
"Keluar dulu, nanti tante ceritain." Ucap Mama Dove dan mengajak Naira keluar. Air matanya semakin deras tak kala dia tahu apa yang terjadi pada Dove. Dia melihat keluar dan menatap Dion, lelaki bertubuh tinggi dan kurus itu menatapnya tajam. "Itu Naira itu yang kamu lakukan, karena kamu dan demi kamu, dia hampir hidup cacat."
Naira yakin bahwa Dion tahu sesuatu, dia ingin berbicara dengan Dion. Aku harus bicara harus, meskipun dia tak ingin aku harus memaksanya!
"Aduh" Naira merasa seseorang menggenggam tangannya erat. Tangan Dove mulai merespon, kakinya mulai bergerak dan matanya mulai terbuka.
"Dove" Naira tersenyum. Dove lalu memejamkan matanya lagi untuk istirahat.
Saat itu mama dove mengajak naira keluar dan menceritakan apa yang terjadi pada tangan Dove.
"Luka bekas operasi di dada Dove terjadi karena peristiwa kalian waktu di SMP. Tulang rusuknya retak. Dia beruntung masih bisa hidup sampai sekarang." Ucap Mirna.
"Puas Lo! Lo hampir buat Dove cacat. Tangan Kiri Dove bermasalah karena Lo. Dia itu selalu kesakitan kalau Lo sentuh tangan kirinya." Tambah Dion yang sudah tidak tahan untuk membuka semuanya.
"Udah ingat? Sekarang puas? Pergi dari sini." Usir Dion.
"Aku gak akan nangis Tante. Aku udah ingat semua. Aku salah, aku akan minta maaf dan tebus semuanya. Aku bersedia menikahi Dove. Dove gak perlu kerja, aku yang kerja." Naira menghapus air matanya. Air mata sudah tidak berguna baginya. "Naira udah beli cincinnya Tante" Dia menunjukkan cincin itu malah membuat Mirna dan Dion shock.
"Lo mau nikah sama Dove?" Teriak Sinta kaget.
"Iya." Teriak Naira. "Ma, Pa. Restui Naira." Ia meminta izin pada Bimo dan istrinya lewat ponsel. "Ma, gimana ini? Kita harus buru-buru kerumah sakit." Ujar Bimo segera berangkat ke rumah sakit.
Dove, maafin aku ya gak tahu kondisi kamu tapi mulai sekarang aku akan terima kamu apa adanya. Aku akan jadi istri yang baik.
Selama hampir 3 jam setelah Dove bangun, dia hanya menatap Naira dengan mata yang aneh. "Kamu ingin bicara?" Tanya Wira dan kedua matanya berkedip. Robert mengambilkan papan berisi huruf, dia juga membawa buku gambar kecil dan spidol. Mata dove mengarahkan Wira untuk memberikan buku itu pada Naira dan Dove mulai mengedipkan mata pada huruf yang mau dia gunakan.
Dan kalimat yang dibentuknya adalah Who You dan itu membuat semua orang di sana kaget membacanya begitupun Naira setelah membacanya dengan utuh. Robert lalu melihat mata Dove yang sepertinya masih ingin menulis lagi dan kalimat selanjutnya adalah aku tak ingin bertemu orang asing. dan yang terakhir adalah Get Out. Dove lalu menutup matanya dan beristirahat kembali sedangkan Naira harus terpaksa keluar dan menangis didepan ruangan Dove.
Setelah 2 Minggu berlalu, Dove tidak ingin bertemu Naira. Setelah semua alat dilepas dan dia sudah mulai lancar bicara. Gif ditangan kanannya sudah dibuka tinggal sebelah kirinya saja.
"Dove! Aku bawain makanan kesukaan kamu, Cilok." Ucap Naira terus berusaha membuat Dove mengingatnya.
"Kamu sadar ini dimana?" Tanya Dove menunjuk tulisan rumah sakit di dadanya. "Rumah sakit, dan aku pasien. Aku gak mungkin makan itu. Kamu jangan ganggu aku lagi ya. Jangan muncul di hadapanku lagi." Usir Dove membuat Naira sedih. "Keluar!" Teriak Dove lagi.
"Dove!" Teriak Alfredo masuk bersamaan dengan Mirna dan Bimo. "Kamu gak boleh kayak gitu. Dia Naira." Tambah Mirna.
"Aku gak kenal ma, dia selalu nempel, aku risih. Dimana-mana ada dia."
"Dove! Kamu jangan memperlakukan Naira begitu." Ucap Bimo.
Semua kaget, terutama Dion. "Dove, kamu gak ingat dia?"
"Kamu sini" Dove memanggilnya, dia merasa sakit di kepalanya, "Apa aku harus mengingatmu?"
"Iya, kamu harus!" ucap Naira tegas. Naira mengeluarkan Cincinnya. "Aku tunangan kamu dan calon istrimu." Dia lalu memasangkan cincin di jari kanan Dove dan dijarinya. "Liat! Ini buktinya." Dove marah dengan sikap Naira.
"Ma, dia main pasang gitu aja. Gak minta izin dulu." Jawab Dove.
"Dove bagus ini cincinnya." Mirna dan yang lain langsung berswafoto.
"Mama...."
"Semuanya aku tunangan Dove!" Naira berteriak kencang di koridor rumah sakit.
"Mbak ini rumah sakit." Tegus salah satu suster.