
"Naira stop ikutin aku." Kata lelaki itu. Ia membelakangi Naira. Naira terus mengejar lelaki itu.
"Aku cuman mau semua orang tahu kamu tunangan aku. Aku tunangan kamu Di." Teriaknya. Lalu, lelaki itu membalikkan badannya namun wajahnya langsung menghilang setelah jam alarmnya berbunyi diangka 07.00 WIB.
"Oh my God!" Naira langsung berlari dari tempat tidurnya. Ia mengambil handuk dan seragamnya untuk segera bersiap sekolah.
"Bi, temanku sudah jemput?" Tanyanya Naira terburu-buru. "Belum ada Mba Naira." Hal ini mengecewakan Naira.
Kenapa belakangan ini Aldo gak pernah menjemput aku lagi.
*****
"Naira, bapak dapat laporan dari dove, kalau kamu yang merusak laporan bulanan OSIS" ucap Pak Anton selaku Pembimbing OSIS.
"Kamu tahu itu semua laporan itu isinya semua foto-foto tempat yang akan dijadikan tempat untuk live in untuk angkatan mu." pak anton lalu memperlihatkan semua fotonya yang sudah kotor semua.
"Tapi pak, saya gak maksud" Balas Naira.
"Bapak, gak mau tahu kamu harus bantu Dove meskipun dia gak mau. Kamu harus berusaha untuk membantu. Minggu depan, dia akan pergi ke Desa Sekar untuk melakukan observasi ulang atau proposal kamu bapak tolak." Pinta Pak Anton lalu menyuruh Naira keluar.
"Naira" Panggil Aldo.
"Aldo" Naira membalas dengan manja pada Aldo. Aldo langsung menarik ke lorong sepi dan mencoba menciumnya. Belum juga bibir Aldo mendarat, air sudah membasahi bajunya.
"Sorry! Saya gak tahu kalau ada orang" jawab Dove santai.
"Eh, gw tuh orang, lo gak liat" Bentak Naira.
"Maaf mata saya gak bisa ngeliat orang yang gak bermoral." Balas Dove. Aldo hendak meninjunya. Dove mencegahnya, "Kamu jadi cowok harus gentle, harus bermoral juga, ini sekolah bukan pasar atau ring tinju" Ucap Dove membuat Aldo kesal.
Keesokkannya, Aldo datang dengan wajahnya yang memar, dan bengkak. "Do, kamu kenapa?" Tanya Naira penuh perhatian.
Dove yang melihat mereka berdua merasa muak dengan itu semua. "Gak Naira kemarin ada perampok tapi aku gak papa kok" Balas Aldo.
"Oh gitu, Do aku harus ke ruang OSIS bentar, nanti aku balik lagi." Kata Naira.
"Ngapain? mau ketemu Dove lagi? Aku gak suka kamu ketemu dia dan jangan dekat-dekat sama dia!" Aldo melarang tapi Naira ngeyel dan tetap pergi. Dia masuk keruang OSIS begitu saja saat Dove lagi membalut tangannya yang sakit.
"Ngapain lo!" Dove kaget melihat naira masuk tanpa permisi. Dia memarahi Naira karena sikapnya yang lancang, "Bisa ketuk pintu dulu?" Dove melanjutkan, "Kamu dapat nomor antrian pertama?" Tanya Dove tercengang.
"Antrian, antrian apa?" Dove menunjuk keluar dan terlihat antrian panjang menanti.
"Silahkan mengantri kalau lo mau ketemu gw, keluar!" Dove mengusirnya lagi hati Naira kembali sakit.
"Apa sih maunya cowok ini, gak bisa apa meluangkan waktu sedikit kurang dari 1 jam?" Tanyanya dalam hati sambil menggerutu dalam hatinya. Cowok resek, sok sibuk, sok penting. Kata-kata itu muncul dan menancap dipikirannya.
Dove mendorong Naira keluar lalu menutup pintunya. Lelaki itu terlalu dingin dan acuh padanya. Setiap hari selalu seperti itu, apa sih salah gw? sikap dia yang kayak gini emang pantes dikasi pelajaran! Naira memutar otaknya bolak-balik seperti seterika didepan ruang OSIS.
"Kalau kamu mau masuk. Kamu harus bawa hal yang bisa membuat Dove tertarik. Sekarang kamu tunggu disini ya." Sebut Chua lalu masuk dengan mudahnya ke ruang OSIS dan bicara dengan Dove. Naira mengambil nomor antrian dan mendapatkan urutan ke 75.
"What! Kapan bisa masuknya? Keburu bel ini!" Ungkapnya kesal. "Naira sabar ini semua demi proposal kegiatan bakti sosialmu."
Naira terus menunggu satu demi satu masuk hingga akhirnya nomor antriannya dipanggil. "Akhirnya, penantian seribu tahun berhasil." Namun Dove justru menutup pintunya dan pergi meninggalkannya dan terulang lagi pada hari esoknya.
Hari ke lima, Naira bertekad kuat menunggu Dove dan harus bertemu dengannya. Ia mencari tahu alamat rumah Dove tetapi tidak ada satupun yang mau memberikan padanya. Tak menyerah dia menunggu dari pagi di depan ruang OSIS. Dove yang melihatnya tak menggubrisnya dan langsung masuk ke ruang OSIS begitu saja. Naira mengikutinya, "Keluar, nomor antrian kamu mana?" tanya Dove.
"Aku gak perlu nomor antrian!" Naira mengeluarkan benda-benda antik yang di bawa dari rumah, "Ini semua benda antik dan pastinya bernilai mahal. Kakak boleh pilih sebanyak yang kakak mau."
Dove mengernyitkan kedua alisnya sambil memandang barang-barang itu. Dia menghela napas panjang yang dihembuskan lewat mulutnya. Ia meletakkan buku leadership yang dibacanya lalu mengambil sebuah kardus kemudian memasukan semua barang itu.
"Buka tangan kamu!" Titahnya dingin. Ia lalu memberikan kardus berserta barang itu kepada Naira. "Kamu pikir ruangan ini tempat penitipan benda?" Katanya sambil terus berjalan mendekati Naira yang mulai gugup.
"Kak jangan mendekat." Pinta Naira, mukanya merah. Tubuhnya seperti terbakar panas.
"Barang kamu gak ada yang menarik untuk aku. Sekarang kamu keluar." Dove menyuruhnya keluar begitu saja. Dalam hatinya, emang dia pikir gw mengkoleksi barang antik ucap Dove tersenyum tak percaya dengan apa yang baru dialaminya.
Naira tentu tidak kehabisan akal, dia menunggu Dove pulang sekolah. Dia menghadang mobil Dove tiba-tiba.
"Iya, ma. Aku akan mampir ke toko itu." Dove sedang berbicara dengan mamanya lewat telepon. Melihat Naira di depan mobilnya, dia langsung menginjak rem hingga mengeluarkan suara. "Naira, kamu udah gila ya. Kamu mau mati!" Muka Dove merah, matanya melotot, panik terlihat diwajahnya.
Dove marah. "Kalau aku gak liat gimana? Aku shock tahu gak!" Dove langsung memeriksa tubuh Naira untuk memastikan dia tidak terluka. Entah mengapa Naira justru tersenyum melihat perhatian Dove. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Dove yang berada di lengannya. "Makasih kak udah kuatir sama aku." Ucapnya tersenyum, sementara Dove terpaku melihat Naira yang tiba-tiba menjadi baik kepadanya. Perasaannya mulai terhanyut. Wajah Dove berubah tak ada lagi kemarahan, wajahnya sangat meneduhkan hati, tatapannya tajam dan penuh kehangatan.
Naira lalu memeluk Dove erat. Tiba-tiba, ia teringat bayangan memori itu lagi. Keadaannya persis sama dengan saat ini. Ia sedang memeluk seorang laki-laki, ia menggunakan Hoddie berwarna merah. Naira memeluk laki-laki itu erat sama seperti ia memeluk Dove saat ini, "Maaf ya, jangan marah lagi ya, Di." Ucap wanita itu.
"Panggil aku Do.." Balas lelaki itu lalu membalas pelukannya. Naira tersenyum sambil memejamkan matanya, seakan ia bermimpi indah.
"Mau kamu apa?" Tanya Dove dingin tubuhnya masih terperangkap dalam pelukan Naira. Lama tak merespon Dove langsung mendorongnya, "Gw mau masuk tim lo, tim observasi lo" ceplos Naira.
Ketika menatap Dove, ia melihat bayangan lelaki di dalam mimpinya. Secara bergantian membuat kepalanya pusing. Namun, saat ini hatinya sangat bahagia, entah mengapa ia merasa berbeda dekat dengan Dove saat ini.
"Naira." Dove memegang lengan Naira.
"Jangan mimpi, kamu tahu yang ngantri di depan ruangan aku. Mereka adalah calon volunteers buat team observasi." Tambah Dove. "Aku gak suka tindakan KKN, aku gak mau punya anggota tim yang nekat macam kamu, cerewet dan suka cari masalah." Dove lalu meninggalkan Naira.
Dove berhenti sejenak, membuka matanya. Ia merasakan sesak dadanya. "Nai-ra" Panggilnya parau. "Kalau kita ketemu lebih cepat, mungkin kamu gak akan benci aku." Ucapnya semakin membuat Naira bingung. Ia lalu masuk ke mobil dan meninggalkan parkiran sekolah.
"Dove, kita terpaksa mengambil jalan ini. Jika tidak kondisinya akan memburuk." Ucap Mirna Ricardo ibunya. Ia lalu memberikan sebuah kalung berliontin D kepadanya. "Kita kasih dia waktu, dia benar-benar shock." Tambah Alfredo suami Mirna sekaligus ayah Dove. Dove lalu memeluk kalung itu dengan kondisi tangannya yang di balut perban. Ia hanya bisa menangis. "Ma, dia akan melupakan aku?" Tanya Dove sedih. Ia tak hentinya menangisinya.
Dove menangis mengingatnya, ia menghentikan mobilnya dan membenamkan kepalanya diatas stir mobilnya. Ia menangis sejadi-jadinya. "Hallo ma, aku lagi jalan ke toko." Ucapnya menutupi keadaannya saat ini.
Naira gak habis pikir dengan Dove yang sangat keras kepala. Ternyata saat itu, Aldo memperhatikan mereka berdua dari jauh.
"Kamu dimana?" Tanya Aldo padanya.
"Aku baru keluar dari toko buku." Ia berniat meminta Dove untuk menjemputnya. "Woi, kalau lari hati-hati dong!" Teriaknya ketika seseorang menabraknya dibelakang orang itu ada 3 orang berlari mengikuti dia dan rasanya tampangnya tak asing baginya.
Naira akhirnya ikut mengejarnya. Mereka berempat terlibat pertengkaran 3 melawan 2, semuanya mengeroyok dua orang cowok yang familiar bagi naira, Dove dan Dion sedangkan lawannya adalah Ricky dan teman-temannya.
Dove menghajar mereka semua meskipun mukanya juga terkena pukulan.
"Ricky lo selalu cari masalah!!" Dove lalu memukul ricky lagi, sementara yang lainnya minta ampun saat ingin dipukul Dove.
Saat sedang lengah, Ricky memukul Dove dari belakang dan mulai menghajarnya.
"Woii, ada polisi!" Teriak Naira. Dove melihat Naira yang sedang tersenyum padanya memperlihatkan giginya pada Dove. Dove karena punggungnya di tendang oleh Ricky.
"Sini, gw bantuin" naira membantu Dove berdiri.
"Eh! lo bohong ya, awas ya lo!" Ricky kembali dan hendak mengajar mereka dengan cepat Dove mengandeng tangan Naira untuk kabur.
"mau kemana ?" tanya Naira. "udah lari aja, mau dihajar" Balas Dove.
"lo ngapain sih berantem?" Tanya Naira.
"Mereka duluan yang mulai, ini udah aman kok" Jawab Dove dingin lalu masuk ke dalam mobil alphard hitam.
"Lo mau kemana?" tanya Naira lagi.
"Mau pulang, mau ikut?" Dove naik dan duduk di bangku paling luar.
"Naira, kamu lama banget pulangnya?" tanya mamanya.
"Kamu gak salah beli buku kan? mana bukunya mau mama kirim langsung ke tante kamu"
"Bukunya" Ekspresi Naira berubah, dia ingat jika bukunya dia tinggal di dekat gang saat membantu Dove.
"Bukunya, aku ketinggalan ma tadi.." Minarti langsung memotong perkataan Naira "Uang jajan kamu akan dipotong sesuai dengan harga buku itu. Mulai hari ini, pergi ke sekolah naik sepeda atau kendaraan umum." Minarti kesal dengan dan kecerobohan Naira yang meninggalkan buku itu.
"Ma tapi tadi aku itu.." Namun Minarti sudah tidak ingin mendengarnya.
Doveee awas ya! Gara-gara dia gw harus sengsara hidup sengsara! Naira menyalahkan Dove dalam hatinya. Namun dia ingat ketika dia berlari bersama Dove tadi. Tak sadar ia tersenyum sendiri. Naira! Gila! Lo udah punya Aldo!
Dove pulang dengan wajah terluka pada bagian bibir dan pipinya.
"Anak baik bisa berantem juga! Sekarang udah jadi preman!" Teriak seseorang menyambutnya di depan pintu.
"Berantem hal yang wajar.." Balasnya melihat kearah atas, "Anak emas keluarga Ricardo sudah jadi seorang preman!" Ucapnya meledek. Lelaki itu lalu turun melewati anak tangga sambil membawa kotak P3K ditangannya.
"Kapan Lo pulang, Aldo." Tanya Dove pada Aldo.
"Kenapa? Gw gak boleh pulang?" Balas Aldo sambil mengobatinya. "Bagaimanapun Lo masih adik gw." Tambahnya.
"Aldo sakit pelan dikit dong!" keluh Dove lalu berniat mengambil kapas dari tangan Aldo namun ia mencegahnya dan justru menekan lukanya.
"Tahan dikit Dove" Aldo masih memegang tangan Dove sambil tersenyum. "Dove, my brother! aku sayang banget sama kamu Dove. Tapi sayang kamu adalah adik tiri aku. Anak dari Mirna Ricardo, orang yang menghancurkan keluarga aku." Aldo lalu memberikan Dove permen coklat untuk menghiburnya.
"Jangan pulang kalau babak belur gitu." Ucap Aldo meninggalkan Dove sendiri.
Dove melihat coklat itu dan mengenang masa kecil mereka, Aldo selalu memberinya coklat kesukaannya setiap kali dia nangis. Mereka selalu berbagi sampai suatu hari, Aldo datang ke rumah Dove bukan sebagai teman masa kecilnya melainkan kakak tirinya. Mamanya adalah istri kedua Alfredo.
"Masih ingat waktu kecil, aku selalu memberikanmu coklat saat kamu menangis?" Ucap Aldo mengenang masa kecil mereka.
Dove kecil menangis ketika kakinya luka setelah terjatuh dari sepatu rodanya. Aldo yang mengejarnya dengan sepeda menepi lalu mendekati Dove, dia lalu mengusap air mata Dove dan memapahnya.
"Dove, tahan ya" Aldo kecil memasangkan plester pada luka Dove, dia lalu duduk dan memberikan coklat pada Dove kecil.
Dove tersenyum, "Terima kasih, Aldo" Dove lalu memeluk Aldo begitupun sebaliknya, mereka berdua berjalan sambil mengiring sepeda Aldo dan sepatu roda Dove di keranjang sepedanya.
Dove kecil dengan perban ditangan kirinya berlari menuju pintu keluar dengan coklat ditangannya. Sementara Aldo menangis setelah kehilangan ibunya, Dove mendekat dan memberikan coklat pada Aldo yang terus menangis.
"Aldo jangan nangis, ada aku, ayo main." Aldo tidak merespon lalu Dove juga memeluk Aldo dan mereka bermain bersama.
"Kamu, masih cupu waktu itu Al" Canda Dove. Aldo lalu memainkan kertas origami, mainan jari yang selalu mereka mainkan saat kecil, Aldo pun memainkannya dengan kedua tangannya.
"Masih ingat permainan ini, kamu dan aku sama-sama menuliskan keinginan kita setelah itu kita suit dan pemenangnya berhak memainkannya dan harus melakukan apapun yang diminta di dalamnya" Ucap Aldo, dia lalu mengajak Dove bermain dan ia sengaja mengalah pada kakaknya. Dove membuka lipatan sesuai permintaan Aldo isinya adalah kata lepaskan Do.
"Aldo, apa maksudnya?" Tanya Dove.
"Brother never lies and always keep the promise. You remember maybe someday we must do this again." Ucap Aldo lalu meninggalkan Dove sendirian.
Dove membuka semua lipatan dan terdapat sebuah kalimat penuh permintaan aldo,
"Lepaskan dia dan biarkan dia jadi milikku. Jauhi dia, aku ingin dia sebagai bayaran atas perlakuan ibumu." Melihat itu semu Dove shock dan hanya menatap lantai atas kamar Aldo.
"Den, kata ibu sama bapak, mereka akan pulang 2 hari lagi bareng sama non Diva" ucap Mbok Sri.
"Dove" teriak sinta lalu merangkul tangan Dove.
"Hey, Sinta" Balas Dove sambil mengacak-ngacak rambut Sinta
"Jangan dikasi PHP tuh Sinta" Ucap Chua.
"Sinta, kamu mau gak jadi pacarnya Chua?" tanya Dove. Chua yang sedang minum langsung tersedak sedangkan yang lainnya tertawa, "Kamu, diam aja berarti mau ya, congrats you're couple" Dove lalu pergi bersama Wira ke perpus.
"Aku mau cari buku buat bikin soal OSN" Ucap Dove.
"Gw mau cari komik ketemu dimeja ya" jawab Robert.
Mereka berpisah mencari tujuan mereka masing-masing. Naira juga ada di sana mendekati Dove yang sedang serius membaca.
"Kak Dove, boleh gak aku ikut tim kakak." tanya Naira imut pada Dove yang sedang membaca buku. Dove melirik dan tidak tertarik, "Kakak, aku udah bantuin kemarin sampai uang jajanku dipotong, boleh ya kak" Naira semakin bersikap manja padanya sementara dia sendiri heran melihat Naira.
Sabar Naira .... sabar Naira.
Tanpa basa-basi, Dove lalu menjatuhkan beberapa buku dan membuat keributan di perpus. Naira juga kaget begitu juga penjaga perpustakaan yang ada melihat.
"Siapa yang berani menjatuhkan buku-buku ini, pasti kamu ya, siapa nama kamu!" teriak penjaga perpus.
"Naira" jawab Naira takut.
"Maaf bu Dinda, ini salah saya, jangan salahkan dia." Ucap Dove membela Naira.
"Oh iya, pasti gak mungkin saya menyalahkan kamu ataupun dia" Ucap Bu Dinda.
"Saya sudah bantu kamu terbebas dari bu dinda jadi kita impas, paham." Dia pergi meninggalkan perpustakaan. Naira ingin mengejarnya namun Bu Dinda memanggilnya dan menyuruhnya membersihkan buku-buku itu, ia juga melaporkan hal ini pada guru BP.
"Yahhh, BP lagi dasar Dove, selalu aja bikin masalah, bayar apanya nambah iya" Naira mengeluh kesal.
"Aku bantu" Ucap Aldo lalu membantu naira, naira terpesona melihat Aldo, sementara Dove yang melihatnya dari lorong lain justru kesal dan malah menjatuhkan semua buku yang ada didepannya.
Bu dinda menoleh kearah Dove, "Ini semua, Naira bu yang ngelakuin" Ucap Dove.
"Naira" Naira yang terpesona oleh Aldo kaget mendengar panggilan Bu Dinda, Dove keluar dari perpustakaan dengan perasaan cemburu pada Aldo.
Aldo membuka pintu kamar adiknya dan melemparkan sarung tinju kepada Dove.
"Tumben mau ngajakin latihan, kenapa gak di tempat latihan seperti biasa aja?"
"Gw, cuman mau belajar mempertahankan diri, Dove" Aldo mulai memukul samsak yang ada dikamar Dove.
"Mempertahankan diri? untuk apa? Ada yang iseng sama kamu? Gw hajar mereka." balas Dove.
"Kita udah bersama sejak kecil jadi gw tahu lo gak mungkin mengecewakan gw. Lo saudara yang gw punya satu-satu selain Diva. Gw denger Diva akan balik ke Indonesia."
"Iya, besok" Jawabnya tegas.
"Naira, dia pacar gw, lo gak perlu ngerjain dia lagi. Gw tahu, lo masih kecewa karena gw rebut pacar lo tapi naira beda, lo gak perlu bikin dia sengsara?"
"Lebih baik kamu keluar kalau kamu cuman mau ngomongin dia, keluar!" Dove melepas sarungnya dan berbaring di kasurnya.
*****
"Morning, kakakku tercinta." Diva sang adik kesayangan memeluknya. Rambutnya yang coklat dan gayanya yang modis membuat Dove langsung memeluknya erat akibat terlalu merindukan adik sepupunya.
"Hey, Diva" ucapnya lalu memeluk adiknya.
"Hari ini aku akan langsung masuk ke sekolahan yang sama dengan kakak. So, lebih baik kakak siap-siap, turun, sarapan dan kita pergi bareng" Ucap Diva menarik kakaknya bangun dan mendorongnya ke kamar mandi
Makanan pagi sudah siap, semua lengkap termasuk susu dan jus yang selalu tersedia di meja makan.
"Kak Aldo, pergi bareng kita?" Tanya Diva.
"Gak, aku naik Vespa." Ucap Aldo membuat semua tertawa termasuk Dove.
"Dove, mama dengar kamu berantem lagi? Kapan kamu mau berhenti berantem?" Mirna lalu melihat muka anaknya yang memar.
"Liat muka kamu memar semua." Ucapnya memperhatikan anak-anaknya.
Setelah mengetahui bahwa ia adalah istri kedua Alfredo dia sangat kecewa. Ternyata, ia menikahi seorang laki-laki beristri. Ditambah lagi saat itu, dia sudah memiliki Dove. Dia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa seorang ayah. Akhirnya dengan berat hati ia menerima Aldo sebagai anaknya. Ia juga belajar untuk menerima anak laki-laki itu sebagai anak sambungnya. Awalnya, Aldo dan Dove memang dekat, Alfredo suka membawa Aldo bermain dengan Dove. Mereka sudah seperti kakak beradik, dan Mirna juga sudah seperti ibu bagi Aldo. Mirna adalah cinta pertama Alfredo saat kuliah sementara ibu kandung Aldo adalah wanita pilihan ayah Alfredo yang tidak dia cintai. Usia Aldo lebih tua 2 tahun dari Dove dan Naira. Namun, karena dia tinggal kelas maka ia seangkatan dengan Dove. Sementara Diva adalah anak adik Mirna yang telah meninggal.
"Aldo, kamu makan yang banyak mama liat kamu kurusan setelah pindah ke kos. Kedepannya, kita akan berkumpul bersama lagi." Mirna menepuk tangan Aldo sebagai ungkapan kebahagiaannya.
"Tante gak perlu cape-cape mikirin aku." Balas Aldo menohok
"Al, hargain nyokap dong." Celetuk Diva.
"Sudah-sudah, kalian makan lalu sekolah." Mirna memutuskan untuk pergi dari situ dan menangis dalam diam. Ia merasakan kebencian dalam diri Aldo, ia sadar anak itu menyalahkannya atas kematian ibunya.
"Dove, dia kakak kamu. Kamu harus bersabar, mama ada adil salah dalam hal ini. Kita harus memakluminya. Mama yakin hati dia akan terbuka untuk keluarga kita." Ucapnya saat Dove datang untuk menghiburnya sekaligus berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
*****
First day for Diva
Diva berjalan beriringan dengan Dove. Semua mata tertuju padanya, kakak beradik yang sangat memukau banyak orang. Dove sangat perhatian pada adiknya.
"Ini kelas kamu, kakak masuk kelas kakak." Ucap Dove lalu mencium kedua pipi adiknya.
"Dita!!" Teriak Diva. Dita lalu memeluk Diva, "kamu apa kabar, kapan balik?" Tanya Dita.
"Tadi dan langsung ke sekolah" Diva lalu melihat sinis pada Naira dan tidak mau menyapanya, Dita hanya diam dan tidak berkutik. Ia merasa menang satu langkah.
Diva duduk 2 baris di depan Naira bersama dengan Dita. Saat Naira ingin maju, Diva mengerjai Naira dengan menyandung kakinya sehingga ia jatuh menjadi bahan tertawaan sekelas begitupun saat dia membuka hadiah misterius yang ditujukkan untuknya. Ternyata di dalam kotak itu adalah badut yang langsung menyiramkan air ke wajahnya. Tak hanya itu, Diva juga menyembunyikan buku tugas Naira sehingga dia harus dihukum keluar kelas.
"Diva, makan bareng? " Ajak Dove lalu mengindahkan Naira. Seperti mereka tidak saling kenal. Anehnya, Naira justru merasa ada yang kurang, merasa tidak di anggap ada. Dia kesal dengan sikap perhatian Dove pada Diva. Dia mulai mencari alasan untuk bisa dekat dengan Dove seperti makan di kantin, duduk satu meja dengan Dove. Bahkan, ia mengajak The JOJO untuk menjadi mata-mata.
"Nai, kenapa sih musti ngumpet-ngumpet?" Ceplos Dina. Kaget mendengar kalimat itu, Naira lalu berdiri, "Iseng aja!" Ucapnya malu. Naira! Apa yang kamu lakukan? Ngapain ngikutin cowok itu? Kalau Aldo tahu bisa guaswat! .
Sekali lagi, ia melihat Dove mengajari Diva soal-soal untuk seleksi masuk ke Club OSN. Menjadi anggota OSN adalah impian semua murid termasuk Naira. Ekspresi Naira berubah , ia merasakan kesedihan melihat keduanya. Tanpa disadari ia mulai mencari-cari perhatian Dove dengan hal - hal diluar nalar seperti membuat ban mobil Dove kempes. Menulis pesan menggunakan lipstik di depan kaca mobil Dove. Namun, tidak ada yang diindahkan Dove. Naira, mulai kehilangan sesuatu di hatinya.
Ketika bersama Aldo, ia bahkan tidak bisa merasakan kenyamanan seperti dahulu. Selalu ada Dove dipikirannya. Ia terlihat lesu dan tidak bergairah. Dita, juga semakin memanas-manasi dan berkerja sama dengan Diva untuk mempermalukannya. Namun, disisi lain ia menghibur Naira.
"Nai, kamu liat kak Dove mendekati wanita lain lagi. Kita gak boleh menyerah untuk membuat kak Dove jera. Ok Naira." Dita mengajukan janji kelingking pada Naira. Dalam perjalannya Dita hanya tersenyum nyinyir melihat Naira masuk perangkap lagi.
"Aku gak seharusnya peduli pada Kak Dove. Dia harus diberi pelajaran." Namun jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin melakukan itu. Di tangannya kini ada sebuah selembaran untuk pendaftaran tutor untuk seleksi OSN, nama Dove tercatat sebagai pengajar. Kertas itu diberikan oleh Dita, "Ini salah satu cara agar kamu bisa dekat kak Dove dan membalaskan semuanya." Ucap Dita memanasi Naira.
"Kak Dove, aku akan buat kamu lebih sakit lagi." Ucap Dita dalam hati.
*****
"Maaf Nai, Dove gak bisa ngajarin kamu. Dia lagi ngajarin yang lain. Kita akan bantu kamu." Ucap Robert sambil membuka soal-soal yang biasanya digunakan oleh Dove. Dia melihat Dove berada di ruangan lain dengan murid lain. Sementara, nama Naira memang tercatat akan di bimbing oleh Dove.
Naira langsung mengambil soal itu dan masuk ke ruang itu. Ia menarik lengan Dove dan membanting soal matematika itu. "Naira kamu itu apa-apaan sih, aku lagi ngajarin yang lain. Udah sana kamu sama Robert atau Sinta" Usir Dove. Naira yang sudah sangat kesal merebut semua soal itu dan membuangnya ke lantai. "Aku mau kakak ajarin aku. Aku gak mau kak Robert atau Sinta. Aku mau kakak!" Pinta Naira.
"Kamu seharusnya sama Kak Robert, aku sama Kak Dove." Dia menunjukan kertas pengumuman pembagian kelompok pembimbing.
"Tapi aku gak mau." Dove menolak. "Aku juga gak mood untuk ngajar." Ucap Dove lebih sinis lagi. Dia lalu pergi meninggalkan kelas dan Naira mengejarnya. Dia mencoba meraih tangan Dove namun tidak bisa, "Kamu tuh sama nyebelin dengan Diva, adik kamu yang nyebelin dan sok cantik." Mendengarnya membuat Dove marah.
Dia mendorong Naira ke dalam gudang alat olahraga yang kecil lalu menciumnya, mata Naira tak berkedip dan bibir Dove menempel di bibirnya.
"Jangan sekali-kali lo sebut dia seperti itu, dia jauh lebih baik dari kamu, paham!!" Bentak Dove, dia langsung buru-buru keluar dan meninggalkan Naira.
my second kiss, Naira menyentuh bibirnya
my second kiss, mata Dove berkaca-kaca, dia memegang dadanya yang terasa sakit.
"Do" panggil Aldo.
"Aldo" balas Dove
Dari jauh Aldo melihat Naira dan melirik pada Dove sementara Naira menatap Aldo.
"I know you will keep your promise!" Ucap Aldo lalu menghampiri Naira dan mengajaknya ke kantin. Diva melihatnya dari jauh dan terlihat tidak suka dengan apa yang dilihatnya.
*****
"Ma, Pa, kita mau nunggu siapa?" Tanya Diva kepada orang tuanya. "Kak Aldo mana?" Tanyanya lagi.
"Aldo gak akan datang." Balas Alfredo.
Tak lama, Bimo dan Minarti datang bersama dengan Naira. Naira terlihat cantik dengan balutan dress hitam.
"Tante, Om. Apakabar?" Sapa Dove kaget melihat keduanya.
Setelah hampir 1 Jam menyantap makan malam bersama. Alfredo akhirnya angkat bicara tentang malam ini.
"Karena kalian semua sudah hadir, Dove mama dan papa ingin kalian Naira dan Dove bertunangan secepatnya."
"Kita akan melanjutkan rencana kita yang tertunda dulu." Tambah Bimo melengkapi kagetnya kedua anak muda ini.
"Pa, Naira ini pacarnya Aldo." Celetuk Diva.
"Ngaco kamu! Papa tahu kamu gak suka sama Naira. Sekarang Naira adalah tunangan kakak kamu hargai dia." Bentak Alfredo pada putrinya.
"Gak! No!" Naira keluar dari gedung dalam keadaan hujan lebat. Naira! Panggil Dove.
"Lupakan dia, aku akan membuatmu jauh lebih berbahagia Dove" Teriak Dita yang ternyata hadir disitu.
"Jangan sentuh aku sampai kapanpun, aku hanya menyukai satu orang dan itu bukan kamu! " Ucap Dove
"Dia tidak mengingatmu bahkan juga tidak menginginkanmu. Dia sudah mengkhianatimu, menyakitimu. Aku sangat mencintaimu. Aku takkan membiarkan dia bersamamu." Balas Dita.
"Kalau bukan karena kamu, ini semua gak akan terjadi Dita. Kamu egois."
"Aku cinta sama kamu."
"Bukan cinta tapi obsesi, Dit."
****
"Dove brengksek! Gw bilang lepasin dia!" Pukulan itu melayang ke wajah Dove dan melukai sudut bibirnya.