
"lo ngapain disini ?" bentak dove melihat naira duduk dimeja kelasnya, "aku mau minta diajarin matematika sama kamu" naira menunjukkan setumpuk buku matematika.
"saya gak mau ngajarin kamu, keluar kamu sekarang, cari yang lain" pinta dove dengan nada datar
"saya, mau kakak, kakakkan olimpiade matematika kan" pinta naira. "kamu tuh gak geram dikerjain, selalu aja cari masalah sama saya" jawab dove
"ya, saya mulai terbiasa, sepatu basah, sepatu diatas tiang, sepeda jebol, baju olah raga robek, kursis jebol" saya udah biasa.
"mau kamu apa sih ?" tanya dove lelah berantem dengan naira. " ikut sebagai observasi" pinta naira sambil tersenyum seolah dia sudah berbaikan dengan dove. Dove marah mendengarnya, dia benar-benar pusing dan rasanya ingin meledak. "eiitsss, tunggu sebelum marah kamu harus makan ini" naira menunjukkan permen lolipop pada dove. Dove kaget dan antusias, dia lalu menarik tangan naira membawanya ke ruang osis. Didepan ruang osis puluhan anak sudah mengantri.
Dove berdiri di barisan paling depan dan mengumumkan sesuatu hal, "semua perhatian, mulai hari ini saya tidak akan mencari lagi pasangan untuk tim observasi, karena naira dia akan menjadi tim saya" Dove lalu mengangkat tangan naira layaknya sang juara.
Chua lalu bertepuk tangan, dove lalu pergi meninggalkannya. "lo kasi apa ke dia? ,sampai dia mau terima lo, dia sengaja bikin kayak gini, soalnya dia mau pergi sendirian aja katanya ?" tanya chua heran. "gak tahu" ucap naira
"naira" teriak chan-chan, dia berlari kearah naira, dan naira langsung menghindar, akhirnya chua lah yang dipeluk chan-chan. "chan, ini gw chua" chua merasa jijik dipeluk chan-chan lalu berlari pergi.
Dibalik tangga menuju ruang osis, aldo mulai merasa cemburu, "never" katanya.
"Hallo, kak dove" sapa naira yang baru saja sampai dengan tas koper dan ransel dipundaknya, "kita mau pergi naik apa ?" tanya naira lagi
"eh, kita cuman pergi sehari bukan 1 minggu, ini koper isinya apa?" tanya dove sambil menunjuk kedua koper yang dibawah naira
"ini baju, ini juga baju, yang diransell juga baju" jawab naira santai. "pilih salah satu, saya hitung sampe 3, atau gak saya tinggal dan saya akan bilang ke pak anton, kalau kamu membuat masalah baru dengan saya". "Loh ayo pilih kok diam aja kamu, 1 .. 2.. ti.."
busat dah, ini cowok nyebelin juga ya gak tahu apa kalau gw, cewek dan kebutuhan gw banyak, pake diitung segala, okey naira, sabar, demi proposal, demi proposal naira, sabar
dove menatapku dengan aneh, tatapannya benar-benar membuatku terpesona dalam sekejab, aku rasa aku pernah mengenal tatapan itu, tatapan itu sepertinya tak asing bagiku, tapi dimana aku melihatnya dan kapan aku melihatnya.
Naira coba mengingat dan kepalanya mulai terasa sakit, aduh, pala aku sakit banget. Naira memegang kepala yang terasa sakit. "nai, kamu kenapa ?" dove panik, dia terlihat cemas melihat naira.
Suara ini, panggilannya, aku yakin aku pernah mendengarnya (dove coba untuk memapah naira) pegangan ini, aku pernah merasakannya, dove siapa kamu sebenarnya, kenapa aku merasa aneh setiap kali kau bersikap seperti ini.
"Eh, lo ngeliatin apa ?" tanyanya ketus, " ini yang mana yang mau dibawa ?"
"yang itu, ransell" jawabku menunjuk ranselku yang berwarna biru. "Biru, biru warnanya sam seperti air laut, kalau kita suka warna biru apa lagi biru laut, berarti orang itu punya hati yang sebesar lautan, artinya orang itu". Naira memotongnya, "baik". Mereka sama- sama terdiam untuk beberapa detik.
"kamu tahu dari mana, kalimat itu, seseorang pernah mengatakan hal yang sama waktu aku kecil dulu, dia orang yang berarti buat aku" jawab naira, dirinya mulai penasaran dengan dove yang bahkan dapat membuatnya berpikir bahwa dia adalah rocky, padahal yang dia tahu rocky itu adalah aldo pacarnya.
"setiap orang bisa berkata seperti itu" balas dove seperti mengalihkan perhatian naira. "itu adalah kata yang diucapkan oleh guru TK kami dulu, kamu sekolah di TK Resi juga ? kalau iya kok aku gak pernah ketemu sama kamu ?" naira semakin bertanya-tanya
"sudah lah, ayo kita jalan" selama diperjalanan dove memilih untuk tidur untuk menghindari perbincangan dengan naira. "udah sampe nih" naira mencolek dove untuk membangunkannya
"makasih pak, besok jemput saya lagi ya disini" naira turun lebih dulu, " wow, keren banget" hamparan hijau pergunungan memanjakkan matanya. Sawah dengan padinya yang sudah mulai menguning membuat keindahan ciptaan TUHAN benar-benar terlihat luar biasa.
"ayo lewat sini" dove membuka petanya dan mulai menyusuri jalan sesuai petunjuk. Naira benar-benar masih terpukau, dia berputar-putar melihat keindahan pohon-pohon besar suara air terjun yang menyejukkan hati.
"naira cepet, nanti kalau lo nyasar, aku yang susah" dove lalu melanjutkan perjalanannya.
Dasar cowok egois, orang lagi enak-enak juga
"Dove masih berapa lama sih, kok kayaknya jauh banget mana berat lagi istirahat dulu ya" naira lalu duduk diatas batu dan merenggangkan kakinya. "naira ayo lanjut, ini masih jauh, udah deh lo jangan manja, makannya udah aku bilang gak usah ikut ngeyel" dove lalu mengambil air minumnya.
Naira lalu datang menendang minumannya, dove pun kaget dan langsung minta ampun padanya, dia lalu mengendong naira dan mereka berjalan menyusuri hutan. Tapi itu semua hanya hayalan naira yang berbanding 360 derajat dari kenyataan yang ada.
" woi, ayoo masih duduk" dove lalu memasukkan botol minumnya
"dove, gw tuh lagi ngomong" naira menarik tas dove, "lo tuh ya, cerewet banget sih" dove menunjuk naira.
Dia menatapku dengan kesal, aku tak peduli, dia memang menyebalkan, sangat menyebalkan. Aku pun merebut gulungan kertas yang digunakannya untuk menunjukku dan ku buang jauh kertas itu.
"Naira, kok dibuang !!!" , yes liat dia marah, dia pikir dia siapa, aku berani melakukan apapun yang aku inginkan, aku tak takut meskipun dia marah.
"naira petanya kenapa dibuang!!", kalimat itu membuatku shock, peta itu peta, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Aku panik, aku panik.
" ya lo masa, gak afal jalannya" jawab naira santai sambil menutupi kepanikannya. "gw itu kesini 1 tahun yang lalu, ya mana mungkin gw afal, lo bener-bener ya, cuman bisa bikin onarrrr, udah ayo lanjut jalan" dove lalu melanjutkan perjalanan dengan tampang keselnya.
"aduh" teriak naira, dove berbalik dan lari kearahnya. Naira dengan tampang tidak bersalahnya malah tertawa, " naira, lo tahu gak sih gw panik, lo bisa gak sih gak menjadikan hal ini sebagai bahan becandaan" dove marah dan meninggalkannya
"lo, itu sengaja kan ngerjain gw, dari tadi lo sama sekali gak buka petanya dan lo jalan-jalan aja, lo cuman mau nakutin gw doangkan" balas naira dengan mukanya yang songong, membuat orang lain kesal. "kalau gw mau afal atau gak itu urusan gw, justru gw yang tanya sama lo, lo sok ikut campur urusan orang lain?" balas dove tajam
"urusan orang lain?" naira semakin kesal, "berbaikan dengan gw, lalu membuat gw sakit hati" jawab dove membuat naira kaget, " lo tahu dari mana?" naira terbata-bata. Dove mengambil buku dari tasnya, itu buku catatan naira, dihalaman pertamanya tertulis visi tahun ini membuat Dove si cowok nyebelin sakit hati.
"lo mau ikut, atau tinggal disini, gw gak peduli" dove lalu melanjutkan jalannya, nairapun mengikutinya dibelakang, "gw rasa kita tersesat deh"
"apa !!! tersesat gak mungkin !!" balas naira,
"eh, kita tersesat karena lo, lo yang buat petanya, kenapa gw yang salah" dove mengelak
"naira, itu dipundak lo ada laba-laba" dove lalu mundur menjauh dari naira, "naira, jangan deket-deket gw" namun naira tidak peduli dia yang juga takut langsung berlari kearah dove dan melopat keatas tubuhnya. "ahhhhhhhh laba-laba" dove berteriak, kaki dove tidak sengaja mengijak ranting dan mereka jatuh terguling.
"naira, lo gak papa kan" dove bertanya cemas, dia pun melihat luka ditangan naira dan merasa miris. Dove lalu mengambil teleponenya dan menelepone kepala suku desa sekar. "pak, ini saya dove, iya saya lagi tersesat bisa kirim bantuan?"
"disini ada sinyal, gitu gw bawa hpe, lo tuh bener-bener nyebelin ya" naira semakin ketus, "gw cuman bilang disini kadang-kadang gak dapet sinyal bukannya gak ada sinyal" dove lalu mengendong naira dipundaknya. Seseorang datang dan membantunya sampai ke desa sekar.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tarian khas desa pun dipertunjukkan untuk menyambut mereka, para warga juga terlihat senang dengan kedatangan mereka.
"hey, lo tu cewek, lo musti belajar tarian ini kalau ketemu orang harus nari gini, kalau gak diusir lo" ucap dove lalu tersenyum
"iya" balas naira, Naira pun belajar tarian itu, dan coba menghafalnya. Haripun berganti sore, naira mendapat tugas untuk menumbuk padi, untuk beras makan malam.
"aduh berat banget" naira mengeluhkan beratnya penumbuk padi tersebut lalu dove datang dan membantunya. "jangan modus ya" naira memperingatkan.
"heh, ngapain gw modus sama lo, kalau ini gak selese mau lo gak makan, udah sini" dove mengerjakan tugas yang harusnya dikerjakan oleh naira. Dove dan nairapun makan dengan lahap bersama dengan warga lainnya. Dove tertawa bahagia, tawa yang tidak pernah diberikannya pada naira.
Cahaya lampu senter berkedap-kedip dari luar pintu kamar yang terbuat dari anyaman rotan, naira menunggu dove sambil mengoyang-goyangkan kakinya. "lo kenapa ?"
"aku mau ke toilet, temenin"
"yaudh, tunggu ya" dove mengambil senternya dan mengantar naira.
"nai, udah belum jangan lama-lama, gak ada suaranya, tidur lo ya" teriak dove sementara didalam kamar mandi naira berdiri tegap didalam kamar mandi kecil sementara ada tokek yang berjalan didinding. Dia lalu mendorong pintu pelan dan langsung memeluk dove, "tokek" mereka berdua berteriak bersamaan dan langsung lari.
"tokek, tokek, tokek, jijik" teriak dove
"kak ini dimana?" tanya naira dan hal yang sama juga dipertanyakan dove, "OMG, sumpah gw gak tahu ini dimana" ucap dove. Terdengar suara-suara, dan itu membuat nyali mereka menciut mereka pun lari dan bersembunyi di balik semak-semak, "naira, dipundak gw"
"ada apa ?" naira mulai takut, "tokek.. tokek" suara itu terdengar jelas, "ahhhhh" mereka kembali berlari menghindar. "Fix, kita tersesat, aku gak tahu ini dimana" dove menghela nafasnya setelah berlari. "gw cape" ucap naira, "udah duduk yuk" naira menarik tangan dove dan merebahkan tangannya dilengan dove.