
======Akira Itsu=====
Aku duduk diam mematung di kursiku... sumpah deh, ini aku gak paham betul... si dosen ini lagi jelasin materinya atau lagi gong-gong sih... kok gak ada satu kata atau kalimatpun yang nyangkut di kepalaku ya?? padahal yang lain ngerti-ngerti aja.
Aku mengusap kasar kepalaku dan mengacak-acak rambutku... setan!! kok bisa sih aku kesasar di kelas gak jelas gini... dasar Rektor sialannn, kenapa juga dia harus pindah jurusanku... kan jadi gak connect gini belajarnya... berbagai umpatan kekesalan ku lontarkan dalam batinku.
Pletakkk...
Satu pen mendarat di keningku... Shit, manusia mana yang berani melempar pen padaku, minta di tebas apa ya??... ku lirik kanan kiri, masih sibuk aja,,,sebelum akhirnya aku mendapati senyum puas yang terukir di bibir Kensuke... pasti si tuyul satu ini yang lempar... memang biang masalah anak satu ini... ck, pengen ku hantam.
"Hei... jangan gila di kelas... kerasuk setan ya,sampai acak-acak rambut gitu..." ucapnya pelan dengan nada terkekeh.
"ah iya, orang bodoh mah cuman tau pacaran..." sumpah,, udah pengen ku jahit bibirnya itu loh... ngomong gak ada filternya, kok bisa sih aku jadi temenan sama manusia setengah jadi kayak dia?? munhkin kah Tuhan salah memberi jiwa padanya dulu??.
"hei, diam... jangan berisik... kalau ketahuan pak Yamamoto, bisa-bisa kalian di keluarkan..." bisik Kousei, lelaki baik,ramah dan pintar yang duduk tepat di sampingku.
"ah, diam kau culun... memangnya kau tau apa??... belajar aja dan jadi anak mami..." ketus Kensuke dengan nada yang rendah... memang soak kayaknya anak satu ini... itu otaknya terbuat dari apa dah... di nasehatin malah ngotot lawannya, dasar manusia bebal.
Ocehan Kensuke yang tak masuk akal akhirnya membuat kami bertiga terbawa suasana dan justru mengobrol dengan nada pelan, di bumbui canda dan kekesalan... seakan kami lupa ini masih kelas mata kuliah kak Rail.
"ehemmm...." deham kak Rail mendadak, membuat kami bertiga tersentak... sumpah, hampir copot jantungku kuy.
"kalian bertiga... kalau memang tidak niat untuk berada di kelas saya, silahkan keluar... masih banyak yang butuh saya, mata saya sakit melihat kalian disana, dan telinga saya mumpet dengar suara kalian..." ucap kak Rail menekan nada bicaranya.
"ma..maaf pak..." ucap kami kompak.
"dan kamu Akira... sudah berapa kali kamu mendapat peringatan dari saya, kalau kamu memang gak niat masuk kelas saya, silahkan keluar sekarang juga, dan jangan pernah masuk kelas saya lagi..." noh kan... aku lagi yang kena... memang bangs*t kau Kensuke.
"maaf pak,,, salah saya, saya tak bermaksud... lain kali saya tak akan mengulanginya..." ucapku membungkukkan badanku.
"ini yang kesekian kalinya loh, kau bilang gitu sama pak Yamamoto.. " timpal Kensuke dengan nada yang sangat pelan sambil sumringah... aku hanya menatap tajam, siap menalannya utuh... memang manusia bngke anak satu ini... pengen ku tampol banget dah.
"diam kau sialan..." ketusku membuat seisi kelas menatapku.
"apa?? kamu menyuruh saya diam?? dan mengatakan saya sialan??.." bentak kak Rail menatap tajam padaku... hadeuhhh... memang manusi laknat lah si Kensuke ini... jadi salah paham deh kak Railnya.
"wah.. luar biasa kamu ini Akira, di peringati malah menantang... keluar sekarang..." bentak kak Rail emosi.
"maaf pak... saya tak bicara dengan bapak... bukan bapak maksud saya..." seruku berusaha menjelaskan.
"saya bilang keluar... apa kamu kira saya bodoh hah... setelah ini, datang keruangan saya... kelihatannya kamu ini perlu di beri peringatan ya " ck, makin marah deh dia... udah lah, keluar aja dulu, ntar di jelasin...
Entah berapa lama sudah aku di ruangan ini... aku bahkan sudah bermain lebih dari tiga putaran game firtualku dan batrei hp ku pun mulai menipis... ck, lama banget dah. Aku mulai lapar nih,,, mana belum makan siang lagi.
Ceklekk...
Suara pintu terbuka, membuatku sigap meliriknya, kupindah headphoneku ke leherku, dan ku lihat kak Rail yang masuk dengan wajah kusut.
"Senang banget ya dikeluarin dari kelas... hobi banget kayaknya..." ketus kak Rail dengan wajah tak senang.
"hobi apanya... sendirinya gak mau dengar penjelasan orang,..." sahutku tak kalah ketus.
"Akira... kakak serius loh, apa kau sadar, nilaimu di setiap mata kuliah itu, hampir semua tak lolos... bisa-bisa kau mengulang mata kuliah ini lagi tahun depan... jangan bermain-main dalam belajar, tak bisakah kau sedikit berusaha saja... jika kau tak bisa memahami, setidaknya jangan berulah..." sewot kak Rail panjang lebar, membuatku menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya kasar.
"aku muak.." ucapku dingin.
"apa??.." kelihatannya iya cukup tersentak dengan kata-kataku.
"aku muak belajar semua ini, aku tak paham dan semua itu menyebalkan... kenapa aku harus belajar sesuatu yang tak ku pahami, kenapa aku harus di keluarkan untuk kesalahan yang tak kubuat.. kenapa aku harus bertemu dengan seseorang yang sangat ingin kuhindari, dan kenapa aku harus menikah dengan seseorang yang paling ku benci..." seruku dengan nada yang cukup kuat hingga membuatnya tersentak.
"aku ini mahasiswa Arsitektur bangunan, tapi justru di pindah ke jurusan ekonomi manajemen bisnis... Kensuke yang membuat masalah padaku dan menggangguku, tapi kenapa malah aku yang di keluarkan dari kelas dan di permalukan semua orang... Aku memilih universitas tempat kak Shouta berada, berharap aku bisa memulai kehidupan baruku dan melupakanmu, tapi kenapa aku justru semakin sering bertemu denganmu... aku membuka hatiku pada orang lain dan menjalin hubungan dengan orang lain,tapi kenapa aku justru menikah denganmu... takdir sial apa yang kumiliki dengan mengenalmu..." ucapku kesal dan mulai lepas kendali.
Kulihat dia hanya terdiam dan membisu.
"masa bodoh dengan nilai sialan itu... aku muak dengan semua kehidupan ini..." seruku kesal dan keluar dengan membanting pintu.
\====Rail Yamamoto===
Aku terdiam bungkam mendengar kata-kata Akira... kenapa? kenapa sikapnya selalu berbeda disaat bersamaku dan disaat bersama Shouta... kenapa kebencian selalu ia tujukan padaku, padahal.. sudah lebih dari tiga bulan sejak kami menikah, namun kebenciannya semakin menjadi padaku.
Dirumah ia selalu diam, tak pernah makan bersama. pagi ia selalu bangun lebih lama dariku, sedangkan siang dan malam, dia makan di restaurant atau cafe miliknya... bahkan terkadang dalam seminggu kami sama sekali tak saling pandang.
Terkadang, aku yang sedikit rindu dengan wajahnya, mengetuk pintunya dan bertanya apa dia sudah makan, meski jelas aku tau jawabannya... Jika gadis lain yang menikah dengan guru atau dosennya, mungkin mereka akan bertanya tentang materi pelajaran mereka dan meminta di ajarkan... tapi Akira, dia bahkan selalu mengabaikan mata kuliah yang kuajarkan.
Tapi, bentar dulu... rada aneh nih... harusnya kan aku yang marah, karna dia gak menghargai mata kuliahku... kok malah dia yang bentak-bentak samaku ya?? kok kelihatannya, malah aku orang tololnya disini... argkhhhhh... masa bodoh lah, nanti aku lebih baik bicara dengannya dirumah.
Mau gak mau, harus di paksa juga tuh anak belajarnya...mana mau aku di bilang suami tak berguna...
🙀🙀🙀🙀
maaf buat up nya yang lama.