My student is my wife

My student is my wife
Ke egoisan



=========Akira Itsu===========


😸😸 harap baca sampai akhir... kalau bosan, langsung scroll aja ke bawah... bagian utama bab ini ada di bawah... selamat baca.😸😸


γ€€


γ€€


Sudah lima bulan sejak ke sampaianku di kota kelahiranku ini, begitu pun dengan hubunganku dan kak Shouta yang sudah berjalan selama lima bulan. Aku sudah benar-benar terbiasa dengan rutinitasku sehari-hari... mulai dari kampus, ruangan kak Rail, therapy... dan yang paling penting, hubunganku dengan kak Shouta yang benar-benar begitu baik.


γ€€


Aku diam-diam mulai membeli beberapa cafe dan rumah makan yang tak cukup besar... ku ganti namanya dan ku jadikan menjadi cabang dari cafe pertama yang ku beli lima bulan lalu... Aku membelinya dengan uang tabungan ku yang memang sudah lama ku simpan... mungkin sejak aku duduk di bangku sekolah dasar.


γ€€


γ€€


Uang tabunganku yang cukup banyak dan hasil pendapatan dari cafe yang cukup besar... membuat ku mampu membeli dua restaurant kecil dan juga tiga cafe sederhana ... aku mengelolanya dengan semua ide jenius dari teman-teman ku di Jerman... merubah tempat kecil ituΒ  menjadi bernuansa eropa yang elegan... hingga tak heran jika banyak yang datang hanya untuk sekedar mencoba sesuatu yang baru.


γ€€


γ€€


Biasanya aku sampai di rumah sekitar jam delapan malam... itu karenakan aku harus memeriksa restaurant dan cafe ku satu persatu. tapi yang berbeda beberapa hari ini, orang-orang rumah mulai bersikap berbeda.


"baru pulang dek..." sapa ayah tiba-tiba muncul..


"ya... " ucapku melewatinya dan masuk ke kamarku...


γ€€


γ€€


Bukan aku yang kurang ajar atau tidak sopan... tapi aku pun bingung dengan perubahan sikap mereka. Aku tau betul mereka itu, sebelumnya... jika aku pulang terlambat atau menginap di rumah temanku... mereka tak akan pernah mencariku, bahkan jika aku hilang sekalipun, belum tentu mereka menyadarinya... dan apa yang mereka lakukan sekarang, lewat dari jam delapan,,,, mereka akan berulang kali menelfonku dan mengirimi pesan.


γ€€


γ€€


Ibu yang sebelumnya tak pernah membangunkan ku pagi-pagi, mulai membangunkaku dan mengajak ku sarapan bersama... muak, kesal, dan jijik... aku tak tahan melihat semua tingkah mereka.


" dek... turunnnn... makan malam yukkk..." Seru ibu dari balik pintu.


"gak bu.. aku udah makan di luar..." sahut ku datar.


"lagi???..." kedengarannya kecewa.


γ€€


γ€€


γ€€


Besok paginya pun sama... ibu selalu membangunkan ku... hanya saja ia tak pernah tau, tepat jam empat pagi... aku sudah bangun untuk mengurus semua tugas kampus dan juga perkerjaan dari cafe.


"bangun dek..." panggil ibu mengetuk pintuku... Aku hanya membukanya dan kembali duduk di kursi belajarku.


"oh, udah bangun??? belakangan ini, adek jadi bangun lebih capat ya??" ucapnya tersenyum... ah, aku mulai bosan dengan semua perhatian mereka... perhatian yang dulu selalu kuminta, kini membuatku merasa muak. drama... keluarga ini penuh drama.


γ€€


γ€€


γ€€


Aku berjalan ke ruang makan dan duduk tepat di sebelah kak Ryu... sejujurnya aku tak ingin, tapi karna kak Ryu kebetulan datang... aku jadi tak bisa menolak, ini kedua kalinya aku sarapan bersama mereka, sejak kembali dari Jerman.


γ€€


γ€€


"Gimana kuliah nya dek?? gak ada masalah..." tanya ayah yang hanya ku balas dengan anggukan.


" sekarang adek banyak diam ya..." ujar ibu menimpali, yang lagi-lagi tak ku gubris.


Jika saja mereka memperhatikanku sedikit lebih awal,mungkin aku akan lebih bahagia menanggapinya.


"udah punya pacar belum dek??.."Β  ck... serius, aku bosan dan gak tahan disini... rasanya kayak di introgasi polisi, mungkin karna inilah banyak anak orang kaya benci makan bersama keluarga besar... kalau udah gini, pasti larinya ke pasangan.


"kok diam aja??..." ayah yang kali ini bertanya... dari sorot matanya, jelas lah dia tau aku punya pacar.


γ€€


γ€€


"gimana kabar Shouta???.." tanya kak Ryu senyum.


"Shouta?? siapa Shouta?? Apa ibu kenal dia??.." tanya ibu bingung.


"ti..." belum aku menjawab.


"tidak... ibu tak kenal dia, dia hanya anak biasa dari seorang pengusaha biasa... Asami Shouta, anak kedua dari keluarga Asami, pengusaha kecil yang tidak di kenal dunia..." jelas ayah menyela perkataanku.


γ€€


γ€€


Aku meletakkan sumpit di tanganku dan mentapa dingin ayahku.


"apa-apaan ini ayah??... ayah mencari tau informasi tentangnya??..." ucapku kesal.


"apa?? aku hanya ingin tau, lelaki mana yang berhasil mencuri hati putriku... tak kusangka, ternyata hanya pria biasa dari pengusaha kecil, yang bahkan tak pantas di saingkan dengan Rail..." Sial, putriku katanya?? apa dia pernah menganggapku putrinya.


γ€€


γ€€


"Mau kemana??..." tanya ayah menekan suaranya.


"mau kemana lagi... jelas ke kampus kan?.."


"untuk menemui dia lagi..." apa-apaan sih ayah ini.


"apa maksud ayah??"


"bukankah kau memilih kampus disana hanya untuk bisa bersamanya???..." sial, ayah tau semuanya...


γ€€


γ€€


γ€€


"mau ayah apa sih... kenapa tiba-tiba ayah ikut campur kehidupanku..." ketusku mulai kesal.


"ayah ingin, kau mengakhiri hubunganmu dengannya... dan jangan sampai ayah tau, kau masih memiliki kontak dengannya..."


Brakk..


Aku memukul meja emosi, membuat pandangan ke empat orang itu tertuju padaku.


"ayah tak punya hak melarangku..." ucapku menantang.


"ayah punya hak... karna ayah adalah ayahmu..." ucapnya penuh penekanan., aku hanya tersenyum dingin menatap mereka.


γ€€


"Sejak kapan??" ucapku sinis


"apa??..." mereka menatapku bingung, membuatku semakin tersenyum.


" Sejak kapan ayah menganggapku sebagai putri ayah..." sahutku datar.


Plakkkk...


γ€€


γ€€


Satu tamparan mendarat di wajahku.


"apa begini cara bicaramu pada orang tuamu??.. apa begini ayah mendidikmu hah???..." bentaknya emosi, membuatku semakin tertawa...


γ€€


γ€€


"Hahahah... mendidik?? sejak kapan ayah mendidik ku?? aku tak pernah ingat ayah mengajariku tentang tata krama... bukan begitu ibu??..." Aku melirik ibu ku yang hanya diam, mereka ini membuatku muak... aku hanya memiliki kak Shouta, dan mereka juga ingin merebutnya dariku... yang benar saja.


γ€€


γ€€


" Akira, jaga bicaramu... apa kau tak pernah di ajarkan sopan santun..." teriak kak ryu menggenggam tangan kananku, yang langsung dengan cepat ku tepis kuat.


"Drama???..." ucapku dingin.


"Apa??..." kak Ryu menarik sebelah alisnya.


γ€€


γ€€


Aku kembali merasakan cairan mengalir di hidungku, hingga akhirnya menetes dan mengenai pakaianku...


"A..Akira, hidung mu berdarah..." ucap ayah menyodorkan tissu.


"hentikan... aku benci permainan drama kalian... kalian semua menjijik kan, aku muak berada disini...Aku seperti orang bodoh berada disini... berhenti mencampuri hidupku dan bermain drama keluarga ini..." ucapku dingin.


γ€€


"hentikan Akira... ada apa denganmu?? apa kakak pernah mengajarkanmu bicara seperti ini??... minta maaf" bentakΒ  kak Ryu yang ikut berdiri.


γ€€


γ€€


"minta maaf?? yang benar saja... kakak tau, dulu aku bertanya-tanya,,, kenapa uang jajanku dua kali lipat lebih banyak dari kalian berdua, kenapa semua keinginanku begitu mudah di kabulkan di banding kalian berdua?... aku selalu percaya setiap kali pamanΒ  Takano mengatakan bahwa semua itu karna ayah dan ibu menyayangiku, karna ayah dan ibu mencintaiku... sampai hari itu sadar, kenyataan bahwa semua yang ayah lakukan hanya trik dan kemunafikan...licik dan egois... aku sadar itu, di hari aku terkena demam tinggi karna bermain hujan... aku selalu bertanya-tanya, apa ayah dan ibu marah padaku, karna aku bermain hujan?? kenapa mereka tidak datang??... semalam penuh aku tak tidur..." emosiku mulai meluap, aku hanya mencoba menahan aliran darah di hidungku.


γ€€


γ€€


"Semalam penuh aku tak tidur, berharap yang di katakan paman Takano itu benar, bahwa ayah dan ibu selalu datang setiap malam untuk menemuiku... tapi tidak, semua bohong... kenyataan bahwa ayah dan ibu tak pernah peduli denganku... setelah aku sembuh, ayah hanya datang meminta maaf dan memberikan apa yang aku inginkan... namun saat kakak yang sakit, saat kakak yang bertengkar dan mendapat semua lebam... tak sedetik pun mereka meninggalkan kakak... menjijikkan, munafik dan memuakkan... keluarga?? ayah mana yang meninggalkan putrinya yang hampir tewas, hanya demi pekerjaan??... "sial... aku benar-benar lepas kendali... dadaku sesak dan kepalaku sakit.


γ€€


γ€€


γ€€


"Dimana kalian setiap kali aku menang kompetisi dan kejuaraan?? aku di kenal dunia.. tapi tak sekalipun mengenal kedua orang tuaku... sedangkan kakak, kakak hanya menjadi peringkat kelas, tapi tak sekalipun ayah melewatkan pengambilan data nilai kakak... namun milikku selalu diambil oleh paman Takano, diambil oleh kepala pelayan... keluarga macam apa keluarga ini?? semua hanya drama, memberiku banyak uang dan semua yang kuinginkan, hanya agar aku menjadi orang bodoh yang selalu menyayangi mereka... bahkan tanggung jawab terhadap diriku pun di serahkan pada kakak... menyedihkan... sekali lagi kalian mencampuri hidupku, akan aku pastikan aku tak butuh kalian, dan tak akan menginjak kan kaki dirumah ini... kak Shouta jauh lebih berharga di banding kalian..." Aku berjalan keluar ruang makan penuh emosi, namun belum aku melewati pintu... aku tertegun melihat sosoknya yang diam mematung di depan pintu ruang makan. Shit...


γ€€


γ€€


γ€€


hoooo... menurut kalian, siapa yang di depan pintu.