My student is my wife

My student is my wife
Karna kau tak pantas untuk cintanya



=======Rail Yamamoto=========


 


 


Takamaru membawaku berjalan di lorong rumah sakit.... kami melewati begitu banyak ruang pasien, tapi tetap tak kunjung berhenti... ya aku hanya mengikutinya saja, walau kakiku masih sedikit keram dan tangan kananku yang cedera karna terbanting trotoar... tapi paling tidak, aku masih ingin merasa tenang dengan melihatnya.


 


 


Rasa sakit dan kesalku karna di hianati Yuka, tergantikan dengan rasa takut dan khawatir, serta rasa bersalah yang berkecamuk dihatiku.


"kok belum sampai juga sih... ini udah jauh banget dari ruanganku tau... kau tau ruangannya atau tidak sih.."ketusku mulai jengkel.


"ya taulah... memang jauh kok... mau gimana lagi.."


" tapi kita udah lewatin semua ruang rawat inap tau... UGD juga udah... kau mau bawa aku kemana sih.."


"yaelah... berisik tau gak... siapa yang bilang dia di ruang rawat sama UGD.."


"hah?? terus??.." tanyaku bingung.


 


 


 


"kan tadi aku dah bilang sih... dia itu lukanya parah tau... sampai harapan hidupnya aja tipis.." ketusnya membuatku menelan ludah.


" udah deh... gak usah sewot.. ntar badan mu remuk lagi gegara kebanyakan protes..."


"aku gak sewot... tapi aku mau cepat-cepat liat dia, aku khawatir tau..."


"halahh... bacot kau, mana ada kau khawatir... di dunia ini yang kau khawatirkan dan kau selalu jaga perasaannya itu cuman si Yuka itu.." jawabnya membuatku tersentak.... iya, selama ini aku hanya khawatir selalu tentang Yuka... aku selalu jaga perasaan dia, aku bahkan gak peduli jika harus hina orang dan mempermalukan orang lain, hanya demi dia.


 


 


 


Tiba-tiba Takamaru berhenti, membuatku menabraknya dan hampir terjungkal.


"woy Kampret.. kalau mau berhenti bilang-bilang dong, kepalaku sakit gara-gara nabrak kau." aku koak koa tapi dia malah gak gubris, pengen kutokok palanya itu rasanya... lihat apa sih dia, sampai kayak kesambet tiba-tiba.


"tuh... udah sampai.." ucapnya pelan menunjuk pintu di depannya.


 


 


aku melihat tulisan diatasnya.. ICU???


Kulirik sejenak dari kaca pintu,,,,


Deg...


aku tersentak melihatnya, perban terbalut di kepalanya.. selang oksigen yang tak lagi disalurkan melalui hidung, melain kan mulutnya... begitupun dengan selang infus dan darah yang tertancap di kedua tangannya.... aku pun melihat beberapa benda yang tertempel didadanya menyerupai benang yang terhubung pada alat pendeteksi jantung disisi brankarnya.


 


 


Meski matanya tertutup dan mulutnya terbungkam, namun tersirat jelas rasa sakit yang ia rasakan... entah kenapa, aku merasa pilu melihatnya berbaring seperti itu, ingin aku berlari masuk dan berkata bahwa aku akan memaafkannya, asalkan dia membuka matanya.


 


 


"hoooh... siapa nih??.... adikku udah sadar rupanya.." suara yang familiar itu tiba-tiba berucap, membuatku sigap berbalik dan menatap kearah datangnya suara.


"kakak???.." ucapku tersentak. Aku melihat paman Akihiko,dengan Ryu dan Haru, juga bibi Hikari disisi kakak.... Shit, aku akan bicara apa pada mereka.


 


 


"sudah baikan Rail??? " tanya bibi Hikari tersenyum... aku tau senyumnya itu menyiratkan banyak kesedihan..


"maaf.." ucapku pelan.


 


 


Ryu menatapku tajam, seolah ia siap menelanku, usianya dua tahun lebih tua dariku,berbeda dengan Haru yang justru dua tahun lebih muda dariku.


" oh... udah baikan... baguslah... lain kali kalau mau bunuh diri, aku sarankan, kau melakukannya di hutan atau di kamarmu... agar adikku tak perlu melihatnya dan tidak mencoba menolongmu lagi... cih, bunuh diri cari sensasi.." ucapnya membuat kedua orang tuanya tersentak.


 


 


 


aku hanya diam mendengarnya...melawan pun, tak ada yang bisa di elakkan, meski aku tidak bermaksud bunuh diri, tapi kenyataan bahwa Akira lah yang menjadi korban kecerobohanku.


"Ryu... jaga bicaramu, kemana tatakramamu hah??? apa begini kau mengajarkan kedua adikmu??.." ketus bibi Hikari padanya.


" Apa sih bu... dari dulu memang kita nggak suka lihat dia ini.... Akira itu gak waras gara-gara suka lelaki brengsek kayak dia ini .." sambung Haru ,kesal.


 


 


 


"cih... manusia sampah ini bahkan tak pantas untuk Akira kita... ibu tau kenapa dulu Akira demam sampai menginap dirumah sakit selama seminggu??  cuman karna nolong si brengsek ini yang tenggelam di danau... atau ibu tau kenapa Akira punya bekas luka di pergelangan kakinya??"


 


 


"ya?? kau tau kenapa itu terluka??" tanya bibi hikari mengernyitkan dahinya.


" dia... gara-gara dia.."


BRUKKK


satu pukulan mendarat di wajahku... gak jelas nih orang, aku gak paham apa yang di bicarakan, aku hanya memasang tampang bingung, karna aku memang tak paham.


"gara-gara kau sialan... kau yang demam tinggi di malam itu, tiga tahun lalu, kau pikir siapa yang mengurusmu disaat kedua orang tuamu dan kakakmu  tidak dirumah... dia melompati pagar tinggimu hingga membuat kakinya terluka parah dan menyisakan bekas luka hingga sekarang.." geramnya kearahku.


 


 


aku mencoba menerka-nerka... tiga tahun lalu???.. akh, iya.. tiga tahun lalu aku demam, tapi Yuka bilang dia yang mengurusku, saat aku melihatnya duduk di meja makan pagi itu.


"kenapa??... kenapa dia selalu mengorbankan nyawanya hanya untuk sampah sepertimu... bajingan, " teriaknya melayangkan tangannya, yang tertangkap kak Ray tepat sebelum mengenaiku.


 


 


"Ryu, hentikan... kau tak ingin mengganggu ketenangan di ruangan Akira bukan?? aku minta maaf untuk kesalah pahamannya... saat itu dia menemui Yuka dirumah, jadi dia pikir, Yuka yang menjaganya semalaman... salahku juga yang tak memberitahunya... aku minta maaf atas namanya dan juga keluargaku..." Kakak membungkuk kan badannya, tepat setelah ia melepas tangan Ryu.


 


 


 


Aku tersentak mendengar ucapan kakak... tunggu, dia bilang bertemu Yuka pagi itu??.. dan dia tau, bahwa yang merawatku bukan Yuka??.


"Kakak disana saat itu??" tanyaku tak percaya.


"ya... aku yang beli obatmu saat itu... tengah malam suntuk, tiba-tiba telepon apartementku berbunyi... aku mengangkatnya dan mendengar kabar kalau kau sakit, entah siapa awalnya aku tak tau, dia hanya memintaku membeli obat penurun demam dan beberapa penambah stamina dan Vitamin... saat aku tau itu Akira, aku cukup tersentak... paginya dia bangun cepat untuk pergi kesekolah, dan aku harus kerja,, aku meminta Yuka untuk merawatmu, dan berkata bahwa dia yang merawatmu... karna aku tau kau tak suka Akira..." jelas Kak Ray membuat dadaku perih.


 


 


BIIIIPPPPPPP......


BIIIIPPPPPPP.....


BIIIPPPPP.....


Entah bunyi apa yang tiba-tiba terdengar telinga kami, Kami bertujuh Sigap mengalihkan tatapan pada ruangan Akira... aku tak jelas melihatnya,  tapi aku tau, ada sesuatu yang tak baik... shit, detak jantungnya melemah... terpampang jelas di alat itu.


 


 


Kak Ray dan Haru berlari dengan cepat untuk memanggil dokter, dan Takamaru di minta untuk mengantarku kembali kekamar, itu karna terlihat darah menetes dari tangan kananku yang cedera... kelihatannya lukanya terbuka lagi.


 


 


 


Rasa takut dan khawatir semakin buruk menghantuiku... aku tak tau keadaannya sekarang... ini sudah dua jam sejak aku kembali dari kamar Akira... aku ingin melihatnya... tapi Takamaru melarangku... katanya lebih baik aku melihatnya lagi besok, jangan sekarang, karna mungkin Akira masih di tangani, atau Ryu yang masih kesal padaku.


 


 


Besoknya aku bergegas ke ruang ICU tempat  Akira di tempat kan... kakiku terhenti saat aku melihat beberapa perawat keluar dari ruangan itu,... Apa keadaan Akira memburuk?? Apa sesuatu terjadi padanya?? ... pikiran buruk menghantuiku seketika.. aku mempercepat langkahku. Kulihat kamar Akira yang kosong... rasa takut semakin menjadi di kepalaku... sialannn, ada apa ini.


 


 


"Suster... apa yang terjadi pada pasien yang disini??.. kemana perginya pasien itu??.." tanyaku pada suster yang ku hentikan langkahnya.


"eh??pasien yang disini ya?.." Sejenak ia terlihat berpikir.


" semalam keadaannya sempat memburuk, karna khawatir dengan kondisinya yang semakin buruk, keluarganya memutuskan untuk membawanya kesalah satu rumah sakit terbesar di Jerman.." sahutnya membuatku sedikit lebih lega, meski sedikit khawatir karna tak sempat melihatnya.


 


 


 


Namun aku berharap banyak untuk kesembuhannya... mendengar apa yang dikatak Ryu kemarin, membuat egoku tersakiti... walau aku tak menyukainya, setidaknya aku berjanji akan memperlakukannya sedikit lebih baik saat ia kembali nanti.


 


"sampai ketemu lagi Akira... aku percaya kau gadis kecil kuat, Sekuat cintamu yang selalu berjuang untuk merebut hatiku... berjuanglah sekali lagi, dan kita akan bertemu... mungkin saat itu tiba, cerita diantara kita akan sedikit berbeda dari sebelumnya."