
==========Akira Itsu=========
Ntah dimana aku berada saat ini... terlihat gelap, sepi dan dingin... haaahhh... aku dah mati kali ya??.. haizzz niat baik nolong orang yang di cintai, malah mati duluan... mana lagi nih malaikat maut, aku mau sewotin dia, beraninya di menjemputku sebelum aku mendapat kekasih.
Masa aku mati jomblo, kalau gak berhasil nikah, paling nggak jadian dulu kek sama seseorang... shit, kampret nih dunia, gak adil banget... gagal belajar, gagal cinta... gagal hidup pulak.... what the hell...bisa gak sih dunia ini adil dikit sama aku, aku juga manusia oi.
umpatanku terhenti saat aku mendengar orang-orang berbicara di sekitarku... mungkin kah mereka arwah-arwah yang sudah mati duluan.. ah, aku harus akrab nih.. namanya sesama arwah, jadi harus di baikin, biar ntar mereka kasih tau caranya berkunjung kedunia manusia, biar bisa ketemu ayah ibu, sama kakak dan yang lainnya.
"Dok.. apa anda yakin adik saya sudah baik-baik saja.."tanya seseorang dengan suara yang aku kenal baik.
"ya..berkat dia yang mengalami coma selama tiga bulan ini, membuatnya tak perlu menderita dengan luka fisiknya" sahut suara asing yang belum pernah kudengar.
bentar bentar.. aku coma selama tiga bulan?? dan aku bisa dengar obrolan mereka? berarti belum mati dong... yeahhh... ini baru hidup.
mari mulai hidup baru... gak sia-sia in buat hal gak berarti seperti sebelumnya..asyiapppp.
Aku membuka mataku.. awalnya remang-remang gitu sih, trus kelihatan ada tiga orang diri di depaku... kakek, nenek dan satu lagi, Kak ryu.... eits, tunggu.. kok kakek sama nenek, harusnya ayah sama ibu kan?.
"kamu udah sadar dek?? ada yang sakit gak?? perlu di panggil dokter?? atau kamu butuh sesuatu.." tanya kak Ryu dengan protektifnya.
Aku hanya diam dan meneliti setiap sudut dari ruangan yang saat ini kutempati... asing, kayak belum pernah liat.
"ini dimana kak??? kok gak kayak di rumah.." tanya ku bingung.
"Jerman..." sahutnya santai, yang berhasil membuatku tersentak.... wait, Jerman katanya?? pantes aja ada kakek sama nenek... tapi kok bisa??
"kok malah di Jerman?? perasaan hari itu masih di jepang deh.."
"itu kan hari itu, ya sekarang beda... kamu ada di Jerman sekarang, dan udah tiga bulan sejak kamu disini.."
"kak.."ucapku pelan
"hmmm??"
"boleh nanya gak??"
"hah... apa??"
"kok aku gak mati?? "
"iyalah gak mati tolol, emang kau mau mati apa???"
"kayaknya kalau mati seru deh... tadi aku dengar hantu-hantu lagi ngomong loh kak"
PLETAKKKKK...
Sakit, kepalaku di jitak kuat sama kak Ryu." sakit kak... penganiayaan terhadap pasien nih.." ucapku jengkel.
"Rasain...sembarangan aja ngomong.. dikira nyawa itu mainan apa???... trus hantu apaan coba, tadi yang kamu dengar itu kakak sama dokter yang ngomong.." sahutnya kesal..
kuanggukkan kepalaku sok polos.. "ohh.."
"ayah ibu mana kak??.." tak terlihat olehku wajah mereka sedari tadi, kuteliti setiap sudut dari ruangan yang luas itu, namun hanya ada kak Ryu dan aku didalam, sementara kakej dan nenk yang sudah keluar duluan.
"di jepang.." sahutnya jengkel..memang lah ya yang dua itu, anak sakit juga, masih aja pengen berduaan.
"kok gak datang??.."aku kembali bertanya.
"sibuk lah dek,kan banyak kerjaan.."
"ohhh... lebih berharga kerjaannya dari anaknya toh.." ucapku dingin dan kembali menutup mataku.
"udah ah kak aku mau tidur... badanku pegal semua.." lanjutku menarik selimutku sampai kepala.
" Yaudah, kakak tinggal ya, kalau butuh sesuatu, langsung bilang aja...kakak bakalan datang... dan oh ya, itu diatas nakas ada ponsel baru... kata teman kamu, kalau kamu udah sembuh tolong hubungi mereka.."
"aku gak ada nomor mereka, jadi biarin aja.." sahutku masih menutup kepalaku.
"ada kok disitu... si Shouta itu kasih nomornya... dia yang bawa kamu kerumah sakit, jadi kakak ijinin dia kasih nomor biar bisa hubungin kamu... kayaknya juga baik, nanti kalau udah merasa lebih enak, jangan lupa telfon, biar dia gak khawatir..." setelah kata itu, aku mendengar suara pintu terkunci.
kak Shouta ya?!.. ia juga sih, pasti dia khawatir, sama teman-teman lain yang saat itu sama kami... terutama Megumi. ah, telfon aja kali... biar bisa kontak-kontakan juga.
Aku menghubungi Kak Shouta dan kami bicara cukup lama, dia memberikan nomor megumi juga... ya hitung-hitung main HP hilangin suntuk.
"nih dek.. makan dulu, biar ada tenaga buat berulah lagi.."
"aku mau berulah apaan coba di negri orang... yang ada, jalan keluar rumah aja takut kesasar kak..??"
"haha.. bagus dong, berarti kalau disini, kamu gak bakal jadi kucing liar lagi..." ucap kak Ryu tertawa... kucing liar katanya aku ini, ishhh..pengen ku tampol lah.
"helehhh... ini orang kak, bukan siluman yang bisa berubah jadi kucing... enak aja bilang orang kucing... cantik gini juga..."
"percaya dirimu ketinggian kali de... kurangi tuh, ntar di jatuhin orang baru tau..."
"emang bola pimpong dijatuhin.."
"nyahut aja kamu dari tadi dek... udah sehat banget ya, sampai-sampai udah bisa debat.."wajah kak Ryu kelihatan sedikit jengkel, emang dia dari dulu itu gak pernah suka kalau kalah debat samaku
"jadi gimana??.."tanya nya sambil menyuapkan sendok berisi bubur dari mangkuk di tangannya.
"apanya?? tangannya??? udah baikan kok.."sahut ku dan memajukan kepalaku,
"bukann... si Shouta-kun itu... kamu udah telfon dia??.." yang kubalas sigap dengan anggukan.
"diabilang apa???"tanya kakak kembali
"dia tanya kapan pulang..."
"terus kamu jawab apa??" tanyanya menghentikan suapannya
"belum tau.."ucapku santai.
"oh... oh ya, mulai minggu depan, kamu masuk sekolah ya dek.." kak Ryu kembali menatap mangkuk di tangannyadan mengangkat sendok di dalamnya,, lalu membwanya ke dalam mulutku.
"oh??? jadi minggu ini, aku dah boleh pulangke tokyo???.."
"kamu gak akan pulang lagi ke tokyo.." sahutnya membuatku menautkan kedua alis mataku.
"loh?? kan kakak bilang masuk sekolah.. terus mau gimana sekolah.." Aku bingung betul apa maksud nih kakak... bisa gak sih kalau ngomong itu to the point langsung??? gak usah muter-muter kayak gasing.
"kakak udah daftar kan kamu sebagai murid pindahan, disalah satu sekolah ternama di kota ini.." aku mendongak tak percaya,,, ni mahkluk ya.
"hah??? kapan?? kok gak nunggu pendapat dari aku sih..??" memang lah...,ck bisa gak sih gak ngelakuin semuanya se enak jidat.
"waktu kamu belum sadar... kelamaan nunggu kamu sadar.."sahutnya santai... saking santainya,sampe pengen ku lempar pake jam wekers di sampingku ini.
"tapi kan aku gak bisa bahasa jer..."
"palamu gak bisa... kamu kira kamu bisa ngibulin kakak hah??? kamu menang lomba pidato tingkat internasional, dengan tujuh bahasa berbeda, tanpa catatan ataupun kamus... trus mau bilang gak bisa bahasa jerman gitu???.." ucapnya membungkamku.
ya, aku akui aku bodoh dalam berhitung,namun untuk soal sastra dan musik, juga olah raga,aku paling mahir... tapi kalau di suruh hitung-hitungan, terutama ilmu kimia dan ilmu fisika, aku siap kok bertapa di hutan selama dua tahun, asal gak di suruh belajar pelajaran itu.... apa lagi matematika... yang di plus-plus kan itu huruf doang, tiba-tiba bisa jadi angka... aishh, gak paham betul.. A kurang B aja, bisa jadi C... ya aku mana paham.
oke, jadi kita kembali ke topik...
"itu kan pidato... hanya di hafal sebelum lomba... beda lah kalau harus pakai bahasanya sehari-hari..."
"udah... kakak gak terima penolakan... kalau kakak bilang sekolah disini, ya sekolah di sini.. no koment... ayah ibu juga udah setuju.." ketusnya dingin... ishhh, jijik kali aku nengoknya, ntah keluarga apa yang kumiliki ini... punya kakak kok diktator bangetsih... punya orang tua juga bucin akut tingkat alam semesta... hadehhh, nasibku.
"mereka mah bakal setuju apapun, asal aku tersingkir dan mereka gak ada yang ganggu.." sahutku nyosor.
"udah tau gitu, masih aja ngelawan kakak... udah lah, kamu istirahat aja dulu... soal sekolah, pikirin minggu depan, pas udah masuk sekolah, kakak mau keluar dulu.... nanti kakak minta maidnya buat bantuin kamu mandi.." ucapnya berdiri.
"oh, satu lagi, berkat aksi heroik mu itu... mulai sekarang,belajar lah mencintai pelajaran akademik... karna tangan kirimu mu itu, sudah gak bisa lagi di harapkan... satu-satunya yang bisa kau lakukan hanya belajar... karna kau tak akan bisa lagi olahraga, ataupun bermain musik... kecuali kau menuruti perkataan kakak, dan tinggal disini untuk therapy sampai tanganmu benar-benar pulih.."
Sejenak aku melirik kearah tangan kiriku yang di balut gips... haizzz, siapa sangka nolong orang malah bikin cacat gini... ini yang disebut niat baik berujung miris... gak heran deh kenapa banyak orang jadi penjahat... nolong orang biar gak mati, bukannya dapat berkah, malah cacat... ish, jijik kali aku, kesal pulak... bangke.