My student is my wife

My student is my wife
Jepang dan Therapy



Setelah perpisahan lebay bin alay yang berlangsung di kampus, aku kembali ke mansion kakek dengan mata jelayatan,,, kayak maling gitulah... gimana nggak cobak, setelah empat hari berlalu sejak insident itu, akhirnya kak Ryu mengajak ku berbicara empat mata... ya, soalnya dia sibuk banget sih belakangan ini.


 


 


"nyari apa dek.." seseorang menepuk bahuku tiba-tiba... aku kenal banget suaranya lo, sok polos aja lah... biar gak ketahuan nyari in orang yang ternyata udah nongol entah darimana, pada hal,,, baru juga aku balik badan, masa lima detik gak liat kebelakang dia udah nongol aja... dasar jin aneh.


 


 


"Nyari kunci mobil kak..." sahutku tanpa putar badan, soalnya aku dah tau.. pasti manatanya itu lagi natap tajam sama aku.


"oh... nyari kunci kok, liat nya  ke tiap sudut mansion sih, harusnya nunduk dek nyarinya.. bungkuk in badan gitu, kunci jatuh kan ke lantai, bukan ke udara dek... lagian kamu nyari kunci apaan, kamu bilang kunci mobil tadi???  yang gantungannya anime Hiroki????"


"hmm.." aku sigap nganggukin kepalaku.


 


 


 


"oh.. kalau itu harusnya memang gak di cari di lantai.."  Aku menaikkan sebelah alisku.


"carinya di kantong dek.... nih.." lanjutnya menarik kunci dari kantong celanaku.


aisshhh... kelihatan pulak gantungannya.  "yaudah, karna kuncinya udah ketemu, kita langsung keruang kerja kakak aja oke.." titah nya melewatiku begitu saja.


 


 


 


Eaallaahhh... gak bisa lari juga...Yaudah lah, ikuti aja... paling di sewotin, gak bakal mati juga.


Kak Ryu duduk lebih dulu di sofa... aku pun ikut di sofa yang di depannya... kita duduk bersebrangan.


"jadi???.." ucapnya angkat bicara.


"maaf..." hanya itu yang terucap dari bibirku.


"kenapa bisa???"


 


Aku hanya diam... ya, sejujurnya aku tak lagi banyak bicara seperti dulu... aku tuh lebih hemat bicara sekarang, soalnya ada yang bilang,,, suara itu mahal. Entah karna apa... dan saat di minta penjelasan begini, biasanya aku lebih milih menerima hukuman di banding menjelaskan... aku malas jelasin apapun tentang kesalahan yang kubuat.


 


 


Mungkin karna udah kebiasaan dari kecil, biasanya juga kalau buat onar, gak ada yang mau mendengar penjelasanku... kalaupun aku jelasin, gak bakalan ada yang percaya juga... kayak sekarang ini, kalau aku bilang aku di ganggu duluan,,, pasti di bilangnya itu... gak mungkin di ganggu kalau gak pernah buat masalah... ya mending diam lah.


 


 


"kok diam..??" tanya nya memincingkan pandangannya.


"gak ada alasan Khusus.." sahutku singkat.


"oh.."


 


 


"tau gak dek... kakak kira, kamu tuh dah berubah,,,, sejak dua tahun lalu, kakak lihat kamu itu gak banyak bicara lagi, gak pernah buat onar lagi, tapi apa yang sekarang kamu lakuin??  kembali buat onar,,,,," ucapnya dingin.


"maaf.."


"maaf kamu gak bakalan ngubah apapun dek... kamu tuh cewek dek, bisa gak sih jangan main tangan... jangan main kasar, jangan emosian... jadi feminim dikit lah, Kita ini di Jerman dek,,, dengan ulah kamu itu,  Kamu udah bikin malu nama baik keluarga kita tau gak, kamu udah permaluin kakek dan nenek... mau di buat dimana wajah ayah dan ibu.." sewotnya panjang lebar.


 


 


Yang dia bilang gak salah sih, tapi entah kenapa itu  mengingatkanku dengan apa yang  pernah di katakan kak Rail...aku tuh memang bisanya malu-maluin keluarga ya..haaahhhhh.


" jadi sekarang kakak mau gimana???" tanya ku datar.


 


 


"kamu nanya kakak?? kamu yang bikin ulah... dan berkat ulahmu yang menghajar senior sampai segitunya, sekarang gak ada lagi kampus yang mau nerima kamu di Jerman ini.."


 


 


akh... sial, kepalaku sakit tiba-tiba, Sial.. berdenyut... seperti ditusuk jarum, Aku menekan-nekan kepalaku,berharap nyeri nya berkurang.


"gak usah dramatik... kamu gak perlu sok-sok sakit gitu... kakak tau kamu gak pernah suka di cerewetin ataupun di ceramahin, tapi kamu harus tau ka.." aku tak lagi mendengar jelas semua yang kak Ryu ucapkan. Sial, ini bukan dramatik.


 


 


Aku merasa ada yang mengalir dari hidungku, Serasa keluar melewati bibirku, aku mengangkat kepalaku dan memandang kak Ryu "ka..kak.... sa.kit... kepalaku..sakit." ucapku terbata-bata. Wajahnya kelihatan khawatir bercampur shock gitulah, Semua semakin remang-remang, dan berujung dengan semuanya yang terlihat gelap.


 


 


Gelap.. semua gelap, akh.. aku suka tempat gelap dan dingin ini, disini aku bisa jadi diriku sendiri... tak ada yang menyebutku pembuat onar, tak ada yang menghinaku si cacat, tak ada yang memanggilku si sombong yang dingin, atau ejekan lain yang biasa ku dapat di kampus. Aku tuh gak sehebat dulu lagi, gak bisa olah raga, dan gak bisa bermain musik... kepala ini... kepala ini selalu menghalangiku buat lakuin apapun, kaki dan tanganku mungkin udah pulih... tapi kepala ini menyiksaku.


 


 


Aku gak pernah kasih tau siapapun soal ini, biasanya aku selalu sediain obat Vitamin dan obat penenang, sama penambah darah, juga tissu di dalam tasku... tapi kalau udah tiba-tiba gini, akupun gak bisa ngelak lagi.


 


 


Pas aku buka mata, aku lihat ada kak Ryu yang menatapku ngeri.


"udah bangun??.." tanyanya dingin.


"Kamu tau kamu kenapa??.." lanjutnya bertanya.. aku hanya menganggukkan kepalaku.


"kenapa gak pernah bilang.."


"maaf.."


 


 


Kak Ryu mengusap kasar keplanya dan mengacak-acak rambutnya.


"maaf..maaf... dan maaf, selalu maaf, kakak gak tau sejak kapan kamu suka bilang maaf, awalnya kakak senang... tapi sekarang kakak muak dengarnya Akira  kamu itu mau nya apa sih??? ,sampai hal sebesar ini kamu sembunyi in dari kakak... kakak itu apa buat kamu hah???.." bentaknya membuatku sedikit takut.


 


 


Akh, sial... sakit lagi, ini tuh yang paling ku benci, gak bisa dengar teriakan, gak bisa juga teriak-teriak kayak dulu lagi.. juga gak bisa terlalu lelah, capek dikit aja nyawa yang jadi taruhan.. terus waktu aku diam-diam ketemu dokter buat konsultasi, katanya.. sebelum kondisi kepalaku benar-benar pulih, satu benturan yang gak di sengajapun, bisa ber efek fatal samaku.


 


 


"maaf.. " ucap kak Ryu saat melihatku mulai meringis.


"besok kakak akan mengantarmu kembali ke Jepang... kakak sudah minta Kak Haru mencari dokter untuk mengobati komplikasi kepalamu itu, dan kamu akan lanjut kuliah dan therapy disana... Kamu istirahat aja dulu.." Aku mendengar nada keputus asaan dalam kata-katanya.


"iya.. maaf." ucapku dan memandangnya melangkah keluar kamar.


 


 


Besoknya kakak langsung mengantarku ke Jepang, persis seperti yang dia ucapkan... Setelah sampai di bandara, aku menangkap sosok Kak Haru yang sudah menunggu kami.


 


"Haru.. bawa dia pulang dan pastikan kau menjaganya seperti yang kukatakan, dan ya.. soal universitasnya, biarkan dia yang pilih.. tapi kau harus tetap mengamatinya.. jangan biarkan dia buat onar.. paham.." titah kak Ryu pada kak Haru... haisss, dah kayak bayi aku di buatnya lah.


"kakak gak ikut kerumah???.." tanyaku memandangnya.


"Kakak masih banyak kerjaan di Jerman... tapi jangan senang dulu.. karna kakak akan datang kesini sekali tiga bulan.." sahutnya mematahkan kebahagiaanku yang sempat terlintas... memang setan manusia satu ini