My student is my wife

My student is my wife
Kenapa dia begitu



========Rail Yamamoto==========


 


Aku melihat Akira memasuki cafe dengan santainya dan pakaian berbeda dari yang di pakai sebelumnya.. tadinya aku nolak buat ngakui kalau dia yang beli cafe... tapi di lihat dari sambutan mereka yang semua membungkuk, kayaknya sih memang dia.... dia berjalan dengan wajah dinginnya menuju panggung cafe.


 


 


"ekhemmm...hai semua, selamat siang para pelanggan terhormat..." ucapnya datar.


"Kenalkan... nama saya Akira Itsu, saya pemilik baru dari pemilik HANABI FLOWERS CAFE... selamat menikmati menu cafe kami dan semoga puas dengan pelayanan nya... jika ada yang merasa tidak puas atau tidak nyaman, saya mohon maaf, anda sekalian boleh langsung melaporkan pada manjer saya atau saya sendiri... selamat menikmati" ia membungkukkan badannya dan berjalan masuk ke salah satu pintu cafe... kelihatannya dia akan naik ke lantai tiga... kalau tidak salah, lantai satu dan dua itu adalah cafe, dan lantai tiga itu kantornya.


 


 


 


gila... kok bisa nih bocah beli cafe sebesar ini... memang ya, anak orang kaya mah bebas...


bentar, sama aja dong dia yang buat poster tadi... pasti dia yang suruh karyawannya buat kayak gitu... kan dia juga pemiliknya... Shit kau bocah.


 


"Hei.. kemarilah.." panggilku pada lelaki yang ku anggap manejernya.


"ya tuan?? ada yang bisa saya bantu??.." tanya nya ramah.


"ah, aku hanya ingin bertanya... apa kau manejer cafe ini?"


"iya.. benar tuan.." ah benar dugaanku.


"lalu apa benar dia sudah membeli cafe ini??" tanyaku sekali lagi.


"siapa??" ck pekok juga nih orang.


"Akira Itsu.."


 


"iya benar, apa ada yang salah tuan??" dia menatapku bingung.


"ah tidak ada,,, aku hanya sedikit tak percaya tadi... kenapa anak itu mendadak membeli cafe sebesar ini.."


"itu tidak mendadak kok tuan" sahutnya membuatku cukup bingung.


"maksudnya???..."


 


 


 


 


 


 


Aku terdiam mendengar penjelasannya... ya, wajar aku gak tau kalau Akira dulu sering kesini... toh aku jadi pelanggan cafe ini sejak satu setengah tahun lalu... yang bikin aku bingung itu, bukannya Akira benci tentang ekonomi dan ke uangan ya?? emang dia bakalan bisa ngurus cafenya ini??.. gak habis pikir.. bodo amatlah.


 


 


"terus kenapa poster wajah saya ada di pintu cafe tadi?? apa dia yang meminta untuk di tempel seperti itu??.." Aku melihat sang manejer yang sedikit kaku.


"Anu.. itu tuan, nona Akira sengaja ngerjain salah satu karyawan.. eh, malah betulan di tempelin tuan... itu orangnya.." ucapnya menunjuk salah satu anak laki-laki yang kelihatan masih SMA.. mungkin dia kerja part time disini.


"oh.. ya sudah, terima kasih... saya hanya ingin tanya itu.." ujung-ujung benar juga itu ulahnya.


"ah, iya pak... saya permisi dulu ya pak.." ucapnya membungkuk kan badan dan pergi menjauh.


 


 


Setelah hampir satu jam aku di cafe... aku memutuskan untuk kembali, mending kerja in urusan kantornya di mansion aja...


Sampai di rumah.. Aku duduk di ruang kerjaku, dengan laptop yang terbuka di atas mejaku dan kumpulan kertas yang menumpuk... kerjaan ini benar-benar membuatku gila... numpuk selangit, ngerjainnya sendiri.. akhhhh.


 


 


Aku menyadarkan tubuhku ke punggung kursi,entah kenapa,,, terlintas pikiran tentang Akira saat menyampaikan pemberitahuannya di cafe tadi.


Kata manejer itu,  membeli cafe itu adalah mimpinya bukan??... lantas kenapa ekspresi wajahnya begitu... aku tak melihat kesenangan atau kebahagiaan disana... hanya ada kesedihan dan kekecewaan.


 


 


pada hal cafe itu di penuhi pelanggan... di penuhi tawa dan kebahagiaan... tapi aku tak melihat kebahagiaan di wajahnya selain ke sepian... dia, dia merasa kesepian di tengah keramaian itu.... bukan kah di selalu ceria?!.. kenapa??.. kenapa wajahnya seperti itu?? dingin dan sendu...


 


 


Apa semua ini karnaku??... sejak kembali dari Jerman, sifatnya dan ekspresinya tak lagi sama... dia menjadi orang asing... Hei, Akira... sudah seberapa jauh aku ini menghancurkan hidupmu... tersenyumlah dengan tulus, sekali saja... agar rasa sesak akan rasa bersalah didadaku ini bisa berkurang, walau hanya sedikit.